RTM : Ego

Kehadiran Shabira di tengah-tengah keluarga kecil kami memberikan dampak yang begitu besar. Ritme, prioritas, dan hal-hal tak terduga lainnya, berubah sejak kahadirannya. Akan tetapi, ada satu hal yang paling besar dampaknya terhadap diri saya sendiri, yaitu ego.

Beberapa tulisan lama saya pernah membahas tentang ego, bagaimana kita bisa menyelesaikan ego-ego kita sebelum berkeluarga, dsb. Meski mungkin tidak sepenuhnya selesai, paling tidak, kita bisa mengendalikannya dengan baik. Menikah membuat saya paham betapa pentingnya masing-masing pribadi bisa berdamai, bisa akur dengan egonya masing-masing sebelum memutuskan untuk berumah tangga. Memiliki anak, akan jauh lebih menantang bagi ego-ego tersebut jika ia belum selesai atau belum bisa dikendalikan oleh tuannya, diri kita kita sendiri.

Shabira membuat saya jauh lebih sabar dari sebelum-sebelumnya, tidak pernah seperti ini dalam hidup. Ia juga mampu membuat saya mengubah prioritas. Shabira juga bisa membuat saya menjadi pribadi yang lebih tenang, tidak pernah setenang ini.

Ia berhasil membuat saya lebih nyaman dengan ketidakaturan, berdamai dengan hal-hal yang berantakan, juga bersedia bersabar dengan segala kelakuannya. Anak ini mampu menghancurkan ego yang besar, ambisi yang segunung.

Berumah tangga tidak pernah semudah yang tampak di panggung media sosial yang dilihat, tidak pernah sesempurna itu. Untuk itu, saya amat bersyukur menikah di usia 26 tahun kurang 2 bulan. Karena itu ternyata itu adalah waktu terbaik saya, di usia itu. Banyak urusan ego saya telah selesai, meski belum seluruhnya. Banyak ambisi saya yang sudah reda, meski juga belum seluruhnya. Setidaknya, semuanya bisa dikenali, dikendalikan. Waktu terbaik kita mungkin berbeda. Dulu saya pernah merencanakan menikah di usia 23, padahal saya baru lulus kuliah dari ITB di usia 24 kurang sedikit, menikmati semester bonus. Di usia itu, saya hanya punya keinginan tanpa persiapan. Menikah saat itu menjadi semacam ambisi, menjadi semacam ego untuk pembuktian. Entah mengapa saya berpikir seperti itu, saat itu. Ya itulah, ego.

Di usia 24 ke 25 saya dipertemukan dengan banyak orang baik yang memberi pembelajaran berharga. Di berikan kejadian-kejadian yang memaksa saya untuk belajar lagi, dan lagi. Membuat saya harus belajar tentang keikhlasan, kerelaan, bersabar, meredakan ego, dipaksa tunduk pada ketetapanNya selepas saya kekeuh ingin sesuatu, dan hal-hal lainnya. Saya kira saat itu tidak akan selesai cepat, ternyata butuh kurang dari dua tahun untuk belajar itu semua. Alhamdulillah.

Kini di usia 27, saya menjadi ayah. Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya, bahkan saya sering bertanya ke teman-teman sebaya, rekan-rekan di FIM, dsb. Apakah saya sudah pantas untuk menjadi ayah dengan kelakuan yang banyak minusnya ini?

Shabira berhasil membuat saya percaya bahwa saya sudah cukup layak untuk menjadi seorang ayah. Ia berhasil membuat saya tahu, bahwa ambisi-ambisi dan ego ini hanyalah sesuatu yang menyita kebahagiaan, mengikis ketenangan batin. 

Berumah tangga tidak pernah semudah yang dibayangkan, jangan bayangkan hanya yang indah-indahnya. Belajar dan bersiaplah justru untuk menghadapi badai-badainya. Kita bisa saja menyiapkan bahtera yang cantik dan megah, tapi jangan lupa membuatnya kuat saat menghadapi badai. Saat menjalani rumah tangga, kekuatan untuk menghadapi ujian akan jauh lebih dibutuhkan daripada hanya meriasnya agar tampak bahagia. Apalagi jika hanya untuk keperluan eksistensi diri di dunia maya 🙂

©kurniawangunadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *