CeritaJika #55 : Jika Istrimu Seorang Fisioterapis

“Apa sih profesi fisioterapis itu?”

Banyak orang yang masih belum tahu tentang profesi ini. Lantas bagaimana denganmu, duhai pria yang kelak akan menjadi suamiku? Apakah kau juga belum tahu apa itu profesi fisioterapis?

 “Tukang pijat, ya?”

“Fisioterapis itu yang ada di tim sepak bola, kan? Yang menangani para pemain ketika mereka cedera?”

Mungkin sebagian orang mengenal fisoterapis seperti itu. Tapi tidak, aku bukan tukang pijat dan juga tidak ingin menjadi fisioterapis dalam tim olahraga. Aku tidak ingin membuat kau, pria yang kelak paling aku sayangi selain ayah dan kelak anak laki-laki aku, cemburu. Aku akan menjadi fisioterapis klinis, seorang yang bekerja praktik di rumah sakit atau klinik untuk menangani pasien yang mengalami gangguan fungsi tubuh dan fungsi gerak.

Duhai pria yang kelak akan menjadi suamiku, apakah pernah terbayang jika istrimu nanti adalah seorang fisioterapis?

Istrimu akan berada di rumah sakit atau klinik dari pagi hingga menjelang sore. Disana istrimu akan menangani pasien dengan berbagai kondisi, dari mulai pasien dengan cedera otot biasa hingga pasien pasca stroke. Dia akan menjadi orang yang sabar memberikan terapi dan latihan-latihan kepada mereka.

Seorang fisioterapis adalah seorang yang sangat tangguh dan sabar. Tidak percaya? Jika kau datang ke rumah sakit atau klinik fisioterapi, coba perhatikan bagaimana fisioterapis bekerja. Ketika ada pasien datang, fisioterapis akan menyambutnya dengan hangat, menanyakan bagaimana kondisi pasien tersebut, apa yang dikeluhkan oleh pasien tersebut, dan fisioterapis akan mendengarkan dengan sangat baik serta mencatatnya sebagai diagnosa awal, sedikit tidak jauh berbeda dengan dokter memang. Kemudian fisioterapis akan mulai memberikan terapi atau latihan-latihan untuk membantu memulihkan kondisi pasien tersebut. Bisa kau bayangkan, bagaimana dengan sabarnya Ia melatih pasien pasca stroke yang mungkin tidak bisa berjalan atau sekadar menggerakkan anggota tubuhnya yang lemah karena serangan stroke, bagaimana Ia memberi terapi pada pasien yang mengalami gangguan-gangguan otot, bagaimana Ia memberi terapi pada anak-anak yang membutuhkan.

Jika nanti semesta mempertemukan aku denganmu, aku akan meminta izin padamu untuk menjadi fisioterapis. Ridha suami, ridha pria yang menjadi imamku, sangatlah penting. Jika kau mengizinkan, aku harap kau tidak cemburu atau marah karena profesi ini memang menuntutku untuk berkontak langsung dengan pasien yang  tentunya dengan maskud untuk menolong bukan lainnya.

Lebih kurang 8 jam aku akan berperan sebagai fisioterapis di tempat praktik dan sisanya aku akan berperan sebagai istri dan ibu. Aku harap aku bisa berguna bagi banyak orang ketika aku berperan menjadi seorang fisioterapis. Aku pun berharap aku bisa melaksanakan peranku sebagai istri dan ibu dengan baik. Tak dapat dipungkiri, aku akan lebih suka peranku sebagai istri dan ibu. Bagiku, kau dan anak-anak kita nanti layaknya surga kecil di dunia ini. Membayangkannya saja sudah bisa membuat aku senyum-senyum sendiri.

Sepertinya harus aku ralat, peranku tidak hanya sebagai fisioterapis, istri, dan ibu. Di rumah nanti aku akan menjadi koki, yang akan menyiapkan sajian di meja makan untukmu dan anak-anak kita. Aku juga akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak kita, aku akan menemani dan membimbing anak kita belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah mereka. Aku juga akan menjadi teman konseling anak-anak kita, mendengarkan cerita mereka, memberikan wejangan-wejangan sambil sesekali menggodanya dengan candaan ringan. Aku juga akan menjadi kepala kebersihan dan kesehatan, mengajarkan dan mencontohkan kebiasaan-kebiasaan untuk bersih dan hidup sehat serta menjadi yang paling cerewet akan kesehatanmu dan anak-anak kita. Bahkan, aku juga akan menjadi -sebut saja kepala binatu- yang menyiapkan pakaian untukmu, untuk jagoan dan putri kecil kita.

Setiap akhir pekan kita juga akan membuat jadwal untuk menghabiskan waktu bersama. Tidak lupa, setiap sore hari ataupun malam hari sepulang kita dari kesibukan kita, kita berkumpul di ruang keluarga atau beranda rumah. Aku akan membawakan teh hangat dan kue-kue kecil untuk menemani  saat kita bercerita tentang hari yang telah kita lalui. Ya kita, aku, kamu, dan anak-anak kita.

 – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Pengirim

Ryzky Dwi Fitri

Mahasiswi Fisioterapi Universitas Indonesia

||| tentang proyek menulis ceritaJika klik X

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *