Cerpen : Hujan yang Sabar

Kita pernah kehujanan di kampus sepulang dari kelas sore. Hujan yang tadinya rintik beranjak deras dan kita terlanjur berjalan, lantas berlari menghindarinya. Dan kita merapat ke tepian gedung, mencari perlindungan. Hujan semakin deras dan kita terjebak bersama begitu banyak orang yang sepertinya bernasib sama.

Berada di teras yang sama dan tidak saling kenal. Tapi menghindari hal yang sama dan menunggu hal yang juga sama, hujan reda. Kita tidak saling mengenal, hanya kebetulan berada di kelas umum yang sama-sama kita ambil. Kemudian pulang kehujanan.

Kalau diingat-ingat, segala sesuatu memang saling terkait. Kejadian yang satu berkaitan dengan kejadian yang lainnya. Takdir seseorang juga terkait dengan takdir orang yang lain. Seperti saat itu, beberapa orang memiliki takdir yang sama. Sama-sama kehujanan dan menunggu reda di tempat yang sama.

Hanya saja, ternyata takdir pertemuan dan kebersamaan itu ternyata tidak berhenti seketika hujan berhenti sore itu.

Kita saling mengenal beberapa waktu berikutnya. Saat tugas kuliah menakdirkan kita harus berada dalam satu kelompok yang sama. Dan aku tahu namamu, Shabira.

Takdir itu berjalan secara misterius. Seperti rencana sebelum rencana. Ada rencana yang tengah berlangsung disaat kita sedang membuat rencana kita sendiri. Ada hal-hal yang tidak bisa jangkau melalui akal tentang sebab dan tujuan mengapa sesuatu terjadi dalam hidup kita.

Dan kita, adalah wujud dari rencana itu. Ketika suatu hari aku jatuh cinta, kemudian suatu hari memberanikan diri menyebut namamu dihadapan banyak orang. Aku tahu sejak saat itu bahwa entah apa jadinya kalau hujan tidak jatuh sore itu, dan kita tidak terjebak di kelas yang sama.

Jawaban atas takdir dan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita memang seringnya hadir belakangan. Butuh beberapa waktu bahkan beberapa tahun. Dan kuncinya adalah sabar. Seperti arti dari namamu.

©kurniawangunadi | yogyakarta, 8 mei 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *