CeritaJika #50 : Jika Suamimu Seorang Anak Yatim

Bagaimana jika suamimu seorang yatim? Ditinggal Ayah kepangkuan-Nya sejak kecil memang bukan hal mudah untukku.
Aku harus terbiasa tak berucap kata ‘Ayah’, kata yang sesungguhnya sangat rindu kuucapakan. Aku juga harus terbiasa bangun sendiri kala jatuh dari sepeda sementara Ibu sibuk memasak di dapur.

Orang bilang kehilangan Ayah itu bagaikan kehilangan prinsip hidup, kehilangan Ibu bagaikan kehilangan kasih sayang. Tak sepenuhnya benar memang, namun tak sepenuhnya salah juga.

Kau pasti tahu bagaimana perasaanku ketika pertama kali datang menghadap Ayahmu saat aku melamarmu kan? Aku terlihat gugup, canggung, karena aku berbicara pada Ayahmu, calon Ayahku kelak.

Tak perlu khawatir aku tak bisa memimpin keluarga kecil kita, tak perlu khawatir aku tak bisa memberikan nasihat-nasihat bijak kepada kamu dan anak kita. Kehilangan sosok Ayah bukan berarti kehilangan segalanya, justru aku bisa lebih banyak belajar dari lingkunganku, dari berbagai perspektif.

Tak perlu khawatir aku tak bisa menjadi problem solver dalam keluarga kita, kita bisa sama-sama meminta jalan keluar kepada Allah. Lebih baik bukan? Tak perlu khawatir aku tak sigap menggambil keputusan, nyatanya memutuskan untuk mengarungi hidup bersamamu merupakan keputusan terbaik yang aku buat.

Kehilangan Ayah bukanlah kehilangan segalanya. Keadaan ini justru menuntutku untuk jauh berpikir lebih dewasa dan mandiri. Denganku, kau tak perlu khawatir istriku.

– – – – – – – – –  – – – –  – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Azhari Fauzan

Mahasiswa Sastra Rusia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

Universitas Indonesia

|| tentang proyek menulis ceritaJika klik X

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *