CeritaJika #41 : Jika Istrimu Seorang Anak Tunggal

Anak tunggal, ya itulah aku. Jika aku, seorang anak tunggal yang menjadi istrimu. Maka aku memohon kepadamu untuk sedikit lebih mengerti akan diriku. Aku yang terlahir untuk sendiri dan diharapkan lebih mandiri oleh kedua orang tuaku. Aku yang paling disayang di keluarga kecilku, sejak masih dalam kandungan hingga sekarang, ketika aku menjadi istrimu. Mungkin kau akan sedikit risih jika aku selalu ingin berada di dekat kedua orang tuaku. Bahkan kau akan bersaing dengan ayahku, sebab ayahku adalah seseorang yang sangat pencemburu ketika ada laki-laki lain di hati anak perempuan satu-satunya.

Jika istrimu adalah aku, maka aku memohon kepada engkau suamiku, untuk lebih bersabar. Karena terkadang aku  bisa menjadi orang yang berfikir dan bersikap dewasa, namun aku juga ingin bermanja-manja didepanmu. Ya, hanya di depanmu. Ketika datang bulan, perutku ini rasanya seperti diperas, sakitnya bukan main. Jadi, kamu wahai suamiku, harus pandai-pandai mengontrol emosimu saat bersamaku, dan mencoba untuk menenangkanku ketika emosiku juga mulai naik turun.

Aku, yang anak tunggal ini, tidak jauh-jauh dari seorang yang punya rasa egois. Aku, orang yang sangat egois ketika bersamamu. Aku tidak suka melihat ketika kmu berjalan dengan perempuan lain, kecuali ibumu dan saudara perempuanmu. Terkadang aku tidak suka kau bermain  handphone didepanku, karena aku ingin setiap ceritaku kau dengarkan dengan seksama. Sebab selama hidupku, aku ingin berbagi segalanya denganmu. Bercerita tentang semua yang kulakukan, membuatku merasa lebih lega, karena kamu, suamiku, adalah teman hidupku. Teman yang paling kuharapkan dapat menuntunku dan selalu bisa menjadi imam terbaikku.

Suamiku, aku memohon, jangan pernah bosan  dengan kata-kata cinta dan sayang yang selalu kuucapkan kepadamu setiap hari . Puisi-puisi  atau sekedar tulisanku tentangmu mungkin  akan sering kau temukan di blogku. (Kau tau itu kan? aku menyalurkan segala yang  tak bisa kuucapkan di dalam blogku itu). Sebab sedari kecil, aku terbiasa diberi perhatian yang lebih, bahkan diberi panggilan sayang oleh  kedua orang tuaku. Aku bersikap demikian kepadamu, karena aku ingin kau mengerti bagaimana rasanya begitu diperhatikan dan disayang, sehingga kau akan nyaman setiap hari hidup bersamaku.

Jika memang aku, seorang anak tunggal yang menjadi istrimu. Kelak, aku ingin kau selalu di depanku, menjadi imam yang memimpinku, dan terkadang aku ingin kau di sampingku. Kugenggam erat tanganmu, untuk menemaniku di setiap langkah dalam perjalanan hidupku. Aku bosan berjalan sendiri.

Kelak, ketika kau disampingku, kau harus siap mendengar ocehanku setiap hari. Kau tahu aku ini perempuan yang cerewet. Aku benci keheningan, aku malas berbicara sendiri. Tapi, asal kamu tahu, cerewetku ini bukan tanpa arti. Aku hanya ingin membuat suasana rumah kita menjadi lebih ramai, agar anak-anak kita nanti menjadi lebih ceria, lebih terbuka dan mau berbagi cerita bersama kita, orang tuanya. Aku akan selalu mengingatkanmu akan ibadahmu, pola makanmu, pola tidurmu, apa-apa saja yang kau harus bawa untuk pergi ke kantor, dan mengingatkanmu untuk selalu sempat memberi kabar kepadaku.

Oh ya, jangan berfikir, kalau aku yang anak tunggal ini tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan rumah. Aku sudah terbiasa melakukan hal apapun sendiri, orang tuaku tidak pernah menyuruhku untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Mereka hanya mencontohkan saja, mereka membuatku berfikir apa yang seharusnya kulakukan. Ya, mencontoh mereka. Pada akhirnya, aku bisa melakukan itu semua. Ibuku berpesan, ”lakukanlah segala hal sendiri ketika itu bisa kau kerjakan sendiri, jadilah perempuan hebat yang tegar dan mandiri, karena kamu tidak punya kakak, atau adik yang bisa kau recoki ataupun kau mintai bantuan selain kedua orang tuamu”. Hal itulah yang tertanam di benakku hingga saat ini. Seperti itu juga kan yang kau katakan kepadaku? Aku harus bisa menjadi perempuan yang mandiri, karena tidak selamanya kau akan ada di sampingku. Tapi aku selalu berdoa, agar kita tidak hanya berjodoh di dunia, tapi di akhirat kelak nanti, aamiin.

Teruntuk suamiku yang kucintai, aku akan selalu memasakkan masakan yang enak dan sehat untuk keluarga kita, akan kusiapkan air hangat ketika kau pulang larut malam, akan kutemani kau ketika beribadah di sepertiga malam, menyelesaikan pekerjaanmu di rumah, atau untuk sekedar ikut mendukung dan menonton tim favoritmu bertanding bola. Aku akan selalu berusaha menemanimu, karena aku tahu betul bagaimana rasanya kesepian.

Jika istrimu adalah seorang anak tunggal, dan benar aku orangnya. Anak perempuan satu-satunya dari seorang ayah yang hebat ini sedang berusaha sepenuh hati dan jiwa untuk menjadi istri terbaikmu, yang selalu mendampingimu dan mendoakanmu agar kau selalu dalam penjagaanNya.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Pengirim :

Diamanta Vion Devona

Mahasiswi Farmasi – Universitas Islam Indonesia

CeritaJikaproject

Redaksi :

Terima kasih atas apresiasi dari para pembaca Cerita Jika. Dari saran dan masukan yang redaksi terima, mulai edisi 41 ini ceritaJika akan menampung ‘jika’ yang lebih luas dan bisa diluar profesi. Namun, sudut pandang profesi masih menjadi patokan utama. Cerita jika #41 ini bisa menjadi gambaran bahwa ternyata banyak hal-hal ‘jika’ lain yang mungkin perlu untuk dibagi. Untuk teman-teman yang ingin mengirimkan ceritaJika-nya. Maka, ceritaJika dibuat menjadi lebih terbuka dan fleksibel untuk tema yang diangkat (tidak hanya profesi). Selamat menulis cerita, jika kamu … 🙂

Terima kasih untuk lebih kurang 200 cerita yang masuk hingga hari ini sejak pertama kali ceritaJika dimuat. Sekali mohon maaf sebab tidak bisa memuat semua cerita yang masuk 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *