Bagaimana Baiknya

Suatu hari, disaat langit sedang kelabu-kelabunya, hatiku pun demikian. Adik bimbinganku mengirimkan sebuah pesan pendek melalui whatsapp. Aku sedang berbaring di tempat tidur, memandangi jendela, memerhatikan pohon yang bergerak-gerak ditiup angin, menantu hujan.

“Kak, mau nanya dong. Apa aja sih yang harus diperjuangkan oleh seorang laki-laki terhadap perempuan yang disukainya. Biar mendapatkan sinyal positif, biar bisa meyakinkannya (dan keluarganya), biar bisa mencuri hatinya. Laki-laki itu harus bagaimana?” tanyanya.

Aku membacanya, malas. Menimang-nimang kembali handphoneku, lalu melemparkannya ke tumpukan baju. Aku memilih untuk menidurkan diri,

Lepas tengah malam. Aku masih berkutat dengan buku, dengan pikiranku, dengan kegelisahanku. Aku memungut kembali handphone yang sedari tadi aku buka. Memandang kembali pertanyaan dari adik kelasku yang tak kunjung ku balas.

“Dengan beribadah dengan baik, bekerja dengan tekun, fokus, berbuat baik pada banyak
orang, rutin mengkaji ilmu, ikut kegiatan yang bermanfaat, membantu
orang lain, dan terakhir, berbakti kepada kedua orang tua.”
jawabku.

Aku tahu, aku sedang menasihati diriku sendiri.

©kurniawangunadi

Kalau masih ada kekhawatiran, tandanya kamu masih memiliki jalan lain. Hanya saja kamu belum melihatnya. Kamu belum menemukan yang kamu cari, bisa jadi karena memang belum waktunya, atau memang kamu belum cukup layak untuk menerimanya saat ini. Yakinkan Dia, bahwa kamu layak. Tunjukan kepada orang-orang terdekatmu bahwa kamu sudah cukup bertanggungjawab untuk mengambil keputusan, menentukan pilihan.

Keluarga yang Beruntung

(c)ajinurafifah

Anak-anak yang beruntung bukan mereka yang bergelimang harta dan fasilitas mewah dari orangtuanya.

Anak-anak yang beruntung adalah yang mereka yang bergelimang hikmah dan keimanan dari orangtuanya.

Mereka beruntung karena kelak ajaran orangtuanya begitu dibutuhkan dalam menjalani setiap fase kehidupan.

Dan orangtua yang beruntung adalah mereka yang sudah tidak lagi hidup, tapi pahala terus mengalir untuknya, ialah doa dari anak-anak yang shaleh shalehah 🙂

Buku Bertumbuh Segera Rilis

BERTUMBUH | MARET 2018

Beberapa bulan yang lalu, yang jelas sudah lama, kami berlima berwacana untuk membuat sebuah buku. Dan takdirnya baru selesai di Februari 2018. Memang proses itu tidak bisa dipaksakan, hikmahnya.

Untuk teman-teman yang suka mengintip halamannya @satriamaulana yang sarat akan kontemplasi mendalamnya, halamannya @prawitamutia yang penuh cerita tentang kehidupan dan keluarga, halamannya @novieocktavia yang riuh dengan problematika hidup, juga kalau ada yang sering dengerin podcastnya @academicus tentu tahu betapa kerennya bahasan-bahasan di dalamnya tentang masalah kekinian.

Akhirnya, kami berlima berhasil merampungkan buku yang sederhana ini. Betapa menariknya proses menyatukan lima kepala menjadi satu buntalan cerita. Bagaimana kami harus berdiskusi, menyesuaikan ritme, berbagi tugas, dan lain-lain. Akhirnya, semua itu membuahkan hasil, Bertumbuh.

Bertumbuh menjadi buku yang ingin kami persembahkan sebagai teman perjalanan, berusaha menjadi apapun bagimu, dan ingin membisikkan ke telingamu jika kamu tidak pernah sendirian ketika melewati segala kekhawatiran, keresahan, dan hal-hal terduga saat ini.

Buku ini adalah himpunan perjalanan kami sebelum-sebelumnya. Hal-hal yang berhasil kami maknai, juga syukuri.

Bertumbuh akan tersedia insyaallah Maret 2018 ini. Semoga buku ini bisa bermanfaat dan sarat akan kebaikan jika ia sudah lahir nantinya.

N.B Segala informasi tentang pemesanan buku ini akan dikelola di instagram @langitlangit.yk / wa 0857 7272 4343 dan juga tumblrblog masing-masing penulisnya 🙂

RTM : Mengalah

Dulu saya tidak mengerti kenapa orang tua seringkali mengalah kepada anaknya. Mengalah semisal, ibu lebih memilih memasakan makanan kesukaan saya daripada kesukaan bapak jika saya mudik. Bapak mengalah demi itu. Atau saat ada keperluan, bapak dan ibu sering mengalah menunda membeli keperluannya demi agar keperluan anaknya terpenuhi lebih dulu.

Beberapa hari kemarin, ketika saya dan istri mengajak Shabira keluar untuk jalan-jalan mengurus dokumen-dokumen segala macam di kampung halaman. Kami ada keinginan untuk makan di tempat-tempat makan kesukaan kami, seperti mie ayam, bakso, soto, dsb. Hanya saja, setibanya di sana kami tidak jadi berminat. Ketika melihat tempatnya terlalu ramai, ada orang yang merokok, atau mungkin antreannya terlalu lama.

Melihat Shabira yang baru berusia belum dua bulan, kami mengalah. Kami merasa kasihan kepadanya jika kami terus mementingkan keinginan kami hanya untuk sekedar makan di tempat tersebut. Membiarkannya terpapar asap rokok, berdesak-desakan, dsb. Akhirnya, kami pulang, makan seadanya di rumah.

Saya merasa tidak pernah seperti ini sebelumnya, saya yang sangat kekeuh ketika ingin sesuatu. Kini, saya luluh kepada anak perempuan ini, yang pandangan matanya mampu meruntuhkan ego, yang senyumnya mampu menenangkan khawatir, dan suara khasnya yang membuatku selalu ingin memberikan yang terbaik sebagai Ayah.

Rumah, 10 Februari 2018 | ©kurniawangunadi

Tulisan : Ketidaknyamanan

Kejujuran/kebenaran dan keterusterangan. Dua hal yang mungkin sering kita hindari. Sebab dua hal inilah yang membuat kita seringkali khawatir, cemas, dan berusaha keras mengingkarinya.

Pernahkah berusaha untuk terus terang kepada orang tua terkait keinginanmu, sementara mereka memiliki harapan yang lain? Atau pernahkah kamu mendapatkan kritik yang jujur dari seseorang atas segala sikap dan sifatmu, sementara kemudian kamu berusaha untuk menyangkal dan membuat pembenaran?

Pernahkah kamu jujur menyampaikan ketidaksukaan dan ketidakcocokanmu pada pimpinan, pada teman, orang-orang dekat?

Atau seperti, bagaimana kamu menyimpan segala bentuk cerita di masa lalumu. Bukankah rasanya sulit untuk jujur dan terus terang kepada orang-orang? Bukankah rasanya takut dan khawatir jika orang lain mengetahuinya?

Atau bagaimana rasanya jika kamu mendapati kebenaran atas seseorang yang akan menjadi pasangan hidupmu, kala ia berterus terang padamu atau kamu mendengar kebenaran dari orang lain akan masa lalunya yang sulit kamu terima (juga keluarga seandainya mereka tahu). Bukankah kamu semakin khawatir untuk melanjutkan hubungan dengannya?

Kejujuran dan keterusterangan. Dua hal yang jarang diajarkan di kehidupan kita. Kita sibuk memendam prasangka, sibuk memendam ketidaksetujuan, mengkritik di belakang. Kita juga tidak diajarkan untuk siap menerima kejujuran dan keterusterangan dari orang lain. Tidak mudah memang, juga sulit untuk mengakui jika diri ini memang salah dan keliru. Kita sibuk menutup rapat kebenaran-kebenaran atas diri kita sendiri bahkan. Memanipulasi kebahagaiaan. Menenggelamkan diri dalam kepalsuan, ketidakjujuran, dan tertutup.

Rumah, 10 Februari 2017 | ©kurniawangunadi

….

Saat aku menyuruh orang lain untuk bersyukur, mungkin kesyukurannya jauh lebih banyak daripada yang kuucapkan. Saat aku menasihati orang lain untuk bersabar, mungkin kesabarannya jauh lebih besar daripada yang kumiliki. Aku hanya tidak tahu, tidak juga mencari tahu.

Saat aku merasa berhak untuk berkeluh kesah atas ujian-ujian yang menimpa, mungkin harusnya aku lebih pantas untuk malu sebab ujianku tidak ada apa-apanya dibandingkan orang lain.

Kini, hati dan pikiranku lebih terkendali. Lebih berhati-hati dalam berucap, tidak lagi sibuk menilai, juga tidak lagi merasa berhak untuk memberi nasihat tanpa diminta. Sebab, aku menyadari. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan masalah yang mereka hadapi, aku bahkan belum pernah menjalani masalah serupa, bagaimana mungkin aku bisa memberikan jawaban yang baik, nasihat yang tepat?

Kini, hati dan pikiranku lebih tenang. Kini, aku merasa lebih tepat untuk menemani dan mendengarkan.

©kurniawangunadi | 4 Februari 2017

Doa-Doa Mereka

Repost

Tulisan di bawah ini miliki Kak Uti, teman diskusi yang dulu adalah asdos saya sewaktu kuliah tingkat pertama di FSRD ITB. Saya salin dari halaman FBnya karena saya merasa tulisan ini amat baik untuk diteruskan, berikut tautan aslinya (klik di sini)

Beberapa tahun yang lalu sempet merenung, beruntung banget orang-orang yang masih
punya ibu apalagi orang tua lengkap. Orang tua gak bisa ngajarin semua hal
terhadap anaknya karena kapasitas
mereka juga beragam, waktunya terbatas, dan banyak faktor lainnya. Mereka juga
gak bisa terus-terusan menjaga dan mengontrol anaknya.

Tapi berkat doa yang gak pernah putus dari mereka, si anak terus
terjaga dalam langkah hidupnya. Akalnya terjaga, hatinya terjaga,
pikirannya terjaga, jiwanya terjaga, kehormatannya terjaga. Belum lagi
segala keberuntungan yang datang berkat doa mereka. Keberuntungan
terhindar dari marabahaya, keberuntungan dapat peluang, keberuntungan dapat
jodoh yg soleh.

Seseorang lepas dari agama puluhan tahun dan orang
tuanya tahu. Tapi orang tuanya “gak bisa” ngapa-ngapain, karena itu udah urusan pribadi
anak dengan Tuhannya, dan manusia gak bisa mengubah hati manusia lain.
Sampai di momen, orang ini “kembali” pada jalan-Nya dan menyadari “dulu
gue lost”
. Ada doa orang tua yg akhirnya diijabah oleh Sang Maha pembolak
balik hati.

Seseorang kemampuan nalar, matematika, daya
tangkapnya kurang. Diajarin apapun lama nangkepnya. Tapi dia selalu
selamat dalam segala ritme kehidupan, tumbuh jadi manusia berhati lembut dan
bahagia. Meski kurang, jiwanya terjaga. Ada doa ibu dibalik itu. Doa
agar anaknya terlindungi, bahagia, dan bisa survive.

Peluang
buat gak bener itu banyaaaak banget, ada dimana-mana. Cuma saat mau
ngelakuinnya ada aja yang bikin gak jadi. Bahkan kadang-kadang gak minat juga buat
milih jalan itu. Kalo diliat ulang kebelakang, berapa banyak hal-hal buruk
yang gak jadi diambil? Berapa banyak terselamatkan dari bahaya? Berapa banyak peluang-peluang yang
menyesatkan gak jadi dipilih dan malah bersyukur diakhirnya? Berapa banyak
terselamatkan dari hal-hal jelek? Berapa banyak hal-hal di luar kendali manusia yang
bisa dilewati? Banyak banget pasti itu. Dan selamat. Itu semua bukan
semata-mata kemampuan diri aja, ada doa orang tua yang bikin selamat,
terhindarkan dari bahaya dan keburukan.

Banyak orang tua yang
bijak. Untuk tidak banyak mencekokan pendidikan ini itu kepada anaknya,
yang membebaskan anaknya mengenali dirinya sendiri, membebaskan anaknya
terhindar dari rasa takut (takut gak disukai/ takut dibenci/ takut salah/
takut gak diterima), membebaskan anaknya untuk belajar, membebaskan
anaknya untuk benar-benar punya purpose of life dan goal yang benar-benar peran
anaknya, membebaskan anaknya dari persepsi dirinya dengan tidak
menurunkan kebencian apapun (semacam ortu benci kaum x, terus cerita-cerita ke
anaknya).

Orang tua yang sadar kalau sebaik-baiknya yang bis a
dilakukannya dimulai dengan memberi makanan yang halal (makanannya, caranya,
hartanya). Sesuatu yang baik tumbuh dari hal sekecil makanan halal, karena itu
yang terus tumbuh melekat pada fisik manusia. Dan dalam perjalanan
pendidikannya, kehidupannya, mereka terus berdoa untuk keselamatan
anaknya dunia akhirat.

Dan semakin kesini, semakin paham cinta
orang tua begitu besar dan gak akan tergantikan apapun. Entahlah kalau
udah punya anak, bakal lebih bisa merasakan lagi (gak cuma berdasarkan logika,
imajinasi, dan empati lagi), merasakan karena terlibat langsung dan berganti
peran.

Saat satu orang tua meninggal, hilang satu keberkahan. Saat kedua orang tua meninggal, hilang dua keberkahan. Keberkahan hidup, doa-doa yang
menjaga kita hingga akhirnya jadi seperti sekarang, dalam keadaan sekarang.

©Febriani Eka Puteri

RTM : Berhitung

Pernah tidak? Beberapa kali, atau banyak kali, jika tidak sesekali kita sangat perhitungan terhadap orang tua. Misal dulu sebelum kita bekerja, untuk diminta bantuan saja kita berhitung. Atau ketika salah satu dari beliau sakit, masih ada prioritas lain yang kita miliki. Kini misal selepas bekerja, saat kita mau memberi sebagian penghasilan kita ke mereka, masih kita perhitungkan. Bahkan, misal saat kita bicara dengan mereka dan tiba-tiba mereka terucap menginginkan sesuatu, kita berpikir-pikir untuk membelikannya atau tidak.

Saya menginsyafi, jika saya pernah seperti itu. Sampai suatu ketika, saya menikah dan akhirnya merasakan menjadi orang tua. Saya paham, bahwa hal itu membuat saya semakin bersalah. Saat ini, saya merasakan bagaimana saya sebagai orang tua, ingin memberikan yang terbaik dan segalanya untuk anak. Saya tidak peduli berapa ongkos yang dikeluarkan jika ia sakit, atau kebutuhan-kebutuhannya yang lain. Yang saya pikirkan adalah bagaimana saya berjuang untuk mencukupinya.

Saya tidak pernah berhitung ketika harus begadang, menggendongnya, dan lain-lain sementara saya masih ada urusan-urusan. Bagaimana kemudian saya merelakan urusan itu, hanya untuk menemaninya. Memastikannya dalam keadaan baik dan dalam pengawasan.

Saya tidak pernah mengukur berapa biaya yang harus saya keluarkan sejak ia lahir hingga hari ini. Sedikit atau banyak bukan menjadi ukuran, yang menjadi ukuran adalah ia bisa lahir dengan baik dan tumbuh dengan sehat.

Ini membuat saya merenung, selain menjadi orang tua, saya juga masih memiliki peran sebagai anak. Dan sungguh, saya merasakan betul bahwa saya tidak akan pernah bisa mengganti kebaikannya, tidak akan pernah cukup usia saya untuk membayar semua pengorbanan orang tua.

Betapa bersyukur dan beruntungnya orang tua yang memiliki anak-anak yang tumbuh dengan baik. Memiliki budi pekerti yang baik, memiliki akhlak yang santun. Sedih rasanya jika melihat anak-anak yang tumbuh tanpa adab.

Dan saya sering bercerita sambil berdoa saat menimang-nimang Shabira, semoga ia tumbuh menjadi perempuan yang baik, yang beradab, yang salehah, yang berbakti, yang menjadi cahaya kedua orang tuanya.

Semoga suatu saat, Shabira (dan adik-adiknya) bisa membaca tulisan ini.

©kurniawangunadi | rumah, 1 februari 2018

goyah

satriamaulana:

Sejak berstatus warganet zaman now, bukan hal asing bagi kita untuk mengonsumsi potongan kisah hidup orang lain lewat linimasa. Sayang, mengonsumsi kisah hidup para karib, kerabat atau idola secara intens hari ini terasa tak seasyik dulu sebelum kita tumbuh dewasa karena rasa minder yang kadang mencuat kala mendapati hal-hal baik yang dicapai oleh orang lain dalam unggahannya.

Melihat foto mereka yang terlihat harmonis dengan keluarga kecilnya membuat kita sedikit resah dengan pikiran tentang pasangan hidup. Melihat video mereka yang tengah menempuh studi di luar negeri membuat kita lumayan gelisah dengan diskusi tentang titel idaman. Goyah. Perasaan itu bisa lumayan mengusik ketika rasa mindernya tumbuh sebagai penghambat produktivitas.

Maka, hal sederhana yang terbilang ampuh sebagai pelipur resah-gelisah dalam kondisi tersebut adalah menyadari bahwa tujuan, kondisi, ikhtiar, prioritas dan takdir setiap orang sedemikian berbeda.

Katakanlah kita memiliki sahabat yang bertujuan memiliki bisnis – sama seperti kita. Ketika sahabat kita giat mengembangkan diri dengan rajin mengikuti seminar kewirausahaan, membaca buku-buku penunjang hingga berkonsultasi dengan para praktisi, kita masih saja berkutat dengan prioritas lain. Dengan perbedaan tersebut, tentu wajar jika dalam perjalanannya ia lebih dulu meraih apa yang kita sama-sama inginkan.

Namun, contoh di atas hanya menekankan perbedaan poin ikhtiar dan prioritas atas tujuan yang serupa. Apa jadinya kalau tujuan, kondisi aktual dan takdir yang ditentukan-Nya pun berlainan secara keseluruhan bagi setiap orang? Tidak mengherankan kalau momentum pencapaiannya akan berbeda pula. Karenanya, tenanglah. Tak perlu kita berkecil hati apalagi sontak mengubah arah. Malah, perbedaan tersebut layak menjadi lecutan bagi kita untuk terus memacu diri dalam kesabaran dan kesyukuran.

Akhirnya, capaian siapapun dalam bentuk apapun yang terlihat di linimasa hanya perlu dikembalikan pada fungsi asalnya yakni sebagai kabar berita. Kita perlu turut bersukacita dengan capaian karib-kerabat raih lewat ucapan selamat juga doa baik yang diikutsertakan. Dengan begitu, raihan mereka takkan sedikitpun menyulitkan hati apalagi menghambat laju proses yang tengah kita tempuh kini.

Kalaulah unggahan-ungggahan tersebut masih saja menyulitkan hati, tentu menekan tombol unfollow tetap mudah untuk dilakukan. Toh unfollow di dunia maya takkan serta merta dimaknai sebagai upaya pemutusan hubungan di dunia nyata. Selebihnya, cek hati kita. Mungkin selama ini perasaan insecure hadir dalam hati karena kurangnya rasa syukur atas apa yang kita miliki. Lagipula, setiap orang memiliki hak untuk menghiasi linimasa dengan unggahan-unggahannya dalam bentuk apapun.

Kita sederhanakan dengan simpulan bahwa selera bermedia sosial setiap orang pasti berbeda agar kita tak mudah menyalahkan orang lain yang tak sepemahaman. Dengannya, media sosial tetap baik, ringan, asyik lagi menyenangkan untuk disimak – setidaknya bagi diri kita sendiri.