Ramadhan #29 : Cintaku untuk Wanita itu

Tulisan ramadhan kali ini spesial karena saya tidak menulisnya, tulisan berikut adalah tulisan Agus Taufik, rekan saya di Forum Indonesia Muda yang baru beberapa hari yang lalu resmi menjadi bapak. Karena begitu baiknya tulisan ini, maka saya ingin sekali membagikannya sebagai sebuah hikmah. Sebab di hari-hari yang berdekatan, banyak teman dan kenalan saya juga yang merayakan kelahiran anaknya. Selamat mengemban amanah baru untuk Zulfikar-Rere, Teh Agil, Faldo, juga Agus-Astri.

Pekan lalu, tepatnya tanggal 21 Juni 2016, saya menemani istri saya dalam proses persalinannya di RSAB Harapan Kita. Beberapa jam berlangsung sejak pembukaan 1 hingga 10.

Mulai dari masih bisa beraktivitas normal, seperti menonton tv, membaca buku, dll. Hingga detik-detik mendekati pembukaan 10, dimana istri saya mengalami kontraksi yang semakin sering dan kuat.

Sesekali istri saya tiba-tiba “menegang”, tubuhnya kaku, suaranya tersekat, hanya terlihat mulutnya berkomat kamit cepat tanda berdzikir, wajahnya mengerut maksimal tanda mengekspresikan sakit yang sangat, tangannya memegang dan menarik dengan kuat apapun yang didekatnya.
Saya tak mampu melakukan apapun selain terkadang jadi objek tarikan, sambil terus berdoa, serta mengingatkannya untuk senantiasa berdzikir.

Dan kontraksi ini berlangsung berkali-kali, mulai dari 15 menit sekali, 10 menit sekali, 5 menit sekali, hingga 2 menit sekali.

Sampai dengan pembukaan 10 dinyatakan sempurna, proses persalinan siap dimulai, saya sudah berdiri di samping istri saya untuk memberi dukungan terbaik. Tidak berlangsung lama, hanya sekitar 5-10 menit. Tapi itu jadi saat-saat paling luar biasa.

Dengan beberapa kali tarikan napas panjang, rambut si bayi telah terlihat muncul dari *“jalan lahir”*, namun istri saya tampak kelelahan.

Pada tarikan napas berikutnya, istri saya tampak sangat pucat, bibirnya membiru, keringatnya mungucur deras di sekitar wajah, dan urat matanya terlihat menonjol di kelopak mata.

Dokter pun mengingatkan istri saya agar tetap tersadar dan mengejan dengan membuka mata, agar pembuluh darah di mata tidak pecah.

Seperempat kepala bayi sudah muncul, dokter pun akhirnya mengambil gunting, dan “jalan lahirnya” *digunting sedikit* untuk lebih memudahkan keluarnya si bayi.

Bersamaan dengan muncratnya darah, saya tak tahu betapa sakit dirasakan istri saya. Ingat, semua proses ini *TANPA BIUS*. Silakan bayangkan rasanya.

Beberapa kali mengejan maksimal hingga tubuh istri saya bergetar, akhirnya kepala bayi muncul seluruhnya. Dan akhirnya seluruh tubuh si bayi keluar.

Bayi kecil berwarna kemerahan yang kami nantikan telah lahir, sedetik kemudian suara tangisnya memenuhi seisi ruangan. Dan saya pun tak kuat lagi menahan air mata yang sejak tadi tertampung.

Saat saya menggendongnya pertama kali sambil mengadzankannya, selain cinta saya pada Allah, pada istri saya, dan pada si bayi kecil ini, ada cinta lain yang tiba-tiba membuncah! *Cinta saya pada Ibu saya!*

Beginikah sakitnya proses melahirkan itu?
Beginikah yang ibu saya rasakan saat berjuang untuk melahirkan saya?

Kemudian teringat betapa saya sekarang sudah menggendong anak, namun saya belum mampu berbakti secara maksimal pada ibu saya.

Ibu saya, ibu terbaik di dunia, yang untuk pendidikan anaknya sejak kecil melakukan pekerjaan apa saja, asalkan halal. Mulai dari tukang jahit, tukang ayam potong, tukang sayur mayur, penjaga sekolah, menjadi buruh cuci di 3 rumah tetangga, penjual nasi uduk, hingga kini kembali berjualan sayur mayur. Hanya agar anaknya dapat berdiri sejajar dengan anak-anak lainnya.

Saya percaya setiap anak punya cerita herioknya masing-masing tentang perjuangan ibunya. Tapi yakinlah masih banyak hal heroik dari ibu kita yang kita belum tahu dan benar-benar rasakan.

Belum lagi tentang perjuangan 9 bulan 10 hari saat mengandung dengan segala masalahnya, selama itu pula kadang makan tak enak dan melakukan apapun jadi berat. Belum lagi saat berjuang menyusui, yang ternyata tak semudah yang dibayangkan, dan harus terbangun tengah malam tiap 1,5 jam untuk menyusui atau sekedar mengganti popok.

Kini, saya semakin paham mengapa betapa banyak perintah agama agar seorang anak berbakti pada orang tuanya.

Dengan logika sederhana saja, betapa besar pengorbanan dan *cinta ibu* kita untuk kita, dan seberapa besar pengorbanan dan *cinta kita* yang sudah tercurah untuk ibu kita?

Maka, saya sangat malu.
Ternyata selama ini saya belum benar-benar menunjukkan cinta pada ibu saya. Bagaimana dengan anda?

Oleh: Agus Taufik (FIM 13)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *