SPN : Dia Berhak Mengetahui

Suatu waktu ketika berdiskusi dengan teman jauh tentang sebuah pernikahan, ada nasihatnya yang saya catat baik-baik sehingga menjadi bahan tulisan ini.

Menikahi seseorang sama dengan membawanya ke dalam benteng kokoh yang selama ini kita diami. Jika tidak, mungkin pernikahan serupa ritual bertajuk separuh agama. Menyelesaikan masalah dengan diri sendiri atau siapapun sebelum menikah bukan menghindarkan pasangan dari pengetahuan tentangnya. Dia berhak tahu, siapa seseorang yang dia ijinkan memberikan warisan gen kepada keturunannya kelak. Dia berhak tahu, siapa yang dia bagi separuh jiwanya itu.

Seseorang yang akan menjadi bagian dari kehidupan kita di dunia dan akhirat berhak tahu tentang siapa sebenarnya kita. Topeng yang kita pakai selama ini hendaklah dilepas, sememalukan apapun asli kita. Itulah diri kita dan dia berhak tahu. Meski pada akhirnya muncul penolakan atas pengetahuan tentang kita yang dia ketahui, itu tidak masalah. Dan itu memang menjadi sebuah ujian, tidak hanya untuk kita, tapi untuknya.

Saya percaya bahwa pada akhirnya akan ada orang yang benar-benar menerima. Asal kita tidak menyembunyikan diri kita dengan membohonginya dengan terus menutup diri, membiarkan dia tidak tahu sama sekali tentang kita.

Dia berhak bertanya dan berhak mendapatkan jawab. Siapa orang yang berani-beraninya menawarkan dirinya. Siapa orang yang dengan tiba-tiba muncul dalam hidupnya. Ungkapkanlah kejujuran diri itu meski itu sangat buruk. Kita akan mengenal diri kita sendiri melalui orang lain, kita pun menguji diri kita, seberapa terbuka kita dengan orang yang akan kita berbagi dunia dengannya.

Bandung, 19 September 2014 | ©kurniawangunadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *