Ramadhan #22 : Menjadi Manusia

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Coba rasakan, kapan terakhir kali dirimu menjadi manusia. Menjadi manusia yang utuh dengan pengakuan atas segala kelemahannya. Pengakuan atas segala ketidakberdayaannya bahkan atas tubuhnya sendiri. Kapan terakhir kali menjadi manusia dengan pikiran yang memanusiakan manusia lainnya. Memandang orang lain sama derajat, sama-sama diciptakan Tuhan untuk tujuan yang sama, sama-sama diberikan kehidupan dan juga nantinya akan dimatikan.

Rasakan, kapan terakhir kali menjadi manusia dengan segala kerendahan dirinya. Tidak ada tempat untuk kesombongan dan keangkuhan. Tidak ada celah untuk membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Tidak ada kecurigaan dan kecintaan yang berlebihan. Toh, sama-sama manusia. Sama-sama membawa kotoran di dalam perutnya. Dimana mulianya.

Kapan terakhir kali kita merasa sebagai manusia? Tidak merasa lebih baik dari orang lain, tidak merasa lebih cantik dan tampan, lebih saleh, lebih beruntung, dan segala kelebihan yang selama ini membuat kita kehilangan rasa empati. Kapan terakhir kali kita merasa sebagai manusia? Perasaan yang membuat kita dengan mudah memberikan label kapada orang lain hanya karena perbedaan-perbedaan yang dibuat oleh kita sendiri?

Saat hari ini begitu banyak manusia kehilangan sisi kemanusiaanya. Merasa menjadi Tuhan yang bisa menghakimi, merasa menjadi malaikat yang begitu suci. Saat itulah manusia kehilangan harga atas dirinya dan kehilangan sisi terbaiknya sebagai ciptaan manusia. Perasaan-perasaan yang membuat iblis dilaknat dan diusir dari surga, perasaan-perasaan yang membuat manusia lupa bahwa hidup itu ada matinya.

Dan kini, kemanusiaan menjadi kehilangan makna. Saat kita mengetahui banyak manusia lain, dibelahan bumi lain, harus menderita karena perang dan penyakit. Kita tetap masih bisa tertawa dan menahan harta, lalu segera lupa. Kita telah kehilangan sisi kemanusiaan yang paling mendasar dalam diri kita.

©kurniawangunadi

[sumber gambar]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *