CeritaJika #53 : Jika Istrimu Seorang Guru TK

Dear suamiku, bolehkah aku memanggilmu seperti ini nanti?

Dear suamiku, lelaki paling tampan nomer dua sedunia setelah Ayah saya tentunya.

Jika suatu hari engkau menemukanku sebagai istrimu, satu hal yang pertama kali ingin aku sampaikan. Aku ingin menjadi seorang guru TK. Ini titik tanpa koma. Ijinkan aku untuk menggapainya. Mungkin engkau akan bertanya, mengapa harus guru TK? Profesi yang sepertinya bisa dikerjakan oleh hampir semua wanita. Banyak profesi lain yang mungkin lebih hebat dari hanya bercita-cita menjadi guru TK. Zaman emansipasi seperti ini, perempuan harusnya sudah lebih revolusioner dalam bercita-cita. Mengapa menjadi guru TK?. Tidakkah lebih seru menjadi dokter, engineer, programmer, accounting, atau sejenisnya yang lebih sangar dan patut dibanggakan.

Sederhana saja suamiku, Aku melihat banyak orang lupa dengan guru TK-nya. Tidak banyak diingat orang sepertinya membuat hidup menjadi lebih mudah. Tak perlu menipu diri ataupun membuat personal branding untuk dicintai. Menjadi guru TK akan dicintai anak-anak dengan setulus hati meskipun mereka semua akan lupa saat dewasa nanti. Kamu sendiri ingat tidak siapa guru TK favoritmu? Dosen, Guru SMA, Guru SMP, bahkan Guru SD, kebanyakan masih diingat oleh murid-muridnya. Namun tidak dengan guru TK. Guru yang bersedia membasuh ingus dan mengantar ke kamar mandi pun membersihkan kotoranmu ketika kau belum bisa melakukannya sendiri. Tugas guru yang seperti ini kebanyakan sudah tak diingat lagi. Guru yang pertama kali mengajarkan nilai-nilai moral dan memperkenalkanmu pada ilmu-ilmu dasar. Guru yang mengajarkan bagaimana kau harusnya bersikap pada teman, menghormati yang lebih tua, mengenal bentuk, huruf, warna, dan ilmu-ilmu dasar lainnya. Ilmu sederhana yang nantinya menjadi bekalmu saat dewasa.

Menjadi guru TK, maka aku akan berinteraksi dengan fase dimana manusia paling jujur dan paling polos dalam tahapan hidupnya. Aku akan bertemu anak-anak tertawa. Sesekali menangis dan agak rewel lumrah saja namanya juga anak-anak. Setidaknya mereka tulus akan setiap emosi yang mereka rasakan. Aku tak suka melihat manusia muram tanpa alasan yang jelas. Memandang kening berkerut dan alis mata manusia bertaut dengan jutaan kemungkinan, sungguh membuatku pening. Berinteraksi dengan anak-anak berarti berinteraksi dengan manusia sederhana. Betapa beruntungnya saya bisa menemukan kesederhanaan yang keberadaannya saat ini sudah seperti barang mewah.

Suamiku, aku akan meminta sedikit pengertianmu.  Sesampai dirumah, mungkin aku akan sedikit disibukkan membuat hasta karya dan permainan yang harus aku persiapkan esok hari untuk siswa-siswa mungilku ini. Membuat eksperimen sederhana untuk menjelaskan bagaimana manusia bernafas, bagaimana pelangi terbentuk, atau bagaimana hujan turun dari langit. Hal yang sangat sederhana yang kita semua ketahui namun si kecil kebingungan untuk memahami.  

Aku juga akan meminta ijin untuk satu hal lagi.  Anak-anak kita, yah anak-anak kita. Sepertinya mereka akan mendapat peran untuk mencoba eksperimen-ekperimen ini sebelum aku cobakan ke anak-anak lain di TK. Mungkin rumah kita akan menjadi semacam studio atau laboratorium mini yang di tiap sudutnya terdapat hasil karya baik gambar, lipatan kertas, guntingan kain, ataupun eksperimen-eksperimen sederhana dari botol atau kardus bekas. Hasil karya anak-anak ini tak selamanya menarik dilihat oleh orang dewasa. Namun proses pembelajarannya lah yang diutamakan. Jadi jangan protes yah ketika melihat guntingan anak-anak yang tidak rata atau lem berceceran dimana-mana.

Oh iya, akan ada masa dimana anak-anak suka sekali menggambar dan mencorat-coret dinding. Maka jangan marah jika nanti ada satu dinding rumah kita yang khusus digunakan untuk menampung corat-coretan si kecil. Biarkan mereka menuangkan imajinasinya. Dinding itu akan kita cat warna hitam serupa papan raksasa sehingga si kecil bisa menggambar sesuka hatinya disana. Mungkin ia akan menggambar buah, bunga, pohon, burung, pelangi, atau bahkan menggambar wajah-wajah kita – Ayah dan Bundanya-. Jangan marah pula jika merasa hasilnya tak mirip yah. Jika perlu akan kusediakan tangga yang aman sehingga ia bisa menggambar sisi atas dinding rumah. Tenang-tenang, tentunya saat menggunakan tangga ini ia berada dalam pengawasan kita, dibawahnya kita sediakan matras atau kasur kecil jadi ketika ia terjatuh masih bisa tertawa.

Sedang di depan rumah kita, aku ingin ada kebun mini tempat untuk anak-anak belajar mencintai tanaman. Aku akan mencoba menanam sayuran organik di kebun mini ini. Si kecil akan aku ajari cara bertanam cabe, bayam, kangkung, dan tomat. Selain sebagai wahana belajar, kebun ini sekaligus untuk memenuhi kebutuhan sayur organik yang mahal harganya. Lumayan kita manfaatkan masa tanam bergilir sehingga sesuai dengan menu sayuran sehat dirumah.

Belakang rumah kita, Hhhmmm, belakang rumah kita yah? Kita akan tinggal dimana? Sebenarnya aku berharap kita tinggal di rumah mungil yang berhalaman luas. Belakang rumah adalah tempat anak-anak belajar menyayangi binatang. Mungkin ada kolam kecil tempat mereka memelihara ikan mas koki dan kandang mungil tempat memelihara marmut atau kelinci. Tapi tolong jangan kucing, anjing, atau hamster.  Aku agak alergi dengan binatang-binatang ini. Bulunya ngeri ada dimana-mana, yang terakhir hamster suka berkembang biak tidak kira-kira. Kita ajarkan si kecil memelihara binatang sewajarnya saja yah. Sepasang binatang jantan dan betina. Jika sudah mulai beranak pinak lebih baik diberikan pada teman atau saudara saja. Itu satu lagi pelajaran untuk anak-anak tak berlebih-lebihan dan mau berbagi. Jika halaman belakang cukup luas sebenarnya aku suka jika anak-anak bisa memelihara kambing atau kerbau. Belajar menggembala sepertinya adalah salah satu cara anak dapat belajar lebih bijaksana. Lihat saja para nabi.  Mereka adalah penggembala handal di masa kecilnya.

Suamiku, jika engkau benar-benar menemukanku menjadi istrimu nanti. Hal kedua yang kuminta darimu adalah; perkenalkan aku pada guru TK-mu, yang membasuh ingus dan membersihkan kotoranmu. Apakah engkau masih ingat tempat tinggalnya? Aku akan membantumu mencarinya. Karena aku ingin bertanya, apakah engkau tipikal anak yang manja atau kalau menangis paling lama? Aku ingin berterimakasih, bahwa ia telah berkontribusi membentuk anak lelaki mungil itu menjadi lelaki hebat yang kukenal saat ini.

Kurasa cukup dua itu saja. Jika kau menemukanku menjadi istrimu nanti. Apakah hal-hal ini akan terasa berat engkau penuhi? Jika kau merasa berat maka tak perlu khawatir, aku tak akan menjadi guru TK. Aku akan menjadi guru PAUD saja… Hahahaha.

 – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Pengirim :

Nuril Eka

Alumni Psikologi – Universitas Indonesia

Social Change Divion – Rumah Perubahan Rhenald Khasali

|| tentang proyek menulis ceritaJika klik di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *