CeritaJika #51 : Jika Istrimu adalah Seorang Anak Broken Home

 

Sedari kecil aku tak pernah mengenal sentuhan seorang Ibu. Dia adalah wanita karier yang karena ambisinya membangun sebuah rumah megah sanggup merelakan perpisahan denganku dan ayahku. Inilah mengapa aku tak pernah merasa nyaman tidur di pelukannya, hingga saat ini. Bukan aku tak rindu pelukannya. Aku justru sangat merindu. Tapi aku lupa rasanya pelukan hangat seorang ibu.

Sewaktu kecil, aku sering iri melihat kawan-kawanku yang segala perlengkapan sekolahnya dipersiapkan oleh seseorang wanita yang dipanggil “ibu”. Tak jarang pula, masih banyak kawan-kawanku yang diantar ibunya hingga gerbang sekolah. Sementara aku? Bahkan untuk melihatnya sebulan sekali terasa seperti barang mewah. Aku hanya bisa menelan ludah dan menyembunyikan air mata saat melihat keiriian. Dendamku pada ibuku. “Aku tak membiarkan anakku merasakan yang kurasakan. Aku akan membangunkan anak-anakku dengan menciumnya dengan lembut. Sementara anak-anak mempersiapkan dirinya ke sekolah, aku akan menyiapkan bekal makanannya. Aku tidak akan mengantarkannya sampai ke gerbang sekolah, aku takut ada “aku” lain yang akan iri melihat kemesraan kami. Namun, akan akan mewanti-wanti padanya untuk berhati-hati dan belajar dengan sungguh-sungguh.

Waktu yang selalu aku benci adalah  saat pengambilan rapor. Laporan kemajuan belajar itu bagiku sama sekali tak berarti. Juara pertama di kelas tak mampu menarik perhatianya untuk menyisihkan waktunya sekadar satu jam berkumpul dengan orang tua murid kawan-kawanku. Tak jarang, saat pengumunan juara, di antara aku dan kawan-kawanku yang mendapat juara hanya aku yang berdiri sendiri tanpa didampingi orang tua. Aku dendam lagi kepada ibuku. “Aku berjanji tak kan membiarkan anakku kelak merasakan yang aku rasakan. Aku akan memberi perhatian untuk setiap kerja kerasnya yang membanggakan. Aku akan selalu memberi pujian untuk semua pencapaiannya, pun itu mungkin tak berarti untuk orang lain”

Obrolan yang aku benci denganya adalah saat kami membicarakan bapak. Orang yang kini telah menjadi “mantan” suaminya tetapi sampai kapan pun akan akan bapak bagiku. Sosok bijak yang ternyata tak mampu bersikap bijak jika itu menyangkut ibu. Tak sedikit pun ada hal menarik yang dia ceritakan tentang bapakku. Aku hanya diam. Aku tak mau menyanggah. Bagiku akan sia-sia. Sepertinya, ibu lupa pernah sangat mencintai bapakku. Dan aku kembali dendam. “Aku tak kan berbicara seperti ini kepada anakku kelak. Hal semacam ini bukan membuatku membenci seorang bapak, justru aku akan membenarkan langkah bapak meninggalkannya. Bagaimana mungkin, seorang yang mencintai lupa banyak kebaikan pasangannya?

Anakku kelak akan kuberi banyak cerita mengapa aku akhirnya memilih ayahnya. Betapa dia gigih membuktikan cintanya. Betapa dia sabar menyadarkanku bahwa perkawinan bukanlah hal menakutkan. Betapa dia tak pernah lupa memberi semangat kepadaku bahwa aku dapat menjadi ibu seperti yang kuimpikan”

Jika orang tuamu masih meragukanku menjadi ibu untuk anak-anakmu kelak, sampaikan dendamku ini kepadanya. Jika dia masih menyangkal dan mengatakan “tak ada buah yang jatuh jauh dari pohonnya”. Katakan padanya, bahwa aku adalah buah yang tak sempat jatuh, karena pemilik pohon itu memetikku dan segera membawaku pergi.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

pengirim :

Susana Devi Anggasari

Pendidik Bahasa dan Sastra Indonesia – Alumni PBSI UNNES 2007

|| tentang proyek menulis ceritaJika klik X

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *