RTM : Pasanganmu Kelak

Sebuah pembelajaran dalam setahun berumah tangga.

Dalam urusan pasangan hidup. Kita tentu punya berbagai macam keinginan atau gambaran, itu baru dari diri kita. Belum dari keluarga, dari orang tua, dari orang-orang sekitar, dan pandangan lain yang ikut memengaruhi setiap keputusan akhir; akan seperti apa.

Batas kita ada pada ikhtiar. Selebihnya, lebih banyak pada kemampuan kita untuk ikhlas menerima seperti apapun akhirnya. Karena akhir dari pencarian itu bukanlah tentang akhirnya kita bisa menemukan yang tepat, melainkan kita bisa menerima apa adanya dirinya.

Kriteria-kriteria yang kita buat hanya bisa mengantarkan kita pada harapan, selebihnya harapan-harapan itu hanya bisa digantungkan kepada Tuhan. Tidak kepada manusia. Sebab, tidak ada yang akan bisa memenuhi semua kriteria itu. Selagi manusia bertumbuh, selagi manusia punya potensi untuk berubah, entah dari baik menjadi buruk, ataupun sebaliknya. Sebab, urusan pasangan hidup bukanlah tentang apa yang ada saat ini dalam dirinya, melainkan potensinya diperjalanan panjang yang sudah menanti kita di depan. Melihatnya lebih jauh, melihatnya lebih luas. Melalui sudut pandang yang lebih bijak dan mendalam, melihat manusia sebagai sebuah potensi, bukan sebagai parameter tetap.

Orang yang hari ini baik, esok bisa menjadi jahat. Orang yang hari ini jahat, esok bisa menjadi baik. Begitulah manusia. Dan kemampuan kita untuk melihat potensi-potensi kebaikan yang besar pada seseorang haruslah kita asah. Kepekaan kita harus kita didik sejak dini, peka untuk membantu sesama, peka untuk merasakan apa yang orang lain rasakan, empati.

Dan urusan pasangan hidup. Adalah urusan yang tidak seharusnya membuat kita resah. Kalau mau tahu, justru lebih meresahkan dan lebih sulit mencari mertua yang tepat dibandingkan mencari pasangan yang tepat. Kita akan berbakti pada orang tua baru, orang tua dari pasangan kita. Dan daya dukung serta daya didiknyalah yang bisa menguatkan cita-cita rumah tangga yang akan kita bina.

Esok atau lusa, saat barangkali kamu akan sampai dititik keresahan itu. Lihatlah dengan sudut pandang yang lebih luas. Lihatlah segala sesuatunya dengan ketelitian iman, bukan dengan hawa nafsu. Lihatlah bagaimana seseorang itu ditumbuhkan oleh orang tuanya, sebab bisa jadi jawabanmu bukan terletak pada diri seseorang itu, melainkan apa-apa dan siapa-siapa yang ada disekelilingnya.

Orang baik itu dilingkari oleh orang-orang baik.

Yogyakarta, 25 November 2017 | ©kurniawangunadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *