Pulanglah

Untuk Shabira

Sebagai anak perempuan ayah. Ayah mengizinkanmu untuk mengenal dunia, menjejaki setiap sudutnya, mengenal kejahatan dan kebenaran. Agar kamu benar-benar mengerti mana yang haq dan yang batil. Agar kamu tumbuh menjadi perempuan yang peka sekaligus lembut hati dan perilakunya, sekaligus tegas jika kamu menemui hal yang salah. Kamu akan melampaui jalan yang lebih jauh dari yang pernah orang tuamu tempuh. Berbicara tentang hal-hal yang belum pernah orangtuamu pelajari.

Dunia ini akan mewarnaimu hingga mungkin kamu akan kebingungan dengan dirimu. Kamu kesulitan mengenali dirimu sendiri. Saat itu terjadi. Pulanglah! Ayah akan selalu tahu cara mengenali puterinya.

Yogyakarta, 2 Juni 2018 \ Kurniawan Gunadi

Lima Puluh Tahun

Lima puluh tahun dari sekarang, mungkin aku sudah tiada, mungkin juga kamu. Anak-anak kita sudah tumbuh menjadi orang tua, seperti yang pernah kita alami sekarang. Barangkali juga, umur siapa tahu. Mereka mungkin meninggalkan kita lebih dulu. Tidak ada yang tahu.

Lima puluh tahun dari sekarang. Segala sesuatu amat sangat mungkin terjadi. Tapi, di keluarga kecil kita ini. Ada hal-hal yang perlu untuk kita jaga seperti mulanya biar meskipun waktu terus bergerak jauh, kita tidak kehilangan jejak.

Lima puluh tahun dari sekarang, seharusnya alasan-alasan kebahagiaan kita tidak berubah. Sebab jangan sampai, alasan kebahagiaan itu bergantung pada hal-hal yang dunia, seperti harta dan kekayaan.

Lima puluh tahun dari sekarang, seharusnya niat kita tidaklah berubah. Mengapa dulu kita membangun rumah tangga ini. Apa tujuan kita mendidik anak-anak. Mengapa kita bekerja siang dan malam sampai hari ini. Semuanya bermuara pada niat yang hari ini kita batin berkali-kali dalam hati. Seharusnya, niat itu tidak terpengaruh waktu.

Lima puluh tahun dari sekarang. Kita akan menyaksikan lagi jejak-jejak yang kita buat. Pada tulisan-tulisan yang pernah kita muat, pada buku-buku yang pernah kita tulis, pada orang-orang yang tumbuh bersama, menyaksikan perjalanan ini, dan kita titipkan beberapa potong cerita hidup ini kepadanya.

Lima puluh tahun dari sekarang. Kita tentu sudah menua. Untuk itu, tidak perlu risau pada kecantikan dan ketampanan, tidak perlu risau pada hal-hal yang tidak bisa kita lawan karena waktu. Risaulah pada hal-hal lain yang apabila waktu itu terus bergerak, kita tidak menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya.

┬ękurniawangunadi

Shabira Belajar Syukur

Sudah dua hari ini Shabira memiliki adik baru, adik sebab persusuan. Dan sudah dua hari ini, adiknya ikut tinggal di rumah kami yang mungil. Beberapa hari ke depan, adik Shabira akan tinggal di rumah kami. Dan ritual begadang tengah malam kami, kembali terulang.

Kami sering berbicara kepada Shabira bahwa ia adalah anak yang baik, anak yang pengertian, anak yang selalu bersedia berbagi. Termasuk berbagi ASI kepada saudaranya. Dan alhamdulillah, Shabira sangat mudah diajak bekerja sama. Meski tetap saja, kami beraktivitas bak ninja, sulap sana sulap sini. Ternyata begini rasanya punya dua anak, tapi umurnya hampir sama.

Kami berbagi peran, beberapa hari ini. Pekerjaan rumah agak terbengkali, tapi itu tidak sedang menjadi prioritas. Bagi kami, anak-anak ini adalah prioritas. Istri saya juga mengundang teman-temannya yang luang untuk ke rumah waktu siang, ikut membantu merawat dua anak kami yang luar biasa ini. Shabira dan adiknya, sungguh akur. Bangun satu, bangun semua. Tidur satu, tidur semua.

Dari kejadian ini pula, kami berkali-kali berkata kepada Shabira agar ia selalu bersyukur memiliki apa yang ia miliki sekarang. Memiliki ayah dan ibu, memiliki badan yang sehat, bisa minum ASI secara penuh, punya rumah yang menjadi tempat teduh, dsb.

Bertahun mendatang, hari ini akan menjadi cerita. Shabira juga akan tahu jika ia memiliki saudara sepersusuan yang pernah tinggal serumah saat ia masih kecil, meski hanya beberapa hari. Semoga, bertahun mendatang, mereka berdua bisa menjadi perempuan-perempuan yang tangguh, yang selalu menjadi doa untuk kedua anak kami.

 

Berusaha Menjadi Ayah yang Baik

 

 

Beberapa tahun mendatang, saat langkah kakinya mulai kuat untuk berjalan jauh. Akan ada masa-masa seperti ini, masa-masa saat bisa menemani dan memerhatikan tumbuh kembangnya. Sesuatu yang terjadi tiap detik dan hanya sekali seumur hidup. Saat pertama ia bisa tengkurap, kata pertama yang diucap, bisa merangkak, kemudian bisa berjalan, tahu-tahu besok ia akan berbicara tentang cita-cita dan cinta pertama.

Hal seperti inilah yang membuatku tiba-tiba sadar kalau sudah hampir sebulan jarang menulis, jarang online dan berlama-lama dengan ponsel. Bahkan saat bersamanya, tidak disibukkan dengan mengambil gambar dan merekamnya. Semuanya kurekam baik-baik dalam kenangan dan kehadiran yang utuh.

Esok saat ia sudah kuat langkahnya, ia akan pergi jauh. Semoga ayah cukup memberimu bekal.

 

 

 

Yang Tak Terulang

Dua minggu pertama Shabira terlahir ke dunia, rasanya duniaku ikut terobrak-abrik. Jam tidur yang tiba-tiba berubah, fokus yang tiba-tiba terpecah, ego yang tiba-tiba harus selalu terkendali, dan segala sesuatu yang tidak pernah kusangka akan seperti itu; saat memiliki buah hati.

Saya yang hampir tidak pernah menggendong bayi sebelumnya, tidak juga pernah tahu bagaimana rasanya mengasuh anak kecil karena saya tidak punya adik. Tiba-tiba, sesaat setelah Shabira lahir, saya harus menggondongnya meski dengan tangan yang masih kaku. Membopongnya dari perawat, kemudian mendekatkannya ke ibunya sembari mengumandakan adzan dan iqamah dengan haru.

Saya harus berjibaku dengan waktu, tidur bergantian. Juga membersihkannya sesaat setelah ia buang air. Rela terbangun jam berapapun saat ia menangis karena risih setelah buang air. Sebelum jam 6 pagi, sudah mulai mencuci popok kainnya.

Juga sewaktu dua hari Shabira harus menginap lagi di rumah sakit untuk terapi sinar. Setiap tiga jam saya harus bolak-balik dari rumah ke rumah sakit untuk mengantarkan ASI, tidak peduli waktu.

Atau ketika Shabira rewel dan hanya mau digendong, sampai kadang tangan menjadi kelu. Atau punggung terasa pegal. Atau kemudian harus merelakan pekerjaan terbengkalai.

Semua itu adalah moment yang tak akan pernah terulang. Hanya sekali dan saya tidak ingin melewatkannya, satupun.

Kelak, saya mungkin takjub saat waktu berlalu dan tanpa terasa Shabira sudah tumbuh menjadi perempuan dewasa. Saat ia sudah bisa mengambil keputusan-keputusan atas hidupnya sendiri. Saat langkah kakinya tak lagi bisa kuimbangi karena ia sudah berlari jauh menjelajah dunianya. Saat itu, mungkin saya akan rindu masa kecilnya.

Masa-masa saat memandikannya di bak kecil. Menggendongnya sambil berjalan ke sana ke mari. Mengajaknya bercerita dengan bahasa bayi. Atau sekedar mengantar dan menjemputnya dari sekolah.

Semua momen itu hanya sekali dan tak akan terulang.

Malang, 29 Maret 2018 | ┬ękurniawangunadi

Mencoba Membuat Diri Menjadi Lebih Baik

Cobalah untuk menurunkan ekspektasimu terhadap orang lain, agar kamu tidak kecewa karena mereka pasti memiliki kekurangan. Sebab kita seringkali tidak bisa memberi ruang pada rasa kecewa di hati kita.

Cobalah untuk melemaskan egomu terhadap setiap kehendak, agar kamu tidak lelah dalam menjalani hidup. Sebab banyak sekali urusan kita yang harus bersinggungan dengan banyak orang, sementara setiap orang memiliki kehendaknya masing-masing.

Cobalah untuk melapangkan ruang penerimaan. Sebab, menerima orang lain itu lebih sulit daripada saat menumbuhkan perasaan berharap. Sebab, seringkali kita sulit menerima karena kita seringkali merasa tidak diterima. Dan sekalinya ada yang bersedia menerima kita, kita yang seringkali tidak bisa menerimanya. Membuatnya kecewa dan pergi.

Cobalah untuk berani mengakui kesalahan. Sebab, hidup ini bukan tentang menang dan kalah. Kebahagiaan yang hakiki tidak hadir karena kita bisa mengalahkan orang lain. Mengakui kesalahan, bersedia untuk bertanggungjawab, bersedia untuk menerima risiko. Adalah sikap-sikap yang akan memudahkan kita dalam memaknai kebahagiaan. Bukankah perasaan bersalah, yang membuat kita sulit bahagia?

Malang, 4 Maret 2018 | ©kurniawangunadi

Bersinggungan

Setiap hidup manusia yang saling bersinggungan, sadar atau tidak, ia ikut berpengaruh dalam setiap takdir hidupmu. Sedikit banyak kita tidak peduli, bukan?

Semisal kekesalanmu hari ini pada supir-supir yang menghentikan kendaraannya sembarangan, tukang parkir yang tiba-tiba muncul. Kita mungkin tidak mengenal mereka, tapi pahala dan dosa kita hari ini, muncul karena kehadiran mereka.

Semisal, sewaktu usia kita sudah matang. Ketika kita belum juga menemukan titik terang tentang pendamping hidup. Lalu, datanglah orang-orang yang berniat denganmu, berproses denganmu, meski pada akhirnya tak satupun dari mereka yang akhirnya menikah denganmu. Kita mungkin bisa mengabaikannya, tapi takdir kita telah berubah sejak kehadiran mereka. Kita telah menjadi seseorang yang berbeda, tergantung dari diri kita bisa mengambil pelajarannya atau tidak. Mereka hadir tidak hanya untuk memenuhi keingananmu, tapi juga memberimu pelajaran berharga.

Semisal, sepanjang perjalanmu hari ini. Kamu saling bertegur sapa dengan orang lain. Kerikil yang kamu singkirkan dari jalan. Sayuran yang kamu beli di pasar, atau mungkin dari penjual sayur keliling. Pertemuanmu dengan setiap orang, memberikan dampak yang tidak disadari. Rezeki yang berpindah, marabahaya yang terhindar, dan aneka bentuk keterkaitan yang jika kita mau memikirkannya. Yang ada hanya, rasa syukur dan menginsyafi diri ini yang seringkali memaksakan kehendak, rencana, agar bisa menjadi takdir hidup kita kedepan.

Nyatanya, di atas rencana yang kita buat, masih ada rencana Nya. Sesuatu yang seharusnya berhasil membuat kita percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita ini, adalah yang terbaik. Dan kita mengakui, bahwa selama ini kita sajalah yang sering salah dalam memahami maksudNya.

Malang, 4 Maret 2018 | ©kurniawangunadi

Bertumbuh

Dari bertumbuh ini kami berdoa semoga kita mampu untuk mengelola setiap keadaan. Mampu untuk memahami, bersedia mendengarkan, bersedia untuk berjuang, juga bersedia untuk lelah.

Sebab dalam masa-masa itu, segala sesuatu akan tampak abu-abu. Cita-cita kita akan diuji dengan sedemikian rupa. Segala keresahan akan hadir dalam berbagai bentuk.

Satu dua diantara kita, ada yang menyerah menghadapi. Kamu jangan. Sebab, satu hal yang perlu untuk kamu percaya bahwa kamu tidak pernah sendirian ketika mengalaminya.

Kita semua melewati proses yang serupa, hanya berbeda bentuk. Hanya berbeda cara, Dan kita hanya tidak saling tahu apa yang kita hadapi.

Malang, 4 Maret 2018 | ©kurniawangunadi