Ramadhan #6 : Cukupkan

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Sore kemarin saya berkendara sepeda motor melintasi kawasan-kawasan yang terkenal ketika bulan ramadhan. Salah satunya adalah Jalan Jogokariyan yang bergeliat sekali perekonomiannya ketika bulan ramadhan. Dari sekian puluh penjual aneka makanan dan minuman di sana, tak satupun berhasil memikat hati saya untuk membeli.

Saya berpikir, kalau konsumen di negeri ini tipikalnya seperti saya semua. Mungkin banyak pedagang yang merugi. Pasalnya saya tidak terbiasa jajan di pinggir jalan, saya hampir tidak pernah makan di kaki lima sejak 5 tahun terakhir (bisa dihitung dengan jari) karena saya tidak pernah lagi percaya akan kebersihannya. Itu semakin menjadi ketika dulu saya dilarikan ke rumah sakit karena infeksi saluran pencernaan akibat tidak bersihnya makanan di sana. Dan saya percaya bahwa apapun yang kita makan itu tidak hanya harus halal, tapi juga baik. Baik dalam hal ini terkait gizi, kebersihan, dan segala hal terkait segala benda yang masuk ke mulut. Saya tidak dibiasakan jajan oleh orang tua sejak kecil dan membekas sampai hari ini. Saya juga bukan konsemen televisi, sudah tahun ke 7 saya tinggal tanpa TV dan tetap menolak rumah saya di Yogyakarta diberi TV oleh orang tua.

Kembali ke topik, geliat perekonomian di bulan ramadhan adalah sebuah keberkahan bagi para pedagang makanan dan minuman. Saya melihat, tingkat konsumerisme seseroang di bulan ramadhan itu kebanyakan semakin tinggi. Makanan yang tidak biasa dimakan sehari-hari, mendadak ingin dimakan semuanya.

Ramadhan dengan puasa sebulan penuh mengajarkan kita tentang pengendalian diri. Di satu sisi, menjelang berbuka tali pengendalian diri itu lepas sedikit demi sedikit. Begitu banyak pula para pedagang yang melewatkan momentum penting, yaitu waktu mustajab di saat berbuka puasa. Juga ibadah shalat berjamaah maghrib, di tambah lagi isya dan tarawih. Sebab momen-momen tersebut banyak orang yang berburu makanan.

Ramadhan menjadi ujian bagi para pedagang. Kita juga seringkali tergoda untuk berbelanja, membeli sesuatu yang tidak sebenarnya kita butuhkan. Dengan dalih, mumpung ramadhan menjadi senjata yang ampuh. Bagi saya, justru karena ramadhan kita belajar mengendalikan pada urusan akhirat dan juga dunia.

©kurniawangunadi

imagesource : here

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *