Bersinggungan

Setiap hidup manusia yang saling bersinggungan, sadar atau tidak, ia ikut berpengaruh dalam setiap takdir hidupmu. Sedikit banyak kita tidak peduli, bukan?

Semisal kekesalanmu hari ini pada supir-supir yang menghentikan kendaraannya sembarangan, tukang parkir yang tiba-tiba muncul. Kita mungkin tidak mengenal mereka, tapi pahala dan dosa kita hari ini, muncul karena kehadiran mereka.

Semisal, sewaktu usia kita sudah matang. Ketika kita belum juga menemukan titik terang tentang pendamping hidup. Lalu, datanglah orang-orang yang berniat denganmu, berproses denganmu, meski pada akhirnya tak satupun dari mereka yang akhirnya menikah denganmu. Kita mungkin bisa mengabaikannya, tapi takdir kita telah berubah sejak kehadiran mereka. Kita telah menjadi seseorang yang berbeda, tergantung dari diri kita bisa mengambil pelajarannya atau tidak. Mereka hadir tidak hanya untuk memenuhi keingananmu, tapi juga memberimu pelajaran berharga.

Semisal, sepanjang perjalanmu hari ini. Kamu saling bertegur sapa dengan orang lain. Kerikil yang kamu singkirkan dari jalan. Sayuran yang kamu beli di pasar, atau mungkin dari penjual sayur keliling. Pertemuanmu dengan setiap orang, memberikan dampak yang tidak disadari. Rezeki yang berpindah, marabahaya yang terhindar, dan aneka bentuk keterkaitan yang jika kita mau memikirkannya. Yang ada hanya, rasa syukur dan menginsyafi diri ini yang seringkali memaksakan kehendak, rencana, agar bisa menjadi takdir hidup kita kedepan.

Nyatanya, di atas rencana yang kita buat, masih ada rencana Nya. Sesuatu yang seharusnya berhasil membuat kita percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita ini, adalah yang terbaik. Dan kita mengakui, bahwa selama ini kita sajalah yang sering salah dalam memahami maksudNya.

Malang, 4 Maret 2018 | ©kurniawangunadi

Bertumbuh

Dari bertumbuh ini kami berdoa semoga kita mampu untuk mengelola setiap keadaan. Mampu untuk memahami, bersedia mendengarkan, bersedia untuk berjuang, juga bersedia untuk lelah.

Sebab dalam masa-masa itu, segala sesuatu akan tampak abu-abu. Cita-cita kita akan diuji dengan sedemikian rupa. Segala keresahan akan hadir dalam berbagai bentuk.

Satu dua diantara kita, ada yang menyerah menghadapi. Kamu jangan. Sebab, satu hal yang perlu untuk kamu percaya bahwa kamu tidak pernah sendirian ketika mengalaminya.

Kita semua melewati proses yang serupa, hanya berbeda bentuk. Hanya berbeda cara, Dan kita hanya tidak saling tahu apa yang kita hadapi.

Malang, 4 Maret 2018 | ©kurniawangunadi

Bagaimana Baiknya

Suatu hari, disaat langit sedang kelabu-kelabunya, hatiku pun demikian. Adik bimbinganku mengirimkan sebuah pesan pendek melalui whatsapp. Aku sedang berbaring di tempat tidur, memandangi jendela, memerhatikan pohon yang bergerak-gerak ditiup angin, menantu hujan.

β€œKak, mau nanya dong. Apa aja sih yang harus diperjuangkan oleh seorang laki-laki terhadap perempuan yang disukainya. Biar mendapatkan sinyal positif, biar bisa meyakinkannya (dan keluarganya), biar bisa mencuri hatinya. Laki-laki itu harus bagaimana?” tanyanya.

Aku membacanya, malas. Menimang-nimang kembali handphoneku, lalu melemparkannya ke tumpukan baju. Aku memilih untuk menidurkan diri,

Lepas tengah malam. Aku masih berkutat dengan buku, dengan pikiranku, dengan kegelisahanku. Aku memungut kembali handphone yang sedari tadi aku buka. Memandang kembali pertanyaan dari adik kelasku yang tak kunjung ku balas.

β€œDengan beribadah dengan baik, bekerja dengan tekun, fokus, berbuat baik pada banyak
orang, rutin mengkaji ilmu, ikut kegiatan yang bermanfaat, membantu
orang lain, dan terakhir, berbakti kepada kedua orang tua.”
jawabku.

Aku tahu, aku sedang menasihati diriku sendiri.

©kurniawangunadi

Kalau masih ada kekhawatiran, tandanya kamu masih memiliki jalan lain. Hanya saja kamu belum melihatnya. Kamu belum menemukan yang kamu cari, bisa jadi karena memang belum waktunya, atau memang kamu belum cukup layak untuk menerimanya saat ini. Yakinkan Dia, bahwa kamu layak. Tunjukan kepada orang-orang terdekatmu bahwa kamu sudah cukup bertanggungjawab untuk mengambil keputusan, menentukan pilihan.

Akhirnya Paham

Suatu hari, kita akan paham bagaimana rasanya mengalah dan bahagia. Saat kita tidak lagi berpikir tentang menang dan kalah dalam hidup ini. Saat kita tidak lagi sibuk membangun anggapan tentang diri. Saat kita memiliki hati yang sudah pandai untuk bersyukur. Diri yang bersedia berjuang dan berkorban, namun ikhlas terhadap ketetapan. Semua itu akan ada masanya. Untuk mencapai masa itu, kita perlu melewati setiap detail perjalanan kita saat ini, sebaik-baiknya πŸ™‚

Keluarga yang Beruntung

(c)ajinurafifah

Anak-anak yang beruntung bukan mereka yang bergelimang harta dan fasilitas mewah dari orangtuanya.

Anak-anak yang beruntung adalah yang mereka yang bergelimang hikmah dan keimanan dari orangtuanya.

Mereka beruntung karena kelak ajaran orangtuanya begitu dibutuhkan dalam menjalani setiap fase kehidupan.

Dan orangtua yang beruntung adalah mereka yang sudah tidak lagi hidup, tapi pahala terus mengalir untuknya, ialah doa dari anak-anak yang shaleh shalehah πŸ™‚

Buku Bertumbuh Segera Rilis

BERTUMBUH | MARET 2018

Beberapa bulan yang lalu, yang jelas sudah lama, kami berlima berwacana untuk membuat sebuah buku. Dan takdirnya baru selesai di Februari 2018. Memang proses itu tidak bisa dipaksakan, hikmahnya.

Untuk teman-teman yang suka mengintip halamannya @satriamaulana yang sarat akan kontemplasi mendalamnya, halamannya @prawitamutia yang penuh cerita tentang kehidupan dan keluarga, halamannya @novieocktavia yang riuh dengan problematika hidup, juga kalau ada yang sering dengerin podcastnya @academicus tentu tahu betapa kerennya bahasan-bahasan di dalamnya tentang masalah kekinian.

Akhirnya, kami berlima berhasil merampungkan buku yang sederhana ini. Betapa menariknya proses menyatukan lima kepala menjadi satu buntalan cerita. Bagaimana kami harus berdiskusi, menyesuaikan ritme, berbagi tugas, dan lain-lain. Akhirnya, semua itu membuahkan hasil, Bertumbuh.

Bertumbuh menjadi buku yang ingin kami persembahkan sebagai teman perjalanan, berusaha menjadi apapun bagimu, dan ingin membisikkan ke telingamu jika kamu tidak pernah sendirian ketika melewati segala kekhawatiran, keresahan, dan hal-hal terduga saat ini.

Buku ini adalah himpunan perjalanan kami sebelum-sebelumnya. Hal-hal yang berhasil kami maknai, juga syukuri.

Bertumbuh akan tersedia insyaallah Maret 2018 ini. Semoga buku ini bisa bermanfaat dan sarat akan kebaikan jika ia sudah lahir nantinya.

N.B Segala informasi tentang pemesanan buku ini akan dikelola di instagram @langitlangit.yk / wa 0857 7272 4343 dan juga tumblrblog masing-masing penulisnya πŸ™‚

RTM : Mengalah

Dulu saya tidak mengerti kenapa orang tua seringkali mengalah kepada anaknya. Mengalah semisal, ibu lebih memilih memasakan makanan kesukaan saya daripada kesukaan bapak jika saya mudik. Bapak mengalah demi itu. Atau saat ada keperluan, bapak dan ibu sering mengalah menunda membeli keperluannya demi agar keperluan anaknya terpenuhi lebih dulu.

Beberapa hari kemarin, ketika saya dan istri mengajak Shabira keluar untuk jalan-jalan mengurus dokumen-dokumen segala macam di kampung halaman. Kami ada keinginan untuk makan di tempat-tempat makan kesukaan kami, seperti mie ayam, bakso, soto, dsb. Hanya saja, setibanya di sana kami tidak jadi berminat. Ketika melihat tempatnya terlalu ramai, ada orang yang merokok, atau mungkin antreannya terlalu lama.

Melihat Shabira yang baru berusia belum dua bulan, kami mengalah. Kami merasa kasihan kepadanya jika kami terus mementingkan keinginan kami hanya untuk sekedar makan di tempat tersebut. Membiarkannya terpapar asap rokok, berdesak-desakan, dsb. Akhirnya, kami pulang, makan seadanya di rumah.

Saya merasa tidak pernah seperti ini sebelumnya, saya yang sangat kekeuh ketika ingin sesuatu. Kini, saya luluh kepada anak perempuan ini, yang pandangan matanya mampu meruntuhkan ego, yang senyumnya mampu menenangkan khawatir, dan suara khasnya yang membuatku selalu ingin memberikan yang terbaik sebagai Ayah.

Rumah, 10 Februari 2018 | ©kurniawangunadi

Tulisan : Ketidaknyamanan

Kejujuran/kebenaran dan keterusterangan. Dua hal yang mungkin sering kita hindari. Sebab dua hal inilah yang membuat kita seringkali khawatir, cemas, dan berusaha keras mengingkarinya.

Pernahkah berusaha untuk terus terang kepada orang tua terkait keinginanmu, sementara mereka memiliki harapan yang lain? Atau pernahkah kamu mendapatkan kritik yang jujur dari seseorang atas segala sikap dan sifatmu, sementara kemudian kamu berusaha untuk menyangkal dan membuat pembenaran?

Pernahkah kamu jujur menyampaikan ketidaksukaan dan ketidakcocokanmu pada pimpinan, pada teman, orang-orang dekat?

Atau seperti, bagaimana kamu menyimpan segala bentuk cerita di masa lalumu. Bukankah rasanya sulit untuk jujur dan terus terang kepada orang-orang? Bukankah rasanya takut dan khawatir jika orang lain mengetahuinya?

Atau bagaimana rasanya jika kamu mendapati kebenaran atas seseorang yang akan menjadi pasangan hidupmu, kala ia berterus terang padamu atau kamu mendengar kebenaran dari orang lain akan masa lalunya yang sulit kamu terima (juga keluarga seandainya mereka tahu). Bukankah kamu semakin khawatir untuk melanjutkan hubungan dengannya?

Kejujuran dan keterusterangan. Dua hal yang jarang diajarkan di kehidupan kita. Kita sibuk memendam prasangka, sibuk memendam ketidaksetujuan, mengkritik di belakang. Kita juga tidak diajarkan untuk siap menerima kejujuran dan keterusterangan dari orang lain. Tidak mudah memang, juga sulit untuk mengakui jika diri ini memang salah dan keliru. Kita sibuk menutup rapat kebenaran-kebenaran atas diri kita sendiri bahkan. Memanipulasi kebahagaiaan. Menenggelamkan diri dalam kepalsuan, ketidakjujuran, dan tertutup.

Rumah, 10 Februari 2017 | ©kurniawangunadi