Ramadhan #12 : Pohon di Halaman

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Saat pulang ke rumah di kampung halaman. Saya melihat ada yang berbeda dari rumah tetangga. Dua buah pohon rambutan di halaman yang sudah ada sejak saya belum lahir tiba-tiba sudah hilang dan bertumpuk menjadi kayu bakar. Heran.  Karena menumbuhkan pohon itu perlu bertahun-tahun, membakarnya hanya perlu sehari. Ada urgensi apa sehingga pohon-pohon itu ditebang?

Selidik punya selidik, pohon itu ditebang karena anak pertamanya akan melangsungkan pernikahan. Di desa, pernikahan itu memang tidak seperti di kota dimana orang-orang tidak punya halaman sehingga menyewa gedung. Di desa, pernikahan diadakan dengan tenda-tenda besar di halaman rumah. Alasan menebang pohon yang sangat tidak pro gerakan penghijauan. Ditebang karena kalau tidak akan menghalangi pemasangan tenda.

Kadang, saya sedih menyaksikan bagaimana pola pikir masyarakat kita. Bagaimana mungkin sebuah pohon berusia puluhan tahun dan produktif ditebang hanya karena menghalangi tenda pernikahan. Bukankah seharusnya pernikahan itu memberikan keberkahan bagi alam semesta. Tidak hanya kepada orang lain, tapi juga seluruh makhluk-Nya.

Mungkin tulisan kali ini tidak menyampaikan tentang hikmah apapun. Tulisan ini adalah bentuk ketidakmengertian saya terhadap pemahaman-pemahaman yang bagi saya keliru. Bahkan saya sendiri tidak tega memotong pohon di belakang rumah saya yang di Yogyakarta karena bagi saya pohon pun hidup memiliki perasaan. Saya di desak untuk memotongnya karena pohon itu tumbuh dekat dengan dinding batas perumahan. Sehingga dikhawatirkan akan merusak bangunan. Padahal, bangunan inilah yang merusak tempat tinggal pohon itu sebab dia tumbuh di situ lebih dulu daripada tembok ini. Jadi, saya menghormatinya dengan tidak memotongnya. Tapi, orang lain tidak bisa memahami cara berpikir saya yang demikian.

©kurniawangunadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *