Cerpen : Ayahmu

Ayahmu memang yang terbaik dan aku tidak akan pernah mampu menjadi terbaik seperti beliau. Dalam takaran apapun, tidak akan pernah semili pun aku akan mencapai derajat yang sama di sisimu, sebagaimana beliau di sisimu. Dalam hal rasa aman, rasa tenteram, rasa sayang, dan segala hal yang memungkinkanmu untuk jatuh cinta setiap hari kepada beliau.

Ayahmu, tempat bernaung badan dan pikiranmu. Juga menjadi tempatmu bertanya meski belum tentu ada jawabannya, kamu tidak pernah kecewa. Tempatmu menimba ilmu, dari ilmu dunia dan ilmu agama. Tempatmu bertanya tentang sejarah dunia, sejarah keluarga, juga sejarah pertumbuhanmu dari sebelum dilahirkan hingga sebesar ini.

Dalam segala hal, aku tidak akan pernah sanggup menyamainya. Tidak sedikitpun. Sementara kamu berharap mendapatkan sosok seperti beliau. Tidak sempurna sebagaimana laki-laki pada umumnya, tapi kamu menemukan segala yang kamu butuhkan padanya. Pada ayah yang selalu kamu ceritakan dengan bangga kepada siapapun yang bertanya tentangnya.

Barangkali memang akan selalu begitu. Dan semuanya memang tidak akan pernah sesederhana cerita dalam buku-buku yang kubaca. Karena aku tidak tahu bagaimana mungkin bisa berhadapan dengan seseorang yang menyandang predikat terbaik dalam segalanya di matamu. Aku akan selalu tampak kurang; kurang bijaksana, kurang sopan, kurang ajar, dan semua hal yang sering ditakutkan oleh laki-laki, yaitu kurang kepercayaan diri.

Ayahmu memang yang terbaik dan aku memang tidak akan pernah mampu menjadi terbaik seperti beliau. Ada jarak berpuluh tahun yang harus aku tempuh, barangkali. Untuk bisa duduk dengan tatap mata bijaksana dan pikiran yang tajam, Ada hal-hal yang menuntutku untuk menjadi lebih bertanggungjawab sebagai laki-laki, juga memaksaku untuk menjadi kuat, menjadi berani.

Saat aku berniat membangun sebuah rumah dan menyusun tangga satu per satu untuk lebih banyak kehidupan.

Yogyakarta, 1 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *