Ramadhan #7 : Menjadi Air yang Mengalir

Tulisan ini adalah tulisan 7/30 selama bulan Ramadhan 1435H yang dimuat selepas subuh. Semoga bermanfaat.

Kita sering mendengar nasihat menjalani hidup jangan seperti air mengalir. Mungkin bila kita hanya sekedar menerimanya, kita akan kehilangan kesempatan untuk belajar dari air yang mengalir.

Hari ini kita akan menjadi air sungai. Bukan air dalam gelas, apalagi dalam galon. Air yang mengalir dari dataran-dataran tinggi menuju tujuannya. Air yang mengalir adalah orang-orang yang istiqamah. Istiqamah pada tujuannya, tempat yang lebih rendah yaitu lautan.

Hidup ini seperti air. Ada yang harus berhenti ditengah jalan sebelum dia sampai ke tujuan. Apakah itu sebuah kesia-siaan? Tidak juga. Mereka berhenti dan tertahan di dalam sumur untuk menghidupi manusia. Ada yang berhenti di dalam periuk nasi. Ada yang berhenti sebagai minuman bagi hewan-hewan.

Kita kadang hidup melihat tujuan yang kita pikirkan ternyata tidak sama dengan tujuan yang hendak Allah takdirkan. Air selalu berusaha menuju lautan, sekalipun batu menghadang, dia akan mencari celah dimana dia bisa terus turun kebawah. Tidak tahu bila ternyata dia harus berhenti di ladang-ladang, berhenti di sumur.

Hidup kita seringkali penuh dengan impian-impian besar, sebelum impian itu tercapai. Ternyata kita dibelokkan oleh Allah dengan takdirnya. Kita mengharap kampus A, ternyata diterima di kampus B. Ingin berjodoh dengan si D, ternyata dengan si E.

Air adalah orang-orang yang istiqamah. Mengapa demikian. Meski dia punya rencana, memiliki rencana untuk menuju lautan yang rendah. Halangan tidak akan membuat dia kembali ke asal. Dia akan terus menuju tujuannya. Bilapun dia berhenti di tengah jalan dan ternyata memberikan kebermanfaatan yang lebih besar. Dia akan berhenti di sana.

Kita semua memiliki tujuan, kita semua memiliki peran. Manusia yang satu dengan yang lain tidak sama, hanya kita mungkin sedang mencari-cari alasan mengapa kita diciptakan. Apakah hanya sekedar mengalir memenuhi kehidupan, atau menjadi kebermanfaatan untuk hidup orang lain.

Kita mungkin tidak diberi amanah untuk menahan kapal-kapal besar membawa muatan. Cukup menjadi tempat ikan-ikan kecil berenang. Mungkin cukup dengan menghidupkan tanaman-tanaman. Dimana akhir hidup kita, kita tidak pernah tahu.

Setidaknya menjadi air, kita belajar bahwa kita jangan pernah berhenti. Bila memang Allah membuat kita berhenti, kita tahu ada kebermanfaatan yang lebih besar di sana. Bilapun kita mati menjadi uap, kita tahu kita telah menjalankan tugas kehidupan kita dengan baik.

Menjadi air adalah orang-orang yang istiqamah. Terus melangkah, tidak peduli rintang, mencari celah. Dan jangan lupa, dia berserah. Sejatinya kita semua digerakan, dipaksa bergerak oleh keadaan. Seperti air yang mengalir.

7 Ramadhan 1435 H | ©kurniawangunadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *