RTM : Sabar

Sewaktu mencari nama untuk Shabira, nama pertama-pertama yang muncul adalah sebuah nama yang bermakna Samudera Kesabaran. Dua kata yang akhirnya tidak jadi kami gunakan. Karena ternyata hasil USG nya perempuan. Akhirnya berusaha mencari nama yang lebih feminim.

Lepas dari itu, sejak awal. Makna Sabar tetap dipertahkan. Karena itu adalah doa utama dari nama yang akan kami sematkan ke Shabira, sampai akhirnya suatu hari saya sakit. Saya tiduran di ruang tengah, istri sedang memasak. Saya terbangun dan tiba-tiba terpikir sebuah nama yang tepat, Ghinannisa Shabira.

Kami berdoa agar shabira bisa menjadi perempuan yang kaya akan kesabaran. Nyatanya, justru saya yang belajar banyak dari Shabira.

Setiap kali Shabira rewel, kami selalu berkata, “Sabar ya Nak, seperti namanya,” dan lain-lain yang selalu saja kami sampaikan kepadanya untuk menjadi sabar. Sabar ketika mandi, sabar ketika buang air, sabar ketika minum ASI, dsb. Dan alhamdulillah, Shabira benar-benar bisa diajak bekerja sama dengan baik sampai hari ini. Benar-benar memudahkan kedua orang tuanya.

Dan saya belajar lebih banyak lagi. Sejak menjadi ayah, saya merasa tingkat kesabaran saya meningkat. Beberapa waktu yang lalu, saya memesan sesuatu dan ternyata hasilnya diluar dugaan, setengah pesanan yang saya terima rusak. Dan saya waktu itu hanya bilang, “ya sudahlah”. Karena biasanya saya tidak pernah seperti itu, pasti ripuh, kesal, dsb. Atau seperti hari ini, bumper mobil saya nyangkut di trotoar dan baret-baret. Setiap teman-teman yang mengenal saya pasti tahu betapa riweuhnya saya dengan hal seperti itu. Hari ini, saya hanya memandang baretan itu, dan ya sudah.

Saya termasuk orang yang amat detail, saya bisa sangat risih  dengan sesuatu yang tidak sempurna. Jadi, baretan di mobil itu bisa bikin saya stress, nyatanya sekarang tidak. Saya lebih bisa menolerir ketidaksempurnaan dan ketidakteraturan.

Saya sadar betul jika Shabira mampu memahami apa yang saya rasakan. Dan jikapun saya badmood di luar, merasa kesal dsb. Perasaan itu harus sudah luruh sebelum saya bertemu shabira. Sebelum saya menggendongnya. Setiap kali bertemu dengannya, perasaan saya harus bahagia dan penuh kasih sayang. Dan semakin ke sini, saya semakin bisa merasakan bahwa sebenarnya, shabiralah yang mengajarkan ayahnya banyak sekali. Bahkan, saat menikah kemarin saya belum sampai level ini.

Doa yang saya sematkan menjadi namanya, justru menjadi pengingat saya setiap waktu. Shabira, sabar, dan sabar. Sebagaimana Allah katakan untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong (lihat Al Baqarah 153). Kesabaran itulah yang membuat saya benar-benar merasa berharga dan beruntung, mungkin inilah salah satu alasan kenapa Shabira ada. Untuk mengajarkan ayahnya, untuk menjadikan ayahnya seseorang yang penuh kesabaran.

©kurniawangunadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *