RTM : Bahagia yang Berbeda

Beberapa hari terakhir, segala sesuatunya berubah. Mulai dari status, ritme hidup, rutinitas, jam tidur, bahkan sampai ke rencana hidup jangka pendek lainnya. Dan kami bahagia mengubahnya, kami bahagia melakukan itu semua.

Segala puji bagi Allah, pada hari jumat sore selepas adzan Ashar, 15 Desember 2017 lalu. Kami diberikan amanah olehNya, puteri pertama kami lahir dengan sehat dan selamat. Seorang puteri yang berhasil merebut ego kami, berhasil meluruhkan ambisi, berhasil membuat saya yang tadinya sangat kaku menjadi lebih lunak, yang jelas, lebih bersabar.

image

Banyak yang tidak tahu jika istri saya sedang hamil, mungkin hanya terbatas beberapa pada teman dalam lingkaran kami saja. Sejak dalam kandungan, puteri kami telah mengajarkan kami untuk bersabar, menahan diri, salah satunya adalah untuk tidak membuat kehadirannya menjadi kesedihan bagi orang lain, saat orang tuanya tidak mampu menahan luapan kebahagiaannya. Kami menyadari bahwa kami beruntung, diberikan amanah dalam rentang waktu yang tidak begitu lama selepas kami menikah. Teman kami yang lain, sedang berjuang.

Sejak dalam kandungan, puteri kami mengajarkan kami untuk banyak bersabar, dan kelak kesabaran itu yang akhirnya kami abadikan dalam salah satu kata yang menjadi namanya, Shabira. Sembilan bulan kami beradaptasi dengan kehadirannya, ia juga mengajarkan kami untuk mengingat-ingat saat orang tua dulu mengandung kami. Ternyata seperti itu rasanya. Dan hingga kelahirannya, ia berhasil menyadarkan kami bertapa banyak kesalahan kami kepada orang tua, juga betapa jarangnya kami bersyukur memiliki mereka bagaimanapun keadaannya. Setelah kami tahu, betapa mengandung dan melahirkan –dan setelahnya membesarkan dan merawat- adalah pengorbanan yang takkan pernah tergantingan dengan apapun.

Jumat, 15 Desember 2017. Tiga hari yang lalu, puteri kami lahir ke dunia ini. Dunia yang penuh dengan marabahaya, tapi kami ingin memberitahunya bahwa kami telah berjuang untuk membuat dunia yang lebih baik untuknya. Dengan merawat silaturahmi, berbuat baik, membela agama Allah, juga hal-hal lain yang semoga menjadi pahala yang berbalas kepada puteri kami, jika kebaikan itu akan diganjar di dunia. Sebagaimana kemudahan-kemudahan kita hari ini, bukankah itu lebih banyak disebabkan oleh kebaikan dan doa orang tua kita?

Hari ini, kami ingin memperkenalkan keluarga baru kami. Puteri kami yang berhasil membuat kami merasakan kebahagiaan yang berbeda. Puteri kami yang membuatku rela mengambil cuti panjang, menunda naskah, juga hal-hal lainnya yang mungkin jadi pertanyaan orang lain. Sebab, saya ingin mendampingi, hadir secara utuh kepadanya. Saya ingin menjadi ayah yang baik, kami ingin menjadi orang tua yang baik.

image

Banyak teman-teman di sini (tumblr) yang telah membaca halaman ini sejak tahun 2010 atau setelah itu. Melewati dan melihat bagaimana saya tumbuh dari sejak kuliah, remaja galau, lulus kuliah, berkarya, menikah, hingga hari ini menjadi orang tua. Rasanya, kita tumbuh bersama-sama. Bersyukur karena kita bertumbuh, saling mengingatkan, saling memahami, juga saling mensyukuri.

Hari ini, kami ingin memperkenalkan keluarga baru kami. Puteri kami yang akan menjadi api semangat untuk berkarya, menjadi doa kami yang tiada henti, juga menjadi pengingat kami bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah titipan. Semuanya akan kembali kepada Allah, Tuhan Semesta Alam.

Yogyakarta, 18 Desember 2017 | ©kurniawangunadi

Menjaga Nilai Pernikahan

Pernikahan tidak menjanjikan kebahagiaan, kebahagiaan itu diciptakan, dengan cara berbagi kebahagiaan satu sama lain.

Beberapa kali nasihat ini muncul, baik dari teman-teman terdekat maupun dari orang tua kami masing-masing. Tentu saja, pernikahan memang secara kenyataan tidak seperti kalimat-kalimat promosi seminar pernikahan dan poster-poster propaganda di media sosial.

Sejak awal dan memang sudah seharusnya, sejak kita semua masuk ke usia matang untuk membangun keluarga. Paradigma tentang pernikahan harus diluruskan dan dibenahi, jangan terlalu banyak berharap dan berekpektasi bahwa pernikahan itu selamanya lurus-selamanya bahagia. Kalau menikah untuk mencari kebahagiaan, mungkin itulah yang menyebabkan begitu banyak pasangan yang tidak setia juga rumah tangga yang kacau, sebab kebahagiaan yang dicari ternyata tidak ditemukan sehingga mencari kebahagiaan di tempat lain.

Beberapa bulan yang lalu, masih di tahun yang sama, 2016. Saya tidak menyangka kalau di tahun inilah momentum saya untuk merasakan sendiri hal tersebut. Selama ini saya mungkin hanya bisa menuliskan dari hasil pengamatan dan cerita orang lain, terutama dari keluarga teman-teman sendiri. Kali ini, saya akan menjalani sendiri apa-apa yang selama ini saya tuliskan.

Di awal 2016 dan hari ini, saya merasakan betul bagaimana perbedaan yang ada dalam pikiran saya tentang pernikahan. Sebelumnya, secara emosional saya membayangkan pernikahan itu benar-benar indah dan selalu dalam kacamata keindahan. Seminar-seminar pra nikah ala anak-anak muda, sebaran konten propaganda di akun-akun berlabel islami, juga dari bacaan yang minim perspektif. Niat saya untuk menikah menjadi keliru.

Saya membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk membenahi niat dan pola pikir saya tentang pernikahan. Kegalauan-kegalauan yang selama ini muncul ternyata menjadi pelajaran yang berharga bagi saya, ternyata saya tidak cukup dewasa menyikapi pernikahan. Terlalu gegabah dalam menyimpulkan. Dan dengan jiwa muda yang berapi-api tapi minim pengalaman, ingin segera menikah tanpa tahu esensi dan substansi dari sebuah pernikahan.

Kini saya mengerti, menjelang pernikahan saya menemukan begitu banyak hal yang bagi saya berharga. Saya berhasil memaknai apa itu penerimaan, kedewasaan, tanggungjawab, harapan, dan segala hal yang selama ini saya keliru mendefinisikannya. Salah definisi yang membuat saya menjadi salah bertindak.

Saya telah berjanji tidak ingin menjadi “kompor yang panas” untuk menyuruh-nyuruh teman saya untuk segera menikah. Juga tidak ingin berkontribusi dalam kegagalan seseorang teman untuk menjaga diri dengan cara-cara memposting kemesraan secara berlebihan. Cara paling mudah bagi saya adalah tidak terlalu berlebihan dalam mengekpresikan kebahagiaan di media sosial, yang itu juga menjadi kesepakatan saya dan @ajinurafifah, calon istri saya.

Menikah bukan perkara mudah dan tidak akan pernah menjadi perkara yang mudah, terutama ketika menjalaninya. Dan jangan menjadikan pernikahan sebagai jalan keluar atas kebingungan menata masa depan. Pernikahan itu menghadirkan tantangan baru, tidak serta merta memberikan jalan keluar atas masalah kebingungan pada masa depanmu saat ini.

Untuk itu, selamat berkarya dan menjadi berdaya yang bermanfaat. Hal terbaik yang bisa saya doakan hanya itu. Tulisan ini sekaligus menjadi pengingat bagi saya pribadi, juga keluarga saya nantinya. Bahwa kami harus menjaga nilai-nilai dengan teguh, Pernikahan jangan sampai menjadi komoditas perdagangan, kesakralan pernikahan adalah hal yang mutlak. Apalagi dalam agama yang saya imani, pernikahan itu setara dengan perjanjian antara Allah dengan para nabi.

Kalau sampai seagung itu, mengapa selama ini kita menjadikannya bercandaan, menjadikannya bahan gunjingan, menjadikannya sebagai alat untuk mencari uang dan ketenaran?

Jagalah pernikahan tetap pada sakralnya. Semoga kami bisa menjadi pasangan yang senantiasa teguh menjaga nilai-nilai tersebut. Bila nanti kami salah, silakan diingatkan dengan baik. Tulisan ini dibuat untuk itu, untuk menjaga kami tetap berada pada jalannya.

Semoga Allah ridho dengan pernikahan kami, semoga Allah menguatkan setiap orang yang sedang berjuang menjaga diri.

Salam hangat,

Malang, 17 September 2016

Kurniawan Gunadi