Ramadhan #10 : Menjadi Anak-anak

Tulisan ini adalah tulisan 10/30 selama bulan ramadhan 1435H yang dimuat setelah subuh. Semoga bermanfaat.

Setelah kita dewasa, kita sering melupakan masa kita saat menjadi anak-anak. Masa ketika semua hal disetiap hari terasa mengesankan, sebab semuanya baru. Kita baru pertama kali merasakan, pertama kali melihat, pertama kali mendengar, hampir semuanya serba pertama kali dan menarik. Itulah sebabnya anak-anak begitu terlihat antusias sepanjang hari, begitu berenergi.

Lain dengan hari ini. Di mana semua hal terasa membosankan karena kita sudah bisa bertemu dengannya. Semua terasa tidak lagi menarik. Bahkan dengan arogannya orang-orang yang menganggap dewasa akan mencemooh kita apabila kita bertingkah seperti anak-anak.

Lupakah? Bahwa anak-anak adalah manusia yang bijaksana. Mereka bertengkar dan cepat berdamai. Tidak seperti manusia dewasa. Mereka berani bermimpi besar, bermimpi tanpa rasa takut. Tidak seperti manusia dewasa. Mereka berani melakukan banyak hal menyenangkan. Tidak seperti orang dewasa.

Meski kita sama-sama tahu bahwa setiap pertambahan usia akan bertambah pula tanggungjawabnya. Mengapa kita tidak berusaha memahami anak-anak, pun bisa jadi berusaha menjadi anak-anak. Membasuh kekeringan hidup kita saat ini dengan hujan-hujanan. Bermain petak umpet bersama. Berbicara hal-hal yang menyenangkan.

Orang-orang dewasa seringkali lupa. Bahwa di dalam diri mereka ada jiwa anak-anak. Jiwa yang pernah hidup beberapa tahun yang lalu dalam hidupnya. Jiwa itu tersimpan. Jiwa itu sejatinya tetap hidup. Tidak ada salahnya kan menjadi anak-anak. Karena aku hari ini pun lelah menjadi orang dewasa (atau orang yang dianggap dewasa). Aku lelah terpenjara dalam tubuh yang besar.

Aku ingin kembali menikmati hujan. Aku ingin tidak perlu memikirkan ujian. Aku ingin bermimpi tanpa rasa takut. Aku ingin melakukan banyak hal. Kita pernah menjadi anak-anak. Kita panggil jiwa itu untuk hidup hari ini. Tidak perlu sibuk memikirkan patah hati, tidak perlu pusing memikirkan politik yang semakin menjadi-jadi. Karena kita anak-anak 🙂

10 Ramadhan 1435 H | ©kurniawangunadi

Seluruh tulisan ramadhan diteruskan dari tautan tulisan ramadhan 1434H, seluruh tulisan bisa di simak dengan klik X

Ramadhan #7 : Menjadi Air yang Mengalir

Tulisan ini adalah tulisan 7/30 selama bulan Ramadhan 1435H yang dimuat selepas subuh. Semoga bermanfaat.

Kita sering mendengar nasihat menjalani hidup jangan seperti air mengalir. Mungkin bila kita hanya sekedar menerimanya, kita akan kehilangan kesempatan untuk belajar dari air yang mengalir.

Hari ini kita akan menjadi air sungai. Bukan air dalam gelas, apalagi dalam galon. Air yang mengalir dari dataran-dataran tinggi menuju tujuannya. Air yang mengalir adalah orang-orang yang istiqamah. Istiqamah pada tujuannya, tempat yang lebih rendah yaitu lautan.

Hidup ini seperti air. Ada yang harus berhenti ditengah jalan sebelum dia sampai ke tujuan. Apakah itu sebuah kesia-siaan? Tidak juga. Mereka berhenti dan tertahan di dalam sumur untuk menghidupi manusia. Ada yang berhenti di dalam periuk nasi. Ada yang berhenti sebagai minuman bagi hewan-hewan.

Kita kadang hidup melihat tujuan yang kita pikirkan ternyata tidak sama dengan tujuan yang hendak Allah takdirkan. Air selalu berusaha menuju lautan, sekalipun batu menghadang, dia akan mencari celah dimana dia bisa terus turun kebawah. Tidak tahu bila ternyata dia harus berhenti di ladang-ladang, berhenti di sumur.

Hidup kita seringkali penuh dengan impian-impian besar, sebelum impian itu tercapai. Ternyata kita dibelokkan oleh Allah dengan takdirnya. Kita mengharap kampus A, ternyata diterima di kampus B. Ingin berjodoh dengan si D, ternyata dengan si E.

Air adalah orang-orang yang istiqamah. Mengapa demikian. Meski dia punya rencana, memiliki rencana untuk menuju lautan yang rendah. Halangan tidak akan membuat dia kembali ke asal. Dia akan terus menuju tujuannya. Bilapun dia berhenti di tengah jalan dan ternyata memberikan kebermanfaatan yang lebih besar. Dia akan berhenti di sana.

Kita semua memiliki tujuan, kita semua memiliki peran. Manusia yang satu dengan yang lain tidak sama, hanya kita mungkin sedang mencari-cari alasan mengapa kita diciptakan. Apakah hanya sekedar mengalir memenuhi kehidupan, atau menjadi kebermanfaatan untuk hidup orang lain.

Kita mungkin tidak diberi amanah untuk menahan kapal-kapal besar membawa muatan. Cukup menjadi tempat ikan-ikan kecil berenang. Mungkin cukup dengan menghidupkan tanaman-tanaman. Dimana akhir hidup kita, kita tidak pernah tahu.

Setidaknya menjadi air, kita belajar bahwa kita jangan pernah berhenti. Bila memang Allah membuat kita berhenti, kita tahu ada kebermanfaatan yang lebih besar di sana. Bilapun kita mati menjadi uap, kita tahu kita telah menjalankan tugas kehidupan kita dengan baik.

Menjadi air adalah orang-orang yang istiqamah. Terus melangkah, tidak peduli rintang, mencari celah. Dan jangan lupa, dia berserah. Sejatinya kita semua digerakan, dipaksa bergerak oleh keadaan. Seperti air yang mengalir.

7 Ramadhan 1435 H | ©kurniawangunadi

Ramadhan #6 : Menjadi Rerumputan

Tulisan ini adalah tulisan 6/30 selama bulan ramadhan 1435H. Dimuat setiap hari selepas subuh. Semoga bermanfaat.

Kita kan belajar menjadi rerumputan. Percayakah kita bahwa setiap ciptaan-Nya tidak ada yang sia-sia. Bila kita mau belajar, kita akan tahu betapa menakjubkannya membaca alam semesta. Lebih dari sekedar membaca buku-buku. Sebab kita bisa membaca kalimat-kalimat Allah disetiap hal yang diciptakan-Nya.

Setiap hari kita bertemu rumput. Dimana-mana ada rumput. Kita mengabaikannya. Apa yang kita bisa pelajari bila kita terus menerus mengabaikannya.

Orang-orang yang kuat dan teguh itu seperti rerumputan. Meski kecil, dia bisa menjaga tanah tidak lembek. Meski rendah, tapi akarnya jauh lebih kuat daripada pohon-pohon tinggi. Lihat saja ketika badai besar. Sementara pohon-pohon besar tumbang, rumput tidak kemana-kemana.

Dia rendah, rela diinjak-injak untuk memberikan jalan bagi orang-orang lain. Rumput adalah gambaran orang-orang yang rendah hati. Meski ia tidak dipedulikan, keberadaannya sangat penting.

Dia tumbuh dimana-mana. Mengisi celah-celah kosong di muka bumi ini. Menumbuhinya dan menjaga tanahnya. Menguatkan posisinya. Menjadikan padang yang luas nampak segar dan tidak tandus.

Kita bisa belajar tentang kerendahan hati, tentang keteguhan diri, tentang memahami arti. Tidak mengapa di dunia ini kita tidak dipandang oleh manusia yang lain. Tapi keberadaan kita dan peran kita harus kita sadari betul. Bahwa menjadi rumput pun bukan sebuah kesia-sian.

Rumput tahan menahan terpaan angin. Tahan menghadapi cuaca kering, bilapun dia gersang. Esok hujan turun, dia akan kembali tumbuh. Tahan pada air yang banyak, dia tetap berada pada tempatnya.

Mampukah kita memiliki ketahanan hati yang seperti demikian. Kita selalu ingin tumbuh tinggi. Kalau bisa mencapai langit. Sementara esok angin kencang sedikit, kita susah payang menahan diri agar tidak jatuh.

Hari ini kita belajar tentang peran. Bahwa memahami peran hidup kita dengan baik, akan membuat kita paham. Bahwa kita diciptakan sama sekali bukan sebuah kebetulan, apalagi kesia-siaan.

Dan aku ingin menjadi seperti rerumputan.

6 Ramadhan 1435H | ©kurniawangunadi

Seluruh tulisan ramadhan diteruskan dari tautan tulisan ramadhan 1434H, seluruh tulisan bisa di simak dengan klik X

Ramadhan #5 : Menjadi Rembulan

Tulisan ini adalah tulisan 5/30 selama bulan ramadhan 1435H. Dimuat setiap hari selepas subuh. Semoga bermanfaat.

Sepertinya asik sekali bila ramadhan kali ini kita belajar hikmah dari benda-benda alam. Mari kita belajar tentang rembulan.

Semakin ke sini, semakin sulit mencari orang yang amanah. Orang-orang yang mampu menjaga janji, tidak hanya menjaga tapi juga memikulnya-memegangnya. Kita sulit mencari orang yang amanah. Banyak ketidakpercayaan yang kita miliki. Banyak sekali.

Kita akan belajar menjadi rembulan. Bulan adalah salah satu ciptaan-Nya yang paling amanah. Dia memancarkan cahaya sebanyak cahaya yang diterimanya. Kita melihat bulan dikala malam, melihatnya kadang sabit, kadang purnama, bahkan kadang tiada.

Dia akan memperlihatkan kepada kita cahaya yang berbeda. Matahari menitipkan cahayanya kepada bulan untuk menjadi penerang malam hari. Dia tidak akan mengurangi cahaya yang dititipkan kepadanya, tidak pula melebih-lebihkan. Ia memberi sejumlah yang ia terima. Bahkan bulan tidak pernah mengakui bahwa cahaya itu adalah miliknya.

Kita harus belajar tentang rembulan. Meski sesekali awan gelap meniadakannya dari langit. Kita belajar bahwa sejatinya bulan tetap ada dibalik sana. Dan selalu, dihidup ini ada saja hal-hal yang akan menutupi keamanah seseorang. Orang-orang jahat yang akan membuat citra buruk dari seseorang.

Yang kita perlukan adalah bersabar. Meski bagaimanapun, bulan akan tetap seperti itu. Dan awan yang menutupinya akan berlalu. Angin akan meniupnya pergi. Kita percaya bahwa bulan tidak pernah bekerja sendirian. Dia juga ditemani bintang-bintang.

Kau tahu, amanah yang demikian itu sulit. Amanah yang mampu membuat samudera menjadi pasang. Bayangkan bila bulan ini tidak amanah, masih masa bulan sabit tapi dia bersinar purnama. Pastilah kacau sekali planet ini.

Orang-orang yang amanah itu seperti rembulan. Ia ada meski orang lain berusaha meniadakannya. Ia akan selalu memberi sebanyak apa yang dia terima. Dia tidak menyombongkan diri akan kecantikannya. Ia sadar itu bukan miliknya, semua itu hanya titipan.

Dan bulan, akan selalu mempesona. Dan kita percaya bahwa bulan itu adalah orang-orang yang setia. Menemani bumi dalam perputarannya. Meski dia kadang tidak terlihat, kita percaya bahwa dia dekat. Tidak kemana-kemana. Dia amanah sekali menjalankan tugasnya untuk menemani bumi.

Sudahkah kita menjadi rembulan?

5 Ramadhan 1435 H | ©kurniawangunadi

Seluruh tulisan ramadhan diteruskan dari tautan tulisan ramadhan 1434H, seluruh tulisan bisa di simak dengan klik X

Ramadhan #4 : Menjadi Matahari

Tulisan ini adalah tulisan 4/30 selama bulan ramadhan 1435H. Dimuat setiap hari selepas subuh. Semoga bermanfaat.

Masing-masing kita adalah matahari. Matahari di kehidupannya masing-masing. Mungkin ada dari kita yang merasa hidupnya sangat gelap. Terpuruk. Merasa tidak lebih cerah daripada orang lain. Perasaan seperti itu hadir hanya karena kita tidak bersyukur dan kita membandingkan diri kita sendiri dengan orang lain.

Dimana-mana, yang namanya membanding-bandingkan itu tidak enak, apalagi dibanding-bandingkan. Dan itu kita lakukan pada diri kita sendiri. Sudah subjeknya kita, objeknya juga kita. Sungguh mengenaskan.

Masing-masing kita adalah matahari dalam hidup kita sendiri. Hidup kita hendak gelap gelisah ataupun cerah ceria itu juga kita yang mewujudkannya. Matahari itu adalah hati dan pikiran kita. Bila kita enggan bersinar, ya sudah. Gelap sudah hidup kita.

Masing-masing kita punya tanggungjawab atas hidup kita sendiri. Skripsi, Tugas Akhir, Sekolah, Kuliah, Masa lalu, dan hal-hal lain yang menjadi tugas kita harus kita kerjakan sendiri. Kita harus paham bahwa tidak akan ada orang lain yang mau mengerjakan skripsi kita, tugas akhir kita, pergi sekolah untuk kita, dan lain-lain. Kita harus menyelesaikannya sendiri, mengerjakannya sendiri. Sebab itu untuk diri kita sendiri.

Mari kita terangi hidup kita sendiri, bukan untuk siapa-siapa. Untuk diri kita sendiri. Menjadilah seterang-terangnya diri kita. Sebab bila ada orang lain yang cahaya hidupnya redup, kamu bisa menjadi cahaya untuk hidup mereka. Syukur-syukur kamu bisa menjadi penerang dan menjadi penuntun arah hidupnya 🙂

Menjadilah seterang-terangnya diri kita sendiri. Sebab dalam terang, kita bisa menemukan banyak hal yang tadinya tersembunyi.

4 Ramadhan 1435 H | ©kurniawangunadi

Seluruh tulisan ramadhan diteruskan dari tautan tulisan ramadhan 1434H, seluruh tulisan bisa di simak dengan klik X

Ramadhan #3 : Dosa Pemikiran

Tulisan ini adalah tulisan 3/30 selama bulan ramadhan 1435H. Dimuat setiap hari selepas subuh. Semoga bermanfaat.

Tulisan kali ini dengan sengaja sekaligus sebagai media promosi buku pertama saya, Hujan Matahari.

Alasannya sederhana, sebagai sebuah contoh yang bisa langsung saya sampaikan kepada teman-teman. Ada satu kalimat yang pernah saya baca pada tahun 2013, saya lupa sumbernya yang mengatakan seperti ini :

 “Dosa pemikiran itu jauh lebih besar daripada dosa amal, sebab pelakunya turut serta menanggung dosa orang lain yang mengikuti pemikirannya tersebut

Saya pernah dilanda kekhawatiran bahwa tulisan-tulisan yang saya buat selama ini di salah pahami, apa yang ingin saya sampaikan berupa A ternyata dipahami B. Atau ternyata pemikiran saya ada yang salah (tanpa saya tahu itu salah) lalu dibenarkan dan diikuti oleh orang lain.

Setiap tulisan yang saya buat sejatinya berbahaya, ketika saya tidak bisa mengambil posisi dengan baik dan tepat. Pun ketika saya hendak merilis sebuah buku. Apakah nanti buku ini menjadi ladang amal baik untuk saya atau sebaliknya. Sebab buku ini juga akan dibaca orang lain dan juga sedikit dan sadar atau tidak sadar akan mempengaruhi pembaca.

Saya bukan penulis buku religi. Tapi saya menegaskan posisi saya bahwa saya tidak menganut dan membenarkan pemahaman tentang pacaran. Bagaimana bila satu atau beberapa tulisan saya dipotong dan dimaksukan untuk mendukung pemahaman itu oleh orang lain? Padahal saya tidak bermaksud demikian?

Ketika saya menyampaikan sesuatu melalui tulisan. Ada yang mencatat, ada yang terus mengawasi. Saya khawatir memberikan sesuatu yang salah untuk orang lain. Bila saya berdosa atas itu, saya telah berdosa pula menjerumuskan orang lain ke hal-hal yang salah.

Apa yang kita utarakan baik secara lisan maupun tulisan haruslah melalui kehati-hatian. Nabi sendiri mengatakan bahwa bila kita tidak bisa mengutarakan sesuatu yang bermanfaat, lebih baik diam.

Mari kita introspeksi diri, apakah apa yang saya dan teman-teman utarakan baik dalam lisan ataupun tulisan telah memberikan pengaruh positif/negatif ke teman-teman kita. Saya pribadi tidak ingin melihat catatan amal saya berisi kata-kata yang salah, yang menyesatkan. Semoga Allah melindungi kita dengan menjaga lisan dan tangan kita dari segala sesuatu yang salah darinya.

Pun untuk kali ini, saya berdoa dan mohon doanya semoga buku ini bermanfaat. Semoga pohon yang ditebang untuk dijadikan kertas untuk buku ini memberikan manfaat yang jauh lebih banyak daripada ketika dia menjadi pohon. Semoga setiap tulisannya bisa memberikan pemahaman yang baik kepada setiap pembacanya. Semoga Allah membimbing. Aamiin.

3 Ramadhan 1435 H | ©kurniawangunadi

Seluruh tulisan ramadhan diteruskan dari tautan tulisan ramadhan 1434H, seluruh tulisan bisa di simak dengan klik X