Cerpen : Kehilangan Kepercayaan

Suatu malam, aku dan ibu duduk di atap rumah. Rumah kami tidak ada gentingnya. Ayah yang arsitek merancangnya seperti rooftop gedung. Di atap ini ada sebuah bangku kayu yang terbuat dari kayu dan meja. Dulu kami sering duduk bersama menikmati malam sambil bercengkerama.

Aku masih ingat waktu-waktu itu, kala ayah dan ibu masih bersama. Mereka belum berpisah seperti hari ini. Malam ini. Malam yang sunyi karena aku sudah jarang melihat ibu tertawa lepas. Kadang aku ingin membahas tentang kemungkinan ayah dan ibu bisa rujuk kembali. Nyatanya itu bukan perkara yang mudah lagi.

Menjelang usia matang, aku pun belum memutuskan menikah meski beberapa kali laki-laki datang untuk menawarkan dirinya menjadi suamiku. Apa yang terjadi dalam keluargaku mungkin menjadi mimpi buruk yang terus menerus menghantui. Aku takut menikah.

Aku tidak pernah melihat ayah dan ibu bertengkar, tidak pernah mendapat penjelasan dan mengerti apa yang sebenarnya terjadi sehingga mereka berpisah. Aku tidak ingin menanyakan itu lebih jauh karena khawatir menyakiti perasaan ibu. Aku juga tidak melihat ibu mendesakku untuk segera menikah di usiaku yang sudah berubah 25 sejak sepekan yang lalu.

Ayah masih sering aku temui di tempat kerjanya. Ayah juga membuka kedai kopi dan ia menjadi barista di sana untuk usahanya sendiri. Ayah pecinta kopi dan aku sangat membenci kopi. Aku tidak pernah masuk ke dalam kedainya karena bau kopi yang tajam, biasanya hanya duduk di halamannya yang memang ayah sediakan untukku saat aku datang ke sana. Dan selalu ada teh hangat yang ayah buatkan untukku.

Aku tidak mengerti bagaimana hal ini bisa terjadi dalam hidupku. Di tengah teman-temanku yang hidup dalam keluarga harmonis, riang mempersiapkan pernikahannya dengan pasangannya. Aku adalah yang paling malas membahas hal itu.

Aku hanya merasa belum selesai terhadap urusanku. Kepercayaanku tentang laki-laki pun berkurang, bahkan kepada ayahku sendiri. Sekalipun aku tahu ayah tidak pernah marah bahkan tidak pernah kudengar ia memarahi ibuku. Tidak pernah sama sekali. Yang aku tahu hanya satu hal, ia berhasil membuat ibu jarang tertawa beberapa tahun ini. Aku khawatir tentang itu, sebenarnya aku khawatir tentang mereka.

Aku tidak tahu apakah aku percaya pada bualan romantisme pernikahan. Mungkin, teman-temanku tidak pernah melihat keadaan terbalik dari hidupnya. Hidup yang begitu aman, nyaman, tenteram dan diliputi cinta kadang membuat seseorang jadi lupa empati.

Entah bagaimana aku bisa percaya kepada laki-laki kalau laki-laki yang kukenal sejak kecil, yang aku banggakan, yang menjadi cinta pertama adalah laki-laki yang berhasil membuat perempuan yang katanya dulu paling dicintainya menjadi tidak pernah lagi tertawa.

Hidup itu memang rumit dan egois. Bagaimana mungkin ada yang merasa tenang-tenang saja sementara di luar sana ada begitu banyak kesusahan, kehawatiran, dan segala hal lain yang tidak pernah mereka alami.

Dua puluh lima. Saat orang-orang sibuk membicarakan pernikahan dalam sebuah keindahan dan romantika yang luar biasa. Aku ragu untuk bisa percaya. Mereka tidak pernah melihat sisi terbaliknya dan tidak pernah menjadi bagian dari sisi gelap itu.

Yogyakarta, 2 Juni 2016 | ©kurniawangunadi

foto : sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *