Ada lautan yang riaknya riuh bergemuruh terdengar sampai kamar. Terdengar sewaktu bersiap tidur. Seolah berbicara bahwa di seberang sana, rindu meniup-niup air lautan yang tenang menjadi ombak. Ombak yang menghantam karang yang tidak peduli siang dan malam tetap begitu tak mau tahu, sekeras apapun ombak datang. Seperti aku katanya. Tidak peka.

Ada bait-bait doa yang menggerakkan angin. Menerpa dedaunan pohon dan menciptakan suara-suara yang riuh rendah. Hingga ku dengar suara itu di telingaku sambil menikmati siang yang terik. Aku tak pernah paham apa maknanya, sebab aku memang tak pernah tahu doa apa yang kamu ucapkan setiap hari. Aku pernah memintamu mengatakannya tapi kamu justru menuduhku keterlaluan.

Aku tidak mampu menerjemahkan deburan ombak, apalagi bisik angin yang menerpa dedaunan pohon. Kalau memang ada sesuatu yang ingin kau utarakan, boleh kuminta sedikit waktumu, juga matamu, juga hatimu, juga kata-katamu.

Aku hanya ingin tahu. Perasaan seperti apakah yang mampu menjelma menjadi sesuatu yang aku sukai, deburan ombak dan gemerisik dedaunan pohon.

©kurniawangunadi | 12 Juni 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *