Ramadhan #13 : Yang Terdekat

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Saat sebagian besar dari teman-teman kita berasal dari keluarga yang terdidik dan juga agamis, mungkin kita bukanlah anak yang lahir dari keluarga yang demikian. Kita tinggal dari tempat yang jauh dari hingar bingar kota dan dakwah yang kuat. Kita tinggal di sudut negeri ini, sewaktu kecil berlarian tiap menjelang maghrib untuk pergi ke Langgar, mengaji.

Sebagian besar dari kita mungkin baru belajar dan benar-benar mamahami agama islam setelah berada di sekolah tinggi. Kita bisa mendapatkan akses dakwah yang lebih komprehensif dan kekinian. Kita tahu bahwa ini boleh dan itu tidak, kita tahu bahwa ini dan itu hukumnya begini dan begitu.

Dengan segala pengetahuan baru yang kita dapatkan, kita begitu bersemangat untuk menjadi hamba yang taat. “Kami mendengar dan kami taat”. Dan kita pun turut bersemangat mengajak teman-teman kita untuk merasakan hijrah seperti yang kita rasakan.

Namun, sekembalinya kita di rumah. Orang-orang terdekat kita, yang paling kita sayangi, tidak mendapatkan kenikmatan dakwah seperti yang kita rasakan. Mereka tetap berkutat dengan kesehariannya, berjuang mencari nafkah untuk membiayai sekolahmu hari ini. Uang yang kamu gunakan untuk membeli kerudung panjang, perjalanan dari kosan ke tempat mengaji, biaya makanmu, sekolahmu, dan seluruhnya. Mereka berjuang untuk menghidupimu.

Sekalipun pengetahuan agama mereka mungkin tidak sebanyak dan kekinian sepertimu, mereka adalah orang yang paling pertama melahirkanmu, mengenalmu, juga merawatmu. Selebar apapun kerudung yang kamu pakai, sebanyak apapun hafalan yang kamu miliki. Kamu tidak bisa menolak bahwa orang-orang terdekatmu ini adalah orang-orang yang paling berjasa diantara sekian puluh teman pengajian dan guru mengajimu.

Di rumah, mungkin ada pertentangan pemahaman antara kamu dan mereka. Setiap kali pulang ke rumah, ditanya pacarnya mana atau mengapa kerudungmu semakin lebar saja. Kamu tidak berkutik dan sebaiknya kusarankan untuk lebih banyak senyum dan pelukan. Kehadiranmu sebagai anak itu lebih menentramkan. Jangan kamu menghakimi mereka karena mungkin mereka tidak mengenal agama sebagaimana yang kamu kenal, mungkin kerudungnya hanya dipakai ketika pengajian dan melayat, mungkin bacaannya belum sebaik milikmu. Tetap saja, mereka adalah yang paling banyak kasih sayangnya untukmu.

Aku pun demikian dan untuk itu aku selalu berdoa semoga Allah menyelamatkan mereka sebab ketidakpahaman mereka. Jangan Allah menghukumi mereka sebab ketidakmengertian itu, sebab mereka adalah orang terbaik yang aku miliki, orang yang membuatku bisa tegap sejauh ini. Juga mengampuniku yang terasa begitu berat menyampaikan agama kepada orang-orang yang terdekat. Sekaligus berjanji bahwa di kehidupan yang akan datang, di keluarga yang akan aku bangun nanti. Semuanya akan diperbaiki dan dimulai dengan cara-cara yang baru.

©kurniawangunadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *