Excellent

Jika ada sebuah tugas yang diberikan kepadamu, bagaimana standar setiap orang menganggap pekerjaannya “selesai” berbeda-beda.

Sebagai orang yang perfeksionis, saya membuat standar sebuah pekerjaan selesai tidak hanya ketika pekerjaan itu selesai dikerjaan, tapi diatas itu. Pekerjaan itu harus benar-benar memuaskan. Memuaskan tidak hanya bagi pemberi tugas, tapi juga bagi saya yang mengerjakannya. Saya sulit membahasakannya dengan diksi bahasa Indonesia untuk istilah yang tepat. Jadi saya akan memberikan gambaran dalam diksi bahasa inggir

FINISH >> EXCELLENT

Pernah tidak mengerjakan sebuah tugas, kemudian kamu mengerjakannya sampai selesai. Tapi kamu merasa biasa-biasa saja. Atau mungkin justru merasa capek. Bagimu yang terpenting adalah pekerjaan itu selesai, tidak peduli “kualitas” selesainya itu seperti apa. Seperti saat mengerjakan tugas kuliah mungkin atau barangkali tugas dari ibumu untuk mencuci piring.

Pernahkah kamu mengerjakannya dengan kesungguhan hati, padahal hanya mencuci piring tugas dari ibumu. Kamu mengerjakannya dengan perasaan yang positif, membereskannya, dan membuat ibumu senang atas pekerjaanmu, dan kamupun senang atas apa yang kamu lakukan? Itulah “excellent” yang saya maksud.

Dalam hal apapun. Apakah itu tugas di kantor, tugas kuliah, dsb. Kita seringkali mengerjakannya asal selesai. Dan itulah yang terjadi hampir disemua tepat yang kita temui. Di instansi pemerintah, di kelas, di rumah, di mana-mana. Orang-orang buru-buru ingin menyelesaikan tugasnya, tapi sama sekali tidak memerhatikan kualitas pekerjaannya.

Mungkin bagi orang lain, standar yang saya terapkan pada diri sendiri itu begitu tinggi. Saya pernah menerapkan standar tsb kepada orang lain dan yang ada justru orang tersebut tidak menyukai saya.

Kadang saya berpikir. Kalau saya kaitkan prinsip ini ke hal-hal yang lebih vertikal; Hidup ini tidak mudah. Kita menjalaninya bukan untuk menunggu mati kan? Apakah kita beribadah hanya untuk memenuhi kewajiban dan ingin segera selesai? Banyak dari kita yang beribadah bisa mencapai level “excellent”, tidak hanya yang wajib, bahkan yang sunah dan lain sebagainya. Dan semua itu demi sang Pecipta yang kita harapkan ridha dan ampunannya.

Tapi ketika hal-hal seperti itu diterapkan untuk urusan dunia dan kemanusiaan. Mengapa seperti menguap begitu saja? Dan saya berpikir, itulah yang sedang terjadi di diri umat ini. Kejayaan yang dulu pernah begitu terang benderang lahir di generasi terbaik. Kita akan terus menerus terpuruk jika standar kita tidak pernah berubah dalam menjalankan tugas-tugas kehidupan.

©kurniawangunadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *