Ramadhan #14 : Membantu Malaikat

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Di bulan ramadhan ini, saya melihat beberapa teman mengangkat kenangan masa kecilnya ketika dulu mengisi Buku Ramadhan. Bagi anak-anak generasi 90 di Indonesia, tentu akrab sekali dengan buku tersebut. Dimana setiap dari kita diminta untuk mencatat amalan kita sendiri selama bulan ramadhan. Bagi saya, kenangan sederhana itu memberikan pembelajaran yang luar biasa. Dulu ketika saya melakukanya, ya sekedar memenuhi kewajiban saja. Bertahun sudah masa-masa itu, saya mengambil hikmahnya dengan cara saya sendiri.

Saya membayangkan malaikat Raqib dan Atid yang biasanya bertugas menulis catatan amal kita, tersenyum melihat tingkah laku kita pada waktu itu. Tugas mereka kita kerjakan sendiri dan kedua malaikat ini jadi gabut. Kita menulis amalan kita sendiri, apa yang kita dapat di kajian, khotbah jumat, dan lain-lain.

Buku ramadhan ini juga buku sakti, setiap anak berlomba untuk mengisi penuh catatan amalnya. Hebatnya, mungkin karena efek bulan ramadhan juga. Anak-anak menjadi jujur, mereka mengisi kalau memang mengerjakan. Beberapa anak yang ketinggalan merasa malu dan berusaha untuk mengejar kekalahan amalnya dari teman-teman yang lain. Lucu sekali memang.

Hari ini, kita mengingat momen itu hanya untuk nostalgia saja. Untuk bahan kenangan-kenangan dan obrolan, tidak lebih. Melupakan esensi mendasar dari kenangan itu. Bayangkan bila setiap dari kita hari memiliki buku catatan amal sendiri yang kita isi sendiri. Setiap hari kita menuliskan di sana, kebaikan dan keburukan yang kita lakukan, setiap hari sepanjang tahun.

Kelak kita hanya perlu mencocokan antara catatan kita dan catatannya kedua malaikat yang bertugas mencatat amal. Kita mungkin juga malu, bila buku catatan itu dibaca orang, bahkan orang-orang terdekat kita. Sebagaimana kita menyembunyikan aib kita selama ini. Apalagi kalau catatannya penuh dengan keburukan.

Bukankah paling mudah adalah kita menghakimi diri kita sendiri? Kita menghitung kebaikan dan keburukan kita sendiri. Dengan apa yang kita kerjakan selama ini, apakah pantas bila kita masuk surga-Nya? Bertemu dengan-Nya?

Kita sibuk sekali di dunia ini dengan aneka pekerjaan hidup yang melenakan dan duniawi. Kita mengejar yang seringnya tidak kekal, kita menyimpan yang tidak berguna dan sia-sia. Pernahkah merinci berapa waktu kita yang sia-sia setiap harinya?

Kalau setiap kita ditugaskan untuk menulis catatan amal kita setiap hari. Saya khawatir menyaksikan amalan-amalan saya sendiri dalam 25 tahun terakhir.

©kurniawangunadi

[sumber foto]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *