Lima Puluh Tahun

Lima puluh tahun dari sekarang, mungkin aku sudah tiada, mungkin juga kamu. Anak-anak kita sudah tumbuh menjadi orang tua, seperti yang pernah kita alami sekarang. Barangkali juga, umur siapa tahu. Mereka mungkin meninggalkan kita lebih dulu. Tidak ada yang tahu.

Lima puluh tahun dari sekarang. Segala sesuatu amat sangat mungkin terjadi. Tapi, di keluarga kecil kita ini. Ada hal-hal yang perlu untuk kita jaga seperti mulanya biar meskipun waktu terus bergerak jauh, kita tidak kehilangan jejak.

Lima puluh tahun dari sekarang, seharusnya alasan-alasan kebahagiaan kita tidak berubah. Sebab jangan sampai, alasan kebahagiaan itu bergantung pada hal-hal yang dunia, seperti harta dan kekayaan.

Lima puluh tahun dari sekarang, seharusnya niat kita tidaklah berubah. Mengapa dulu kita membangun rumah tangga ini. Apa tujuan kita mendidik anak-anak. Mengapa kita bekerja siang dan malam sampai hari ini. Semuanya bermuara pada niat yang hari ini kita batin berkali-kali dalam hati. Seharusnya, niat itu tidak terpengaruh waktu.

Lima puluh tahun dari sekarang. Kita akan menyaksikan lagi jejak-jejak yang kita buat. Pada tulisan-tulisan yang pernah kita muat, pada buku-buku yang pernah kita tulis, pada orang-orang yang tumbuh bersama, menyaksikan perjalanan ini, dan kita titipkan beberapa potong cerita hidup ini kepadanya.

Lima puluh tahun dari sekarang. Kita tentu sudah menua. Untuk itu, tidak perlu risau pada kecantikan dan ketampanan, tidak perlu risau pada hal-hal yang tidak bisa kita lawan karena waktu. Risaulah pada hal-hal lain yang apabila waktu itu terus bergerak, kita tidak menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya.

©kurniawangunadi

2 thoughts on “Lima Puluh Tahun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *