Ramadhan #2 : Kemudahan dan Keberkahan

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Saya pernah mengulas tentang hal ini ditulisan lama, saya lupa judulnya. Ramadhan adalah bulan yang sangat dinanti bagi orang islam yang beriman dan bertakwa. Ada banyak keberkahan yang turun di bulan suci tersebut. Setiap orang yang saya kenal berlomba untuk menggapai setiap mili-keberkahan. Hari ini pun (6/6), jamaah subuh yang biasa saya kunjungi menjadi penuh. Kemarin malam padahal tetap seperti biasa, dua shaf.

Ramadhan ini seolah-olah setiap orang islam terlihat soleh/solehah. “Terlihat” karena memang itu yang nampak, perkara niat itu hak Allah.

Tadi malam, sepulang tarawih di Masjid Nurul Asri – Deresan, saya mampir dulu ke tempat makan untuk mencari makan malam sekaligus cadangan sahur. Saya berusaha berkaca seluas-luasnya di ramadhan ini. Saya dan mungkin begitu banyak orang memasang target besar dalam ibadah individu; baca Quran-nya lebih banyak, shalat sunahnya lebih rajin, tahajudnya lebih panjang, dan apapun yang terkait dengan ibadah individu. 

Tentu ini bukan bicara tentang baik dan buruk atau salah dan benar. Saya merenung dalam perjalanan kembali ke rumah. Kalau keberkahan (dalam hal ini dalam bentuk pahala) hanya turun kepada orang-orang yang melakukan ibadah tersebut secara penuh, bagaimana dengan orang-orang yang mungkin tidak mampu bahkan tidak berkesempatan untuk itu?

Bukan karena mereka tidak ingin, tapi keadaan, kondisi, dan berbagai tuntutan hidup membuat mereka harus seperti itu. Saat kita sedang khusu’ tarawih, di luar sana ada bapak tukang parkir yang sedang menjaga kendaraan kita, di luar sana yang kita sering sekali abai dan tidak peduli, ada puluhan remaja seusia kita yang harus berjuang untuk hidup, mereka menjadi penjaga toko, pelayan restoran, dan untuk bekerja itu mereka merelakan waktu shalat tarawih berjamaah. Bahkan, pemilik tempat makan pun sengaja membuka tempat makannya di jam-jam itu (biasanya 17.00-22.00). Dan kita, sering tertawa usai tarawih ketika makan di sana atau saat berbuka puasa di tempat makan itu. Apalagi saat nanti ramai acara buka puasa bersama. Jahat gak sih?

Di saat kita begitu bersemangat menghadiri kajian-kajian dengan penceramah yang keren-keren, ada yang harus berjuang untuk hidup dan melakukan tugasnya. Para penjaga pintu kereta api, para sopir bus malam, para nakhoda di lautan, para kelasi, juga buruh-buruh bangunan dan pelabuhan, petugas pom bensin, penjaga mini market, tukang parkir, masinis, pilot, dokter dan perawat yang harus berjaga di rumah sakit, dll. Mereka berjuang untuk hidupnya juga hidup orang lain, mungkin juga untuk keluarganya di rumah. Kalau mereka semua meninggalkan tugas pekerjaannya, mungkin kita semua yang kemudian marah-marah. Jahat gak sih?

Di saat pagi kita bisa bersantap sahur, duduk manis di ruangan keluarga yang hangat, makanan yang enak. Ada di luar sana yang harus ke pasar dini hari, ada yang memasak untuk warungnya demi teman-teman yang nge-kos bisa beli makanan untuk sahurnya, dan lain-lain. Kapan terakhir kali kita berempati?

Betapa begitu banyak kemudahan yang kita miliki. Kita tidak perlu susah payah untuk memenuhi kebutuhan keuangan. Tidak perlu bekerja menjadi penjaga toko, pelayan restoran, apapun itu. Kita bisa menghadiri kajian rutin tanpa harus memikirkan hal lain. Kita diberikan banyak kemudahan untuk meraih keberkahan di bulan ramadhan ini dengan segala target ibadah individu yang sudah dibuat.

Pertanyaannya, adakah target ibadah sosial di sana? Adakah niat kita untuk ikut serta dan turun tangan membantu memudahkan orang lain beribadah juga sama seperti yang kita dapatkan? Akankah kita begitu egois, mengharapkan semua keberkahan itu menjadi milik kita semata tanpa peduli apakah itu juga didapatkan oleh orang lain?

Semoga keberkahan ramadhan itu turun kepada orang-orang yang memudahkan kita semua dalam menjalankan ibadah. Bahkan saya merasa, mereka jauh lebih pantas mendapatkan kebaikan itu. Yang jelas, Allah Maha Pengasih dan Penyayang.

© Kurniawan Gunadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *