Ramadhan #3 : Salat dan Kepemimpinan

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Ketika berjamaah di mushala, saya terpikir
sesuatu tepat ketika saya berdiri di belakang imam kemudian imam salah
bacaan. Saya ingat beliau memakai surat Al A’la pada rakaat kedua. Pada
ayat ke sekian beliau lupa kemudian diulang-ulang ayat sebelumnya, dalam
shalat makmum terdekat wajib mengingatkan bukan?

Hal
ini tiba-tiba menjadi dasar tulisan ini, betapa dalam agama
Islam telah dicontohkan dengan amat sangat teramat jelas dan super baik
tentang sebuah kepemimpinan, tidak hanya tentang pemimpin tapi juga yang
dipimpin, lengkap dengan bagaimana menjalankan proses memimpin dan
dipimpin tersebut. Semua contoh kepemimpinan itu terangkum begitu mendasar hanya dalam shalat berjamaah. Berikut hasil
“kepikiran” saya tadi.

PERTAMA : Menentukan/Memilih Pemimpin

Dalam
shalat berjamaah, harus ada satu imam, tidak boleh lebih, meskipun
jumlah makmumnya satu milyar, imam nya hanya satu, pun jumlah makmumnya
juga cuma satu. Imamnya juga harus satu. Dalam sebuah perjalanan, harus
dipilih salah seorang dari mereka untuk menjadi pemimpin bukan? Dalam
shalat, imam haruslah seseorang yang memiliki bacaan Al Quran yang paling
baik dan benar. Intinya secara sederhana, imam haruslah orang yang
pandai dan cakap. Layaknya memilih imam Masjidil Haram mungkin.

Dalam sebuah masjid biasanya telah ditentukan imam masjid
tersebut dan biasa dipilih karena ilmunya lebih baik daripada yang
lain, sebab itu dia dipercaya menjadi imam. Sebab imamlah yang akan
membawa makmum ke dalam shalat berjamaah yang sah.

Hebatnya, ketika kita dalam perjalanan kemudian masuk mushala
lantas tidak satupun diantara yang dalam mushola itu kenal satu sama
lain, kemudian hendak salat berjamaah. Salah satu dari mereka harus
menjadi imam, padahal kita belum mengenal bagaimana bacaan Qurannya dan
sebagainya. Mengenal orangnya saja tidak tapi kita ikhlas menjadi
makmum. Seseorang memang harus ikhlas ketika memimpin juga ketika
dipimpin bukan?

KEDUA : Menjadi yang Dipimpin

Dalam
shalat, makmum wajib hukumnya mengikuti imam. Dan wajib pula hukumnya
mengingatkan imam apabila terjadi kesalahan dalam shalatnya, baik salah
bacaan maupun kurang hitungan rakaatnya. Kemudian di antara sekian
makmum, kita diajarkan dalam shalat berjamaah, makmum yang tepat
dibelakang imam adalah makmum yang memiliki bacaan quran sama baiknya
dengan imam. Apabila imam batal ditengah-tengah salatnya maka makmum
tepat yang dibelakang imamlah yang akan maju kemudian menggantikan
imam. Bukan makmum dalam saf paling belakang yang menggantikan bukan?

Makmum yang dibelakang imam memang ditempatkan untuk
keadaan-keadaan seperti itu, dalam jamaah sebuah masjid besar pun
diposisikan demikian jika kita memperhatikan. Sebab makmum yang terdekat
itu akan mengkoreksi bacaan shalat apabila ada yang salah.

Dalam sebuah keberjalanan sebuah kepemimpinan, apabila pemimpin
harus mundur di tengah masa kepemimpinannnya,maka harus disiapkan orang
yang cakap dan dipercaya untuk menggantikan posisi pemimpin tersebut,
bukan secara asal-asalan. Agar pengganti tersebut mampu meneruskan
“program kerja” yang telah dibuat oleh pemimpin sebelumnya dengan baik.

Tentu saja apabila seorang imam batal dalam shalat maghrib dan
mundur, pengganti imamnya tidak mengubah shalat jamaahnya menjadi shalat
isya bukan?

KETIGA : Mengingatkan Pemimpin

Subhanallah,
dalam shalat berjamaah. Kita perhatikan ketika misal imam lupa pada
bilangan rakaat, kurang satu dalam shalat isya misal. Pada rakaat ketiga
imam justru duduk takhiyat akhir. Makmum serempak mengucapkan
“Subhanallah” , lantas imam kembali berdiri untuk menggenapkan rakaat
disertai makmum.

Dalam shalat berjamaah, kita diajarkan dalam mengingatkan
pemimpin bukan dalam bentuk celaan ,tapi sebuah kalimat tasbih “subhanallah”.
Cara mengingatkan yang begitu halus. Tidak pernah kita diajarkan untuk
mencela pemimpin.

Lalu bagaimana jika imam percaya,
bahwa bilangan rakaatnya telah tepat (meskipun pada kebenarannya kurang
satu)
dan imam tetap melanjutkan duduk takhiyat akhirnya tadi. Makmum
wajib mengikuti bukan? Meski sudah diingatkan dengan kalimat pujian
tadi, apabila Imam yakin dalam rakaatnya. Makmum diwajibkan tetap
mengikuti imam, apabila tidak. Bubarlah shalat jamaah tersebut. Lantas
barulah ketika shalat selesai, makmum menggenapkan rakaatnya kemudian
selesai shalat mengingatkan kepada imam bahwa tadi rakaatnya kurang. (Mohon koreksinya bila ada kesalahan pemahaman saya terhadap bab Fiqih ini)

Dalam sebuah perjalanan tersebut tidak diadakan yang
namanya “kudeta” dalam shalat berjamaah. Sebuah proses kepemimpinan
harus dijalankan hingga selesai, barulah setelah selesai masa
kepemimpinan tersebut. Apabila pemimpin memiliki kesalahan, yang
dipimpin wajib hukumnya mengingatkan. Pun yang dipimpin tadi telah
menunaikan apa-apa yang alfa dari pemimpin tersebut.

KEEMPAT : Semasa Kepemimpinan

Tidak
pernah dalam sebuah shalat berjamaah ada makmum yang mengkudeta imam,
imam akan mundur dengan sendirinya apabila selama keberjalanan shalat
berjamaah ia gagal memenuhi syarat menjadi imam (misal batal karena
kentut, dll). Imam dengan kesadaran dirinya harus mundur untuk
digantikan kepemimpinannya oleh makmum yang cakap, yaitu yang tepat
dibelakangnya. Jika imam meneruskan shalatnya dalam keadaan tidak suci
tadi, maka ditanggunglah segala dosa dari semua makmumnya. Sebab jelas
mungkin makmum tidak tahu jika sang imam telah batal salatnya.

Selama masa kepemimpinan, wajib bagi makmum untuk taat kepada
imam, apakah imam tersebut lambat atau cepat dalam memimpin shalat.
Makmum tidak dibenarkan untuk mendahului imam.

Kita juga tahu,dalam satu masjid tidak dibenarkan ada 2 barisan
jamaah shalat, keduanya memiliki imam masing-masing. Jika ingin
membentuk jamaah baru, pastikan shalat jamaah yang sebelumnya telah
selesai. Kita tidak bisa dan tidak dibenarkan mendirikan negara baru
didalam sebuah negara yang berdaulat bukan. Atau kita mendirikan
organisasi baru dalam sebuah organisasi.

Tentu saja makmum yang kemudian masuk ke masjid, akan bingung dan
bertanya, “Loh kok ada dua shalat berjamaah? Keduanya memiliki imam
dan makmum, saya harus masuk jamaah yang mana?”

Itu baru sedikit yang saya ungkapkan, sejatinya panjang dan
lebar. Tapi marilah kita sama-sama mengambil hikmah, pengajaran berharga terutama dari hal yang sederhana dan setiap hari kita lakukan, yaitu shalat. Utamanya, shalat berjamaah.

©kurniawangunadi

n.b : Tulisan ini ditulis di tumblr saya pada 17 Januari 2013, saya muat ulang karena masih relevan dengan situasi saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *