CeritaJika #52 : Jika Suamimu Seorang Koki

‘Ibu, jika besar nanti aku ingin jadi orang yang bisa bikin Ibu dan orang-orang di sekeliling aku bahagia. Seperti masakan yang aku buat untuk ibu hari ini’.

Itulah impian koki kecil saat pertama kali belajar memasak bersama ibunya dulu. Menjadi seorang yang dapat membahagiakan ibu dan orang-orang di sekelilingnya. Kini, koki kecil itu talah berubah menjadi seorang koki dewasa yang sesungguhnya. Seorang yang telah bertransformasi dengan memaknai kata “membuat bahagia” menjadi kata“bermanfaat”. Seorang yang bukan hanya dapat membuatkan makanan untuk ibunya saja, melainkan juga untuk para pelancong yang datang pada setiap pekannya. Menikmati karya, ilmu dan seninya berupa hidangan penuh selera.

Kini koki itu mengambil sedikit waktu luangnya untuk menuliskan arti diri sebagai lensa bagi pendamping hidupnya kelak melalui tulisan ini. Ya, untukmu. Untuk seseorang yang namanya masih Allah genggam untukku. Saat ini (dengan ketidak tahuanku), izinkanlah aku memanggilmu, Hai. Akulah ia, seorang koki. Kita adalah kalian dan kalian adalah kita. Hidup dalam kebersamaan dan kebahagiaan, kelak.

Dimanapun dan siapapun dirimu. Ada tanya yang hendak ia sampaikan, namun tak usah dijawab. Dan ada nyata yang ingin ia ucapkan, namun tak perlu disela. Hai, pernahkah terpikirkan olehmu, ternyata pendamping hidupmu adalah seorang koki? Apa yang akan kamu rencanakan untuk hidupmu, jika suamimu adalah seorang koki? Hai, apa yang pertama kali terbayang di benakmu saat mendengar istilah ‘koki’? Apa seorang yang berpakaian putih, celana hitam dengan celemek dan topi tingginya? Atau seorang yang hanya berkutat di dapur dengan alat dan bahan beserta bumbu masakan saja?

Seorang koki ternyata lebih dari itu. Menjadi seorang koki adalah menjadi seorang kepala keluarga seutuhnya. Seorang yang memiliki kemampuan merencanakan, pekerja keras dan pandai, cekatan dan pengertian serta memiliki jiwa romantis.

Seorang koki itu adalah seorang yang memiliki kemampuan merencanakan yang baik. Coba perhatikan saat ia menyiapkan alat, bahan dan bumbu ketika akan memasak. Penuh perencanaan dan pertimbangan yang matang. Ia akan menyiapkan dengan seksama alat dan bahan yang akan digunakan saat memasak. Begitupun bumbu yang ia siapkan. Penuh pertimbangan sesuai kebutuhan. Ia lakukan untuk mendapatkan hasil sesuai menu yang sudah ada. Tidak mungkin seorang koki mampu menghasilkan menu yang sudah ada, jika ia tidak memiliki kemampuan merencanakan yang baik. Pastilah ia memiliki kemampuan merencanakan tersebut. Hai, jika nanti kamu bersamanya, rencanakanlah hidup kalian dengan baik dan matang. Rencanakanlah tentang jumlah keluarga kalian, usaha dan penghasilan kalian serta pendidikan anak-anak kalian kelak. Tak usah ragu mempercayakan kepemimpinannya, karena ia seorang yang memiliki kemampuan merencanakan yang baik. Karena ia seorang koki.

Seorang koki itu adalah seorang yang pekerja keras dan pandai. Coba perhatikan saat ia berusaha mendapatkan bahan masakan yang harus ia siapkan untuk dimasak. Ia akan berjuang terus dengan mencari kemanapun sampai bahan yang ia maksud ditemukan. Namun, ketika saatnya bahan itu benar-benar habis, ia tidak kehabisan akal dan menyerah begitu saja. Ia pandai. Pandai memanfaatkan peluang yang ada. Begitupun peluang bahan lain untuk ia gunakan sebagai penggantinya. Sehingga pada akhirnya, menu masakan yang sudah direncanakan pun dapat diselesaikan dan dihidangkan dengan cita rasa yang sama seperti aslinya. Tidak mungkin seorang koki mampu menghasilkan hidangan sesuai cita rasa yang diharapkan, jika tidak memiliki jiwa pekerja keras dan pandai. Pastilah ia memiliki jiwa pekerja keras dan pandai tersebut.  Hai, jika tiba saatnya nanti, kamu akan menyaksikan ia begitu bekerja keras membahagiakan dirimu dan anak-anak kalian, tetaplah berada di sampingnya. Karena dengan begitu semangatnya akan bertambah kembali. Pun saat kalian menghadapi permasalahan, ia akan pandai mencarikan solusinya. Dan tetaplah berada di sampingya untuk selalu menjaga semangatnya.

Seorang koki itu adalah seorang yang cekatan dan pengertian. Coba perhatikan saat ia mempersiapkan segalanya, mulai dari mengiris, menggoreng, sampai menata masakan di piring, ia lakukan dengan cekatan. Cepat, tepat dan penuh kehati-hatian. Dibalik sikapnya yang cekatan itu, ia tetap penuh pegertian pada setiap perlakuannya terhadap bahan makanan yang ia masak. Ia akan menggunakan tepung berprotein tinggi untuk membuat hidangan pizza. Karena ia tahu hanya dengan sifat masakan itulah bahan dapat diperlakukan. Masakan tidak dapat dibuat dengan memaksakan keinginan si pembuatnya, namun masakan hanya akan dapat dibuat sesuai sifat masakan itu sendiri. Sehingga masakan akan dapat dihidangkan sesuai waktu dan kebutuhan yang telah ditentukan. Tidak mungkin seorang koki mampu menghasilkan hidangan sesuai waktu dan kebutuhan yang telah ditentukan, jika tidak memiliki sikap cekatan dan pengertian. Pastilah ia memiliki sikap tersebut. Hai, suamimu itu adalah seorang yang dapat kamu andalkan, karena ia adalah seorang yang cekatan dan pengertian. Mintailah bantuanya. Jadikanah ia merasa berguna. Karena dengan begitu akan lebih baik baginya. Pun saat ia merasa sibuk dengan prioritasnya. Namun ia akan selalu ada untukmu.

Seorang koki itu adalah seorang yang memiliki jiwa romantis. Coba perhatikan saat ia mulai menata garnish (hiasan makanan) di piring sajian hidangannya. Begitu cantik. Begitu indah. Ia akan menunjukka jiwa romantisnya pada sajian yang ia hidangkan. Dengan begitu, hidangan akan menjadi penuh selera untuk disantap. Tidak mungkin seorang koki mampu menghidangkan sajian yang penuh selera, jika tidak memiliki jiwa romantisme. Hai, jika tiba saatnya nanti kau bersamanya, tak usah heran saat banyak kejutan yang membahagiakan darinya. Karena ia adalah seorang yang romantis. Karena ia adalah seorang koki.

Sebenarnya masih banyak kemampuan yang dimiliki olehnya. Oleh seorang koki. Kemampuan itu tak akan diceritakan saat ini. Namun, akan kamu rasakan saat kalian telah berucap janji dan menjalani kehidupan bersama-sama. Tentang dirimu. Tentang dirinya. Tentang kalian.

Dibalik semua kemampuan yang ia miliki, kamu juga harus ingat bahwa ia adalah seorang koki biasa sama seperti manusia lainnya. Seorang yang memiliki kekuranan. Seseorang yang akan mengalami fase kekhilafan. Dan saat itulah perananmu untuk melengkapi kekurangan tersebut dengan mengingatkannya agar tidak kembali terjadi. Jadilah co-koki (pendamping koki) yang bisa menyempurnakan masakan di setiap menunya. Jadilah pendamping hidupnya yang akan senantiasa satu visi dan misi menuju ke arah yang lebih baik, bersamanya kelak.

Layaknya selera dalam menikmati masakan, akan ada saatnya selera kalian berbeda. Akan ada saatnya pandangan dan prinsip kalian dalam menyikapi permasalahan itu berbeda. Namun, bukan hal yang perlu diperdebatkan. Karena  masakan diciptakan dari berbagai bumbu yang memiliki beberapa rasa. Pun dinikmati untuk berbagai bagian lidah yang berbeda sesuai kemampuan pengecapannya. Masakan itu akan terasa nikmat jika ada berbagai macam rasa di dalamnya. Ada rasa manis, asam,asin, pahit dan umami (gurih). Jika hanya ada satu rasa saja, maka akan terasa hambar. Begitupun selera pandangan kalian, nanti. Dengan perbedaan tersebut akan terasa indahnya hidup. Perbedaan tersebut akan lenyap dengan dinikmati. Dikunyah dan ditelan, layaknya selera makanan yang kalian rasakan.

Saat suara ayam berkokok membangunkamu di pagi hari nanti, kamu tidak usah heran jika udara pagi yang kamu rasakan bercampur dengan aroma gurih. Karena itu adalah aroma masakan yang telah ia siapkan untukmu. Hai, jika nanti tiba saatnya kamu sedang bersusah payah dengan kondisi kehamilanmu untuk berjalan menuju meja makan, tidak usah terkejut  saat meja makan sudah ia hias dengan ayam goreng balado kesukaanmu. Hai, jika nanti tiba saatnya kau terbaring sakit sementara, ia lah yang akan meniupkan dan menyuapi sop bakso (dengan sedikit merica) kesukaanmu.

Sayangilah juga ia. Kamu harus tahu bahwa ia adalah seorang yang tidak ingin disayangi karena apa adanya. Tetapi, ia ingin disayangi karena kamu memberikan tuntutan baik untuk diperjuangkan. Seperti halnya perjuangan dalam menghidangkan masakan. Hai, koki sejati itu tidak akan membuang-buang makanan yang tersisa. Seperti halnya saat ia bersamamu. Ia tidak akan membuang-buang waktu hidupnya yang tersisa hanya untuk tidak membahagiakanmu. Seperti impiannya saat menjadi koki kecil dahulu.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Pengirim :

Babang Yusup

Alumni Ilmu Gizi – IPB 2009

Technical Service(Bakery) PT. Pundi Kencana)

|| tentang proyek menulis ceritaJika klik di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *