CeritaJika #40 : Jika Istrimu Seorang Guru TPA

Mungkin guru TPA bukan suatu profesi yang bisa dibanggakan mungkin juga bukan profesi yang banyak dicita-citakan anak kecil, dan mungkin juga bukan profesi utama bagiku. Namun jika kau melihat lebih dekat profesi ini menjamin untuk di Akhirat nanti, bukan hanya akhiratku namun juga akhirat santriwan – santriwatiku

Suamiku, guru TPA bukan lah seorang pandai agama ataupun ahli surga, memang iya seorang ustadzah untuk santri-santrinya namun aku tetaplah makmum disholatmu, aku akan berusaha menjadi istri sholehah yang menyiapkan rumahmu kelak baik didunia ataupun syurga. Sayang, aku tak menjamin masakan ku selalu lezat dan kopimu selalu hangat. Mungkin kopi mu sudah terlalu lama menunggu mu karna aku membuatnya sebelum aku berangkat mengajar TPA sore itu.

Jika istrimu seorang Guru TPA, jangan murung bila sore itu aku tidak membukakan pintu rumah kita. Maaf sayaang, saat itu aku sedang mengajarkan santri ku melafalkan huruf-huruf hijaiyah, menemani mereka menghafal surat-surat pendek dan ayat pilihan atau menceritakan pada mereka kisah-kisah nabi (ini merupakam bagian yang mereka suka), kisah-kisah tauhid serta nasehat yang akan membentuk akhlaq mereka. Kisah-kisah yang akan selalu mereka ingat hingga tumbuh dewasa kemudian mereka ceritakan lagi ke anak-anak mereka hingga begitu seterusnya

Tidak seperti profesi-profesi lain yang diberi upah setimpal sesuai ketrampilan yang mereka milikI, aku tau semua orang bisa melakukan pekerjaan ini namun hanya sedikit sekali yang mau melakukannya dengan ketulusan karna  Alloh. Aku tak mengharap lebih dari upah yang kutrima di dunia tapi aku yakin upah ku dari Alloh cukup mengantarkanmu ke surga.

Suamiku, jangan risau dan takut tentang anak-anak kita. Pernah mendengar kata orang jaman dulu ? “nikahi lah guru TPA, anak orang lain saja mereka sayangi apalagi anak sendiri”. Anak kita akan lebih aku cintai lebih dari kamu hehehe. Sayaang mungkin ini terlalu menuntut tapi kelak jika kau menjadi imam ku, aku tak ingin di imami dengan surat Al-ikhlas atau An-naas yang selalu diulang-ulangi aku ingin hafalan surat pendekmu lebih banyak daripada santri-santriku, aku ingin bacaan lafal al-quranmu lebih fasih daripada mereka, aku ingin kamu tak segan untuk sering berkhotbah, tak malas melangkahkan kaki mu untuk sholat berjamaah di masjid. Suamiku kelak seusai jamaah sholat magrib di masjid aku ingin kita tadarus al-quran bersama, kemudian saling setoran hafalan bersama. Ssst ini cita-citaku kepadamu jangan bilang siapa-siapa ya.

Mungkin aku akan selalu cerewet menceritakan tingkah-tingkah santri-santriku yang ada-ada saja, menceritakan pertanyaan-pertanyaan konyol mereka, celoteh yang menggemaskan atau kisah mereka satuper satu. Jangan lelah menjadi pendengar setiaku, jika kau tak paham kau bisa tersenyum dan menanyakannya jangan sekali-kali kau abaikan nanti aku bisa marah. Jika kau paham tanggapilah dengan raut wajah semenyenangkan mungkin lalu aku akan memelukmu.

Mungkin kelak saat kau melamarku dan membawa aku pergi, santri-santri ku akan merengek seolah kau mengambil aku dari mereka. Jangan cemburu sayaang, wajarlah mereka begitu sebelum aku menemani perjuanganmu aku sudah lebih dulu menemani mereka dari buta huruf al-quran hingga mengkhatam kan Al-quran dengan fasih. Jadi bila esok waktumu senggang dan urusanmu sudah selesai, mari sesekali kita mengajar TPA bersama.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

pengirim :

Anita Oktavia

Universitas Islam Indonesia

>> ceritaJikaproject

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *