03.58 a.m

Malam, selalu berhasil membuat diri ini merenungkan banyak hal. Apalagi soal hidup, soal ambisi, soal cita-cita, soal motif, soalan-soalan lainnya yang membuat diri ini seperti habis memikirkan dunia.

Hidup yang tidak lama adalah keniscayaan. Sekuat apapun kita mengusahakan umur panjang, tidak akan pernah lebih dari 200 tahun. Bahkan jarang yang mencapai setengahnya. 

Kini, di dunia kita disajikan pada pilihan-pilihan yang menarik hati, termasuk pilihan untuk berbuat baik. Sekian banyak ladang amal tersaji di depan mata kita. Sebanyak itu pula kita sering mengabaikannya, membiarkannya lewat begitu saja.

Lalu diri ini merenung. Jika berbuat baik saja belum tentu mendapat pahala, sebagaimana shalat kita selama ini belum tentu diterima. Sebab oleh niat atau hal-hal lain yang membuatnya menjadi sia-sia. Sementara setiap perbuatan buruk pasti dicatat. Bagaimana mungkin diri ini masih bisa berleha-leha tidak melakukan kebaikan, tidak melakukan apapun.

Diri ini, tentu saja masih salah di sana sini. Tapi itu bukan alasan untuk tidak melakukan suatu kebaikan. Shalat yang belum khusu’, bacaan Quran yang masih salah di sana sini, belum paham tajwidnya, ilmu agama yang masih terbatas, dan semua keterbatasan lainnya. Semua itu tidaklah tepat untuk menjadi alasan diri ini tidak berbuat baik.

Diri ini menginsyafi, bahwa sebagaian besar waktu sia-sia. Sebagian besar kesempatan hilang karena terlalu banyak berpikir, juga terlalu lama mengambil keputusan. Diri ini menginsyafi bahwa masih sering mengukur-ukur kebaikan, hanya ingin mengambil kebaikan yang sekiranya bernilai pahala besar dan mengabaikan yang kecil. Diri ini menginsyafi masih sering mengukur-ukur kebaikan manusia dengan cara atau sudut pandang sendiri yang terbatas, hanya melihatnya dari satu sisi tanpa bersedia membuka diskusi, bertanya mengapa, bagaimana, dan pertanyaan lainnya yang membuat diri ini sadar bahwa diri ini juga manusia yang penuh kesalahan.

Yogyakarta, 20 Desember 2017 | ©kurniawangunadi

Ramadhan #6 – #12 : Jangan Dulu Menyerah

Saat kita berjuang untuk sesuatu yang sama dengan orang lain, memperjuangkan hal yang sama. Kemudian kita menyadari bahwa segalanya terasa sudah sampai batasnya, jangan dulu menyerah!

Sebab orang lain masih berjuang, mereka belum menyerah. Mereka masih melihat kemungkinan yang mungkin tidak kita lihat. Mereka masih memiliki cara yang mungkin tidak kita tahu. Jangan dulu menyerah.

Tulisan ini adalah rangkuman pelajaran dalam beberapa hari terakhir. Saya menghilang sejenak dari dunia maya karena ada hak tubuh saya yang harus saya tunaikan (baca: istirahat karena sakit). Di waktu itu, saya banyak menghabiskan waktu untuk mengamati juga memutar ulang segala hal yang terjadi dalam hidup saya dan orang-orang yang hadir silih berganti.

Dan saya dapati, setiap individu adalah pejuang. Ia sedang memperjuangkan banyak hal dalam hidupnya. Dari yang banyak itu, banyak hal yang sama antara satu dengan yang lainnya. Yang membedakan satu orang dengan yang lain hanya satu, daya juangnya.

Beberapa waktu yang lalu saya juga membuka bukunya Azhar yang terakhir; Pertanyaan tentang Kedatangan. Saya membukanya secara acak. Intinya, buku itu seperti bercerita tentang perjuangannya menanti buah hati sejak hari pernikahannya, dengan segala cara yang mungkin mereka lakukan.

Beberapa orang yang saya kenal atau sekedar tahu, tapi tentu saja saya tidak tahu bagaimana perasaan dan perjuangannya. Mungkin tengah menghadapi hal yang serupa, berjuang untuk hal yang sama, yaitu berjuang untuk memiliki buah hati dari pernikahan. Tidak hanya bulan, tapi hitungan tahun. Menanti dan tak kunjung ada tanda-tanda kehadiran buah hati.

Dan diam-diam, pasti ada upaya-upaya, ada doa-doa, ada hal-hal yang saya tidak tahu pastinya. Mereka sedang berjuang dan tidak menyerah. Saya amat menghormati orang-orang seperti mereka, ujian yang mungkin saya tidak sanggup untuk menghadapinya. Allah mengujinya, tentu saja saya tidak sanggup menuangkan empati saya dalam bentuk kata-kata. Hanya doa yang tiada henti, semoga dikuatkan, semoga sabar, dan yang lain. Meski terasa sangat klise, karena saya tidak mengalaminya sendiri.

Di tempat yang lain, saat kita tengah berjuang untuk mencari atau menciptakan pekerjaan. Mungkin kita terjegal oleh gengsi dan ketinggian hati sendiri. Dengan latar belakang sarjana dan nama kampus kita, kita berharap untuk mendapatkan hal-hal yang terasa langsung manis. Mungkin kita perlu sedikit melihat lebih luas, ada begitu banyak orang yang sedang memperjuangkan hal yang sama. Berjuang untuk mencari atau menciptakan pekerjaan. Dari yang tidak pernah sekolah sampai yang sekolah sangat tinggi. Dan mereka belum menyerah. Tentu ada upaya yang saya tidak tahu, ada doa diam-diam yang juga saya tidak tahu. Saya hanya menyaksikan dan mengamati bagaimana satu per satu teman yang saya kenal, mulai memetik buah perjuangannya. Mulai menemukan pekerjaan yang membahagiakannya. Dan saya menjadi saksi bagaimana dulu mereka berjuang, melintasi kota demi kota untuk ikutan jobfair. Memasukan lamaran di sana sini. Dan bagaimana dulu mereka diawal bekerja.

Di ramadhan ini pun. Ada begitu banyak orang yang berjuang untuk hal yang sama. Bagaimana meraih pahala yang maksimal. Bagaimana memanfaatkan momen ramadhan dengan ibadah yang total. Berjuang untuk khatam Al Quran sekali dua kali bahkan beberapa kali sepanjang ramadhan ini. Berjuang untuk, macam-macam. Beberapa diantara mereka mungkin sedang memperjuangkan hal yang sama dengan kita. Kalau ujian kita baru sebatas sakit, sebatas rutinitas, belum sepantasnya kita menyerah. Ada yang lebih keras ujiannya dari itu.

Hal yang selalu bisa kita temukan disaat perjalanan di kereta komuter, orang membaca Al Quran untuk memperjuangkannya selesai dalam sebulan. Teman-teman kita yang mungkin sedang berada di luar negeri, berjuang untuk ke masjid terdekat yang jaraknya berjam-jam. Ada yang sedang berjuang, memperjuangkan hal yang sama dengan kita. Lihatlah, mereka tidak menyerah dan mengeluh. Jangan dulu menyerah dengan apa yang kita hadapi.

Sudah kusampaikan sejak awal, yang membedakan perjuangan kita dengan orang lain hanya satu. Daya juangnya 🙂

1-7 Juni 2017 / Yogyakarta / ©kurniawangunadi

Cerpen : Bacaan Quran

Belasan tahun lalu, saat emak masih ada. Aku masih ingat bagaimana kami melalui jalanan ini setiap hari minggu pagi, kami ke pasar dekat stasiun kereta. Dulu, jalanan ini masih berbatu. Bebatuan yang ditata rapi. Kini semuanya sudah berubah menjadi aspal. Sekarang hampir tidak ada yang berjalan kaki ke pasar yang jaraknya hanya sekitar 500m dari desa. Pemotor hilir mudik, memenuhi jalanan.

Aku masih ingat bagaimana setiap perjalanan ke pasar ini, saat menemani emak ke pasar. Banyak sekali obrolan kami yang berkesan. Satu per satu obrolan itu pun menjadi peganganku hari ini. Sebuah nasihat yang menjadi nyala dalam hidup-hidup berikutnya, apalagi setelah emak meninggal. Salah satunya yang ingin aku ceritakan kepadamu.

Waktu itu usiaku sekitar delapan atau sembilan tahun, aku lupa tepatnya. Masa itu masa-masa setelah krisis moneter. Emak ikut berjualan di pasar dan perjalananku kala itu tidak hanya sekedar menemani emak ke pasar untuk belanja, tapi juga jualan. Aku membawakan barang-barangnya dengan sepeda kecil yang aku tuntun.

Waktu itu aku sudah mulai mengaji. Aku mengaji di rumah tetangga yang hanya berjarak tiga rumah. Dan aku benar-benar terkesan dengan pembicaraan kami kala itu, meski pada waktu itu aku tidak sanggup memahami dengan utuh kalimatnya. Kini aku paham.

“Nak, emakmu ini tidak bisa baca Quran. Emak cuma bisa mendengarkan dari orang lain kemudian mengingatnya. Emak tidak pernah mengaji, tapi itu bukan berarti emak tidak belajar agama. Emak sibuk bekerja dari pagi, untuk itu emak pengin nabung pahala yang banyak di kamu. Kamu harus belajar, baik belajar ilmu dunia maupun agama.”ujarnya.

“Buat emak, orang yang paling bagus bacaan quraannya itu bukan yang mereka yang bacaannya sering diputar dari kaset rekaman di masjid tiap menjelang shalat jumat itu.” lanjutnya.

Aku memasang muka penasaran, tanda ingin tahu apa yang sebenarnya emak pikirkan. Aku memang terkenal paling payah dalam mengaji di antara teman-teman yang lain. Hafalanku paling kacau. Bacaanku juga tidak lancar. Dan emak tahu semua itu.

“Buat emak, orang yang paling bagus bacaan qurannya itu adalah orang yang sekali ia membaca Al Quran, ia mengamalkannya. Setiap ayatnya, setiap perintah dan larangan di dalamnya. Itulah orang yang paling bagus bacaannya buat emak. Karena tidak hanya bibir yang membaca, tapi hati dan seluruh anggota badannya membacanya dan mengamalkannya.”

Kalimat itu mengalir dan berhasil membuatku bersemangat kala itu. Setiap kali satu ayat aku pelajari, setiap kali itu pula aku berusaha mengamalkannya. Seringkali aku bertanya maksudnya apa, mengapa, dan bagaimana setiap kali membaca. Ketidakmengertianku dan rasa penasaranku begitu besar sampai guruku kewalahan menjawab pertanyaanku. Setelah itu, emak memutuskan untuk mengirimku ke tempat mengaji di kota.

Guru ngaji di lingkungan kami bukanlah seperti ustadz hari ini. Mereka mengajar mengaji karena bisa mengaji. Bukan karena lulusan pondok pesantren atau memang mendalami ilmu agama tsb.

Kini rasa syukurku meledak ledak setiap kali mengingat kata-kata emak. Dan aku berjanji kepada emak kalau aku akan memiliki bacaan Quran yang paling baik. Sebagai hadiah untuk emak.

©kurniawangunadi | yogyakarta, 15 maret 2017

Orang yang Paling Beruntung

Ayah : Nak, siapakah orang yang paling beruntung?
Aku : Orang yang kaya di dunia dan masuk surga nantina.
Ayah : Sayangnya kita baru tahu orang itu masuk surga atau tidak ketika sudah sama-sama diakhirat, bagaimana kita mengenali orang beruntung di dunia?
Aku : Orang-orang yang mendapatkan apa yang dia inginkan?
Ayah : Kita tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya setiap orang inginkan dan tentu repot kalau bertanya satu per satu tentang keinginan setiap orang, pasti banyak sekali.
Aku : Lantas apa dong, Yah?
Ayah : Ketahuilah Nak, orang yang paling beruntung adalah orang yang sudah tahu kemana kehidupannya setelah ini, dia tahu untuk apa dia hidup, dan dia tahu darimana dia berasal. Tidak sekedar tahu tapi juga memahaminya. Kalau sudah demikian, maka dia tahu betul apa yang dia kerjakan setiap harinya, ada tujuannya yang jelas. Merekalah orang yang beruntung.
Aku : Berarti tidak semua orang tahu arah dan tujuan hidupnya, Yah?
Ayah : Benar sekali.

| Yogyakarta, 6 Januari 2016 | (c)kurniawangunadi |

Tulisan : Sibuk Sekali

Suatu waktu, saya bertemu dengan teman lama yang susah sekali ditemui. Orang yang sangat sibuk dengan segala aktivitasnya, biasanya saya hanya bisa melihat timeline media sosialnya. Melihat kegiatan terkini yang luar biasa, saya hanya bisa kagum dengan segala bentuk kebaikan yang dia lakukan.

Hari ini pasti hari baik karena saya memiliki kesempatan untuk sekedar duduk bersama dalam sebuah acara. Bisa saling bertanya kabar dan bertanya tentang kesibukan saat ini. Kalau bertemu dengan orang baik, selalu saja ada hal-hal yang bisa didapatkan, salah satunya adalah ilmu.

Saat saya bertanya apa kesibukannya saat ini, dia tersenyum dan menjawab. Sedang sibuk mempersiapkan kematian. Sementara saya menjawab kesibukan saya adalah bekerja di sebuah perusahaan dan segala bentuk proyek yang sedang saya kerjakan. Tentu saja, saya penasaran dengan jawabannya. Dan kebaikannya memberikan saya pemahaman baru, dia bersedia menjelaskan jawabannya.

Ini penjelasanya.

“Kematian itu adalah hal terbaik untuk mengingatkan manusia pada kehidupan yang sebentar ini. Sesungguhnya kan, hidup ini serangkaian ujian. Di masa muda seperti ini, di tengah ramainya kegalauan yang memasal. Sedikit sekali yang mau bercerita tentang kematian. Semua orang sedang sibuk dengan membangun karir, mencari pasangan hidup, dan semua bentuk aktivitas yang sengat dunia sekali. Sampai pada satu titik, saya menyadari bahwa semua hal yang saya lakukan ini sebenarnya aktivitas menunggu kematian.

Saya tidak tahu kapan mati, mungkin besok, tidak pernah tahu. Maka, sejak saat itu saya meniatkan segala aktivitas ini adalah aktivitas terbaik untuk mempersiapkan kematian dengan sebaik-baiknya. Menjadi orang baik, melakukan hal-hal baik, berbagi hal-hal baik, dan segala hal yang sekiranya bisa membuat kematian nanti menjadi hal yang penuh rasa syukur, bukan penyesalan.

Kalau kita sedang bekerja, maka niatkan pekerjaan itu beribadah dan melakukannya dengan kejujuran dan kebaikan. Kalau kita mati saat bekerja, insyaallah kita tidak menyesali waktu kita yang banyak habis di tempat bekerja. Begitu pula dengan aktivitas saat ini, saya selalu mencari peluang beribadah. Bagaimana saya bisa beribadah sambil melakukan semua hal ini.

Ibadah kan maknanya luas, tidak sebatas pada shalat, puasa, haji. Tapi juga bentuk kebaikan lainnya. Ibadah sosial maksud saya. Semoga, setiap aktivitas ini memberikan kebaikan tidak hanya diri saya sendiri, tapi juga bagi orang lain. Saya sedih saat melihat orang berlomba-lomba memperkaya pahalanya, lupa untuk menolong orang lain agar bisa mendapatkan pahala juga dari setiap kebaikan yang dilakukan. Bayangkan, saat kamu melakukan kebaikan, yang mendapatkan pahala tidak hanya kamu, tapi kamu juga memudahkan orang lain untuk bisa mendapatkan pahala. Luar biasa kan?”

Saya berusaha memahami maksud kata-katanya, tidak bisa tidak setuju. Saya tersenyum karena selalu senang bertemu dengan orang baik. Selalu bisa merasakan kebaikan yang menyelimutinya dan bisa ikut mendapatkan kebaikan itu.

“Kamu sedang sibuk juga kan mencari pasangan? Semoga kamu dipertemukan dan disatukan dengan orang yang baik, kemudian membangun keluarga yang baik, melahirkan anak-anak yang baik, dan menjadikan keluargamu sebagai contoh kebaikan untuk keluarga lainnya. InsyaAllah. Dengan begitu, kamu sudah mempersiapkan kematianmu dengan cara yang benar,” ujarnya.

Saya mengaamiinkan doanya dalam hati, sambil tersenyum. Kami saling berpelukan sebelum berpisah. Semoga tetap istiqamah di jalan kebaikan ini. Saya segera pergi, ikut mempersiapkan kematian.

Rumah, 8 November 2015 | ©kurniawangunadi

Tulisan : Menghargai Keputusan

Sewaktu kita anak-anak, kita sering meminta sambil menangis ke orang tua kita. Berharap dengan demikian, orang tua mengabulkan keinginan kita. Namun, kadang pula dugaan kita keliru. Orang tua membiarkan kita menangis hingga kita lelah sendiri, hingga kita berhenti menangis dengan sendirinya. Bukan mereka tidak mau mengabulkan, tapi mereka sedang mengajarkan sesuatu kepada kita kala itu. Bahwa tidak semua hal yang kita inginkan, bisa didapatkan. Begitu saja, dengan mudah, tanpa perjuangan.

Semakin kita beranjak besar. Semakin kita memahami bahwa apa yang orang tua ajarkan melalui peristiwa kecil semacam itu adalah hal yang berharga di usia dewasa. Dulu, orang tua memberikan hadiah sewaktu kita mencapai prestasi tertentu. Entah bisa berjalan, entah mendapatkan rangking di kelas, entah karena melakukan kebaikan, apapun itu. Orang tua memberikan kita hadiah, memberikan apa yang lebih dari apa yang sebenarnya kita inginkan. Waktu itu, kita merasa menjadi anak yang paling beruntung dibanding dengan teman-teman kita yang lain.

Kini kita mengerti bahwa untuk mendapatkan sesuatu, ada perjuangan yang perlu kita wujudkan. Namun, hari ini akan belajar dari sudut pandang yang lain. Bahwa kita sudah memahami tugas manusia adalah sebatas ikhtiar, sementara Allah adalah yang memberikan putusan. Kita kadang gagal menempatkan sudut pandang dengan benar, gagal mempersiapkan hati kita pada posisi yang tepat. Kita seringkali tidak menghargai keputusan Allah atas hidup kita. Kita akan belajar tentang menghargai keputusan.

Tidak hanya keputusan dari Allah, tapi juga dari orang-orang di sekitar kita. Keputusan dari orang tua kita, keputusan dari saudara, dari sahabat, dari karib, dari teman, bahkan dari orang yang tidak dikenal. Keputusan yang menyangkut dengan hidup kita.

Bahwa kita perlu memperluas jangkauan pikiran kita, memperluas sudut pandang kita, belajar memahami dan melihat sesuatu dengan sudut pandang orang lain. Kita akan belajar menghargai bahwa keputusan itu pasti diambil dengan penuh perhitungan, kehati-hatian. Apalagi bila keputusan itu lahir dari orang tua kita. Orang tua manapun ingin terbaik untuk anaknya. Maka keputusannya pasti dirasa yang terbaik. Kita juga akan sepakat bahwa orang tua adalah wakil Tuhan atas kita, orang yang menjadi wali kita selama di dunia.

Aku pernah membicarakan ini dengan teman yang sudah tidak memiliki ayah dan ibu, bagaimana perasaannya ketika tak pernah sedetikpun dalam hidupnya dia merasakan bagaimana rasanya dimarahi orang tua, dijaga orang tua, ditanya kabarnya, disuruh-suruh pulang karena sudah larut malam, diberikan keputusan-keputusan yang kata orang lain “menjengkelkan”, dia tidak tahu bagaimana rasanya semua itu. Dan dia begitu iri ketika mendengar kita bercerita bahwa kita dimarahi ayah kita, kita bercerita kalau orang tua kita menjengkelkan, dsb.

Kita akan belajar menghargai setiap keputusan yang diambil oleh orang-orang terdekat kita, orang yang hatinya terpaut dengan kita, yang kita begitu mencintainya dan selalu ingin yang terbaik untuknya.

Kita akan belajar tentang menempatkan rasa tulus sebagai pondasi kita menjadi seorang manusia, menjadi hamba-Nya yang lahir sudah disertai dengan berbagai macam keputusan pasti. Seperti rejeki, jodoh, dan kematian. Adalah tugas kita hari ini untuk terus menerus belajar tentang mempercayakan urusan-urusan itu kepada Allah dan senantiasa bersiap setiap hari. Kita akan menghargai setiap keputusan-Nya yang Dia sampaikan melalui orang-orang terdekat kita. InsyaAllah yang terbaik. Karena jawaban Allah atas doa dan harapan kita itu selalu iya; Iya, Aku kabulkan. Iya, nanti. Dan iya, Aku kabulkan dan ganti dengan yang lebih baik.

InsyaAllah.

Semoga Allah selalu dan terus menjadi yang pertama.

Rumah, 28 Juli 2015 | ©kurniawangunadi

Ramadhan #15 dan #16 : Lelaki dan Masjid

Tulisan kali ini adalah rangkuman tulisan perenungan dua hari perjalanan.

Saya seringkali bertemu dengan tulisan yang menyuruh-nyuruh lelaki untuk shalat di Masjid. Kalau tidak di Masjid, disebut sebagai lelaki solehah. Kalau tidak di Masjid, disebut tidak keren. Saya merenungkan seluruh nasihat yang baik itu berhari-hari demi menemukan sebuah titik sudut pandang terbaik untuk memahami sebuah proses yang sama sekali tidak sederhana. Saya menulis bukan untuk membuat sebuah pembelaan, tapi menghadirkan sebuah sudut pandang yang lain untuk menjadi jembatan saling memahami antara laki-laki dan perempuan.

Setiap hamba (dalam hal ini manusia) sedang menjalani sebuah proses yang sama sekali tidak sederhana. Kita tidak mampu melihat proses hidup orang lain, karena yang mampu kita lihat hanya sebatas jangkauan mata. Kita tidak bisa melihat proses hijrah seseorang, karena barangkali kita hanya baru mengenalnya dalam sedikit waktu.

Saya sebagai laki-laki pun merasakan hal demikian. Bahwa shalat di Masjid adalah sebuah hal yang berat. Dan saya mengakui bahwa untuk menanamaan itu menjadi sebuah kebiasaan bahkan menjadi kebutuhan benar-benar memerlukan usaha yang luar biasa. Jauh lebih luar biasa daripada perjalanan mendaki gunung. Mungkin, ini sama beratnya dengan perempuan yang sedang belajar memakai pakaian yang semakin menutup aurat.

Sebenarnya tugas kita ini amatlah sederhana. Yaitu saling mendukung dan mengingatkan, menyemangati satu sama lain untuk berproses ke arah yang lebih baik. Sayangnya, banyak sekali media propaganda yang justru membuat kita menjadi antipati untuk belajar. Atau menjadikan seseorang memiliki niat yang salah dalam melakukan ibadahnya.

Ini mirip dengan para pemuda yang hendak belajar tentang pernikahan, tapi justru mendapat olokan dari teman-teman sebayanya karena dianggap galau. Akhirnya, pemuda itu berhenti belajar karena malu. (Meski) kita memahami bahwa penilaian manusia ini tidak apa-apanya dibandingkan dengan penilaian Allah. Tidak semua manusia tahan terhadap ujian seperti itu. Tugas kita akan menjaga perasaannya dan mendukung, bukan sebaliknya.

Kembali ke topik laki-laki dan masjid. Adalah sebuah perjuangan besar untuk membuat laki-laki terikat hatinya dengan masjid. Saya merasakan dalam perjalanan 14 hari sepanjang ramadhan ini, saya merasakan Allah menolong saya untuk beribadah. Saya seringkali lupa untuk berdoa minta pertolongan kepada Allah agar saya dikuatkan dalam beribadah agar diiberikan kesempatan untuk melakukan ibadah yang lebih baik. Hasilnya, setengah ramadhan ini adalah hal yang luar biasa bagi saya. Karena memang benar-benar di luar kebiasaan.

Saya tidak berniat shalat di Masjid karena masih dalam perjalanan, tapi Allah mengatur dan mengkondisikan situasi dan kondisi saya waktu itu untuk bisa shalat di Masjid dan itu terjadi berkali-kali. Hasilnya, saya bisa shalat di masjid sepanjang waktu ketika dalam perjalanan.

Mungkin kita pernah merasa demikian, kita tidak berniat melakukan sebuah ibadah tapi Allah mengkondisikan situasi disekitar kita untuk membuat kita melakukan ibadah tersebut? Apapun bentuknya, entah itu sedekah, pergi ke pengajian, shalat berjamaah, dan lain-lain. Allah sedang menolong kita saat itu untuk melaksanakan ibadah dalam kondisi terbaik, bahkan saat kita tidak sedang berniat untuk seperti itu.

Lelaki dan masjid adalah hal yang luar biasa. Pun bagi saya sendiri, saya sebagai laki-laki pun sedang belajar untuk ke sana.

Saya belajar memahami bagaimana proses masing-masing orang dan saya juga belajar untuk tidak menghakimi perjalanan yang sedang ditempuh oleh orang lain. Karena saya percaya bahwa setiap orang sedang berusaha keras untuk menjadi orang baik. Karena barangkali, laki-laki yang saat ini sedang banyak tidurnya tahun depan adalah laki-laki yang paling banyak terjaga di malam hari untuk bersujud. Saya selalu berupaya untuk berpikir positif terhadap orang lain, mendoakan mereka dan mendukung upayanya. Saya merasa tidak bisa sendirian berjalan ke arah itu, untuk itu dukungan dan doa adalah hal terbaik yang saya ingin dapatkan dari orang lain. Semoga dalam waktu dekat saya bisa mencapai titik tujuan itu.

Laki-laki dan perempuan, dalam hal hijrah ini memiliki poin-poin yang berbeda untuk diperbaiki. Mari saling mendukung, bukan saling meledek. Mari saling mendoakan, bukan saling menghakimi.

Sebuah pesan sederhana untuk para perempuan, bila nanti kalian memiliki laki-laki yang shalatnya tepat waktu dan rajin ke masjid. Bersyukurlah karena itu adalah laki-laki yang langka. Sungguh sangat langka. Sebagai laki-laki pun saya sangat iri dengan yang demikian. Kadang bertanya bagaimana caranya untuk menjadi seperti itu.

Pemahaman saya benar-benar melemparkan saya pada hakikat sebuah proses. Setiap proses memerlukan waktu. Dan saya memang harus bersabar menjalani proses ini dengan baik. Semoga suatu hari bisa sampai dengan kondisi terbaik, dimana ibadah bukan untuk keren-kerenan, bukan untuk tampil kelihatan baik, tapi benar-benar sebagai sebuah manifestasi rasa syukur yang terbaik kepada Allah yang Maha Kuasa.

ditulis di Bandung dan Kutoarjo, 2 dan 3 Juli 2015 | ©kurniawangunadi

Kepada laki-laki yang sedang belajar istiqamah untuk merutinkan shalat di masjid, semoga Allah mudahkan.
Kepada perempuan yang sedang belajar istiqamah mengulurkan jilbab panjangnya, semoga Allah selalu melindungi.

Tetaplah berjalan dan selamat belajar :’)

Ramadhan #1 : Sebelum Shalat

Kita pernah belajar tentang hal-hal yang menjadi syarat sah-nya shalat kita. Salah satunya adalah wudhu. Pernahkah kita memerhatikan wudhu kita apakah sudah benar atau belum. Pernahkan kita berpikir bahwa jangan-jangan mau sekhusu’ apapun kita shalat, shalat itu menjadi tidak sah hanya karena ternyata wudhu kita yang tidak sah?

Jangan-jangan kita lupa memerhatikan wudhu kita. Lupa menjaganya sekhusu’ kita berusaha menjaga shalat kita. Jangan-jangan dari ribuan sujud yang kita lakukan, sedikit darinya yang benar-benar diterima karena kita lupa pada wudhu kita.

Wudhu adalah sebuah hal tak terpisahkan dari shalat. Apakah kita boros menggunakan air tidak sebagaimana dicontohkan nabi kita? Apakah kita buru-buru hingga lupa tidak memenuhi rukun-rukun wudhu tersebut?

Pernahkan kita khawatir bahwa ternyata shalat kita tidak diterima justru karena wudhu kita yang tidak benar?

©kurniawangunadi

Seluruh tulisan Ramadhan 1436H ini tergabung dalam proyek tulisan ramadhan lainnya. Tulisan ramadhan akan dimuat setiap hari sepanjang ramadhan selepas sahur. Seluruh tulisan ramadhan dapat disimak di tautan berikut. Klik di sini.

Tulisan : Lupa bersyukur.

Kita sering menjadikan sebuah ungkapan syukur hanya sebatas kata-kata. Sebuah seremonial kecil yang apabila kita telah mengucapkannya, maka itu sudah selesai. Bila kita mau merasakan lebih dalam, tidak sesederhana itu.

Banyak sekali tindakan baik kita yang berhenti di kata-kata. Belum sempat menjadi tindakan, tidak ada waktu mewujudkan, atau mungkin justru lupa bahwa melakukannya jauh lebih penting daripada mengucapkannya.

Kita memiliki kesempatan-kesempatan yang luar biasa. Kita lupa bersyukur untuk menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Kita memiliki teman-teman yang luar biasa, dan kita lupa mensyukurinya dengan menjaga hubungan pertemanan itu dengan sebaik-baiknya.

Kita memiliki akses pendidikan yang mudah, kita lupa mensyukurinya dengan sekolah dengan sebaik-baiknya. Kita memiliki orang tua yang paling tepat untuk kita, kita lupa bersyukur untuk senantiasa mendoakannya hari ini.

Kita bisa beribadah dengan tenang di negeri ini, kita lupa mensyukurinya dengan beribadah sebaik-baiknya. Kita memiliki waktu shalat dengan sebaik-baiknya, kita lupa mensyukurinya dengan mendoakan shalat kita semoga diterima. Kita juga lupa untuk mensyukurinya dengan shalat diawal waktu.

Kita memiliki ilmu yang sedimikan rupa dan kita lupa mensyukurinya dengan mengajarkannya kepada orang lain. Kita simpan sendiri. Kita hari ini, berdiri disini, bertemu dengan orang-baru dan kita lupa mensyukurinya dengan mulai membangun silaturahmi, bukan menunggu orang lain menyambung terlebih dahulu.

Jakarta, 30 April 2015 | ©kurniawangunadi

Pintu

Aku sudah berikhtiar untuk pergi ke rumahmu. Mengetuk pintumu yang terkunci rapat. meski aku harus memaksa membukanya nanti, setelah selesai dari perjalanan ini. Selesai dari tugas-tugas hidup inI. Aku akan berjalan ke sisi rumahmu.

Tidak tahu bagaimana jadinya nanti. Tidak tahu bagiamana akhirnya. Aku tidak bisa menemukan cara masuk ke dalam rumahmu selain memaksanya. Rumahmu yang tanpa jendela. Kamu telah menutup semua kemungkinan orang lain mengintip ke dalam rumahmu. Satu pintu di muka rumah yang selalu terkunci setiap hari.

Aku tahu kamu sering mengintip dari lubang kunci. Melihat di luar sana orang berlalu lalang di depan rumahmu. Sesekali dari mereka berhenti dan mengetuk pintumu. Tapi tidak pernah terbuka. Mengapa kamu begitu lama berdiam diri di dalam sana? Apa yang sedang kamu lakukan? Atau apa yang sedang kamu tunggu?

Jika mendobrak pintumu berarti akan merusak pintu itu. Aku bersedia menggantinya meski tidak lagi sama. Setidaknya aku tahu kamu masih hidup. Meski pada akhirnya kamu akan mengusirku dari rumahmu. Aku tidak peduli, itu belum terjadi bukan?

Sepulang dari perjalanan panjang ini. Aku akan berdiri di depan rumahmu mungkin dengan segenggam linggis atau bisa jadi granat tangan. Aku tahu aku cukup kejam, aku hanya tidak tahu bagaimana cara membukanya dengan baik-baik. Jika kamu punya cara itu, katakanlah.

Tapi bukankah kata itu tidak pernah ada? Pintu yang selalu tertutup meski diketuk ribuan kali. Meski dihujani batu dan dikerat dengan pisau. Pintumu terkunci rapat. Aku tidak tahu cara membukanya dengan baik-baik, mungkin karena aku juga bukan orang baik-baik. Bekas orang brengsek yang tidak tahu mengapa begitu terusik melihatmu mengunci diri di dalam sana.

Jika nanti aku melihatmu meringkuk di sudut rumah dan matamu terpicing karena cahaya matahari yang merobos masuk. Aku ingin melihatmu tidak menangis karena aku merusak pintu rumahmu. Setidaknya jika kamu mengusirku, aku mendengarmu mengatakan bahwa kamu ingin sendiri.

Atau jika kamu menerimaku di sana, aku bersedia tinggal di dalamnya dan membantumu menata kembali rumahmu. Membuatkan jendela agar cahaya matahari itu bisa masuk. Agar udara itu bisa silih berganti.

Setidaknya aku tahu, apa yang sedang terjadi padamu. Karena kamu selama ini diam saja. Mengapa kamu menutup diri selama ini?

©kurniawangunadi