novieocktavia:

urfa-qurrota-ainy:

Menuliskan Introver

Butuh waktu kurang lebih dua pekan untukku menyelesaikan naskahnya. Entahlah itu tergolong cepat atau lambat. Tak kusangka aku bisa menuliskannya di antara kesibukan pindah rumah yang amat menyita tenaga dan perasaan. Mungkin benar, apa yang lahir dari hatimu selalu lebih mudah untuk dituliskan.

Menulis tentang introver seperti menulis buku diari. Saat aku membaca ulang naskahnya, kepalaku mengait-ngaitkan tulisan-tulisan itu dengan kejadian-kejadian nyata yang aku alami. Tentang ketidaknyamanan saat berada dalam kerumunan orang-orang, tentang kecemasan yang seringkali berlebihan, tentang keaslian, tentang pertemanan, tentang kelelahan, tentang kesibukan pikirannya, tentang kesukaannya pada obrolan-obrolan berbobot, dan semua yang menjadi ‘perjuangan’ hidup yang dialami introver.

Suamiku yang ekstrover menyebut buku ini melankolis. Haha. Sebenarnya, buku ini hanya bermaksud untuk mendalami jiwa introver. Buku ini juga memuat berbagai kebiasaan introver, yang disampaikan lewat percakapan-percakapan imajiner. Mungkin beberapa tulisan terasa melankolis bagi sebagian orang, mungkin terasa menyemangati. Penjiwaan setiap orang mungkin berbeda beda. Pada dasarnya, buku ini mencoba membuat para pembacanya (yang introver) merasa dipahami dan para pembaca (yang bukan introver) bersedia memahami. Ya, sudah saatnya kesalahpahaman soal introver disudahi.

Menjadi introver di dunia yang semakin bising, bukanlah hal mudah. Dunia seperti lebih mudah menerima mereka yang senang berbicara tanpa lelah. Ada semacam stigma bahwa introver pemalu, tidak bisa berhasil, dan tidak bahagia. Hanya karena introver lekat dengan keheningan dan kesendirian. Sudah saatnya dunia berhenti menganggap introver sebagai kekurangan. Introver, bisa jadi menyimpan rahasia kedamaian hidup, sesuatu yang belakangan menjadi barang langka dan diburu oleh banyak manusia.

Baiklah, inilah dia anak yang kukandung sekian lama dalam rahim pemikiranku. Maukah kau menyambutnya?

Segera hadir ke dunia :
“Mendengar Nyanyian Sunyi”
Catatan penjelajahan ke ruang pikir introver.

Bahagia rasanya waktu beberapa pekan lalu teh Urfa menghubungi saya dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya balik bertanya, “Teteh lagi mau nerbitin buku lagi?” Ternyata iya, maa syaa Allah, teteh yang di buku sebelumnya kental mengusung Psikologi ini produktif sekali! Saya langsung excited!

Baarakallahu, teh Urfa. Semoga bukunya bisa jadi ladang amal dan menumbuhkan teman-teman introver untuk bisa mengenali dan mensyukuri dirinya sendiri. Selamat berkarya 😉

nah semoga buku ini bisa gabung pemesanannya nanti di @langitlangit.yk, hehee. ya gak @urfa-qurrota-ainy?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *