Cerpen : Bacaan Quran

Belasan tahun lalu, saat emak masih ada. Aku masih ingat bagaimana kami melalui jalanan ini setiap hari minggu pagi, kami ke pasar dekat stasiun kereta. Dulu, jalanan ini masih berbatu. Bebatuan yang ditata rapi. Kini semuanya sudah berubah menjadi aspal. Sekarang hampir tidak ada yang berjalan kaki ke pasar yang jaraknya hanya sekitar 500m dari desa. Pemotor hilir mudik, memenuhi jalanan.

Aku masih ingat bagaimana setiap perjalanan ke pasar ini, saat menemani emak ke pasar. Banyak sekali obrolan kami yang berkesan. Satu per satu obrolan itu pun menjadi peganganku hari ini. Sebuah nasihat yang menjadi nyala dalam hidup-hidup berikutnya, apalagi setelah emak meninggal. Salah satunya yang ingin aku ceritakan kepadamu.

Waktu itu usiaku sekitar delapan atau sembilan tahun, aku lupa tepatnya. Masa itu masa-masa setelah krisis moneter. Emak ikut berjualan di pasar dan perjalananku kala itu tidak hanya sekedar menemani emak ke pasar untuk belanja, tapi juga jualan. Aku membawakan barang-barangnya dengan sepeda kecil yang aku tuntun.

Waktu itu aku sudah mulai mengaji. Aku mengaji di rumah tetangga yang hanya berjarak tiga rumah. Dan aku benar-benar terkesan dengan pembicaraan kami kala itu, meski pada waktu itu aku tidak sanggup memahami dengan utuh kalimatnya. Kini aku paham.

“Nak, emakmu ini tidak bisa baca Quran. Emak cuma bisa mendengarkan dari orang lain kemudian mengingatnya. Emak tidak pernah mengaji, tapi itu bukan berarti emak tidak belajar agama. Emak sibuk bekerja dari pagi, untuk itu emak pengin nabung pahala yang banyak di kamu. Kamu harus belajar, baik belajar ilmu dunia maupun agama.”ujarnya.

“Buat emak, orang yang paling bagus bacaan quraannya itu bukan yang mereka yang bacaannya sering diputar dari kaset rekaman di masjid tiap menjelang shalat jumat itu.” lanjutnya.

Aku memasang muka penasaran, tanda ingin tahu apa yang sebenarnya emak pikirkan. Aku memang terkenal paling payah dalam mengaji di antara teman-teman yang lain. Hafalanku paling kacau. Bacaanku juga tidak lancar. Dan emak tahu semua itu.

“Buat emak, orang yang paling bagus bacaan qurannya itu adalah orang yang sekali ia membaca Al Quran, ia mengamalkannya. Setiap ayatnya, setiap perintah dan larangan di dalamnya. Itulah orang yang paling bagus bacaannya buat emak. Karena tidak hanya bibir yang membaca, tapi hati dan seluruh anggota badannya membacanya dan mengamalkannya.”

Kalimat itu mengalir dan berhasil membuatku bersemangat kala itu. Setiap kali satu ayat aku pelajari, setiap kali itu pula aku berusaha mengamalkannya. Seringkali aku bertanya maksudnya apa, mengapa, dan bagaimana setiap kali membaca. Ketidakmengertianku dan rasa penasaranku begitu besar sampai guruku kewalahan menjawab pertanyaanku. Setelah itu, emak memutuskan untuk mengirimku ke tempat mengaji di kota.

Guru ngaji di lingkungan kami bukanlah seperti ustadz hari ini. Mereka mengajar mengaji karena bisa mengaji. Bukan karena lulusan pondok pesantren atau memang mendalami ilmu agama tsb.

Kini rasa syukurku meledak ledak setiap kali mengingat kata-kata emak. Dan aku berjanji kepada emak kalau aku akan memiliki bacaan Quran yang paling baik. Sebagai hadiah untuk emak.

©kurniawangunadi | yogyakarta, 15 maret 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *