Cerpen: Satu Tahun Berlalu

Aku tahu kita saling jatuh cinta dan kita sama-sama tahu kalau kita meneruskan perasaan ini. Ada hal besar yang tidak bisa kita kalahkan. Dan kita akan kalah. Aku tidak ingin melukaimu dengan membuatmu harus memilih antara aku atau orang tuamu.

******

Surat itu sampai di tanganku setelah drama panjang perjalanannya satu tahun ini. Sahabatku, seseorang yang pernah mengetahui bahwa aku dan Raka saling jatuh cinta. Dan seseorang yang juga tahu kalau Raka pergi dan aku menangis beberapa hari karena ketidakmengertian. Ia menyimpan surat itu satu tahun lamanya. Dengan alasan bahwa ia merasa belum ada waktu yang tepat untuk memberikannya kepadaku.

Aku tidak tahu kenapa Raka berhenti berjuang. Tiba-tiba, begitu saja. Aku tidak mendapatkan alasan darinya karena dia terlanjur pergi jauh. Dan aku terlalu gengsi untuk bertanya; Ada apa?

Surat itu ditulis tepat satu tahun lalu. Sahabatku memberikannya saat aku mulai mengerti bahwa takdir harus disikapi dengan pikiran yang dingin dan jernih. Aku dan Raka seperti petir, hanya muncul sebentar saja di dalam hujan.

Orang tuaku memang tidak setuju dengan Raka, terutama Ibu. Raka adalah laki-laki yang baik, bagiku juga bagi orang-orang yang mengenal Raka. Ia adalah laki-laki yang baik. Sayangnya, ibu tidak mengenal Raka sehingga beliau tidak mengenal kebaikannya. Dan ternyata baik dalam definisi Ibu memang berbeda dengan apa yang aku pikirkan selama ini.

Aku tidak pernah bisa mengalahkan penolakan Ibu dan Ayah sekalipun aku sudah menjelaskan betapa baiknya Raka. Dan aku tidak bisa mengatakan dengan jujur betapa beruntungnya aku yang dicintai oleh Raka, dicintai dengan cara yang sangat baik. Raka hanya ingin menyatakan cintanya melalui Ayah dan Ibu. Aku meneruskan permintaannya dan ditolak bahkan sebelum Raka diizinkan mengetuk pintu rumah.

Surat itu aku baca dengan perasaan yang lebih tenang meski tetap menangis. Penjelasan atas takdir hampir selalu datang belakangan. Dan aku bersyukur karena pernah dicintai oleh laki-laki yang baik. Sekalipun takdirnya berjalan melawan arus keinginanku.

©kurniawangunadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *