Doa-Doa Mereka

Repost

Tulisan di bawah ini miliki Kak Uti, teman diskusi yang dulu adalah asdos saya sewaktu kuliah tingkat pertama di FSRD ITB. Saya salin dari halaman FBnya karena saya merasa tulisan ini amat baik untuk diteruskan, berikut tautan aslinya (klik di sini)

Beberapa tahun yang lalu sempet merenung, beruntung banget orang-orang yang masih
punya ibu apalagi orang tua lengkap. Orang tua gak bisa ngajarin semua hal
terhadap anaknya karena kapasitas
mereka juga beragam, waktunya terbatas, dan banyak faktor lainnya. Mereka juga
gak bisa terus-terusan menjaga dan mengontrol anaknya.

Tapi berkat doa yang gak pernah putus dari mereka, si anak terus
terjaga dalam langkah hidupnya. Akalnya terjaga, hatinya terjaga,
pikirannya terjaga, jiwanya terjaga, kehormatannya terjaga. Belum lagi
segala keberuntungan yang datang berkat doa mereka. Keberuntungan
terhindar dari marabahaya, keberuntungan dapat peluang, keberuntungan dapat
jodoh yg soleh.

Seseorang lepas dari agama puluhan tahun dan orang
tuanya tahu. Tapi orang tuanya “gak bisa” ngapa-ngapain, karena itu udah urusan pribadi
anak dengan Tuhannya, dan manusia gak bisa mengubah hati manusia lain.
Sampai di momen, orang ini “kembali” pada jalan-Nya dan menyadari “dulu
gue lost”
. Ada doa orang tua yg akhirnya diijabah oleh Sang Maha pembolak
balik hati.

Seseorang kemampuan nalar, matematika, daya
tangkapnya kurang. Diajarin apapun lama nangkepnya. Tapi dia selalu
selamat dalam segala ritme kehidupan, tumbuh jadi manusia berhati lembut dan
bahagia. Meski kurang, jiwanya terjaga. Ada doa ibu dibalik itu. Doa
agar anaknya terlindungi, bahagia, dan bisa survive.

Peluang
buat gak bener itu banyaaaak banget, ada dimana-mana. Cuma saat mau
ngelakuinnya ada aja yang bikin gak jadi. Bahkan kadang-kadang gak minat juga buat
milih jalan itu. Kalo diliat ulang kebelakang, berapa banyak hal-hal buruk
yang gak jadi diambil? Berapa banyak terselamatkan dari bahaya? Berapa banyak peluang-peluang yang
menyesatkan gak jadi dipilih dan malah bersyukur diakhirnya? Berapa banyak
terselamatkan dari hal-hal jelek? Berapa banyak hal-hal di luar kendali manusia yang
bisa dilewati? Banyak banget pasti itu. Dan selamat. Itu semua bukan
semata-mata kemampuan diri aja, ada doa orang tua yang bikin selamat,
terhindarkan dari bahaya dan keburukan.

Banyak orang tua yang
bijak. Untuk tidak banyak mencekokan pendidikan ini itu kepada anaknya,
yang membebaskan anaknya mengenali dirinya sendiri, membebaskan anaknya
terhindar dari rasa takut (takut gak disukai/ takut dibenci/ takut salah/
takut gak diterima), membebaskan anaknya untuk belajar, membebaskan
anaknya untuk benar-benar punya purpose of life dan goal yang benar-benar peran
anaknya, membebaskan anaknya dari persepsi dirinya dengan tidak
menurunkan kebencian apapun (semacam ortu benci kaum x, terus cerita-cerita ke
anaknya).

Orang tua yang sadar kalau sebaik-baiknya yang bis a
dilakukannya dimulai dengan memberi makanan yang halal (makanannya, caranya,
hartanya). Sesuatu yang baik tumbuh dari hal sekecil makanan halal, karena itu
yang terus tumbuh melekat pada fisik manusia. Dan dalam perjalanan
pendidikannya, kehidupannya, mereka terus berdoa untuk keselamatan
anaknya dunia akhirat.

Dan semakin kesini, semakin paham cinta
orang tua begitu besar dan gak akan tergantikan apapun. Entahlah kalau
udah punya anak, bakal lebih bisa merasakan lagi (gak cuma berdasarkan logika,
imajinasi, dan empati lagi), merasakan karena terlibat langsung dan berganti
peran.

Saat satu orang tua meninggal, hilang satu keberkahan. Saat kedua orang tua meninggal, hilang dua keberkahan. Keberkahan hidup, doa-doa yang
menjaga kita hingga akhirnya jadi seperti sekarang, dalam keadaan sekarang.

©Febriani Eka Puteri

Menjaga Nilai Pernikahan

Pernikahan tidak menjanjikan kebahagiaan, kebahagiaan itu diciptakan, dengan cara berbagi kebahagiaan satu sama lain.

Beberapa kali nasihat ini muncul, baik dari teman-teman terdekat maupun dari orang tua kami masing-masing. Tentu saja, pernikahan memang secara kenyataan tidak seperti kalimat-kalimat promosi seminar pernikahan dan poster-poster propaganda di media sosial.

Sejak awal dan memang sudah seharusnya, sejak kita semua masuk ke usia matang untuk membangun keluarga. Paradigma tentang pernikahan harus diluruskan dan dibenahi, jangan terlalu banyak berharap dan berekpektasi bahwa pernikahan itu selamanya lurus-selamanya bahagia. Kalau menikah untuk mencari kebahagiaan, mungkin itulah yang menyebabkan begitu banyak pasangan yang tidak setia juga rumah tangga yang kacau, sebab kebahagiaan yang dicari ternyata tidak ditemukan sehingga mencari kebahagiaan di tempat lain.

Beberapa bulan yang lalu, masih di tahun yang sama, 2016. Saya tidak menyangka kalau di tahun inilah momentum saya untuk merasakan sendiri hal tersebut. Selama ini saya mungkin hanya bisa menuliskan dari hasil pengamatan dan cerita orang lain, terutama dari keluarga teman-teman sendiri. Kali ini, saya akan menjalani sendiri apa-apa yang selama ini saya tuliskan.

Di awal 2016 dan hari ini, saya merasakan betul bagaimana perbedaan yang ada dalam pikiran saya tentang pernikahan. Sebelumnya, secara emosional saya membayangkan pernikahan itu benar-benar indah dan selalu dalam kacamata keindahan. Seminar-seminar pra nikah ala anak-anak muda, sebaran konten propaganda di akun-akun berlabel islami, juga dari bacaan yang minim perspektif. Niat saya untuk menikah menjadi keliru.

Saya membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk membenahi niat dan pola pikir saya tentang pernikahan. Kegalauan-kegalauan yang selama ini muncul ternyata menjadi pelajaran yang berharga bagi saya, ternyata saya tidak cukup dewasa menyikapi pernikahan. Terlalu gegabah dalam menyimpulkan. Dan dengan jiwa muda yang berapi-api tapi minim pengalaman, ingin segera menikah tanpa tahu esensi dan substansi dari sebuah pernikahan.

Kini saya mengerti, menjelang pernikahan saya menemukan begitu banyak hal yang bagi saya berharga. Saya berhasil memaknai apa itu penerimaan, kedewasaan, tanggungjawab, harapan, dan segala hal yang selama ini saya keliru mendefinisikannya. Salah definisi yang membuat saya menjadi salah bertindak.

Saya telah berjanji tidak ingin menjadi “kompor yang panas” untuk menyuruh-nyuruh teman saya untuk segera menikah. Juga tidak ingin berkontribusi dalam kegagalan seseorang teman untuk menjaga diri dengan cara-cara memposting kemesraan secara berlebihan. Cara paling mudah bagi saya adalah tidak terlalu berlebihan dalam mengekpresikan kebahagiaan di media sosial, yang itu juga menjadi kesepakatan saya dan @ajinurafifah, calon istri saya.

Menikah bukan perkara mudah dan tidak akan pernah menjadi perkara yang mudah, terutama ketika menjalaninya. Dan jangan menjadikan pernikahan sebagai jalan keluar atas kebingungan menata masa depan. Pernikahan itu menghadirkan tantangan baru, tidak serta merta memberikan jalan keluar atas masalah kebingungan pada masa depanmu saat ini.

Untuk itu, selamat berkarya dan menjadi berdaya yang bermanfaat. Hal terbaik yang bisa saya doakan hanya itu. Tulisan ini sekaligus menjadi pengingat bagi saya pribadi, juga keluarga saya nantinya. Bahwa kami harus menjaga nilai-nilai dengan teguh, Pernikahan jangan sampai menjadi komoditas perdagangan, kesakralan pernikahan adalah hal yang mutlak. Apalagi dalam agama yang saya imani, pernikahan itu setara dengan perjanjian antara Allah dengan para nabi.

Kalau sampai seagung itu, mengapa selama ini kita menjadikannya bercandaan, menjadikannya bahan gunjingan, menjadikannya sebagai alat untuk mencari uang dan ketenaran?

Jagalah pernikahan tetap pada sakralnya. Semoga kami bisa menjadi pasangan yang senantiasa teguh menjaga nilai-nilai tersebut. Bila nanti kami salah, silakan diingatkan dengan baik. Tulisan ini dibuat untuk itu, untuk menjaga kami tetap berada pada jalannya.

Semoga Allah ridho dengan pernikahan kami, semoga Allah menguatkan setiap orang yang sedang berjuang menjaga diri.

Salam hangat,

Malang, 17 September 2016

Kurniawan Gunadi

Bagi laki-laki, harga diri itu semacam segalanya. Ego adalah urusan lain. Pada suatu masa, ego laki-laki akan runtuh di hadapan tatapan mata orang yang dicintainya dan anak-anaknya. Ia akan melakukan apapun yang bisa ia lakukan untuk memastikan kehidupan mereka baik-baik saja. Buktinya adalah apa yang ayahmu lakukan kepadamu dan keluargamu selama ini.

Kurniawan Gunadi

Langitlangit dan Impian di Dalamnya

Beberapa bulan yang lalu saya sempat menggaungkan nama Langitlangit pertama kalinya dan memperkenalkan Langitlangit setiap kali mengisi acara. Ditengah orang-orang yang mungkin bingung apa pekerjaan saya sebenarnya dan kapan Langitlangit mulai beroperasi 100%.

Maka inilah jawabannya yang mungkin bisa dipahami dan semoga bisa dimengerti.

Langitlangit adalah sebuah pekerjaan impian, pekerjaan memudahkan dan membantu urusan hidup orang lain. Beberapa hari terakhir ini saya dan tim kecil saya yang luar biasa memikirkan tentang itu semua. Saya belum bisa mengatakan dengan detail tentang impian apa saja di dalam kata Langitlangit. Tapi harapan besar kami adalah semoga tempat kecil bernama Langitlangit ini kelak bisa menjadi luas seperti namanya. Menaungi banyak orang dan memudahkan urusan kehidupan mereka. Memberikan banyak manfaat kepada orang lain dan tentu saja menjadi tempat dimana ladang-ladang pahala semakin luas. Karena kami percaya bahwa hidup ini tidak lama, kematian adalah keniscayaan dan kami ingin mati dengan pahala yang lebih berat timbangannya daripada dosa kami.

Maka, berbekal sesuatu yang berharga yang kami miliki yaitu akal, ditengah upaya dunia menggoyangkan niatan kami untuk mewujudkannya karena tawaran pekerjaan dan materi di tempat lain yang terlihat menjanjikan kemakmuran yang baik untuk kehidupan pribadi kami, kami ingin mempertahankan impian kami yang terlihat sulit ini.

Langitlangit secara fisik berada di Yogyakarta, tapi secara gerakan kami ingin berada dimana-mana. Suatu hari nanti, kami ingin sekali menyaksikan apa yang kami bangun ini menjadi sesuatu yang belum bisa kami bayangan hari ini. Semoga Allah memudahkan kami dengan beribadah di jalan ini. Kami menyadari kami bukan ahli agama, shalat sunah pun tidak rutin, apalagi puasa sunah, kami masih pakai jeans kemana-mana, hafalan kami pun masih payah, terlihat begitu menyedihkan nampaknya iman dan ketakwaan kami. Semoga Allah memudahkan jalan ini, jalan kebaikan yang membuahkan pahala yang nantinya kami saksikan di hari penghitungan.

Kematian memang sesuatu yang paling kuat untuk menyadarkan kita semua tentang hidup. Karena umur ini mungkin hanya tersisa beberapa puluh tahun lagi, semoga kami sempat menyaksikan kebaikan ini menyebar luas sebagaimana nama yang kami berikan, Langilangit.

©kurniawangunadi

Catatan Sore

Beberapa minggu ini, rasanya tulisan saya lebih jarang muncul. Saya melakukan perjalanan silaturahmi dari Yogyakarta, Malang, Solo, dan besok akhir pekan harus ke Bandung dan Sukabumi. Niatan untuk ke Depok menghadiri wisudaan teman-teman di UI pun menjadi pertimbangan lagi.

Perjalanan beruntun yang menyenangkan, menyambung silaturahmi, bertemu dengan teman baru, menikmati menu sarapan pagi yang berbeda di udara kota yang berbeda. Dan mungkin hal yang paling membahagiakan adalah saya tidak ada lagi tugas kuliah dan tidak perlu memikirkan kapan harus masuk kantor.

Tapi, ada satu hal yang paling saya pelajari yaitu tentang batas. Saya jadi mengingat zaman kuliah dulu saat saya harus begadang berhari-hari demi mengerjakan Nirmana 2D dan aneka tugas seni rupa lainnya yang aduhai mengerjakannya. Ada yang namanya batas. Batas fisik tentu saja.

Kadang antara pikiran dan badan itu tidak sejalan. Saya merasa bahagia tapi badan saya sudah tidak bisa mengimbangi lelahnya perjalanan yang dilakukan. Di sini saya belajar untuk menunaikan lagi hak-hak badan saya untuk istirahat, makan yang sehat, olahraga, dan aneka hak lainnya.

Kita mungkin sering lupa untuk menunaikan hak tubuh kita atas diri kita sendiri. Tubuh ini akan menua dan pada akhirnya akan mati. Ruh kita ini hanya menyinggahinya sebentar untuk kemudian pergi ke kehidupan akhirat. Kita harus merawat tempat singgah kita ini, menjaganya tetap baik meski usia memakan kekuatannya.

Hari ini saya memutuskan untuk memberikan hak itu setelah saya melalaikannya. Memberikan waktu untuk badan saya beristirahat, meski saya ingin sekali pergi kemana-mana. Nikmat kesehatan adalah nikmat yang biasanya baru kita sadari ketika sakit. Dan sebelum sakit  saya ingin sekali mensyukurinya.

Kalau sehat kita bisa mengejar apapun yang ingin kita kejar. Sekarang waktunya kembali menuliskan apapun yang didapatkan sepanjang perjalanan jauh ini. Mari menulis sambil mempersiapkan kelahiran Lautan Langit 🙂

Rumah, 20 Agustus 2015

?

Tuhan dan Rahasia

Ketika aku ditanya tentang hal apa yang ingin aku ketahui dari hidup. Hanya ada satu hal yang ingin aku ketahui. Bukan soal kaya atau miskinku. Siapa jodohku. Bagaimana masa depanku.

Satu hal itu adalah, memaafkankah Tuhan atas segala dosaku? Aku hanya ingin tahu satu hal itu saja. Selebihnya aku tidak perlu. Aku hanya butuh maaf-Nya dalam hidup ini. Sebab aku sudah banyak berlaku salah. Sebab kesalahan itu selalu menghantuiku hingga saat ini. Hendak memilih mati pun, itu sebuah kesalahan. Tuhan melarangku mengakhiri hidupku sendiri.

Tidak mengapa aku lepaskan dunia ini. Asal aku tahu, bahwa Dia memaafkanku. Aku takut aku tidak berkesempatan masuk surganya. Aku takut, kelak di hari penghakiman. Seluruh dosaku diberitakan tanpa dimaafkan satupun.

Setidaknya aku berterima kasih atas kebaikan-Mu. Karena-Mu menutupi seluruh rahasia dan dosa ini. Orang-orang melihatku begitu baik. Bahkan beberapa melihatku diatasnya. Mereka hanya tidak tahu, apa yang aku sembunyikan dari balik pakaian dan tulisan.

Mereka tidak tahu saja bahwa aku mungkin mengalami kehidupan yang tidak pernah mereka bayangkan. Yang akan membuat mereka pergi jauh ketika mengetahuinya. Begitulah cara Tuhan. Aku tahu mudah bagi-Mu memuliakan manusia dan menghinakannya. Kemuliaan dan kehinaan sama-sama ujian.

Dan aku masih tetap sama. Hanya ingin tahu. Memaafkankah Tuhan atas segala kesalahan?

BUKU PELAJARAN

Banyak sekali pihak yang perlu melakukan introspeksi diri

  1. Pemerintah yang tidak mengontrol isi buku pelajaran.
  2. Pihak sekolah yang tidak menyeleksi isi buku pelajaran yang hendak digunakan.
  3. Penerbit (pengarang) yang blunder dan tidak memiliki visi dalam mendidik anak.
  4. Orang tua yang tidak membaca buku pelajaran anak sebelumnya.

Mbak Dina

Bulan Sibuk

Masih gelap , padahal sudah jam 7 pagi , bandung . . 

Tak terasa April sudah datang sejak beberapa hari yang lalu , besok pagi adalah Wisuda Sarjana ITB . Tentu saja telah menyiapkan pucuk-pucuk bunga untuk teman-teman yang wisuda besok pagi.

April ini banyak sekali hal luar biasa

dari mulai Luna jatuh ke lantai , dapat hadiah kamera dari Rena , dapat tawaran proyek ,menjadi tim di lomba KRN besok juni , dan alhamdulillah diterima KP.

Alhamdulillah . . 

April berarti H-1bulan menuju UAS ITB , ITB emang cepet banget urusan beginian , UAS dilakukan Mei awal besok hingga 2 minggu .

Setalah itu akhir Mei sudah memasuki libur yang sejatinya tidak libur karena harus KP selama 2 bulan. April berarti kesibukan semakin tajam , dimana tugas-tugas semakin menjadi-jadi.

Postingan di tumblr akan menurun frekuensinya untuk beberapa bulan ke depan itu tentu saja , mari berkarya di dunia nyata 🙂

tapi tag “TULISAN” akan tetap diisi insyaAllah , masih banyak ide dan unek-unek yang belum ditulis. Dan untuk teman-teman yang meminjam buku dari “RUANG BUKU” saya , mohon maaf belum bisa mengirim minggu ini , padat sekali kuliah dan tugasnya dan kegiatannya.

April adalah bulan yang akan cukup melelahkan , tapi tetap harus dihadapi hingga ia berganti bulan 🙂

Selamat Ujian Nasional untuk adik-adik di SMA dan SMP

dan Selamat Wisuda untuk kakak-kakak di ITB besok, WISUDA ITB 14 April 2012

Tomorrow is Yours 🙂

Bandung , 13 April 2012

Mimpi Masa Kecil

Ada yang perlu dikoreksi dengan mimpi kita , bukan untuk di benar salahkan , tapi untuk diketahui keadaanya , sehat atau tidakkah mimpi kita

Ketika kau bermimpi ingin menjadi orang kaya

ada berapa banyak dan orang sejenis kamu yang punya mimpi yang sama

Ketika kau bermimpi ingin jadi dokter

ada berapa banyak dan orang sejenis kamu yang punya mimpi yang sama

Ketika kau bermimpi ini itu

diluar sana , ada orang yang memiliki mimpi yang sama denganmu , bahkan dengan usaha yang jauh lebih keras daripada yang kamu lakukan

diluar sana , ada bertaburan mimpi mimpi menghiasi langit-langit, ada yang setinggi langit ke tujuh , ada pula yang hanya setinggi langit-langit kamar

Lantas , kenapa kau harus bermimpi yang sama dengan orang lain

ketika justru banyak orang hebat memiliki mimpi yang tidak sama dengan orang kebanyakan

mimpi-mimpi sederhana tapi mereka usahakan dengan sekuat hati

dicari dan digali sedalam mungkin

diraih dan dicapai setinggi mungkin

dari sebuah mimpi mimpi sederhana

mimpi-mimpi masa kecil yang sengaja dibunuh oleh orang-orang kebanyakan yang selalu sibuk urusan perut dan kemakmuran pribadi

mimpi-mimpi masa kecil yang sengaja dibunkam karena dianggap tidak mungkin mencapai kekayaan

mimpi-mimpi masa kecil kita . .

dia adalah kemurnian pikiran , lahir dari hati , hati yang masih bersih

penuh kepolosan dan nilai yang lebih mulia

mimpi-mimpi masa kecil tidak ingin menjadikan kita kaya raya

tapi menjadikan kita menikmati apa yang kita miliki

dan berbuat banyak dengan apa yang kita senangi

mimpi itu …

berserakan di tanah-tanah …

masihkah kau menyimpannya ?

aku masih

saat ini , aku masih menggenggamnya , mewujudkan mimpi kecilku menjadi sesuatu yang luar biasa

Bandung , 23 Feb 2012