Memaknai

Pemaknaan kita pada sesuatu sering berbatas hanya karena ego atau kemauan. Ego kita yang membuat kita enggan memulai, enggan untuk menyapa dan bertanya, enggan untuk mencari tahu, padahal semuanya tersaji di depan mata. Juga kemauan kita yang surut, semuanya serba mudah, tapi kita enggan beranjak.

Karena kita merasa diri ini lebih baik, seringkali lahir penilaian-penilaian kita kepada orang lain. Padahal, kita belum mencermatinya, hanya sekilas melihat dan mendengarnya. Karena kita merasa sudah cukup, kita enggan untuk belajar lagi dan lagi. Semisal, begitu banyak kajian tersaji di masjid-masjid di kotamu, tapi kamu memilih duduk di rumahmu.

Dan tentang pemaknaan. Barangkali, kita tidak kunjung berhasil mengenali hidup dan jalan yang kita tempuh ini sebab dua hal itu, ego dan kemauan. Pemaknaan kita menjadi buntu, berkutat pada hal-hal yang sama. Di satu sisi kita ingin tahu, disisi yang lain kita malas beranjak. Kita kembali berkutat pada ujian yang serupa berulang-ulang, karena kita merasa sudut pandang yang kita ambil adalah yang paling benar, enggan mencoba melihat dari sisi yang lain. Kita berkutat pada pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya hanya ada di masa lalu, bukan sibuk membenahi hari esok.

Dan kita kebingungan akan kemana hidup ini, rasanya seperti air mengalir. Tapi, kita tidak tahu ke mana mengalirnya. Rasanya seperti angin yang berhembus, tapi kita tidak tahu kemana arahnya.

Hidup menyimpan banyak jawaban yang hanya akan kita temukan dengan cara menjalaninya, meredakan ego, dan mau untuk bersusah payah.

©kurniawangunadi

Menyerah

Kalau kamu belum menyerah, silakan berjuang. Tapi aku di sini, hanya akan melihatmu. Sebab, sudah ku katakan kepadamu sebelumnya jika kita tidak bisa memaksakan segala sesuatu seperti yang kita harapkan. Kekuatan kita terbatas, daya kita ada habisnya. Kalau bukan karena izin-Nya, kita tidak bisa sampai sejauh ini.

Kalau kamu masih mau berjuang, silakan. Aku tidak akan menunggumu, apalagi mengharapkan. Sebab, sudah ku katakan kepadamu sebelum ini, kalau aku sudah di titik terakhir. Kamu mungkin memiliki keleluasaan yang lebih, aku tidak. Kamu mempunyai keberanian yang lebih, aku tidak. Kamu masih yakin pada dirimu, aku? entahlah. Aku hampir tidak percaya bahwa aku pernah ikut memperjuangkanmu. Namun, justru ku dapati aku semakin jauh dari Tuhanku. Menjadi hamba yang sering memaksa, menjadi anak yang seringkali berselisih dengan ayah dan ibu, menjadi teman yang sering berkeluh kesah.

Biarlah waktu yang menjawabnya. Aku dengan jalanku, kamu dengan jalanmu. Jika kamu ingin berjuang, kamu hati-hati. Sebab, bisa jadi jalan yang kamu paksakan itu justru jalan yang membuatmu semakin jauh dari keimanan.

©kurniawangunadi

RTM : Sabar

Sewaktu mencari nama untuk Shabira, nama pertama-pertama yang muncul adalah sebuah nama yang bermakna Samudera Kesabaran. Dua kata yang akhirnya tidak jadi kami gunakan. Karena ternyata hasil USG nya perempuan. Akhirnya berusaha mencari nama yang lebih feminim.

Lepas dari itu, sejak awal. Makna Sabar tetap dipertahkan. Karena itu adalah doa utama dari nama yang akan kami sematkan ke Shabira, sampai akhirnya suatu hari saya sakit. Saya tiduran di ruang tengah, istri sedang memasak. Saya terbangun dan tiba-tiba terpikir sebuah nama yang tepat, Ghinannisa Shabira.

Kami berdoa agar shabira bisa menjadi perempuan yang kaya akan kesabaran. Nyatanya, justru saya yang belajar banyak dari Shabira.

Setiap kali Shabira rewel, kami selalu berkata, “Sabar ya Nak, seperti namanya,” dan lain-lain yang selalu saja kami sampaikan kepadanya untuk menjadi sabar. Sabar ketika mandi, sabar ketika buang air, sabar ketika minum ASI, dsb. Dan alhamdulillah, Shabira benar-benar bisa diajak bekerja sama dengan baik sampai hari ini. Benar-benar memudahkan kedua orang tuanya.

Dan saya belajar lebih banyak lagi. Sejak menjadi ayah, saya merasa tingkat kesabaran saya meningkat. Beberapa waktu yang lalu, saya memesan sesuatu dan ternyata hasilnya diluar dugaan, setengah pesanan yang saya terima rusak. Dan saya waktu itu hanya bilang, “ya sudahlah”. Karena biasanya saya tidak pernah seperti itu, pasti ripuh, kesal, dsb. Atau seperti hari ini, bumper mobil saya nyangkut di trotoar dan baret-baret. Setiap teman-teman yang mengenal saya pasti tahu betapa riweuhnya saya dengan hal seperti itu. Hari ini, saya hanya memandang baretan itu, dan ya sudah.

Saya termasuk orang yang amat detail, saya bisa sangat risih  dengan sesuatu yang tidak sempurna. Jadi, baretan di mobil itu bisa bikin saya stress, nyatanya sekarang tidak. Saya lebih bisa menolerir ketidaksempurnaan dan ketidakteraturan.

Saya sadar betul jika Shabira mampu memahami apa yang saya rasakan. Dan jikapun saya badmood di luar, merasa kesal dsb. Perasaan itu harus sudah luruh sebelum saya bertemu shabira. Sebelum saya menggendongnya. Setiap kali bertemu dengannya, perasaan saya harus bahagia dan penuh kasih sayang. Dan semakin ke sini, saya semakin bisa merasakan bahwa sebenarnya, shabiralah yang mengajarkan ayahnya banyak sekali. Bahkan, saat menikah kemarin saya belum sampai level ini.

Doa yang saya sematkan menjadi namanya, justru menjadi pengingat saya setiap waktu. Shabira, sabar, dan sabar. Sebagaimana Allah katakan untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong (lihat Al Baqarah 153). Kesabaran itulah yang membuat saya benar-benar merasa berharga dan beruntung, mungkin inilah salah satu alasan kenapa Shabira ada. Untuk mengajarkan ayahnya, untuk menjadikan ayahnya seseorang yang penuh kesabaran.

©kurniawangunadi

berdaya:

mau repot

“mbak, kalau kamu mau anakmu jadi anak yang mandiri, berdaya, peka dengan sekitar, terasah empati dan emosinya, itu gampang. kuncinya satu, kamu harus mau repot.

membuat anak terus-menerus merasa terhibur dan memilih menghindarkan anak dari layar sebelum waktunya memang repot. lebih enak beri saja teve atau hape, biar nonton dan berhenti rewel. tetapi ini melatih anak untuk bisa membuat dirinya sendiri terhibur dengan yang ada di luar layar. ada banyak yang lebih menarik di sekitar.

membuat anak mau makan sambil duduk, apalagi makan sendiri, dengan rapi, tidak acak-acakan, dan makannya tetap banyak memang repot. lebih enak gendong dan suapi sambil jalan-jalan, makannya biasanya akan lebih banyak. tetapi ini melatih kesadarannya bahwa dia sedang makan. bahwa makan harus duduk. bahwa makan adalah bagian dari bersyukur.

membuat anak mau buang air di toilet, bisa duduk tenang, mencatur setiap pagi dan malam, memang repot. lebih enak pakai popok sekali pakai, biarkan saja buang air sesukanya. tetapi ini mengajarkan aturan dan menunjukkan bagaimana berperilaku yang baik. lebih sehat.

membuat anak memiliki jadwal yang rutin, jam tidur rutin, jam makan rutin, jam mandi rutin, memang repot. lebih enak biarkan saja anak semaunya. tetapi ini mengajarkan kebiasaan, yang saat besar akan memengaruhi perilakunya pula, kedisiplinannya.

mengikuti dunia anak dan tidak “memutus” begitu saja yang sedang dilakukan atau diinginkannya memang repot. harus menunggu sampai puas main air di kamar mandi, harus membuntuti sampai puas memanjat tangga, harus mengikhlaskan rumah berantakan, repot. tetapi ini memberikan sinyal kepadanya bahwa dirinya disayangi, didukung, dan boleh belajar.

mbak, intinya, menjadi ibu itu bisa saja tidak repot, tetapi jika ingin anaknya jadi anak yang berdaya kelak, ya harus mau repot. di tengah segala kemudahan yang ditawarkan zaman ini, menjadi ibu harus pintar-pintar memilih, harus banyak-banyak sabar, dan lebih banyak lagi memaafkan.“

demikian nasihat ibu untuk saya. sulit bagi saya membayangkan kerepotan yang saya timbulkan untuk ibu saat kecil dulu. ibu tidak pernah mengeluh, tidak pernah lelah. semoga Allah memberikan cinta-Nya untuk ibu.

berharga 🙂

Cerpen : Suatu Ketika Sedang Berjuang

Ayahmu pernah berkata bahwa yang terbaik bagi puterinya
bukanlah segala hal yang ada padaku. Aku yang kala itu tidak mengerti,
seolah semuanya tampak abu-abu. Sampai aku bertanya-tanya, apakah semua
ayah di dunia ini seperti ayahmu?

Aku berusaha menyangkal bahwa
aku masih berjuang, berproses, bertumbuh. Tapi, ayahmu tidak mau tahu
tentang itu. Karena aku memintamu saat ini, bukan saat aku sudah menjadi
segala sesuatu yang meyakinkan.

Sampai kita berbicara satu sama
lain. Sepertinya, jalan yang kita tuju bukanlah jalan yang selama ini
kita cari. Kita bersinggungan sejenak dalam hidup ini. Kamu yang
berusaha menjadi anak  berbakti dan aku yang berusaha menerima kenyataan
bahwa aku bukanlah segala sesuatu yang ayahmu inginkan.

Setelah
banyak waktu berlalu. Apakah kita sudah berhasil menarik pelajaran
berharga dari semua kejadian itu? Selepas semua perasaan yang kita
rasakan, sudahkah kita berhasil memahami mana yang baik, mana yang
tidak?

“Coba ingat-ingat lagi sebenarnya apa yang kita
perjuangkan, apakah kamu hanya memperjuangkan seseorang untuk menjadi
pendampingmu, atau memperjuangkan ibadahmu. Jika memang untuk ibadahmu,
sebenarnya, dengan siapapun kamu bisa melakukannya, tidak harus
denganku. Semoga kita bisa ikhlas menerimanya.”

©kurniawangunadi

Menjadi Hebat

Kau adalah gadis yang penuh rasa ingin tahu, sekaligus sebenarnya kau memiliki kemampuan untuk melakukan hal-hal besar. Kau punya kesempatan untuk melihat dunia, lebih dari yang setiap hari kamu lewati. Selain, kau juga memiliki hal-hal baik yang tersimpan, sesuatu yang membuatmu terlihat menarik sebagai perempuan.

Jangan biarkan pikiranmu dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang melelahkan. Seperti temanmu yang ribut dengan riasan, sibuk bagaimana menarik hati orang lain, sibuk memikirkan memiliki pasangan di usia muda, kau jangan.

Kau adalah gadis yang haus akan ilmu juga aktivitas. Itu menjadikanmu cemerlang, bersinar karena kau menyibukan dirimu di ruang-ruang kebermanfaatan yang jarang terisi. Dan itu membuatmu amat mudah dikenali.

Kau adalah gadis yang cemerlang. Jangan biarkan tekanan sosial, kata orang, dan pandangan umum masyarakat mengalahkan keteguhan hatimu, mengerdilkan perananmu. Juga jangan takut untuk menjadi seseorang yang lebih, yang kata orang-orang nanti tidak ada laki-laki yang mau denganmu. Jangan dengarkan itu, dengarlah bahwa itu tidak ada hubungannya sama sekali.

Kau adalah gadis yang cerdas. Kau mampu membuat rumusan hidupmu sendiri, mampu menyesuaikan dirimu dengan keadaan, juga mampu mengubah keadaan disekitarmu.

Suatu hari, aku akan melihatmu berdiri tegak, menjadi perempuan, menjadi ibu peradaban yang penuh dengan hal cemerlang. Sesuatu yang menjadikanmu berbeda, itu menjadikanmu amat berharga. Kebaikan hati, kepedulian, keramahan, keluhuran budi, kecerdasan pikir, dan segala sesuatu yang membuat mampu menjadi cantik, tak peduli waktu, tak peduli penilaian.

Hingga suatu hari kudengar kau berkata padaku :

“Terima kasih Ayah, telah mengajarkanku menjadi perempuan yang demikian.”

Rumah, 26 Januari 2017 | ©kurniawangunadi

Bersyukur Atas Pilihan

Hidup ini penuh dengan pengambilan keputusan, bahkan keputusanmu sejak membuka mata di awal hari. Apakah melanjutkan tidurmu atau beranjak dan bergegas mengambil wudhu untuk ibadah malammu.

Keputusanmu untuk memakai baju yang mana hari ini, keputusanmu untuk mandi dan sarapan jam berapa, keputusanmu untuk berangkat ke tempat kerja dengan sarana transportasi apa.

Semakin dewasa, keputusan-keputusan yang diambil tiap hari, semakin kompleks. Semakin banyak pilihan yang ada dan harus diambil satu saja. Selain juga, keputusan harus diambil saat itu seketika.

Untuk itulah, berdoa. Bismillah disetiap kali akan melakukan dan mengerjakan sesuatu.

Semakin tumbuh, keputusan yang diambil semakin rumit. Sebab semakin banyak keputusan yang bersifat permanen, sekali kamu mengambilnya. Itu menggema sepanjang sisa hidupmu. Tidak hanya sehari dua hari, melainkan selamanya.

Untuk itu, sedari sekarang. Perluaslah cara pandang kita, belajarlah lebih banyak, bertemulah dengan banyak orang. Sebab, nanti. Banyak diantara keputusan-keputusan kita tersebut, terlihat lebih jelas tatkala kita memiliki pengetahuan lebih banyak, memiliki orang-orang yang bisa kita ajak berdiskusi untuk merumuskan hal-hal yang sulit.

Lebih dari itu, mari kita bersyukur sebab kita masih memiliki pilihan, dan juga kita masih bisa mengambil keputusan itu sendiri.

Di sisi lain dunia ini, di sudut-sudut yang jarang kita acuhkan, Ada orang-orang seusia kita yang tidak memiliki pilihan yang leluasa, bahkan tidak memiliki pilihan sama sekali. Keputusan-keputusan dalam hidupnya tidak mampu ia ambil sendiri, jika tidak diambilkan oleh orang lain, keputusan itu diambil oleh keadaan.

Serumit, sepusing, semeresahkan apapun pilihan yang ada dan rumitnya mengambil keputusan. Bersyukurlah, karena kita masih memilikinya.

Rumah, 26 Januari 2017 | ©kurniawangunadi

Lalu Bersama Waktu

Ada perasaan-perasaan yang selesai dengan sendirinya dengan berjalannya waktu, juga masalah-masalah kita yang lain. Perasaan-perasaan yang dulu seolah-olah tidak pernah selesai, berlalu begitu saja.

Saat tiba-tiba kita berdiri dan menyadari, bahwa semuanya telah selesai.

Barangkali, semenjak kita tidak lagi sibuk memikirkan juga merasakan. Saat kita mulai menjalani kehidupan yang riuh, menenggelamkan segala sesuatunya ke tempat yang tidak kita duga. Tempat bernama masa lalu.

©kurniawangunadi

Orang yang Pernah Datang Kepadamu tapi Kamu tidak Memiliki Tempat untuk Menerimanya

©kurniawangunadi

Suatu hari, pernah beberapa kali terjadi di hidupmu. Ada orang-orang yang kamu rasa cukup baik, hadir di hidupmu. Ia berkata kepadamu, kata terbaik yang pernah diucapkan oleh siapapun yang berniat baik. Kamu tersipu, kamu merasa menemukan, ia pun demikian. Kamu merasa segala sesuatunya akan berjalan dengan baik.

Siapa sangka. Ia adalah ujian.

Hidup ini kadang membuat kita khawatir, mengapa seseorang dinilai begini dan begitu, mengapa sulit melihat kebaikan orang lain, juga mengapa seringkali – kita pun begitu – lebih mudah melihat sisi buruknya. Mencari-carinya untuk menjadi alasan penyangkalan itu. Juga, ada pikiran-pikiran yang dipaksakan untuk seragam, padahal manusia itu sendiri amatlah beragam.

Ia datang kepadamu sebagai dirinya. Kamu menerimanya, tapi tidak dengan mereka. Alasannya beragam dari mulai terlalu jauh, terlalu asing, berbeda asal, berbeda usul, berbeda ini-itu, yang dicari adalah perbedaannya. Alangkah sedihnya hatimu, mendapati kenyataan bahwa ia adalah ujian.

Dikatakan kepadanya, bahwa tidak ada tempat untuk menerimanya. Ia pun berlalu. Begitu seterusnya hingga berkali-kali terjadi dalam hidupmu, kejadian serupa. Berulang-ulang. Sampai kamu bertanya-tanya, apakah akan selamanya begitu?

Salah satu bagian sulit di hidup ini adalah melewatkan kebaikan-kebaikan. Saat kebaikan itu berlalu, tidak sempat menjadi milikmu, dan ia menjadi milik orang lain. Menjadi pahalanya, menjadi amalannya. Kebaikan itu berlalu berkali-kali.

Kini coba perhatikan. Berapa waktu berlalu. Masih tidak ada ruang di dirimu untuk semua itu. Coba perhatikan bagaimana orang-orang yang dulu berlalu, perhatikan bagaimana hidupnya kini. Itu adalah pelajaran berharga yang amat penting.

Sebab satu hal yang sering luput untuk kita insyafi adalah kita sulit menerima kenyataan, kita sulit menerima perbedaan, kita sulit untuk menerima kebaikan hanya karena orang yang melakukannya tidak kita sukai.

Pelajarilah hal-hal yang berlalu, karena mereka adalah ujian. Tentu saja, mereka dititipi oleh Tuhan pelajaran berharga yang bisa kita petik. Sayangnya, tidak semua dari kita bersedia menerima pengetahuan itu dengan terbuka.