CeritaJika #57 : Jika Istrimu Seorang Anak Semata Wayang

Suamiku, pernahkah terlintas dipikiranmu untuk mempunyai istri seorang anak tunggal dari keluarganya? Seorang anak tunggal yang dikenal manja, egois, dan mempunyai orang tua yang begitu protektif. Terdengar begitu berat kan mempunyai seorang istri yang merupakan anak semata wayang?

Anak semata wayang, panggilan itu yang biasanya aku dapat saat ayah atau ibuku menceritakanku pada keluarga, sahabat, maupun kenalannya dengan wajah yang begitu bangga karena memiliki aku, satu satunya buah hati mereka.

Ayah menamakanku “one” dalam bahasa inggris ini berarti satu, aku tak tahu mengapa mereka memilihkan nama itu untukku, yang melenceng jauh dengan nama lengkapku. Kata ibu, itu artinya aku harus menjadi yang kesatu dalam berbagai hal. Mungkin ini yang selalu membuatku terobsesi mendapatkan peringkat satu atau juara satu di setiap lomba yang ku ikuti.

Suamiku, menjadi anak tunggal membuatku mudah mendapatkan yang aku inginkan, aku bahkan tak perlu meminta kepada ayah, ia akan menyediakannya untukku, aku telah terbiasa hidup dengan kebutuhanku selalu terpenuhi. Perhatian berlebihan yang kudapat dari ayah dan ibuku membuatku menjadi sosok yang manja yang selalu ingin mendapatkan perhatian.

Tapi, ketahuilah suamiku. Menjadi anak semata wayang yang selalu di elu-elukan oleh ibu dan ayahnya, itu membuatku terus berusaha menjadi yang terbaik. Terkadang aku harus menyembunyikan kegagalanku di hadapan mereka, aku tak ingin mengecewakan mereka sebab mereka hanya memiliki aku untuk di banggakan.

Aku mungkin memang mudah mendapatkan apa yang kuinginkan, tapi aku tak bisa melihat ayah yang terkadang menambah jam kerjanya untuk menuruti keinginanku. Semakin aku dewasa semakin aku tak ingin meminta apapun lagi dari mereka. Keberadaan mereka sudah cukup buatku. Suamiku, maafkan jika kelak aku bersikap egois, ketahuilah aku sangat menyayangimu.

Suamiku, aku ingin meminta izinmu, apakah nanti kau keberatan jika kita tinggal bersama dengan Ayah dan Ibuku? Kau tentu tahu menjadi anak satu-satunya di keluarga membuatku tak tega hidup jauh dari mereka.

Kau juga harus terbiasa jika nanti aku bersikap manja padamu, dan kau juga harus terbiasa jika nanti aku akan memberikan perhatian yang kadang berlebihan untukmu. Seperti yang biasa aku dapatkan.

Aku berjanji akan terus mendukungmu, berdiri di sampingmu, menggenggam tanganmu, karena aku tak ingin membiarkanmu merasa kesepian, aku tahu bagaimana rasanya sepi itu.

Suamiku, berjanjilah padaku kau tak akan malu jika beristri seorang anak semata wayang yang terkenal manja dan kekanakan ini. Berjanjilah kau akan selalu ada untukku, berjanjilah kau akan menjadi imam yang baik untukku dan untuk anak-anak kita nanti.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Pengirim cerita :

Annisa Nurul Amalia
Siswi Kelas XII  SMAN 1 Bantaeng – Sulawesi Selatan

||| tentang proyek menulis cerita jika, klik X

CeritaJika #56 : Jika Istrimu Seorang Guru

Biasa saja. Iya memang tidak ada yang istimewa atau aneh dengan profesi guru. Seseorang yang berusaha mendidik calon – calon pemimpin bangsa menjadi manusia. Bahkan, tidak sedikit ‘katanya’ ibu mertua yang berharap mendapatkan menantu seorang guru karena lebih banyak memiliki waktu luang untuk mengurus keluarga. Apakah ibumu salah satunya, sayang?

Jika bukan, apakah kamu sanggup meyakinkan ibumu bahwa aku adalah wanita yang tepat menjadi partner hidupmu?

Taruhlah ibumu adalah seorang fanatik yang memegang prinsip bahwa seorang istri haruslah memberikan seluruh waktunya untuk keluarga: ibu rumah tangga, apakah kau yakin bisa meluluhkan hati ibumu agar mau berstatus mertuaku? Bagaimana kau akan meyakinkannya sementara rumor yang beredar adalah seorang guru terlalu sibuk mengurusi anak banyak orang sehingga anaknya kurang mendapat perhatian.

Atu kiita anggap kau sangat pintar sehingga berhasil mengambil hati ibumu. Selanjutnya kau dan aku akan mulai membangun bahtera rumah tangga dengan profesi kita masing – masing. Sekarang masalahmu bukan pada ibumu, tetapi ada padaku. Seorang guru yang menjadi istrimu nanti ini bukanlah seorang guru seperti yang lainnya. Mungkin aku adalah seorang yang berpura – pura menjadi guru. Karena bukan ini yang aku inginkan, aku menjadi guru hanya agar sejalan dengan studi yang aku ambil saat ini. Sebenarnya aku pun tidak pernah berharap menjalani studi ini, karena satu dan lain hal terpaksa aku ada di sini. Kelak, mungkin kau akan mendengar keluhanku setiap kali pulang mengajar, atau bahkan kau akan menjadi sasaran luapan emosiku yang tertahan saat di sekolah. Karena saat aku menjalani profesiku tentu aku berusaha tampil sempurna, menjadi seorang wanita keibuan, yang perhatian dengan perkembangan setiap siswa, yang penyabar dalam menghadapi tingkah laku setiap siswa betapa pun menyebalkannya. Kasarnya mungkin aku bermuka dua.

Suamiku sayang, bagaimana? Bagaimana jika aku adalah guru seperti itu? Sanggupkah kau bersabar mendengar setiap keluh kesahku, menjadi satu – satunya penyemangat yang bisa meyakinkan bahwa aku memang layak menjadi seorang guru, dan menuntunku belajar ikhlas untuk menjalankan profesiku?

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

pengirim cerita :

Rini Fajrin

Mahasiswi Pendidikan Matematika – UPI

Redaksi :

Salam hangat, akhirnya proyek menulis Cerita Jika disambung lagi setelah dua bulan sempat berhenti karena HujanMatahari. Naskah pertama untuk menyambung cerita ini telah kami rilis, terima kasih untuk teman-teman yang telah mengirimkan ceritanya. Redaksi tidak bisa memuat semua cerita yang masuk, kami melakukan seleksi cerita.

Proyek menulis Cerita Jika meski di dominasi oleh pengiriman cerita perempuan, proyek ini tidak menutup cerita untuk semua kalangan. Tujuan kami adalah ingin mengenalkan banyak sudut pandang tentang sebuah profesi seseorang dalam kaitannya mempersiapkan kehidupan rumah tangga nanti.

Selamat belajar, memperkaya sudut pandang, dan memahami. Karena hidup kita memang untuk dibagi dengan yang lain 🙂

Lengkapnya tentang proyek menulis cerita jika bisa klik di sini. Terima kasih.

Tentang CeritaJika #X

Salam Teman-teman semua,

Saya ingin memberi tahukan bahwa untuk sementara waktu Proyek CeritaJika belum bisa saya pegang dengan baik. Alhamdulillah naskah ceritaJika yang masuk lebih dari 200 naskah. Untuk sekarang ini saya masih mengerjakan proyek buku pertama saya dan belum sempat memeriksa naskah di meja redaksi ceritaJika.

InsyaAllah ceritaJika akan kita sambung lagi di bulan September 2014. Buat temen-teman yang belum tahu dan penasaran tentang ceritaJika, coba simak cerita-ceritanya di link berikut, klik di sini.

Nah, buat temen-teman yang mau kirim ceritanya juga silakan. Meskipun proyek menulis ini tunda sementara, saya tetap menerima naskah yang masuk. Kedepannya semoga ada kesempatan untuk merapikah seluruh naskah baik yang termuat ataupun belum menjadi satu kompilasi ceritaJika yang bisa dibaca siapapun dalam bentuk lain tanpa perlu membuka laman tumblr saya.

Sekian informasi yang bisa saya sampaikan. Mari menulis tentang apa yang kita rasakan. Sebab perasaan, perlu dituangkan. Di tempat yang tepat. Mari menulis 🙂

Salam Redaksi,

Kurniawan Gunadi

CeritaJika #55 : Jika Istrimu Seorang Fisioterapis

“Apa sih profesi fisioterapis itu?”

Banyak orang yang masih belum tahu tentang profesi ini. Lantas bagaimana denganmu, duhai pria yang kelak akan menjadi suamiku? Apakah kau juga belum tahu apa itu profesi fisioterapis?

 “Tukang pijat, ya?”

“Fisioterapis itu yang ada di tim sepak bola, kan? Yang menangani para pemain ketika mereka cedera?”

Mungkin sebagian orang mengenal fisoterapis seperti itu. Tapi tidak, aku bukan tukang pijat dan juga tidak ingin menjadi fisioterapis dalam tim olahraga. Aku tidak ingin membuat kau, pria yang kelak paling aku sayangi selain ayah dan kelak anak laki-laki aku, cemburu. Aku akan menjadi fisioterapis klinis, seorang yang bekerja praktik di rumah sakit atau klinik untuk menangani pasien yang mengalami gangguan fungsi tubuh dan fungsi gerak.

Duhai pria yang kelak akan menjadi suamiku, apakah pernah terbayang jika istrimu nanti adalah seorang fisioterapis?

Istrimu akan berada di rumah sakit atau klinik dari pagi hingga menjelang sore. Disana istrimu akan menangani pasien dengan berbagai kondisi, dari mulai pasien dengan cedera otot biasa hingga pasien pasca stroke. Dia akan menjadi orang yang sabar memberikan terapi dan latihan-latihan kepada mereka.

Seorang fisioterapis adalah seorang yang sangat tangguh dan sabar. Tidak percaya? Jika kau datang ke rumah sakit atau klinik fisioterapi, coba perhatikan bagaimana fisioterapis bekerja. Ketika ada pasien datang, fisioterapis akan menyambutnya dengan hangat, menanyakan bagaimana kondisi pasien tersebut, apa yang dikeluhkan oleh pasien tersebut, dan fisioterapis akan mendengarkan dengan sangat baik serta mencatatnya sebagai diagnosa awal, sedikit tidak jauh berbeda dengan dokter memang. Kemudian fisioterapis akan mulai memberikan terapi atau latihan-latihan untuk membantu memulihkan kondisi pasien tersebut. Bisa kau bayangkan, bagaimana dengan sabarnya Ia melatih pasien pasca stroke yang mungkin tidak bisa berjalan atau sekadar menggerakkan anggota tubuhnya yang lemah karena serangan stroke, bagaimana Ia memberi terapi pada pasien yang mengalami gangguan-gangguan otot, bagaimana Ia memberi terapi pada anak-anak yang membutuhkan.

Jika nanti semesta mempertemukan aku denganmu, aku akan meminta izin padamu untuk menjadi fisioterapis. Ridha suami, ridha pria yang menjadi imamku, sangatlah penting. Jika kau mengizinkan, aku harap kau tidak cemburu atau marah karena profesi ini memang menuntutku untuk berkontak langsung dengan pasien yang  tentunya dengan maskud untuk menolong bukan lainnya.

Lebih kurang 8 jam aku akan berperan sebagai fisioterapis di tempat praktik dan sisanya aku akan berperan sebagai istri dan ibu. Aku harap aku bisa berguna bagi banyak orang ketika aku berperan menjadi seorang fisioterapis. Aku pun berharap aku bisa melaksanakan peranku sebagai istri dan ibu dengan baik. Tak dapat dipungkiri, aku akan lebih suka peranku sebagai istri dan ibu. Bagiku, kau dan anak-anak kita nanti layaknya surga kecil di dunia ini. Membayangkannya saja sudah bisa membuat aku senyum-senyum sendiri.

Sepertinya harus aku ralat, peranku tidak hanya sebagai fisioterapis, istri, dan ibu. Di rumah nanti aku akan menjadi koki, yang akan menyiapkan sajian di meja makan untukmu dan anak-anak kita. Aku juga akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak kita, aku akan menemani dan membimbing anak kita belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah mereka. Aku juga akan menjadi teman konseling anak-anak kita, mendengarkan cerita mereka, memberikan wejangan-wejangan sambil sesekali menggodanya dengan candaan ringan. Aku juga akan menjadi kepala kebersihan dan kesehatan, mengajarkan dan mencontohkan kebiasaan-kebiasaan untuk bersih dan hidup sehat serta menjadi yang paling cerewet akan kesehatanmu dan anak-anak kita. Bahkan, aku juga akan menjadi -sebut saja kepala binatu- yang menyiapkan pakaian untukmu, untuk jagoan dan putri kecil kita.

Setiap akhir pekan kita juga akan membuat jadwal untuk menghabiskan waktu bersama. Tidak lupa, setiap sore hari ataupun malam hari sepulang kita dari kesibukan kita, kita berkumpul di ruang keluarga atau beranda rumah. Aku akan membawakan teh hangat dan kue-kue kecil untuk menemani  saat kita bercerita tentang hari yang telah kita lalui. Ya kita, aku, kamu, dan anak-anak kita.

 – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Pengirim

Ryzky Dwi Fitri

Mahasiswi Fisioterapi Universitas Indonesia

||| tentang proyek menulis ceritaJika klik X

CeritaJika #54 : Jika Istrimu Seorang Pekerja Kantoran

Perempuan yang bekerja di kantor bukanlah perihal yang langka, terlebih di kota besar sebagian perusahaan atau perkantoran mempekerjakan perempuan sebagai pegawainya. Namun suamiku, pernahkah kamu membayangkan jika istrimu nanti adalah seorang perempuan yang menjadi pekerja kantoran?

Istrimu adalah seorang perempuan pekerja kantoran, aku harus berada di kantor dari jam 8 pagi sampai 4 sore, delapan jam penuh aku habiskan waktu tidak bersamamu maupun anak-anak  kita. Istrimu ini adalah seorang yang penyuka rutinitas, berangkat pagi pulang sore begitu setiap harinya. Namun jangan khawatir enam belas jam sisa waktuku setiap hari tentu akan aku habiskan bersama kalian, dan masih ada akhir pekan yang bisa aku habiskan sepenuhnya bersama kalian.

Meskipun setiap hari kerja aku berangkat pagi dan pulang sore namun aku tidak akan serta merta lupa pada tugasku sebagai istri dan ibu. Tentu sebelum berangkat ke kantor akan ku sempatkan untuk membuatkan sarapan untukmu dan anak kita, sarapan bersama di meja makan sesekali sambil mendengarkan sedikit celoteh anak-anak. Pun hal remeh seperti mempersiapkan baju yang akan kamu pakai bekerja atau sekedar menyiapkan kaos kaki bersih untuk si jagoan kita. Entah di kota mana kita akan tinggal dengan segala keriuhan kota itu, entah jam berapa aku sampai rumah, aku ingin sepulang dari kantor kita bisa menikmati secangkir teh hangat di beranda rumah. Jika tidak sore hari sambil menunggu matahari pulang, malam hari pun tak kalah serunya, seseru cerita kita seharian tadi. Meskipun besok aku harus bangun pagi dan mempersiapkan rutinitas seperti biasa, namun aku selalu ingin menemani anak kita belajar atau pun sekedar mendengarkan ceritanya di sekolah tadi.

Aku bukanlah seorang guru atau perawat yang menurutku profesi mereka sangatlah mulia dan bermanfaat buat orang lain. Aku juga bukan seorang wanita penggila karir yang setiap tahunnya harus naik pangkat atau jabatan, aku hanyalah seorang perempuan pekerja kantoran. Aku ingin bekerja di kantor pemerintahan atau badan usaha di bawah naungan pemerintah, setidaknya masih ada campur tangan pemerintah di situ. Meskipun aku tidak bermanfaat secara langsung bagi orang lain setidaknya aku dapat bermanfaat untuk negara ini. Ya begitulah suamiku, aku adalah seorang perempuan pekerja kantoran yang menyukai rutinitas. Bagaimana menurutmu bila istrimu nanti adalah seorang pekerja kantoran?

 – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

pengirim :

Fiki Farkhati

Mahasiswi Statistika 2010 – Universitas Diponegoro

|| tentang proyek menulis ceritaJika klik di sini

CeritaJika #53 : Jika Istrimu Seorang Guru TK

Dear suamiku, bolehkah aku memanggilmu seperti ini nanti?

Dear suamiku, lelaki paling tampan nomer dua sedunia setelah Ayah saya tentunya.

Jika suatu hari engkau menemukanku sebagai istrimu, satu hal yang pertama kali ingin aku sampaikan. Aku ingin menjadi seorang guru TK. Ini titik tanpa koma. Ijinkan aku untuk menggapainya. Mungkin engkau akan bertanya, mengapa harus guru TK? Profesi yang sepertinya bisa dikerjakan oleh hampir semua wanita. Banyak profesi lain yang mungkin lebih hebat dari hanya bercita-cita menjadi guru TK. Zaman emansipasi seperti ini, perempuan harusnya sudah lebih revolusioner dalam bercita-cita. Mengapa menjadi guru TK?. Tidakkah lebih seru menjadi dokter, engineer, programmer, accounting, atau sejenisnya yang lebih sangar dan patut dibanggakan.

Sederhana saja suamiku, Aku melihat banyak orang lupa dengan guru TK-nya. Tidak banyak diingat orang sepertinya membuat hidup menjadi lebih mudah. Tak perlu menipu diri ataupun membuat personal branding untuk dicintai. Menjadi guru TK akan dicintai anak-anak dengan setulus hati meskipun mereka semua akan lupa saat dewasa nanti. Kamu sendiri ingat tidak siapa guru TK favoritmu? Dosen, Guru SMA, Guru SMP, bahkan Guru SD, kebanyakan masih diingat oleh murid-muridnya. Namun tidak dengan guru TK. Guru yang bersedia membasuh ingus dan mengantar ke kamar mandi pun membersihkan kotoranmu ketika kau belum bisa melakukannya sendiri. Tugas guru yang seperti ini kebanyakan sudah tak diingat lagi. Guru yang pertama kali mengajarkan nilai-nilai moral dan memperkenalkanmu pada ilmu-ilmu dasar. Guru yang mengajarkan bagaimana kau harusnya bersikap pada teman, menghormati yang lebih tua, mengenal bentuk, huruf, warna, dan ilmu-ilmu dasar lainnya. Ilmu sederhana yang nantinya menjadi bekalmu saat dewasa.

Menjadi guru TK, maka aku akan berinteraksi dengan fase dimana manusia paling jujur dan paling polos dalam tahapan hidupnya. Aku akan bertemu anak-anak tertawa. Sesekali menangis dan agak rewel lumrah saja namanya juga anak-anak. Setidaknya mereka tulus akan setiap emosi yang mereka rasakan. Aku tak suka melihat manusia muram tanpa alasan yang jelas. Memandang kening berkerut dan alis mata manusia bertaut dengan jutaan kemungkinan, sungguh membuatku pening. Berinteraksi dengan anak-anak berarti berinteraksi dengan manusia sederhana. Betapa beruntungnya saya bisa menemukan kesederhanaan yang keberadaannya saat ini sudah seperti barang mewah.

Suamiku, aku akan meminta sedikit pengertianmu.  Sesampai dirumah, mungkin aku akan sedikit disibukkan membuat hasta karya dan permainan yang harus aku persiapkan esok hari untuk siswa-siswa mungilku ini. Membuat eksperimen sederhana untuk menjelaskan bagaimana manusia bernafas, bagaimana pelangi terbentuk, atau bagaimana hujan turun dari langit. Hal yang sangat sederhana yang kita semua ketahui namun si kecil kebingungan untuk memahami.  

Aku juga akan meminta ijin untuk satu hal lagi.  Anak-anak kita, yah anak-anak kita. Sepertinya mereka akan mendapat peran untuk mencoba eksperimen-ekperimen ini sebelum aku cobakan ke anak-anak lain di TK. Mungkin rumah kita akan menjadi semacam studio atau laboratorium mini yang di tiap sudutnya terdapat hasil karya baik gambar, lipatan kertas, guntingan kain, ataupun eksperimen-eksperimen sederhana dari botol atau kardus bekas. Hasil karya anak-anak ini tak selamanya menarik dilihat oleh orang dewasa. Namun proses pembelajarannya lah yang diutamakan. Jadi jangan protes yah ketika melihat guntingan anak-anak yang tidak rata atau lem berceceran dimana-mana.

Oh iya, akan ada masa dimana anak-anak suka sekali menggambar dan mencorat-coret dinding. Maka jangan marah jika nanti ada satu dinding rumah kita yang khusus digunakan untuk menampung corat-coretan si kecil. Biarkan mereka menuangkan imajinasinya. Dinding itu akan kita cat warna hitam serupa papan raksasa sehingga si kecil bisa menggambar sesuka hatinya disana. Mungkin ia akan menggambar buah, bunga, pohon, burung, pelangi, atau bahkan menggambar wajah-wajah kita – Ayah dan Bundanya-. Jangan marah pula jika merasa hasilnya tak mirip yah. Jika perlu akan kusediakan tangga yang aman sehingga ia bisa menggambar sisi atas dinding rumah. Tenang-tenang, tentunya saat menggunakan tangga ini ia berada dalam pengawasan kita, dibawahnya kita sediakan matras atau kasur kecil jadi ketika ia terjatuh masih bisa tertawa.

Sedang di depan rumah kita, aku ingin ada kebun mini tempat untuk anak-anak belajar mencintai tanaman. Aku akan mencoba menanam sayuran organik di kebun mini ini. Si kecil akan aku ajari cara bertanam cabe, bayam, kangkung, dan tomat. Selain sebagai wahana belajar, kebun ini sekaligus untuk memenuhi kebutuhan sayur organik yang mahal harganya. Lumayan kita manfaatkan masa tanam bergilir sehingga sesuai dengan menu sayuran sehat dirumah.

Belakang rumah kita, Hhhmmm, belakang rumah kita yah? Kita akan tinggal dimana? Sebenarnya aku berharap kita tinggal di rumah mungil yang berhalaman luas. Belakang rumah adalah tempat anak-anak belajar menyayangi binatang. Mungkin ada kolam kecil tempat mereka memelihara ikan mas koki dan kandang mungil tempat memelihara marmut atau kelinci. Tapi tolong jangan kucing, anjing, atau hamster.  Aku agak alergi dengan binatang-binatang ini. Bulunya ngeri ada dimana-mana, yang terakhir hamster suka berkembang biak tidak kira-kira. Kita ajarkan si kecil memelihara binatang sewajarnya saja yah. Sepasang binatang jantan dan betina. Jika sudah mulai beranak pinak lebih baik diberikan pada teman atau saudara saja. Itu satu lagi pelajaran untuk anak-anak tak berlebih-lebihan dan mau berbagi. Jika halaman belakang cukup luas sebenarnya aku suka jika anak-anak bisa memelihara kambing atau kerbau. Belajar menggembala sepertinya adalah salah satu cara anak dapat belajar lebih bijaksana. Lihat saja para nabi.  Mereka adalah penggembala handal di masa kecilnya.

Suamiku, jika engkau benar-benar menemukanku menjadi istrimu nanti. Hal kedua yang kuminta darimu adalah; perkenalkan aku pada guru TK-mu, yang membasuh ingus dan membersihkan kotoranmu. Apakah engkau masih ingat tempat tinggalnya? Aku akan membantumu mencarinya. Karena aku ingin bertanya, apakah engkau tipikal anak yang manja atau kalau menangis paling lama? Aku ingin berterimakasih, bahwa ia telah berkontribusi membentuk anak lelaki mungil itu menjadi lelaki hebat yang kukenal saat ini.

Kurasa cukup dua itu saja. Jika kau menemukanku menjadi istrimu nanti. Apakah hal-hal ini akan terasa berat engkau penuhi? Jika kau merasa berat maka tak perlu khawatir, aku tak akan menjadi guru TK. Aku akan menjadi guru PAUD saja… Hahahaha.

 – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Pengirim :

Nuril Eka

Alumni Psikologi – Universitas Indonesia

Social Change Divion – Rumah Perubahan Rhenald Khasali

|| tentang proyek menulis ceritaJika klik di sini

CeritaJika #52 : Jika Suamimu Seorang Koki

‘Ibu, jika besar nanti aku ingin jadi orang yang bisa bikin Ibu dan orang-orang di sekeliling aku bahagia. Seperti masakan yang aku buat untuk ibu hari ini’.

Itulah impian koki kecil saat pertama kali belajar memasak bersama ibunya dulu. Menjadi seorang yang dapat membahagiakan ibu dan orang-orang di sekelilingnya. Kini, koki kecil itu talah berubah menjadi seorang koki dewasa yang sesungguhnya. Seorang yang telah bertransformasi dengan memaknai kata “membuat bahagia” menjadi kata“bermanfaat”. Seorang yang bukan hanya dapat membuatkan makanan untuk ibunya saja, melainkan juga untuk para pelancong yang datang pada setiap pekannya. Menikmati karya, ilmu dan seninya berupa hidangan penuh selera.

Kini koki itu mengambil sedikit waktu luangnya untuk menuliskan arti diri sebagai lensa bagi pendamping hidupnya kelak melalui tulisan ini. Ya, untukmu. Untuk seseorang yang namanya masih Allah genggam untukku. Saat ini (dengan ketidak tahuanku), izinkanlah aku memanggilmu, Hai. Akulah ia, seorang koki. Kita adalah kalian dan kalian adalah kita. Hidup dalam kebersamaan dan kebahagiaan, kelak.

Dimanapun dan siapapun dirimu. Ada tanya yang hendak ia sampaikan, namun tak usah dijawab. Dan ada nyata yang ingin ia ucapkan, namun tak perlu disela. Hai, pernahkah terpikirkan olehmu, ternyata pendamping hidupmu adalah seorang koki? Apa yang akan kamu rencanakan untuk hidupmu, jika suamimu adalah seorang koki? Hai, apa yang pertama kali terbayang di benakmu saat mendengar istilah ‘koki’? Apa seorang yang berpakaian putih, celana hitam dengan celemek dan topi tingginya? Atau seorang yang hanya berkutat di dapur dengan alat dan bahan beserta bumbu masakan saja?

Seorang koki ternyata lebih dari itu. Menjadi seorang koki adalah menjadi seorang kepala keluarga seutuhnya. Seorang yang memiliki kemampuan merencanakan, pekerja keras dan pandai, cekatan dan pengertian serta memiliki jiwa romantis.

Seorang koki itu adalah seorang yang memiliki kemampuan merencanakan yang baik. Coba perhatikan saat ia menyiapkan alat, bahan dan bumbu ketika akan memasak. Penuh perencanaan dan pertimbangan yang matang. Ia akan menyiapkan dengan seksama alat dan bahan yang akan digunakan saat memasak. Begitupun bumbu yang ia siapkan. Penuh pertimbangan sesuai kebutuhan. Ia lakukan untuk mendapatkan hasil sesuai menu yang sudah ada. Tidak mungkin seorang koki mampu menghasilkan menu yang sudah ada, jika ia tidak memiliki kemampuan merencanakan yang baik. Pastilah ia memiliki kemampuan merencanakan tersebut. Hai, jika nanti kamu bersamanya, rencanakanlah hidup kalian dengan baik dan matang. Rencanakanlah tentang jumlah keluarga kalian, usaha dan penghasilan kalian serta pendidikan anak-anak kalian kelak. Tak usah ragu mempercayakan kepemimpinannya, karena ia seorang yang memiliki kemampuan merencanakan yang baik. Karena ia seorang koki.

Seorang koki itu adalah seorang yang pekerja keras dan pandai. Coba perhatikan saat ia berusaha mendapatkan bahan masakan yang harus ia siapkan untuk dimasak. Ia akan berjuang terus dengan mencari kemanapun sampai bahan yang ia maksud ditemukan. Namun, ketika saatnya bahan itu benar-benar habis, ia tidak kehabisan akal dan menyerah begitu saja. Ia pandai. Pandai memanfaatkan peluang yang ada. Begitupun peluang bahan lain untuk ia gunakan sebagai penggantinya. Sehingga pada akhirnya, menu masakan yang sudah direncanakan pun dapat diselesaikan dan dihidangkan dengan cita rasa yang sama seperti aslinya. Tidak mungkin seorang koki mampu menghasilkan hidangan sesuai cita rasa yang diharapkan, jika tidak memiliki jiwa pekerja keras dan pandai. Pastilah ia memiliki jiwa pekerja keras dan pandai tersebut.  Hai, jika tiba saatnya nanti, kamu akan menyaksikan ia begitu bekerja keras membahagiakan dirimu dan anak-anak kalian, tetaplah berada di sampingnya. Karena dengan begitu semangatnya akan bertambah kembali. Pun saat kalian menghadapi permasalahan, ia akan pandai mencarikan solusinya. Dan tetaplah berada di sampingya untuk selalu menjaga semangatnya.

Seorang koki itu adalah seorang yang cekatan dan pengertian. Coba perhatikan saat ia mempersiapkan segalanya, mulai dari mengiris, menggoreng, sampai menata masakan di piring, ia lakukan dengan cekatan. Cepat, tepat dan penuh kehati-hatian. Dibalik sikapnya yang cekatan itu, ia tetap penuh pegertian pada setiap perlakuannya terhadap bahan makanan yang ia masak. Ia akan menggunakan tepung berprotein tinggi untuk membuat hidangan pizza. Karena ia tahu hanya dengan sifat masakan itulah bahan dapat diperlakukan. Masakan tidak dapat dibuat dengan memaksakan keinginan si pembuatnya, namun masakan hanya akan dapat dibuat sesuai sifat masakan itu sendiri. Sehingga masakan akan dapat dihidangkan sesuai waktu dan kebutuhan yang telah ditentukan. Tidak mungkin seorang koki mampu menghasilkan hidangan sesuai waktu dan kebutuhan yang telah ditentukan, jika tidak memiliki sikap cekatan dan pengertian. Pastilah ia memiliki sikap tersebut. Hai, suamimu itu adalah seorang yang dapat kamu andalkan, karena ia adalah seorang yang cekatan dan pengertian. Mintailah bantuanya. Jadikanah ia merasa berguna. Karena dengan begitu akan lebih baik baginya. Pun saat ia merasa sibuk dengan prioritasnya. Namun ia akan selalu ada untukmu.

Seorang koki itu adalah seorang yang memiliki jiwa romantis. Coba perhatikan saat ia mulai menata garnish (hiasan makanan) di piring sajian hidangannya. Begitu cantik. Begitu indah. Ia akan menunjukka jiwa romantisnya pada sajian yang ia hidangkan. Dengan begitu, hidangan akan menjadi penuh selera untuk disantap. Tidak mungkin seorang koki mampu menghidangkan sajian yang penuh selera, jika tidak memiliki jiwa romantisme. Hai, jika tiba saatnya nanti kau bersamanya, tak usah heran saat banyak kejutan yang membahagiakan darinya. Karena ia adalah seorang yang romantis. Karena ia adalah seorang koki.

Sebenarnya masih banyak kemampuan yang dimiliki olehnya. Oleh seorang koki. Kemampuan itu tak akan diceritakan saat ini. Namun, akan kamu rasakan saat kalian telah berucap janji dan menjalani kehidupan bersama-sama. Tentang dirimu. Tentang dirinya. Tentang kalian.

Dibalik semua kemampuan yang ia miliki, kamu juga harus ingat bahwa ia adalah seorang koki biasa sama seperti manusia lainnya. Seorang yang memiliki kekuranan. Seseorang yang akan mengalami fase kekhilafan. Dan saat itulah perananmu untuk melengkapi kekurangan tersebut dengan mengingatkannya agar tidak kembali terjadi. Jadilah co-koki (pendamping koki) yang bisa menyempurnakan masakan di setiap menunya. Jadilah pendamping hidupnya yang akan senantiasa satu visi dan misi menuju ke arah yang lebih baik, bersamanya kelak.

Layaknya selera dalam menikmati masakan, akan ada saatnya selera kalian berbeda. Akan ada saatnya pandangan dan prinsip kalian dalam menyikapi permasalahan itu berbeda. Namun, bukan hal yang perlu diperdebatkan. Karena  masakan diciptakan dari berbagai bumbu yang memiliki beberapa rasa. Pun dinikmati untuk berbagai bagian lidah yang berbeda sesuai kemampuan pengecapannya. Masakan itu akan terasa nikmat jika ada berbagai macam rasa di dalamnya. Ada rasa manis, asam,asin, pahit dan umami (gurih). Jika hanya ada satu rasa saja, maka akan terasa hambar. Begitupun selera pandangan kalian, nanti. Dengan perbedaan tersebut akan terasa indahnya hidup. Perbedaan tersebut akan lenyap dengan dinikmati. Dikunyah dan ditelan, layaknya selera makanan yang kalian rasakan.

Saat suara ayam berkokok membangunkamu di pagi hari nanti, kamu tidak usah heran jika udara pagi yang kamu rasakan bercampur dengan aroma gurih. Karena itu adalah aroma masakan yang telah ia siapkan untukmu. Hai, jika nanti tiba saatnya kamu sedang bersusah payah dengan kondisi kehamilanmu untuk berjalan menuju meja makan, tidak usah terkejut  saat meja makan sudah ia hias dengan ayam goreng balado kesukaanmu. Hai, jika nanti tiba saatnya kau terbaring sakit sementara, ia lah yang akan meniupkan dan menyuapi sop bakso (dengan sedikit merica) kesukaanmu.

Sayangilah juga ia. Kamu harus tahu bahwa ia adalah seorang yang tidak ingin disayangi karena apa adanya. Tetapi, ia ingin disayangi karena kamu memberikan tuntutan baik untuk diperjuangkan. Seperti halnya perjuangan dalam menghidangkan masakan. Hai, koki sejati itu tidak akan membuang-buang makanan yang tersisa. Seperti halnya saat ia bersamamu. Ia tidak akan membuang-buang waktu hidupnya yang tersisa hanya untuk tidak membahagiakanmu. Seperti impiannya saat menjadi koki kecil dahulu.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Pengirim :

Babang Yusup

Alumni Ilmu Gizi – IPB 2009

Technical Service(Bakery) PT. Pundi Kencana)

|| tentang proyek menulis ceritaJika klik di sini

CeritaJika #51 : Jika Istrimu adalah Seorang Anak Broken Home

 

Sedari kecil aku tak pernah mengenal sentuhan seorang Ibu. Dia adalah wanita karier yang karena ambisinya membangun sebuah rumah megah sanggup merelakan perpisahan denganku dan ayahku. Inilah mengapa aku tak pernah merasa nyaman tidur di pelukannya, hingga saat ini. Bukan aku tak rindu pelukannya. Aku justru sangat merindu. Tapi aku lupa rasanya pelukan hangat seorang ibu.

Sewaktu kecil, aku sering iri melihat kawan-kawanku yang segala perlengkapan sekolahnya dipersiapkan oleh seseorang wanita yang dipanggil “ibu”. Tak jarang pula, masih banyak kawan-kawanku yang diantar ibunya hingga gerbang sekolah. Sementara aku? Bahkan untuk melihatnya sebulan sekali terasa seperti barang mewah. Aku hanya bisa menelan ludah dan menyembunyikan air mata saat melihat keiriian. Dendamku pada ibuku. “Aku tak membiarkan anakku merasakan yang kurasakan. Aku akan membangunkan anak-anakku dengan menciumnya dengan lembut. Sementara anak-anak mempersiapkan dirinya ke sekolah, aku akan menyiapkan bekal makanannya. Aku tidak akan mengantarkannya sampai ke gerbang sekolah, aku takut ada “aku” lain yang akan iri melihat kemesraan kami. Namun, akan akan mewanti-wanti padanya untuk berhati-hati dan belajar dengan sungguh-sungguh.

Waktu yang selalu aku benci adalah  saat pengambilan rapor. Laporan kemajuan belajar itu bagiku sama sekali tak berarti. Juara pertama di kelas tak mampu menarik perhatianya untuk menyisihkan waktunya sekadar satu jam berkumpul dengan orang tua murid kawan-kawanku. Tak jarang, saat pengumunan juara, di antara aku dan kawan-kawanku yang mendapat juara hanya aku yang berdiri sendiri tanpa didampingi orang tua. Aku dendam lagi kepada ibuku. “Aku berjanji tak kan membiarkan anakku kelak merasakan yang aku rasakan. Aku akan memberi perhatian untuk setiap kerja kerasnya yang membanggakan. Aku akan selalu memberi pujian untuk semua pencapaiannya, pun itu mungkin tak berarti untuk orang lain”

Obrolan yang aku benci denganya adalah saat kami membicarakan bapak. Orang yang kini telah menjadi “mantan” suaminya tetapi sampai kapan pun akan akan bapak bagiku. Sosok bijak yang ternyata tak mampu bersikap bijak jika itu menyangkut ibu. Tak sedikit pun ada hal menarik yang dia ceritakan tentang bapakku. Aku hanya diam. Aku tak mau menyanggah. Bagiku akan sia-sia. Sepertinya, ibu lupa pernah sangat mencintai bapakku. Dan aku kembali dendam. “Aku tak kan berbicara seperti ini kepada anakku kelak. Hal semacam ini bukan membuatku membenci seorang bapak, justru aku akan membenarkan langkah bapak meninggalkannya. Bagaimana mungkin, seorang yang mencintai lupa banyak kebaikan pasangannya?

Anakku kelak akan kuberi banyak cerita mengapa aku akhirnya memilih ayahnya. Betapa dia gigih membuktikan cintanya. Betapa dia sabar menyadarkanku bahwa perkawinan bukanlah hal menakutkan. Betapa dia tak pernah lupa memberi semangat kepadaku bahwa aku dapat menjadi ibu seperti yang kuimpikan”

Jika orang tuamu masih meragukanku menjadi ibu untuk anak-anakmu kelak, sampaikan dendamku ini kepadanya. Jika dia masih menyangkal dan mengatakan “tak ada buah yang jatuh jauh dari pohonnya”. Katakan padanya, bahwa aku adalah buah yang tak sempat jatuh, karena pemilik pohon itu memetikku dan segera membawaku pergi.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

pengirim :

Susana Devi Anggasari

Pendidik Bahasa dan Sastra Indonesia – Alumni PBSI UNNES 2007

|| tentang proyek menulis ceritaJika klik X

CeritaJika #50 : Jika Suamimu Seorang Anak Yatim

Bagaimana jika suamimu seorang yatim? Ditinggal Ayah kepangkuan-Nya sejak kecil memang bukan hal mudah untukku.
Aku harus terbiasa tak berucap kata ‘Ayah’, kata yang sesungguhnya sangat rindu kuucapakan. Aku juga harus terbiasa bangun sendiri kala jatuh dari sepeda sementara Ibu sibuk memasak di dapur.

Orang bilang kehilangan Ayah itu bagaikan kehilangan prinsip hidup, kehilangan Ibu bagaikan kehilangan kasih sayang. Tak sepenuhnya benar memang, namun tak sepenuhnya salah juga.

Kau pasti tahu bagaimana perasaanku ketika pertama kali datang menghadap Ayahmu saat aku melamarmu kan? Aku terlihat gugup, canggung, karena aku berbicara pada Ayahmu, calon Ayahku kelak.

Tak perlu khawatir aku tak bisa memimpin keluarga kecil kita, tak perlu khawatir aku tak bisa memberikan nasihat-nasihat bijak kepada kamu dan anak kita. Kehilangan sosok Ayah bukan berarti kehilangan segalanya, justru aku bisa lebih banyak belajar dari lingkunganku, dari berbagai perspektif.

Tak perlu khawatir aku tak bisa menjadi problem solver dalam keluarga kita, kita bisa sama-sama meminta jalan keluar kepada Allah. Lebih baik bukan? Tak perlu khawatir aku tak sigap menggambil keputusan, nyatanya memutuskan untuk mengarungi hidup bersamamu merupakan keputusan terbaik yang aku buat.

Kehilangan Ayah bukanlah kehilangan segalanya. Keadaan ini justru menuntutku untuk jauh berpikir lebih dewasa dan mandiri. Denganku, kau tak perlu khawatir istriku.

– – – – – – – – –  – – – –  – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Azhari Fauzan

Mahasiswa Sastra Rusia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

Universitas Indonesia

|| tentang proyek menulis ceritaJika klik X

CeritaJika #49 : Jika Istrimu Seorang Anak Bungsu

Anak terakhir atau familiar disebut bungsu. Dengan status tersebut dikeluarga, memang akan kau temui sosok manja karena kaya limpahan kasih sayang. Kehadirannya akan selalu dirindukan. Sosok anak kecil yang tak pernah dewasa, padahal selalu mati-matian berusaha mematahkan asumsi tersebut.

Karena menjadi bungsu, maka kau akan berhadapan dengan orangtua yang sangat selektif dan sulit melepas anak perempuannya. Hingga (mungkin) kau akan membiasakan diri hidup lebih dekat dengan mertuamu.

Karena menjadi bungsu, membuatnya tak terbiasa susah. Maka kau akan menyaksikan bahwa dia selalu ingin berada di zona ternyaman. Memastikan kelak masih tidur di kasur yang nyaman, makan enak, berpakaian bagus, fasilitas yang memadai.

Karena bungsu memang terkadang sangat menggantungkan segala sesuatu kepada orang yang nyaman baginya, bersiaplah kau memberikan waktumu untuknya. Memberikan tangan dan kakimu untuk membantunya bahkan sekedar untuk mencari sesuatu yang ia lupa menyimpannya.

Tapi percayalah, sebagai bungsu yang kemudian akan menyandang status istri, dia akan menjadi sebenar-benarnya seorang ibu dan istri. Ibu yang baik yang mengajari, mendidik, dan melimpahkan kasih sayang seperti yang diterimanya, kepada anak-anaknya, yaitu anak-anakmu.
Sosok yang loveable dan ceria adalah penghangat di tengah keluarga, penebar tawa. Dia pendengar yang baik dan komunikatif, kau akan nyaman mengobrol banyak hal sebelum waktu tidur tiba.

Percayalah, seorang perempuan bungsu akan menjatuhkan pilihan ke orang yang membuatnya nyaman dan tenang. Sama seperti jika dia berada di tengah keluarganya. Maka dia akan memiliki kesetiaan yang luar biasa.

Karena bungsu, memiliki wawasan luas dan terdepan, karena dia punya guru tambahan dan berkaca dari pengalaman kakak-kakaknya. Dia bahkan berusaha tidak menuntut melebihi dari apa yang suaminya mampu berikan.

Karena bungsu yang kau akan  temui, dia yang mencintai kebebasan, tidak suka didominasi. Tapi tenanglah, selama kau menghargai dan memberi kepercayaan, dia akan sangat menjaga kepercayaan itu dan tidak lari dari tanggungjawab dan kewajibannya.

Asal kau mampu menjadi imam yang baik dan penyayang keluarga, dia akan menghormatimu sebagai cinta yang akan menuntun dia dan keluarganya sampai ke surga.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

pengirim :

Netty Utami

Pendidikan Biologi STKIP Persada Khatulistiwa
Sintang, Kalimantan Barat

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Tentang proyek menulis ceritaJika, silakan klik di sini