CeritaJika #48 : Jika Istrimu Seorang Broadcaster

Memilih masuk ke dalam industri media artinya telah menyerahkan jiwa dan raga untuk dunia. Mengapa? Karena media memiliki tanggung jawab yang besar atas berubahan dan perkembangan zaman di dunia ini. Jika istrimu seorang kuli media, hal yang kufikirkan pertama kali untuk kusarankan adalah kamu harus bangga. Bangga di sini bukan perkara dia memakai pakaian seragam yang menurut banyak orang awan itu sesuatu yang keren. Bangga di sini karena istrimu telah cukup banyak melihat dunia secara langsung. Setidaknya ini bekal baik untuk mendidik anak-anakmu kelak.

Kuli-kuli media bekerja 24 jam dalam seminggu dengan waktu istirahat yang tidak pasti. Jangan heran kalau kami tidak seperti wanita kantoran yang cepat mengeluh karena penat, bukan karena kami tomboy, tapi kami sadar kami harus kuat dan berani. Kami bekerja tidak hanya menggunakan tenaga, tapi fikiran kami di-push untuk lebih cepat dan tanggap dalam setiap bekerja, bahkan ketika kami sedang harus mengeluarkan otot dalam proses produksi, kreativitas kami tetap harus berjalan dengan batas yang disebut deadline. Kami multitasking. Kami tidak bisa mengeluarkan hal yang asal-asalan, kami harus banyak meriset, harus membuka fikiran, harus membuka ruang, membuka pergaulan untuk mencari ilmu langsung, kami diberikan tanggung jawab untuk mencerdaskan bangsa melalui sebuah sajian. Tolong jangan marahi kami ketika kami sampai di rumah nanti kami ingin dimanja dan dipeluk, bukan karena kami cengeng, tapi kasih sayang dan perhatian keluarga adalah obat terbaik untuk me-refresh otot dan otak kami. Di luar kami memang kuli, berjuangan tidak ingin dikalahkan oleh emosi dan keluh. Namun di rumah kami tetaplah seorang wanita, seorang istri yang butuh diperlakukan lemah lebut dan menjalani segala perintah suami.

Untuk zaman sekarang, kami bekerja di pertengahan garis. Bekerja untuk perusahaan yang membayar kami untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dari rating- share, dan bekerja untuk rakyat yang membutuhkan kami, butuh dihibur dan dicerdaskan. Fungsi kami bukan hanya sekedar membuat sajian siaran yang menghibur dan mengedukasi, dunia penyiaran ditujukan pula untuk kepentingan publik. Jadi jangan cemburu kalau ada suatu waktu istrimu cukup banyak lebih meluangkan waktu untuk pekerjaannya. Kami ingin memberikan yang terbaik untuk negeri ini, untuk menjadikan negeri ini lebih baik lagi, dan kita (aku, kamu, dan anak kita) juga bagian dari negeri ini.

Kami berjalan mencari celah ke setiap pelosok wawasan dan anak-anak ilmu pengetahuan agar apa-apa yang kami sajikan adalah hal baru yang dapat mencerdaskan penonton. Jangan takut anakmu akan kekurangan wawasan, ibunya adalah pengatur panggung lakon yang dieluh-eluhkan setiap masyarakat. Jangan takut anakmu akan kekurangan perhatian, ibunya adalah pemerhati setiap detak detik roda dunia yang memiliki sebab akibat. Jangan khawatir dia akan melupakanmu, karena sekuat-kuatnya wanita, kamu yang telah dipilihnya adalah tempat terbaik, selimut paling hangat, lengan paling kuat untuk melindunginya, jari paling lembut untuk menghapus dukanya, dan figur yang paling bisa diandalkan untuk mengatur hidupnya. Keluarga adalah surga dunia untuk anak-anak media.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

pengirim :

Imelda Maizardi Idrus

Broadcasting – Universitas Indonesia 2010

Creative Global TV

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Tentang proyek menulis ceritaJika klik di sini

Cerita Jika #47 : Jika Suamimu Seorang Anak Laki-laki Satu-satunya di Keluarganya

Menjadi anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga bukanlah perkara yang mudah dalam menjalani kehidupan, ada sebuah tanggung jawab yang harus dipikul. Mungkin dulu saat belum dewasa hal itu tidak menjadi masalah, namun ketika sudah dewasa dan anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga menjadi ‘beban’ tersendiri. Terlebih memilki saudara yang banyak, ekonomi pas-pasan.

Mungkin setelah menikah dengannya kamu akan merasa tidak suka, karena kamu merasa dia pilih kasih. Uang belanja bulananmu yang dia berikan mungkin kurang, karena dia harus memberikan sebagian gajinya untuk keluarganya. Ia harus membayar uang kuliah adiknya, memberikannya kepada orang tuanya yang sudah tak mampu lagi untuk bekerja karena sudah tua, membatu kakak-kakaknya yang ekonominya pas-pasan.

Mungkin kamu akan bosan mendengar kata “maaf” karena dia telah memberikan sebagian gajinya diam-diam kepada keluargnya. Mungkin kamu akan bosan dengan makanan sehari-hari yang sederhana karena uang belanja kurang. Mungkin kamu akan bosan mendengar kata “sabar” ketika kamu ingin beli suatu barang, karena sisa uang gajinya tak cukup.

Mungkin kamu juga akan mengadu kepada orang tuamu dan protes kepadanya kenapa yang selalu dia bahagiakan lebih banyak keluarganya, sementara keluargamu, hanya sesekali saja. Menjadi anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga bukanlah perkara yang mudah. Apalagi dengan saudara yang banyak dan ekonomi pas-pasan. Dia harus bertanggung jawab terhadap mereka, ayahnya sudah tua, tak mampu lagi mencari nafkah untuk keluarga. Biarlah beliau menikmati masa tuanya dengan damai bersama ibu. Mungkin dia satu-satunya harapan bagi mereka, karena hanya dia satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga. Mungkin dia satu-satunya juga anak yang dapat mengenyam bangku kuliah karena dia anak laki-laki.

Mungkin dia sedang  menjalankan amanat ayahnya, bahwa dia anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga, yang nantinya akan menggantikan posisi ayahnya dalam keluarga. Nanti suatu saat jika saudara-saudarnya sedang ada masala kepadanya lah tempat mereka bercerita, karena dia anak laki-laki. Menyekolahkan adiknya setinggi-tingginya jadi tidak hanya dia yang menikmati bangku kuliah. Serta menjaga kedua orang tuanya karena mereka sudah tua. Dialah harapan bagi mereka semua.

Mungkin kamu menyesal memilihnya, karena kebahagiaan yang kamu harapkan harus dia bagi untuk keluargnya. Mungkin dia juga malu selalu meminta maaf untuk keluargamu karena hanya sesekali berbagi kebahagiaan untuk mereka. Mungkin bukan maksudnya ingin membeda-bedakan karena selagi bisa dan mampu anak lelaki bertanggung-jawab atas ibunya dan sekiranya dia tidak menjalankan tanggungjawabnya maka dosa baginya. Jadi selagi Ibunya, orang tuanya masih hidup dia ingin membahagiakan mereka. Bagaimana mungkin dia yang dibesarkan dengan jerih keringat mereka, setelah sukses dia lupa membahagiakan mereka. Tapi percayalah, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanmu. Karena kewajibannya sebagai laki-laki dalam rumah tangga tidak hanya menanggung dosanya sendiri tapi juga dosa seorang isteri, dosa anak perempuan yang belum nikah dan dosa anak lelaki yang belum baligh.

Dia hanya butuh pengertianmu sebagai istrinya, jika suami seorang anak laki-laki satu-satunya di keluarganya.

 – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

 pengirim :

Muhammad Fahmi Trisnadi

Akuntansi – STAN

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Tentang proyek menulis ceritaJika klik di sini

CeritaJika #46 : Jika Istrimu Seorang Mahasiswi Farmasi

Seringkali kau membayangkan bahwa istrimu adalah seseorang yang telah memiliki titel-gelar-atau profesi. Tapi pernahkah kau membayangkan bagaimana jika istrimu masih menjadi mahasiswi di salah satu perguruan tinggi? Pernahkah kau membayangkan bagaimana jika istrimu yang masih muda ini adalah mahasiswi jurusan Farmasi?

Jika istrimu seorang mahasiswi Farmasi, mungkin ia akan menjadi istri yang tiap harinya bergadang demi menyelesaikan tugas kuliah dan membuat laporan berbagai praktikum dengan deadline yang sangat ketat. Jangan heran jika kau mendapatinya dengan mata sayu, berkantung, dan terlihat lelah. Tapi percayalah, manakala kau terbangun dan mengajaknya mendirikan sholat malam di tengah ketidaksadarannya, mata sendunya akan berubah dan bercahaya, raut wajah lelahnya akan berubah menjadi rona berseri karena bahagia manakala engkau mengajaknya agar sadar waktu dan bermesraan dengan Sang Pencipta.

Mungkin istrimu akan sering pulang malam manakala ada beberapa praktikum yang menyita waktu. Saat kau meneleponnya, mungkin dia sedang di laboratorium demi bergulat dengan senyawa atau menaklukan formulasi obat. Jangan heran jika saat dia pulang kau tidak mendapatinya dalam keadaan harum, melainkan dengan bau senyawa-senyawa kimia laboratorium. Bisa jadi bau itu biasa saja, atau bahkan baunya menyengat yang menyebabkan engkau enggan mendekatinya. Jangan heran jika dia sangat teliti memperlakukan tikus. Bukan karena dia mencintai binatang yang bisa jadi kau jijik terhadapnya, semata-mata dia lakukan demi penelitian yang pada akhirnya ingin dia baktikan pada masyarakat. Jangan marah jika saat ia pulang kau dapati baju yang baru saja kau belikan dengan tabunganmu malah kotor dengan warna-warna tak jelas. Bisa jadi baju itu terkena perak nitrat, carmine, atau terkena ekstak saat dia di laboratorium bahan alam. Percayalah, dia sangat ingin berhati-hati dan sangat menyukai pemberianmu, tapi terkadang keteledorannya yang membuat ini semua. Jangan merasa jijik manakala wajahnya tiba-tiba berjerawat atau kulitnya memerah, ia tidak terkena kutukan, bisa jadi ia terkena paparan senyawa berbahaya ataupun terinfeksi bakteri saat ia di laboratorium mikrobiologi.

Jika istrimu mahasiswa farmasi, di tengah kesibukan kuliah, praktikum, laporan, dan mungkin tugas akhirnya – percayalah bahwa ia selalu mengingatmu. Dia tahu kewajibannya sebagai istri, memperlakukan tikus dengan baik jelas tidak lebih dia utamakan dibanding memperlakukan suami dengan baik. Meskipun ia sibuk dengan kesibukan yang mungkin belum kau mengerti, percayalah bahwa ia selalu memperdulikan dan mencintaimu. Jangan heran jika dia rewel memintamu menghabiskan antibiotik saat kau terinfeksi bakteri. Jangan heran jika ia akan mengatur pola makanmu berdasarkan golongan darah ataupun berdasarkan jenis risiko penyakit yang sedang atau mungkin akan kau derita. Perlu kau tahu, meskipun ia pandai meracik obat dengan takaran yang pas, tapi belum tentu ia dapat memasak dengan bumbu yang pas. Namun, ia akan terus belajar memasak demi melihat senyummu, dan melihat kau sehat bugar. Sesekali mungkin kau akan merasa kesal karena di malam hari, setelah menghabiskan makan malam ia akan melarangmu tidur langsung. Ia akan memintamu untuk bersama dengannya barang beberapa jam. Selain karena ingin mendengar kisahmu hari ini, ia ingin memastikan agar kau terhindar dari risiko diabetes. Pun jangan kesal manakala ia sesekali jahil menyembunyikan remote saat kalian menonton. Dia hanya ingin kau sedikit bergerak ke layar televisi untuk memindahkan saluran, sekali lagi percayalah bahwa ia melakukan ini demi kesehatanmu.

Jika istrimu mahasiswi farmasi, percayalah bahwa namamu akan tercantum di setiap kata pengantar tugasnya termasuk tugas akhirnya. Ia akan selalu memastikan kesehatanmu, menyediakan makanan sehat, dan menjadi dokter-perawat-apoteker-ahli gizi pertama bagimu. Jika istrimu mahasiswi farmasi, jangan heran jika saat ia membuka tabungannya dan ingin membelikan sesuatu untuk orangtuamu yang menjadi mertuanya. Ia akan membelikan buah-buahan atau nutrasetikal demi menjaga kesehatan orang-orang yang kau cintai. Jika istrimu mahasiswi farmasi, di tengah kesibukan praktikumnya yang menyita waktu, percayalah bahwa waktu yang paling ia cintai adalah beberapa jam yang ia habiskan bersamamu dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai istri. Meskipun istrimu kadang terlihat aneh karena sering berinteraksi dengan instrumentasi analisis ataupun dengan tikus. Percayalah bahwa saat ia lelah di laboratorium ia ingin kau juga ada di sana untuk memberi dukungan dan kekuatan baginya. Jangan heran jika sesekali ia akan memberikanmu kejutan dengan kalung obat-obat, buku catatan yang terlihat seperti buku resep, atau mungkin dia akan menjadikan namamu sebagai nama obat baru yang ia formulasikan.

 – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

pengirim :

Dilla Wulan Ningrum

Mahasiswi Farmasi Universitas Padjadjaran

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

CeritaJika project : klik di sini

Akhirnya, setelah proyek menulis ceritaJika sempat berhenti beberapa hari karena kesibukan persiapan wisuda. CeritaJika dimulai lagi, terima kasih kepada teman-teman yang sudah mengirimkan dan berbagi cerita-ceritanya. Selamat membaca dan berbagi 🙂

CeritaJika #45 : Jika Suamimu Seorang Konselor

Kebanyakan laki-laki tidaklah sepertiku. Mereka terlihat gagah dengan profesi yang disandangnya. Profesi yang sampai saat ini sarat akan stereotip gender maskulinitas seperti dokter, pilot, arsitek, teknisi, dll. Sedangkan aku adalah seorang konselor.

Aku tidak tahu apakah ada seorang perempuan yang menginginkan aku untuk menjadi teman hidupnya yang akan selalu menghiasi setiap waktunya. Aku tidak tahu apakah ada seorang perempuan yang memiliki cita-cita memiliki suami seorang konselor. Entah adakah hal yang bisa dibanggakan dari profesiku ini yang membuat hati perempuan terpikat.

Duhai perempuan yang kelak menjadi istriku,

Aku ingin kamu mengerti bahwa tugasku sebagai konselor kadang membuatku lelah karena harus benar-benar mendengarkan permasalahan konseliku. Terkadang juga aku frustasi saat aku harus menginterpretasikan dan menganalisis semua asesmen yang telah aku lakukan pada konseliku. Maaf jika saat aku pulang, aku lebih banyak diam dan bahkan seperti tak mendengarkan perkataan atau keluh kesahmu. Kamu tak perlu marah kepadaku karena aku tak menghiraukan ceritamu. Mengertilah bahwa aku pun ingin bercerita mengenai hari-hariku yang tidak selamanya menyenangkan. Saat kamu melihat diriku sangat lelah dan bingung, cobalah peluk aku agar aku dapat lebih tenang. Percayalah bahwa aku telah memilihmu karena aku mau kita bisa saling bercerita tentang hari kita. Percayalah bahwa aku selalu berusaha mengertimu lebih dari usahaku untuk mengerti konseli-konseliku.

Mungkin sering kali kamu melihat diriku disibukkan dengan membaca banyak refrensi yang berkaitan dengan permasalahan konseliku. Lalu seketika aku mendapatkan jenis pendekatan atau teknik konseling yang ccock untuk konseliku buku itu berantakkan belum sempat aku bereskan pada tempatnya. Maafkanlah jika aku sering membuatmu merapikannya. Aku mohon kamu ikhlas mengerjakannya. Namun jika kamu lelah, ingatkanlah aku untuk merapikannya atau mungkin kita bisa sama-sama merapikan buku-buku itu bersama sambil kita bercerita sambil diselingi candaa, rangkulan, pelukan kecil saat kita merapikannya.

Duhai perempuan yang kelak menjadi istriku,

Tugasku sebagai konselor dituntut untuk memiliki banyak pergaulan. Semakin banyak dan bervariasi teman yang aku miliki, aku dapat memiliki banyak gambaran dan dapat mengerti banyak hal saat konseliku bercerita kepadaku. Jadi wajar jika aku selalu ingin terus menambah daftar pertemananku dari berbagai kalangan, profesi, budaya dan latar belakang. Aku mohon kepadamu bila saat aku sedang berkonsultasi atau mengobrol dengan teman-temanku, tolong janganlah kamu mencurigaiku secara berlebihan. Jika memang ada sikapku yang menurutmu kurang berkenan, ingatkanlah aku bahwa aku telah memilihmu untuk menjadi teman hidupku yang paling setia untukmu selamanya.

Konseli yang datang padaku juga tidak selamanya laki-laki. Kamu tahu kan bahwa populasi perempuan saja jelas lebih banyak ketimbang laki-laki. Sangat mungkin jika terdapat konseliku yang berjenis kelamin perempuan. Kemungkinan juga dia terlihat lebih cantik dan menawan atau terlihat lebih muda disbanding dirimu. Aku tahu kamu akan sangat ‘gerah’ jika aku harus mengadakan sesi pertemuan dengannya. Mulai saat aku membangun raport dengannya sampai akhirnya seluruh sesi konseling selesai dilakukan. Berilah aku kepercayaan bahwa aku tak akan melukai hatimu dengan berpaling kepdanya. Pada kode etik profesiku saja sudah dilarang jika terdapat perasaan seperti itu saat proses konseling. Kode etik itu ungkin bisa saja aku langgar, tapi janjiku padamu saat aku melamarmu dan menikahimu akan selalu ku coba jaga dan menepatinya karena saat aku meminangmu pastilah aku telah membuat kesepakatan dengan diriku sendiri untuk konsisten dengan apa yang sudah aku pilih, yaitu kamu, sayang.

Duhai perempuan yang kelak menjadi istriku,

Sebagai konselor, aku mengerti mengenai tugas-tugas perkembangan manusia sejak ia lahir sampai meninggal, mengenai perkembangan fisik, mental, kecerdasan, orientasi seksual, gender, kematangan karier dan lain-lain. Karena hal seperti itu adalah mata kuliah yang sudah ku tempuh selama di universitas. Jadi jika aku sedikit mendebatmu saat kita membesarkan buah cinta kita, percayalah karena aku bukan ingin menjadi lebih baik darimu di mata mereka. Aku hanya ingin anak-anak kita tidak mengalami hambatan yang besar pada tugas perkembangan di usianya. Aku tahu naluri keibuan hanya dimiliki olehmu, tapi aku ingin kita bisa menjadi tim yang super saat kita mendewasakan anak-anak kita.

Duhai perempuan yang kelak menjadi istriku,

Bantulah aku mengasah kemampuanku. Kemampuanku untuk mengerti dan peka terhadap perasaan yang terkandung pada setiap masalah yang kamu utarakan padaku. Jika aku salah mengerti atau salah meresponnya. Janganlah jadi perempuan kebanyakan yang hanya diam atau jika ku tanya “kamu kenapa?” hanya dijawab “tidak apa-apa”. Aku belajar membaca Bahasa tubuh seseorang sewaktu kuliah, jadi saat aku mendengar kata itu dengan raut wajah yang tidak konsisten dengan kata “tidak apa-apa”mu aku tahu bahwa ada “apa-apa” yang kamu sembunyikan dariku.

Mengertilah bahwa setiap hubungan dua insan sangat memerlukan komunikasi yang terjalin dengan baik. Bukan hanya pada sebuah hubungan suami dan istri, hubungan pertemanan dan persahabatan pun butuh komunikasi. Aku memohon kepadamu untuk saling terbuka, Jelaskan saja jika ada hal yang mengganggu perasaan dan pikiranmu. Mengertilah bahwa kamu bukan menikahi seorang peramal. Aku hanya konselor yang mencoba menginterpretasikan perasaan melalui bahasa verbal dan nonverbal. Aku ingin tak ada hal yang kamu tutup-tutupi atau kamu rahasiakan dariku. Terbuka saja denganku, suamimu. Mari kita berbagi rahasia tentangmu dan tentangku, lalu kita rahasiakan ini hanya berdua saja ya, sayang. Tapi maaf aku tidak mungkin memberitahukan rahasia konseliku, karena itu bukan rahasia tentangku. Pahamilah, profesiku sebagai konselor memiliki amanah yang begitu besar untuk menjaga kerahasiaan. Percayalah apa yang aku tidak aku ceritakan tidak ada sangkut pautnya dengan rumah tangga kita.

Duhai perempuan yang kelak menjadi istriku,

Jika aku banyak membantu konseliku membantu mengetahui dirinya, menerima dirinya, mengembangkan dirinya dan mengatasi masalahnya, bantulah aku untuk memahami diriku dan mengoptimalkan potensiku dan satu hal yang harus kamu tahu. Aku memilihmu untuk menjadi istriku agar kita bisa saling memahami diri kita dan saling membantu mengatasi permasalahan kita bersama. Lalu kita asuh buah hati kita dengan pola asuh yang dapat mengoptimalkan potensinya. Karena ku yakin dengan bersamamu, semuanya akan baik-baik saja. Karena bersamamu aku akan mencapai kebahagiaan dan aktualisasi diri bersama.

———————————————————————-

pengirim :

Ardo Trihantoro

Mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling 2011, Universitas Negeri Jakarta

ceritaJika project : X

CeritaJika #44 : Jika Istrimu Seorang ‘Urban Regional Planner’

Dear lelaki yang akan menjadi suamiku.

Aku adalah seorang planner, mungkin kamu belum begitu tahu profesiku ini. Aku adalah seorang yang menggunakan ilmu untuk merencanakan wilayah dan kota, termasuk bagian administrasi lebih besar atau kecil lainnya. Aku adalah bagian dari engineer, ya “kerjaku” seperti engineer lainnya. Begitulah deskripsi singkat profesi ku, tapi mungkin tak begitu mudah untuk memahami “keterbiasaan” ku nanti.Jika istrimu seorang Planner maka pahamilah ini.

Aku termasuk wanita yang akan berlama-lama duduk menghadap  layar laptop. Tangan kananku memang mouse dan tatapan mataku fokus pada kotak-kota persil peta yang ku buat untuk wilayah yang akan aku rencanakan. Di meja kerja ku akan banyak kertas-kertas ukuran A3 hingga A0 yang berwarna warni menggambarkan peta analisisku tentang suatu wilayah. Maklumilah nanti jika akan begitu banyak coretan hasil analisisku atau desain rencanaku yang berjatuhan dilantai.

Aku adalah wanita yang terbiasa tidur larut malam atau jika sedang buruknya, mungkin aku tidak tidur bermalam-malam. Tidak sayang, aku bukan wanita yang tidur larut malam karena sedang menonton youtube atau menonton film korea, atau hanya untuk mengupdate sosial media. Aku adalah wanita yang sibuk mengetik di keyboard laptop membuat ratusan lembar deskripsi, analisis, hingga rencana yang menjadi “kebanggaan” ku kelak jika terealisasi. Ngantuk? tentu saja, sejak awal kuliah hingga sekarang, teman baik ku bergadang adalah kopi, kadang tidak secangkir, melainkan bercangkir-cangkir. Maksudnya tidak lain agar aku tetap terjaga, iya, itu tidak sehat bukan? karena itu aku meminta, jika istri mu seorang Planner jadilah teman baiknya untuk bergadang nanti, “jadilah” secangkir kopi yang membuatnya terjaga dan tertawa.

Aku adalah wanita yang terbiasa hidup dibawah tekanan deadline, mungkin terlihat aku tidak bisa memanajemen waktuku,karena pagi sampai malam banyak kuhabiskan untuk pekerjaan.  Tapi sebenarnya justru aku ingin menghargai waktu untuk menyelesaikan tanggung jawabku, tanggung jawabku menata kota-kota itu.

Jika istrimu seorang Planner. Mungkin nanti tak jarang kau lihat istrimu memegang kepalanya dengan kedua tangannya, bertumpu diatas meja, sambil kepalanya menunduk, jidatnya berkerut, lalu dia menghela nafas panjang. Mungkin dia sedikit berbicara, lalu lebih banyak diam, tak jarang dia mengucek kedua matanya dengan telapak tangannya, mengertilah.. Sedang ada beban pikirannya, mungkin rencananya tidak sejalan dengan realisasinya, mungkin konsep dan penataan yang direncanakan tidak sejalan dengan pemimpin “wilayah dan kotanya” atau mungkin dia sedang berada dibawah tekanan politik -yang paling dihindari dari planner- karena akan mempengaruhi perencanaannya, perencanaan yang bukan  didasarkan pada kebutuhan kotanya, melainkan kebutuhan penguasanya, bahkan perencanaan yang bisa menjadikan wilayah dan kota tersebut menjadi yang bukan semstinya.

Jika istrimu seorang Planner, jangan heran jika kau tak lihatnya dikesuksesan suatu kota. Tak pernah kau dengar namanya disebut disuatu pembicaraan, bahkan tak pernah ada media yang menceritakan bagaimana cerita dibalik “kesuksesan” kota. Karena tak banyak tahu akan profesinya, mungkin yang akan ditanya orang banyak adalah siapa walikotanya? Siapa arsiteknya? Siapa tenaga sipilnya? atau siapa konsultan yang ada dibalik suatu keberhasilan kota, karena tak jarang orang menganggap profesi istrimu itu tidak ada. Tidak ada yang tahu perjuangan istrimu, selain Tuhan, timnya dan kamu yang selalu tahu kerja kerasnya itu. Jika istrimu seorang Planner katakana lah “Aku tahu bagaimana kerja keras mu” mungkin kata-kata itu bisa mengusir lelah dan letihnya selama itu.

Jika istrimu seorang planner, banggalah, karena kau baru saja menikahi sesorang yang sudah biasa hidup “susah” yang bisa hidup dengan “kesemerautan” lingkungan kerjanya. Karena dia salah satu pemecah masalah, ya, dia sudah terbisaa berhadapan dengan masalah-masalah dan dia pecahkan dengan idenya. Dia wanita yang sudah terbisaa hidup mandiri, yang bisa menempatkan diri. Dia tetap wanita yang bisa berdandan jika merasa butuh, dia tetap Ingat Ibadah meski dia terlihat tidak ada waktu, dia yang masih bisa menjadi makmum dalam sholat-sholat mu, yang masih ada waktu untuk kau dan anak-anakmu karena pekerjaannya yang tidak “terikat” waktu, yang masi sempat membuatkan sarapan dan memasak untuk anak-anakmu.

Jika istri mu seorang planner, mungkin catatan kecil yang harus kau lakukan adalah, duduklah dengannya disuatu sore, bawalah secangkir kopi yang menjadi teman hidupnya selama ia bergadang dulu, lalu berbincanglah. Rencanakan masa depan bersamanya, karena dia Planner untuk kotamu dan partner Planner untuk keluarga mu. Lalu peluklah dia, dan katakan “ menjadi Planner itu tidak mudah, karena merencanakan itu hanyalah tugas Tuhan, kamu bisa merencanakan tapi Tuhan yang menentukan”.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Pengirim :

Mita Lestari

Mahasiswi Perencanaan Wilayah dan Kota 2010, Universitas Brawijaya, Malang 

CeritaJika project : klik di sini

CeritaJika #43 : Jika Istrimu Seorang Arsitek

Kehidupan seorang arsitek tidaklah mudah. Aku harus bekerja keras memikirkan konsep kemudian berusaha untuk mewujudkannya menjadi nyata dengan bayaran yang sejujurnya tidaklah sebanding dengan apa yang aku telah berikan. Waktuku, tenagaku yang dari dulu bahkan sampai sekarang tidaklah dihargai dengan sebagaimana mestinya. Seringkali aku hanyalah menjadi budak desain seorang klien di mana pada akhirnya klienku yang berbicara dan aku yang mengikuti alurnya.Sedikit dari aku yang pada akhirnya bisa benar-benar mewujudkan cita-cita masa kecilnya untuk benar-benar menjadi seorang arsitek.

Aku harus membagi waktuku untuk bekerja dan mengurus rumah.Jika kelak istrimu adalah seorang arsitek tolonglah mengerti dirinya yang mungkin akan setiap hari menghabiskan waktu di depan laptop dan meja gambar di rumah untuk mendesain sebuah bangunan permintaan kliennya.Bersabarlah menghadapinya yang mungkin akan sering mengeluh tentang betapa berat pekerjaanya.Tugasmu hanya satu yaitu duduk diam di sampingnya untuk mendengarkan keluh kesahnya.Mungkin dia akan sering mengajakmu berdiskusi untuk menentukan desain mana yang cocok terhadap proyek baru.Kau hanya cukup menjawab danmemberikan alas an kenapa kau memilih desain tersebut.

Maklumlah jika dia sering kali mendebatmu dalam berbicara terutama atas jawaban tentang pemilihan desainmu tadi.Merupakan bagian dari pekerjaanku untuk menjadi orang yang pintar bebrbicara dihadapan klien terutama dalam hal mempertahankan konsep yang telah aku buat.

Jika istrimu seorang arsitek,mengertilah dia jika ia tidak secantik wanita lain di luar sana.Jika ia jarang berdandan karena baginya maket dan desainnya lebih penting untuk didandani ketimbang dirinya.Mengertilah bahwa mungkin karena jarangnya ia tidur menyebabkan wajahnya tidak selalu terlihat segar di matamu.Namun,janganlah khawatir karena ia pasti akan menyambutmu dengan senyuman setiap kali kamu pulang dari tempatmu bekerja atau setiap kali ia bertemu denganmu dan anak-anak kalian.Karena di matanya kalian tetaplah sesuatu yang lebih berharga dibanding dengan pekerjaannya yang memlelahkan itu.

Jika istrimu seorang arsitek,peluklah ia ketika engkau melihatnya tertekan seperti memikul beban berat.Mungkin istrimu ini baru saja mengalami hari yang berat,mengkin desainnya baru saja ditolak.Ketahuilah bahwa dia hanya memerlukan teman hidup untuk bersandar,bergantung,dan menyemangatinya di saat-saat seperti itu.

Jika istrimu seorang arsitek,ketahuilah bahwa kamu baru saja menikahi seorang wanita yang kuat. Aku telah bertahan dengan tuntutan banyak tugas sedari kuliah,melewati banyak revisi dari banyak dosen dan berusaha untuk bertahan di dunia yang telah menjadi mimpiku sedari kecil. Ketahuilah bukanlah hal yang mudah terutama bagiku untuk melewati ini semua terutama bekerja ketika aku nanti sudah berkeluarga. Pahamilah aku jika tidak mau melepaskan pekerjaanku setelah menikah denganmu karena untuk meraih ini semua bukanlah hal yang mudah yang bisa aku lepaskan begitu saja.

JIka istrimu seorang arsitek, ketahuilah bahwa aku selalu memikirkan keluarga kita setiap kali aku harus bekerja, terutama ketika aku diharuskan pergi ke proyek yang jauh di sana. Aku akan selalu berusaha menyempatkan waktu untuk berada di rumah dan berbicara dengan anak-anak. Secinta apapun aku dengan pekerjaan, ketahuilah bahwa prioritasku tetaplah kalian,keluarga kita. Hargailah setiap usahaku untuk bangun lebih pagi ataupun menyempatkan diri untuk menyiapkan sarapan walau aku harus melembur di malam sebelumnya.

JIka istrimu seorang arsitek. Ketahuilah bahwa baginya momen berharga dalam hidupnya bukanlah ketika desainnya bisa dikenang oleh khalayak ramai namun ketika ia bertemu dan membangun keluarga bersamamu.

– – – – – – – – – – –

pengirim :

Virginia Trisna

Arsitektur-Universitas Gajah Mada

CeritaJika project

CeritaJika #42 : Jika Istrimu Seorang Penyakitan

Mungkin kau harus banyak bersabar dan belajar ikhlas. Bukan tidak mungkin, setiap pagi kau akan mendapat istrimu meringkuk di atas kasur, meringkuk sebisa ia bisa, mungkin hingga tubuhnya hanya mengambil 1/9 bagian dari luas kasur. Di dalam dua atau tiga lapis selimut. Kedinginan. Kau harus banyak bersabar ketika tengah malam kau harus terbiasa terbangun karena mendapatinya duduk di pinggir kasur, terbatuk-batuk.

Sebuah hal biasa adalah istrimu tiba-tiba menggenggam jari tanganmu di dalam tidurnya. Kau akan merasa sangat dibutuhkan. Ia akan terus mencarimu, bahkan di dalam tidurnya, di bawah alam sadarnya, hingga ia merasa aman di sampingmu.

Kau juga harus terbiasa menjadi ayah dan merangkap menjadi seorang ibu ketika istrimu sakit. Merawat anak-anakmu, padahal kau juga lelah sepulang kerja. Kau harus terbiasa mendengarkan keluhannya, kesakitannya, padahal kau juga begitu inginnya berkeluh kesah tentang apa-apa yang kau alami seharian.

Jika istrimu seorang penyakitan, ia adalah seorang yang tidak enakan. Suatu hal yang wajar ketika ia menolak segala bantuan yang kau tawarkan. Jangan sakit hati. Bukan karena tidak menghargaimu, tapi ia hanya tidak mau membuatmu repot lebih jauh lagi. Ia akan sering berbohong, tentang sakit yang ia rasakan. Bukan karena ia tidak percaya padamu, ia hanya tidak ingin menambah beban pikiranmu. Lalu akan sering kau mendapati ia berbaring di kasur, memandangimu, mencoba tidak mengganggumu, karena cuma itu yang bisa ia lakukan.

Istrimu, ia akan panik ketika kau sakit, ia akan melawan segala keterbatasan dirinya untuk merawatmu. Melupakan sejenak bahwa ia sedang sakit. Semata-mata hanya karena khawatir jika kau merasakan yang ia rasakan. Yang ia tahu setidak enak itu rasanya. Prioritas utamanya ialah menjaga kesehatanmu dan anak-anak kalian. Sedapat mungkin menjauhkan keluarganya dari banyak penyakit yang ia biasa alami.

 Jika istrimu seorang penyakitan, kau akan bahagia dalam ikhlas. Kau akan menjadi satu-satunya orang yang istrimu andalkan. Kau akan sering mendapati ia menangis. Bukan karena sakit, seorang wanita cukup handal dalam menyembunyikan sakit yang ia rasakan. Tapi karena bahagia, dan begitu bersyukur karena memilikimu di dunia ini. Seorang yang bisa diandalkan. Seorang yang bisa dipercaya. Seorang yang secara otomatis ia sebut dalam doa, saat ia berterimakasih pada Tuhan karena telah menciptakanmu ke dunia ini untuk berada di sampingnya, istrimu.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

pengirim :

Keisara Maudy Namina

Mahasiswi Teknik Pertambangan – Institut Teknologi Bandung

CeritaJika project

CeritaJika #41 : Jika Istrimu Seorang Anak Tunggal

Anak tunggal, ya itulah aku. Jika aku, seorang anak tunggal yang menjadi istrimu. Maka aku memohon kepadamu untuk sedikit lebih mengerti akan diriku. Aku yang terlahir untuk sendiri dan diharapkan lebih mandiri oleh kedua orang tuaku. Aku yang paling disayang di keluarga kecilku, sejak masih dalam kandungan hingga sekarang, ketika aku menjadi istrimu. Mungkin kau akan sedikit risih jika aku selalu ingin berada di dekat kedua orang tuaku. Bahkan kau akan bersaing dengan ayahku, sebab ayahku adalah seseorang yang sangat pencemburu ketika ada laki-laki lain di hati anak perempuan satu-satunya.

Jika istrimu adalah aku, maka aku memohon kepada engkau suamiku, untuk lebih bersabar. Karena terkadang aku  bisa menjadi orang yang berfikir dan bersikap dewasa, namun aku juga ingin bermanja-manja didepanmu. Ya, hanya di depanmu. Ketika datang bulan, perutku ini rasanya seperti diperas, sakitnya bukan main. Jadi, kamu wahai suamiku, harus pandai-pandai mengontrol emosimu saat bersamaku, dan mencoba untuk menenangkanku ketika emosiku juga mulai naik turun.

Aku, yang anak tunggal ini, tidak jauh-jauh dari seorang yang punya rasa egois. Aku, orang yang sangat egois ketika bersamamu. Aku tidak suka melihat ketika kmu berjalan dengan perempuan lain, kecuali ibumu dan saudara perempuanmu. Terkadang aku tidak suka kau bermain  handphone didepanku, karena aku ingin setiap ceritaku kau dengarkan dengan seksama. Sebab selama hidupku, aku ingin berbagi segalanya denganmu. Bercerita tentang semua yang kulakukan, membuatku merasa lebih lega, karena kamu, suamiku, adalah teman hidupku. Teman yang paling kuharapkan dapat menuntunku dan selalu bisa menjadi imam terbaikku.

Suamiku, aku memohon, jangan pernah bosan  dengan kata-kata cinta dan sayang yang selalu kuucapkan kepadamu setiap hari . Puisi-puisi  atau sekedar tulisanku tentangmu mungkin  akan sering kau temukan di blogku. (Kau tau itu kan? aku menyalurkan segala yang  tak bisa kuucapkan di dalam blogku itu). Sebab sedari kecil, aku terbiasa diberi perhatian yang lebih, bahkan diberi panggilan sayang oleh  kedua orang tuaku. Aku bersikap demikian kepadamu, karena aku ingin kau mengerti bagaimana rasanya begitu diperhatikan dan disayang, sehingga kau akan nyaman setiap hari hidup bersamaku.

Jika memang aku, seorang anak tunggal yang menjadi istrimu. Kelak, aku ingin kau selalu di depanku, menjadi imam yang memimpinku, dan terkadang aku ingin kau di sampingku. Kugenggam erat tanganmu, untuk menemaniku di setiap langkah dalam perjalanan hidupku. Aku bosan berjalan sendiri.

Kelak, ketika kau disampingku, kau harus siap mendengar ocehanku setiap hari. Kau tahu aku ini perempuan yang cerewet. Aku benci keheningan, aku malas berbicara sendiri. Tapi, asal kamu tahu, cerewetku ini bukan tanpa arti. Aku hanya ingin membuat suasana rumah kita menjadi lebih ramai, agar anak-anak kita nanti menjadi lebih ceria, lebih terbuka dan mau berbagi cerita bersama kita, orang tuanya. Aku akan selalu mengingatkanmu akan ibadahmu, pola makanmu, pola tidurmu, apa-apa saja yang kau harus bawa untuk pergi ke kantor, dan mengingatkanmu untuk selalu sempat memberi kabar kepadaku.

Oh ya, jangan berfikir, kalau aku yang anak tunggal ini tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan rumah. Aku sudah terbiasa melakukan hal apapun sendiri, orang tuaku tidak pernah menyuruhku untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Mereka hanya mencontohkan saja, mereka membuatku berfikir apa yang seharusnya kulakukan. Ya, mencontoh mereka. Pada akhirnya, aku bisa melakukan itu semua. Ibuku berpesan, ”lakukanlah segala hal sendiri ketika itu bisa kau kerjakan sendiri, jadilah perempuan hebat yang tegar dan mandiri, karena kamu tidak punya kakak, atau adik yang bisa kau recoki ataupun kau mintai bantuan selain kedua orang tuamu”. Hal itulah yang tertanam di benakku hingga saat ini. Seperti itu juga kan yang kau katakan kepadaku? Aku harus bisa menjadi perempuan yang mandiri, karena tidak selamanya kau akan ada di sampingku. Tapi aku selalu berdoa, agar kita tidak hanya berjodoh di dunia, tapi di akhirat kelak nanti, aamiin.

Teruntuk suamiku yang kucintai, aku akan selalu memasakkan masakan yang enak dan sehat untuk keluarga kita, akan kusiapkan air hangat ketika kau pulang larut malam, akan kutemani kau ketika beribadah di sepertiga malam, menyelesaikan pekerjaanmu di rumah, atau untuk sekedar ikut mendukung dan menonton tim favoritmu bertanding bola. Aku akan selalu berusaha menemanimu, karena aku tahu betul bagaimana rasanya kesepian.

Jika istrimu adalah seorang anak tunggal, dan benar aku orangnya. Anak perempuan satu-satunya dari seorang ayah yang hebat ini sedang berusaha sepenuh hati dan jiwa untuk menjadi istri terbaikmu, yang selalu mendampingimu dan mendoakanmu agar kau selalu dalam penjagaanNya.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Pengirim :

Diamanta Vion Devona

Mahasiswi Farmasi – Universitas Islam Indonesia

CeritaJikaproject

Redaksi :

Terima kasih atas apresiasi dari para pembaca Cerita Jika. Dari saran dan masukan yang redaksi terima, mulai edisi 41 ini ceritaJika akan menampung ‘jika’ yang lebih luas dan bisa diluar profesi. Namun, sudut pandang profesi masih menjadi patokan utama. Cerita jika #41 ini bisa menjadi gambaran bahwa ternyata banyak hal-hal ‘jika’ lain yang mungkin perlu untuk dibagi. Untuk teman-teman yang ingin mengirimkan ceritaJika-nya. Maka, ceritaJika dibuat menjadi lebih terbuka dan fleksibel untuk tema yang diangkat (tidak hanya profesi). Selamat menulis cerita, jika kamu … 🙂

Terima kasih untuk lebih kurang 200 cerita yang masuk hingga hari ini sejak pertama kali ceritaJika dimuat. Sekali mohon maaf sebab tidak bisa memuat semua cerita yang masuk 🙂

CeritaJika #40 : Jika Istrimu Seorang Guru TPA

Mungkin guru TPA bukan suatu profesi yang bisa dibanggakan mungkin juga bukan profesi yang banyak dicita-citakan anak kecil, dan mungkin juga bukan profesi utama bagiku. Namun jika kau melihat lebih dekat profesi ini menjamin untuk di Akhirat nanti, bukan hanya akhiratku namun juga akhirat santriwan – santriwatiku

Suamiku, guru TPA bukan lah seorang pandai agama ataupun ahli surga, memang iya seorang ustadzah untuk santri-santrinya namun aku tetaplah makmum disholatmu, aku akan berusaha menjadi istri sholehah yang menyiapkan rumahmu kelak baik didunia ataupun syurga. Sayang, aku tak menjamin masakan ku selalu lezat dan kopimu selalu hangat. Mungkin kopi mu sudah terlalu lama menunggu mu karna aku membuatnya sebelum aku berangkat mengajar TPA sore itu.

Jika istrimu seorang Guru TPA, jangan murung bila sore itu aku tidak membukakan pintu rumah kita. Maaf sayaang, saat itu aku sedang mengajarkan santri ku melafalkan huruf-huruf hijaiyah, menemani mereka menghafal surat-surat pendek dan ayat pilihan atau menceritakan pada mereka kisah-kisah nabi (ini merupakam bagian yang mereka suka), kisah-kisah tauhid serta nasehat yang akan membentuk akhlaq mereka. Kisah-kisah yang akan selalu mereka ingat hingga tumbuh dewasa kemudian mereka ceritakan lagi ke anak-anak mereka hingga begitu seterusnya

Tidak seperti profesi-profesi lain yang diberi upah setimpal sesuai ketrampilan yang mereka milikI, aku tau semua orang bisa melakukan pekerjaan ini namun hanya sedikit sekali yang mau melakukannya dengan ketulusan karna  Alloh. Aku tak mengharap lebih dari upah yang kutrima di dunia tapi aku yakin upah ku dari Alloh cukup mengantarkanmu ke surga.

Suamiku, jangan risau dan takut tentang anak-anak kita. Pernah mendengar kata orang jaman dulu ? “nikahi lah guru TPA, anak orang lain saja mereka sayangi apalagi anak sendiri”. Anak kita akan lebih aku cintai lebih dari kamu hehehe. Sayaang mungkin ini terlalu menuntut tapi kelak jika kau menjadi imam ku, aku tak ingin di imami dengan surat Al-ikhlas atau An-naas yang selalu diulang-ulangi aku ingin hafalan surat pendekmu lebih banyak daripada santri-santriku, aku ingin bacaan lafal al-quranmu lebih fasih daripada mereka, aku ingin kamu tak segan untuk sering berkhotbah, tak malas melangkahkan kaki mu untuk sholat berjamaah di masjid. Suamiku kelak seusai jamaah sholat magrib di masjid aku ingin kita tadarus al-quran bersama, kemudian saling setoran hafalan bersama. Ssst ini cita-citaku kepadamu jangan bilang siapa-siapa ya.

Mungkin aku akan selalu cerewet menceritakan tingkah-tingkah santri-santriku yang ada-ada saja, menceritakan pertanyaan-pertanyaan konyol mereka, celoteh yang menggemaskan atau kisah mereka satuper satu. Jangan lelah menjadi pendengar setiaku, jika kau tak paham kau bisa tersenyum dan menanyakannya jangan sekali-kali kau abaikan nanti aku bisa marah. Jika kau paham tanggapilah dengan raut wajah semenyenangkan mungkin lalu aku akan memelukmu.

Mungkin kelak saat kau melamarku dan membawa aku pergi, santri-santri ku akan merengek seolah kau mengambil aku dari mereka. Jangan cemburu sayaang, wajarlah mereka begitu sebelum aku menemani perjuanganmu aku sudah lebih dulu menemani mereka dari buta huruf al-quran hingga mengkhatam kan Al-quran dengan fasih. Jadi bila esok waktumu senggang dan urusanmu sudah selesai, mari sesekali kita mengajar TPA bersama.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

pengirim :

Anita Oktavia

Universitas Islam Indonesia

>> ceritaJikaproject

CeritaJika #39 : Jika istrimu seorang pecinta alam

Respon apa yang pertama kau beri saat kamu membaca CV, dan melihat naik gunung, sebagai aktivitas favorit calon istrimu ini? Mungkin kamu akan terkejut, mungkin ilfill, atau tidak terlalu peduli. Entah apa pun responmu itu, toh pada akhirnya kamu menerimaku sebagai partner hidupmu.

Sayang,

Jika kamu bertanya padaku tentang destinasi liburan kita setelah menikah, mungkin aku akan meminta Rinjani, bukan Bali. Aku lebih memilih tenda kapasitas dua yang kokoh dibandingkan hotel berbintang yang megah. Setelah menikmati puncak bersama, barulah kita berkelana di Senggani, tiga Gili, Pantai Kuta, dan desa adat di Lombok. Jika kamu ingin ke Eropa, aku pasti akan meminta Mont Blank sebagai salah satu destinasi kita. Ah..lupakan soal Eropa dan benua lain, karena aku masih jatuh cinta dengan pegunungan di negeri ini. Kamu tahu Semeru sayang? Pastilah, nama gunung ini melejat pesat semenjak sebuah film mengangkatnya dengan begitu sukses. Jika kamu belum pernah ke sana, kamu harus. Di bulan Juni yang cerah, padang oro-oro ombo menyapa di balik tanjakan cinta, dengan hamparan lavender ungu yang menggoda mata. Tidak kalah romantis dibandingkan Monet’s Garden, Prancis. Tidak sampai Mahameru juga tidak apa, karena menjelajahi Semeru bersamamu lebih kuinginkan dibandingkan menegakkan merah putih di puncak tertinggi Pulau Jawa.

Tapi ini bukan tentang perjalananku, ini adalah tentang perjalanan kita. Jika kamu tidak ingin mendaki gunung bersamaku tidak mengapa, kita masih bisa meyusuri pantai dan menyapa senja bersama. Kalau kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, sehingga kita tidak sempat bercengkarama dengan alam, itu juga tidak mengapa. Aku akan membawakan pagi untukmu dalam secangkir kopi. Jika kamu tidak suka kopi tidak mengapa, akan kulukiskan purnama dalam segelas susu. Jika kamu tidak menyukai susu, itu juga tidak mengapa, aku akan membawa kehangatan mentari dalam setiap masakan yang kau sukai.

Tapi my dear, aku akan tetap menyukai bintang yang bertabur bintang tanpa sekat. Aku akan tetap menyukai pelangi di padang savana setelah hujan yang mengguyur semalaman. Aku akan tetap menyukai mata air, pegunungan, embun, edelweiss, daisy. Meskipun ketika sudah bersamamu, aku tidak akan sempat bermain bersama mereka. Tidak mengapa. Tapi, anak-anak kita nanti harus dibesarkan oleh alam dear, bukan oleh kota besar. Anak laki-laki kita harus bisa memanjat pohon, dan bermain di sawah. Anak perempuan kita harus pandai berenang.

Percayalah, alam akan membentuk mereka menjadi pribadi yang mandiri dan berjiwa besar. Saat mereka bisa berbuat baik pada burung perkutut yang terluka, maka mereka akan dengan sangat mudah mencintai sesama. Saat mereka tanpa rasa takut, berani menyapa kuda, bahkan menungganginya, maka mereka juga tak akan pernah takut untuk jatuh. Kau tahu kenapa Sayang? Karena Allah berfirman bahwa Dia menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi, amanah yang bahkan semesta ini tak sanggup memikulnya. Maka biarkan anak-anak kita menjalankan amanah itu. Begitu pun kita.

My Dear, aku tidak memiliki keanggunan seorang Ratu, kecantikan seorang putri, atau kedudukan setinggi anak dari orang terpandang. Aku hanyalah aku, seseorang yang mencintai alam. Aku tidak bisa bermain biola, tapi aku bisa menyelam. Aku tidak pandai berdansa, tapi kupikir kita tak butuh itu kan? Aku suka memasak, tapi aku tak bisa memasak makanan Eropa untukmu. Aku benar-benar seorang gadis biasa. Kesederhanaan adalah bagian dari hidupku. Bahkan meski aku lahir dan dibesarkan di ibukota, aku tetap mencintai pedesaan. Kau tahu kenapa? Karena kesederhanaan itu mengajarkan banyak hal. Dan hal itulah yang kusukai dari suamiku. Kamu yang tetap sederhana, meskipun mungkin kamu adalah orang yang bisa membeli dunia. Kesederhanaan pula yang akan tetap membuatku berada di sampingmu, bahkan di masa-masa terpurukmu sekalipun.

Nah sayang, bagaimana jika kamu juga sama sepertiku? Sama-sama menyukai alam? Kamu pasti bisa menerkanya, bahwa perjalanan menua bersama kita, akan dipenuhi oleh serangkaian petualangan yang tak terlupakan.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

pengirim :

Ratih Kumala Dewi

Teknologi Pangan – Institut Pertanian Bogor

Komunitas Arung Alam Dekati Tuhan

 >> ceritajikaproject