Cerita Jika #47 : Jika Suamimu Seorang Anak Laki-laki Satu-satunya di Keluarganya

Menjadi anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga bukanlah perkara yang mudah dalam menjalani kehidupan, ada sebuah tanggung jawab yang harus dipikul. Mungkin dulu saat belum dewasa hal itu tidak menjadi masalah, namun ketika sudah dewasa dan anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga menjadi ‘beban’ tersendiri. Terlebih memilki saudara yang banyak, ekonomi pas-pasan.

Mungkin setelah menikah dengannya kamu akan merasa tidak suka, karena kamu merasa dia pilih kasih. Uang belanja bulananmu yang dia berikan mungkin kurang, karena dia harus memberikan sebagian gajinya untuk keluarganya. Ia harus membayar uang kuliah adiknya, memberikannya kepada orang tuanya yang sudah tak mampu lagi untuk bekerja karena sudah tua, membatu kakak-kakaknya yang ekonominya pas-pasan.

Mungkin kamu akan bosan mendengar kata “maaf” karena dia telah memberikan sebagian gajinya diam-diam kepada keluargnya. Mungkin kamu akan bosan dengan makanan sehari-hari yang sederhana karena uang belanja kurang. Mungkin kamu akan bosan mendengar kata “sabar” ketika kamu ingin beli suatu barang, karena sisa uang gajinya tak cukup.

Mungkin kamu juga akan mengadu kepada orang tuamu dan protes kepadanya kenapa yang selalu dia bahagiakan lebih banyak keluarganya, sementara keluargamu, hanya sesekali saja. Menjadi anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga bukanlah perkara yang mudah. Apalagi dengan saudara yang banyak dan ekonomi pas-pasan. Dia harus bertanggung jawab terhadap mereka, ayahnya sudah tua, tak mampu lagi mencari nafkah untuk keluarga. Biarlah beliau menikmati masa tuanya dengan damai bersama ibu. Mungkin dia satu-satunya harapan bagi mereka, karena hanya dia satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga. Mungkin dia satu-satunya juga anak yang dapat mengenyam bangku kuliah karena dia anak laki-laki.

Mungkin dia sedang  menjalankan amanat ayahnya, bahwa dia anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga, yang nantinya akan menggantikan posisi ayahnya dalam keluarga. Nanti suatu saat jika saudara-saudarnya sedang ada masala kepadanya lah tempat mereka bercerita, karena dia anak laki-laki. Menyekolahkan adiknya setinggi-tingginya jadi tidak hanya dia yang menikmati bangku kuliah. Serta menjaga kedua orang tuanya karena mereka sudah tua. Dialah harapan bagi mereka semua.

Mungkin kamu menyesal memilihnya, karena kebahagiaan yang kamu harapkan harus dia bagi untuk keluargnya. Mungkin dia juga malu selalu meminta maaf untuk keluargamu karena hanya sesekali berbagi kebahagiaan untuk mereka. Mungkin bukan maksudnya ingin membeda-bedakan karena selagi bisa dan mampu anak lelaki bertanggung-jawab atas ibunya dan sekiranya dia tidak menjalankan tanggungjawabnya maka dosa baginya. Jadi selagi Ibunya, orang tuanya masih hidup dia ingin membahagiakan mereka. Bagaimana mungkin dia yang dibesarkan dengan jerih keringat mereka, setelah sukses dia lupa membahagiakan mereka. Tapi percayalah, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanmu. Karena kewajibannya sebagai laki-laki dalam rumah tangga tidak hanya menanggung dosanya sendiri tapi juga dosa seorang isteri, dosa anak perempuan yang belum nikah dan dosa anak lelaki yang belum baligh.

Dia hanya butuh pengertianmu sebagai istrinya, jika suami seorang anak laki-laki satu-satunya di keluarganya.

 – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

 pengirim :

Muhammad Fahmi Trisnadi

Akuntansi – STAN

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Tentang proyek menulis ceritaJika klik di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *