CeritaJika #38 : Jika Istrimu Seorang Surveyor

Hai, perkenalkan aku seorang surveyor. Seorang perempuan dan seorang surveyor. Kau tahu pekerjaanku bukanlah pekerjaan yang biasa dilakukan oleh wanita pada umumnya. Ya. Aku akan sering bepergian ke luar, ke lapangan. Aduh, tentu bukanlah lapangan tenis atau sepak bola seperti yang kau bayangkan. Aku akan pergi ke hutan, lahan proyek, tempat pertambangan, pesisir laut hingga pulau terluar bumi pertiwi ini. Rekan kerjaku pun bukan sekaum denganku. Aku akan banyak berinteraksi dengan kaum adam. Apakah kau akan cemburu?

Bila kau bersanding denganku, ketahuilah bahwa kesibukanku sangatlah padat. Mengejar deadline proyek, menentukan koordinat, mengolah data yang semuanya akan memakan banyak waktu. Apakah kau kau mengijinkan? Kau pasti akan sangat khawatir memiliki istri seperti aku. Kau pasti juga khawatir apakah aku mampu mengurus keluarga kita.

Bila kau bersanding denganku, kau pasti juga khawatir aku tak bisa mengurusmu dengan sebaik-baiknya, Atau justru kau yang sering kurepoti. Karena aku akan sering pergi ke lapangan untuk memulai petualangan baru.  Ketahuilah, lenganku dan pundakku akan selalu siap menampung segala risau yang kau derita. Dengan pekerjaanku ini aku tak ingin membuatmu khawatir. Maka bila aku tengah terpuruk tolong rangkul aku. Kata-kata penyembuh darimu merupakan obat yang paling mujarab untukku.

Bila kau bersanding denganku, ketahuilah bahwa menjadi ibu rumah tangga dan mengabdi padamu dan keluarga masih aku anggap sebagai pekerjaan yang paling mulia. Aku ingin membesarkan dan merawat anak-anak dengan sebaik-baiknya kasih sayang. Aku selalu ingin  membukakan pintu rumah ketika kau pulang dan memberikan  senyuman terbaik yang kumiliki.

Jika istrimu itu aku, ketahuilah meskipun aku surveyor aku masihlah tetap seorang perempuan. Meskipun lingkungan mendidikku untuk tangguh, aku tetap ingin menjaga perangai seorang perempuan. Jika istrimu itu aku, aku akan menemanimu menyusuri setiap jengkal umur kita bersama.

 – – – – – – – – – – – – – – – – – –  – – – – – – – – – – – – – – – –

pengirim :

Yola Aziz Herawati

Teknik Geodesi dan Geomatika – Institut Teknologi Bandung

>> ceritaJika_project

CeritaJika #37 : Jika Suamimu Seorang Geologist

Kamu harus punya kesetiaan yang besar, istriku. Karena pekerjaanku mengharuskanku pergi berminggu – minggu. Kamu juga harus bisa menahan rindu. Karena dari tempat kerjaku yang terpencil belum tentu kita dapat berkomunikasi satu sama lain. Tapi kamu tidak perlu khawatir, kamu tidak usah takut aku melirik perempuan lain. Karena nanti di tempat kerjaku, hanya akan ada orang – orang lapangan yang mayoritas lelaki.

Menjadi seorang geologist memang bukan pekerjaan yang ringan. Bersandingan dengan alam bukan variabel yang dapat diperhitungkan. Kadang alam dapat menyembuhkan tapi juga kadang ia membawa bencana. Karena itulah aku sangat membutuhkan doamu, istriku.

Kadang ketika tiba saatnya aku pulang, aku akan berada dalam kondisi kelelahan. Jika pada saat itu aku tidak sengaja memarahimu, tolong maafkanlah aku, istriku. Kemarahanku itu sungguh bukan kesalahanmu, mungkin itu salah data – data yang tidak lengkap atau medan kerjaku yang terlampau sulit dijelajahi. Aku mohon bersabarlah sebentar dengan sikapku dan bantulah aku untuk menenangkan diri. Ingatkan juga janjiku, untuk selalu membahagiakanmu, yang aku ucapkan kepada kedua orangtuamu. Aku pasti akan mengerti.

Seperti yang kamu tahu, pekerjaanku ini memiliki penghasilan yang cukup tinggi. Walaupun begitu, tapi aku harap kamu bisa mendidik anak – anak kita untuk hidup sederhana, seperti yang orangtua kita ajarkan dulu. Aku ingin anak – anak kita cepat memahami hidup, aku ingin mereka bahagia dalam kesederhanaan. Untuk hal ini, aku mengandalkanmu, istriku.

Meskipun aku tidak bisa setiap hari di rumah, tapi aku berjanji akan menjadi suami sekaligus ayah yang baik untukmu dan anak – anak. Mungkin aku tidak bisa sedekat kamu dengan anak – anak, tapi aku pastikan, aku akan selalu memberi contoh yang baik untuk mereka. Tenang saja, mendidik mereka juga adalah kewajibanku.

Istriku, aku tidak berencana menjadi geologist selamanya, mungkin kelak aku akan mengambil pensiun lebih cepat. Aku ingin lebih dekat dengan denganmu juga dengan anak – anak kita. Aku tahu, kamu pasti akan kewalahan menghadapi tingkah mereka yang mulai dewasa. Ketika saat itu tiba, aku ingin ada disampingmu, kita hadapi ini bersama.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

pengirim :

Imam Supriyadi

Teknik Geologi – Universitas Gadjah Mada

CeritaJika Project

CeritaJika #36 : Jika Istrimu Seorang Tamatan SMA

Apa yang kamu pikirkan jika istrimu kelak hanya seorang perempuan yang menyadang gelar lulusan SMA. Kamu pasti akan berpikir bahkan akan bertanya-tanya, apakah kelak aku bisa menjadi pendamping yang baik untuk kamu dan juga ibu untuk anak-anakmu kelak? Apakah aku nanti bisa jadi bendahara rumah tangga yang baik secara aku hanya tamatan SMA?       

Tapi tunggu dulu biar aku jelaskan kepadamu hai calon Imamku kelak, aku memang cuma perempuan biasa, jauh dari kata sempurna atau istimewa. Namun, kelak aku akan janjikan segala kebaikan, kenyaman, kepedulian untukmu, untuk anak-anakmu dan untuk rumah kecil kita kelak. Walaupun aku cuma lulusan SMA. Aku berjanji kelak akan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Nanti aku akan menjelma menjadi bendara rumah tangga yang bijak , setidaknya aku akan menulis semua pengeluaran dan pemasukan rumah tangga kita. Akan aku jaga dengan baik harta yang kau titipkan untuk kebutuhan sehari-hari kita, Nanti aku juga akan menjelma menjadi arsitek di rumah kita, aku akan menata seisi rumah dengan indah, akan aku buat suasana rumah kita menjadi senyaman mungkin untukmu beristirahat atau bermain-main dengan anak-anak kita nanti. Nanti aku akan menjadi dokter dan ahli gizi utukmu dan untuk putra putri kita kelak. Aku akan telaten menyuguhkan kalian makan-makanan yang bergizi dan sehat. Dengan sepenuh hati pula aku akan menjaga dan merawat kamu dan anak-anak ketika kalian sakit. Kelak aku akan menjadi koki yang siap menyajikan hidangan makanan yang kalian inginkan. Akan aku masakan makanan penuh cinta untuk kalian sarapan dan makan malam . Kelak aku juga akan menjadi guru untuk malaikat-malaikat kecil kita. Aku akan dengan penuh kesabaran dan ketelatenan membimbing mereka belajar. Aku akan mengenalkan mereka huruf alphabet –hijaiyah dan mengajari mereka cara untuk sholat.

Hai kamu calon Imam ku kelak. Nanti jika istrimu adalah aku maka aku akan berjanji setia kepadamu. Aku akan jadi teman hidupmu yang baik. Aku juga akan jadi sahabat serta teman baikmu. Jangan sungkan berkeluh kesah kepadaku karena aku akan jadi pendengar yang baik. Jangan segan-segan juga menegurku dengan usapakan lembutmu ketika aku sedang salah. Jika istrimu kelak adalah aku, seorang perempuan tamatan SMA. Aku berani berjanji nanti aku akan jadi ma’mummu yang baik, yang dengan sepenuh hati mengamini segala do’a yang kau panjatkan. Aku juga akan dengan sepenuh hati menjaga anak-anak kita, menjaga kehormatanku dan kehormatan kita.

Dan jika istrimu adalah aku, perempuan tamatan SMA. Jangan pernah letih mengajariku dan memberikan bimbingan-bimbingan kepada aku yang belum mengerti apa-apa. Jadilah guruku dan ajari aku ilmu-ilmu yang belum aku tahu dan aku jamah. Jika istrimu aku kelak aku akan setia kepadamu sampai aku menutup usia.

 – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – 

pengirim

Duwi Ikasari

Jawa Timur – duwiikasari.tumblr.com

(* Url tumblr tersebut tidak menuju ke halaman manapun. Terima kasih untuk pengirim naskah CeritaJika ini 🙂

CeritaJika project : klik di sini

CeritaJika #35 : Jika Suamimu Seorang yang Belum Memiliki Pekerjaan

Setiap orang menantikan pasangan yang ideal – memiliki pekerjaan yang layak untuk menghidupi keluarga. Tapi bagaimana jika nyatanya suamimu ini seorang pengangguran? Aduhai istriku, tak pernah kubayangkan dalam rumah tangga aku harus melewati fase seperti ini. Maaf bila status pengangguranku saat ini membuatmu malu. Jelas ini bukan inginku, tapi biarlah ini menjadi ibrah untuk perbaikan pendewasaan diri.

Ketahuilah, jika aku seorang pengangguran, itu bukan berarti aku tak punya keahlian yang cukup. Sarjana ekonomi memang menjadi penyumbang pengangguran yang cukup besar di Indonesia. Tapi aku lulusan universitas ternama yang mendidik mahasiswanya dengan atmosfir kompetisi yang kuat. Bersaing dengan para pemburu kerja lainnya semestinya bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Bersabarlah, mungkin ini cara Allah menguji kita. Bukankah ujian adalah tanda saying-Nya?

Aku memutuskan untuk melepas pekerjaanku yang sebelumnya. Keputusan ini bukan soal uang. Di sana aku mendapatkan gaji yang cukup, bahkan tergolong banyak untuk ukuran fresh graduate. Setelah tiga bulan bekerja aku baru menyadari bahwa apa yang kutangani adalah hal-hal  syubhat. Tiga bulan pula aku tertekan dengan perdebatan halal-haram dalam pikiranku. Istikharahku dalam beberapa malam mengarahkanku untuk segera mencari ranah lain. Walaupun itu berarti aku harus menganggur.

Terkadang pengangguran adalah soal pilihan. Dalam dunia profesi, idealisme sering kali bersinggungan dengan realitas. Apa yang kita yakini sebagai kebenaran belum tentu sesuai dengan jalannya arus dunia. Tapi kita punya kehendak untuk memilih antara mengambang hanyut  atau berjuang melawan arus. Jujur memang tidak dapat menjanjikan keuntungan dan kemenangan. Terlalu sepele bila hanya itu balasannya. Biarlah nanti Yang Maha Tahu memberikan kemuliaan yang tak terukur secara duniawi.

Maaf bila aku belum bisa mengemban tanggung jawabku sebagai tulang punggung keluarga dengan baik. Tidak punya pekerjaan berarti tidak ada pemasukan. Seret pemasukan berarti belanja harus ditekan. Kita harus bertahan hidup dengan segala keterbatasan sandang pangan papan. Tapi seberapapun parahnya, lantas tidak sepatutnuya kita menjadi kufur. Kita tak boleh berhenti bersyukur. Setidaknya tabungan kita cukup untuk mengepulkan uap di dapur.

Menghadapi aku yang seorang pengangguran ini, kuharap kau tak malah menyudutkanku. Aku butuh dukunganmu. Kau tahu benar aku begitu rentan tanpamu. Bagaimana aku bisa berdiri tegak jika tulang rusukku melunak.  Kita telah mengikat janji suci untuk terus bersama saling bahu membahu. Ikrar yang terucap di momen sakral itu tidak hanya berlaku untuk saat-saat manis saja. Adakalanya jalan terjal yang harus kita lewati untuk mendapat ridlo-Nya.

Bagaimanapun kondisinya, tak perlu banyak mengumbar air mata. Yang kita butuhkan adalah ketegaran didada. Kuminta sisipkan doa untukku di kala sepertiga malam tiba. Sebut namaku sebelum fajar menyapa. Lalu biarkan pagiku menantang sang surya. Akan kuketuk setiap pintu sebagai bentuk ikhtiar seorang hamba. Dan semoga kita disambut hangat di pintu rizki yang telah disiapkan-Nya di ujung senja.

 – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

pengirim :

Pyan Putro Surya Amin Muchtar

Mahasiswa Ilmu Ekonomi – Universitas Indonesia

CeritaJika project : klik di sini

Cerita Jika #34 : Jika Istrimu Seorang Apoteker

Apa yang terlintas dibenakmu ketika kusebutkan kata Apoteker? Seseorang yang menjual obat atau seseorang yang menggerus puyer ?

Ketahuilah sayang, bahwa keduanya adalah benar. Dua hal itu yang nantinya akan istrimu kerjakan. Lebih dari itu, menjadi seorang Apoteker berarti aku harus bersiap menyediakan obat dengan kadar yang tepat dan mampu memberikan konseling kepada pasien mengenai aturan penggunaan obat.

Sayang, ini tentu bukan soal uang. Besar di keluarga dengan latar belakang kesehatan membuatku ingin berkontribusi secara nyata pada bidang ini. Mungkin nantinya akan kamu dapati aku lebih banyak diluar rumah. Melakukan visit berkala pada pasien dirumah sakit guna memastikan obat yang disiapkan habis mereka makan dan memastikan efek farmakologi dari setiap obat tepat ‘sasaran’. Mungkin nantinya aku akan disibukkan dengan kegiatan mengurus apotek, Aku harus memastikan bahwa obat yang pasienku perlukan selalu tersedia sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan. Pun aku harus memeriksa dengan jeli mengenai obat yang keluar-masuk dari apotekku nanti.

Sayang, mungkin nantinya aku harus bekerja bersama para peneliti. Memikirkan solusi terbaik dari pembuatan suatu antibiotik. Menghabiskan waktu dengan metabolit sekunder, berusaha semampu kami menangani masalah resisten. Mungkin ketika pulang, aku akan menjadi sosok yang menyebalkan setelah lelah beraktifitas seharian.

Jika istrimu seorang Apoteker.. percayalah ini tidak akan seburuk yang kamu bayangkan. Aku tetap aku yang mencintai kamu. Aku tetap ibu yang akan mengurus anak-anakmu. Membimbing mereka untuk mengenal  lebih dekat Tuhannya.

Ketahuilah, suamiku. Jika istrimu nantinya adalah aku,tidak ada keberatan sedikitpun dihati ini bila kamu tidak mengizinkanku bergabung dalam suatu penelitian atau jika kamu hanya mengizinkanku menjadi seorang Apoteker Penanggung Jawab Apotek milik kita sendiri, sehingga aku tidak perlu lama meninggalkan rumah kita nanti.

Ketahuilah, Aku akan tetap disampingmu. Menyibukkan diri membuat kopi dan sarapan disetiap pagi. Menjadi makmum yang mengucap ‘aamiin’ disetiap sholat yang kau imami. Dan aku yakin ini akan tetap menyenangkan, mengantarkanmu sampai ke gerbang lalu  menunggumu kembali pulang. Menyaksikan anak-anak kita bertumbuh besar tanpa ada sedikitpun moment yang terlewatkan.

Jika istrimu nantinya adalah aku. Semoga kamu  tidak keberatan atas sikap cerewetku saat memaksa menghabiskan antibiotik ketika kamu atau anak-anak kita sakit. Jika istrimu nantinya adalah aku. Jangan bosan ketika aku mengingatkanmu untuk beristirahat agar kamu tetap sehat. Ingat obat itu rasanya tidak enak.. hehe

Jika istrimu seorang Apoteker dan benar aku adalah orangnya. Perempuan peracik obat ini lebih membutuhkan pelukan setelah lelah beraktifitas seharian, ketimbang vitamin C yang biasa banyak orang gunakan.

– – – – – – – –  – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –  – – – –  –

pengirim :

Oka Tannia

Mahasiswi Fakultas Farmasi dan Sains

Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka.

CeritaJika_project: klik di sini

CeritaJika #33 : Jika Istrimu Seorang Advokat

 Suamiku, pernahkah kau membayangkan, seorang advokat yang berapi-api membela kliennya akan menjadi pendamping hidupmu? Tidak sukakah kau melihat advokat yang selalu menghalalkan segala cara, menyuap hakim, menyuap jaksa, demi kemenangan klien? Tidak sukakah kau melihat advokat yang selalu berdebat di Indonesia Lawyers Club? Tidak sukakah kau melihat advokat yang selalu mencari sensasi di dunia maya karena sepinya aduan dari klien?

Ya, aku pun tak suka, suamiku. Aku tak pernah mengharapkan berada di dunia hukum yang penuh tantangan yang bisa mengantarkanku ke neraka. Akibatnya, kau pun ikut menanggung dosa istrimu ini. Aku telah masuk ke sistem ini, suamiku. Maka di sinilah peranku untuk memperbaiki dunia peradilan di Indonesia. Percayalah, jika aku bisa melewati tantangan ini, pintu surga akan terbuka lebar untukku, dan engkaupun tak perlu terbebani akan dosa-dosaku.

Jangan bayangkan aku seperti advokat-advokat di televisi itu.  Sejatinya, advokat adalah pembela kaum miskin dan marginal yang haknya telah terlanggar oleh para penegak hukum yang ceroboh. Siapapun pasti tidak ingin haknya terampas hanya karena dituduh telah melakukan tindak kejahatan. Siapapun pasti tidak ingin dicap bersalah sampai ada putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap. Ingat, setiap orang sama di hadapan hukum serta berhak mendapatkan bantuan hukum.

Suamiku, masih ingatkah kau tentang kasus petani di Kulon Progo yang terampas haknya karena menentang masuknya perusahaan tambang pasir besi? Masih ingatkah kau tentang kasus seorang nenek yang dibawa ke meja hijau karena mencuri satu biji kakao? Atau masih ingatkah kau tentang kasus seorang ibu yang juga dibawa ke meja hijau karena mengkritik rumah sakit yang tidak memberikan pelayanan dengan baik? Apakah mereka bersalah sepenuhnya? Siapa yang membelanya di pengadilan? Tentu saja advokat, wahai suamiku. Tak bisa terbayangkan, jika kaum tertindas seperti mereka terus dicap bersalah oleh masyarakat hanya karena aduan dari segelintir orang yang dirugikan dan memiliki kekuasaan.

Suamiku, sebelum kita menikah, mungkin engkau membayangkan akan memiliki istri yang selalu berada 24 jam di rumah, menemanimu di kala gundah, dan menjaga rumah agar selalu rapi dan indah. Maafkan aku suamiku, pasti engkau kecewa denganku. Aku justru menambah beban pikiranmu karena pikiranku yang terbebani oleh aduan klien yang tidak pernah usai. Aku justru sering keluar rumah karena mengunjungi tempat kejadian perkara dan bersidang dari hari Senin sampai Jumat. Aku juga menambah berantakan seisi rumah dengan setumpuk berkas dakwaan dan tuntutan dari jaksa yang harus aku jawab, ditambah dengan segepok kitab undang undang.

Namun suamiku, segarang apapun aku di ruang sidang, di hadapanmu, aku tetaplah istrimu. Boleh saja aku memicingkan mata menaruh curiga pada jaksa, beradu mulut dengan advokat pengecut, atau menatap penuh harap pada hakim. Namun di hadapanmu, aku tetaplah istrimu. Boleh saja aku menggebrak meja sipir di penjara karena klien tidak diperlakukan secara manusiawi. Namun di hadapanmu, aku tetaplah istrimu.

Di tanganmulah, akan kuraih surgaku. Engkaulah lelaki kedua setelah ayah yang tak sanggup kupatahkan argumennya. Setiap nasihat yang mengalir dari mulutmu selalu membuatku merasa lebih tenang seolah klienku akan menang. Kau selalu mengajarkanku untuk tidak pernah lupa berdoa, memohon bimbingan-Nya agar tidak mengambil langkah yang salah. Kau selalu mengajarkanku untuk memasrahkan semua permasalahan pada-Nya jika aku tak berhasil membela hak klienku. Kau juga mengajarkanku untuk menarik nafas dalam-dalam lewat hidung dan mengeluarkannya lewat mulut jika aku tegang saat di ruang sidang. Dan aku masih ingat, kau juga telah melindungiku dari para pihak yang berusaha menyuapku agar membuat nota pembelaan yang lemah. Sungguh, ridho darimu untuk menjalani profesi ini membuatku semakin kuat.

Aku pun banyak berhutang budi padamu. Pasti akan ada quality time untukmu dan anak-anak kita. Di hari ketika kau mengucapkan ikrar akad nikah, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi yang terbaik bagimu. Akan kudidik anak-anak kita tentang kejujuran dan keadilan.

Suamiku, akan selalu kujaga idealisme agar tidak terseret arus di dunia hukum yang penuh tipu daya. Sebab, kita telah berdoa, semoga Allah tidak hanya menyatukan kita di dunia, tetapi juga di surga. Aamiin.

——————————————————————

pengirim :

Cipuk Wulan Adhasari

Alumni Fakultas Hukum – Universitas Gadjah Mada 2009

CeritaJika_project : klik di sini

CeritaJika #32 : Jika Istrimu Seorang Ekonom

Apa yang ada didalam pikiranmu jika mendengar kata ekonom? Uang, sibuk, glamour, rapat, membuat kebijakan dan lain-lain. Dan apa yang kamu bayangkan jika mendengar kata wanita? Cantik, lemah lembut, sering dirumah, calon istri dan lain-lain. Mungkin itu semua gambaran tentang dua kata yang aku ajukan tadi, ekonom dan wanita.
Lalu, bagaimana jika kedua kata itu aku gabungkan? Seorang wanita yang berprofesi sebagai ekonom? Sibuk, jarang dirumah, rapat dan lain-lain. Jika aku ajukan semua itu pada mu, apakah kau masih bersedia memilihku sebagai ibu dari anak-anakmu? Ini memang menjadi pertimbangan yang sulit, profesi yang aku tekuni ini memang selalu menjadi hal yang menyita waktuku banyak sampai-sampai untuk diriku sendiri aku tidak bisa menyisakannya. Tapi, bukan itu yang ingin aku bahas dengan mu, bukan tentang profesiku ataupun tentang karirku, ini tentang kita.

Namun, sebaiknya kamu harus mengetahui sedikit tentang aku. Aku tahu, mungkin aku bukan wanita yang bisa membina keluarga kita dengan baik dan benar dengan segala pekerjaan yang aku emban sekarang. Waktu yang sedikit, sibuk, rapat sana-sini membuatku kewalahan mengatur waktu untuk cepat sampai di rumah. Jika istri mu seorang ekonom, mungkin kamu akan takut jika aku terjerat kasus-kasus korupsi seperti yang banyak terjadi saat ini, tapi jangan khawatir aku tidak akan melakukan itu. Hidup dari jerih payahku dan kamu sudah bisa membuat ku bahagia tanpa harus memakan uang haram itu.

Sayang, kamu harus mengerti kalau ini adalah cita-cita yang dari dulu ingin aku wujudkan, menjadi pengabdi bagi negara ini. Merancang kebijakan ekonomi dengan segala permasalahannya yang semakin kompleks dari hari ke hari, menjadi pekerjaanku. Bergulat dengan data, angka, grafik kemudian menyimpulkannya menjadi suatu kebijakan sudah menjadi makananku saban hari. Semuanya aku lakukan, karna ingin membuat negara ini lebih baik dan mensejahterakan semua rakyatnya, hanya itu saja. Melihat semua rakyat negri ini bahagia dan bisa hidup tidak lagi dalam penderitaan adalah kebahagian dalam hidupku, Sayang.

Namun, aku akan lebih bahagia lagi jika istri mu nanti adalah aku. aku akan sangat berterimakasih kepada Allah SWT karna sudah mengamanahkan aku padamu. Aku berjanji akan menjadi wanita yang terbaik untuk mu. Aku akan menyisakan waktuku di akhir pekan bersama mu dan anak-anak. Mendengar mereka memanggil aku Ibu dan memanggilmu Ayah untuk pertama kali dan melihat mereka tumbuh besar bersama dengan mu. Ah, pasti itu sangat indah…

Dan satu lagi, jika istrimu nanti aku seorang ekonom. Jangan pernah letih mendengarkan segala keluh kesahku dan merangkulku, karna yang ku tahu aku selalu punya rumah untuk pulang, bahumu untuk bersandar dan pelukmu untuk menghangatkan.

 
—————————————————————-
pengirim :

Mahsiswi Ilmu Ekonomi, Universitas Andalas

Padang – Sumatera Barat
CeritaJika_project : klik di sini

CeritaJika #30 : Jika Istrimu Seorang Ilmuwan

Pernahkah kau berpikir bahwa suatu hari nanti kau akan menghabiskan sepanjang sisa hidupmu dengan seorang ilmuwan?

Aku, yang ditakdirkan menjadi seorang ilmuwan, parasnya tak seberapa elok dengan bingkai wajah yang dihiasi kacamata minus. Terlebih, aku tak suka berlama-lama bersolek di depan cermin untuk terlihat cantik di matamu. Aku lebih suka berlama-lama di depan laptop sambil menjalankan program sederhana untuk membantu pekerjaanku. Aku juga akan lebih lama menatap ribuan angka dan hipotesis di kertas hvs yang ku kerjakan ketimbang menatap dalam mataku. Apa itu tak masalah?

Mungkin suatu hari aku akan bekerja di sebuah perusahan riset. Dan bila tidak ada perusahaan yang cukup baik untuk menerimaku, semoga saat itu kau ada di sampingku untuk terus memberiku dukungan. Atau bila kau mau, aku akan menjadi ibu rumah tangga saja. Aku akan terus mengamati tumbuh kembang anak kita nanti. Oiya, jika anak kita perempuan, akan aku ajarkan bagaimana caranya bersikap manis dan berhijab sepertiku. Dan jika anak kita laki-laki, akan aku pastikan ia untuk tumbuh menjadi sosok yang tegas sepertimu. Aku pun akan terus me-manage keuangan keluarga kita agar tak kekurangan.

Sejujurnya, aku termasuk tipe orang yang membosankan. Aku senang membicarakan tentang penelitianku dan segala aktivitasku di laboratorium. Aku tak akan segan mengeluh padamu atas risetku yang tak kunjung menemukan titik temu dan juga biaya penelitian yang semakin menipis. Apakah kau bersedia mendengarkan kisahku?

Tapi, sesibuk apapun aku nanti, aku ingin kau tau bahwa keluarga kita akan selalu jadi prioritas utamaku. Dan walaupun tak selalu ku katakan, aku ingin kau tau bahwa kasihku akan selalu ada untuk mendampingimu. Aku akan mengikuti langkahmu dan menggenggam tanganmu agar kita bisa terus berjalan beriringan.

Jika benar istrimu kelak seorang ilmuwan dan orangnya adalah aku, tolong mengerti aku. Rangkullah aku dan berikan senyuman hangatmu. Karena sesungguhnya semangat yang selama ini aku punya tak lain berasal darimu. Hanya satu inginku; membanggakanmu dengan karyaku. Aku minta padamu, jangan sungkan untuk menegurku dikala aku salah. Ilmuwan juga hanyalah seorang manusia yang butuh bimbingan dan arahan.

Setelah sejauh ini, ku tanyakan sekali  lagi padamu. Bagaimana jika suatu hari nanti kamu akan menghabiskan sepanjang sisa hidupmu denganku?

 – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

pengirim :

Cindy Meilita

FMIPA – Institut Teknologi Bandung

CeritaJika_project : klik di sini

CeritaJika #29 : Jika Istrimu Seorang Akuntan

Mungkin tak pernah terbayang olehmu, aku yang seorang akuntan akan menjadi istrimu. Aku yang setiap hari harus bergelut dengan seabrek angka dan nota. Aku yang setiap hari harus memutar otak untuk membuat setiap laporan-laporan keuangan menjadi seimbang seperti yang seharusnya. Mungkin kau melihat aku sebagai robot berbentuk manusia yang harus melakukan pekerjaan yang sama setiap hari tanpa rasa bosan, menghitung. Namun, yang harus kau tahu, pekerjaanku sebagai akuntan telah mengajariku menjadi seorang yang lebih sabar, seorang yang lebih kuat, dan lebih teliti. Bukan berarti aku tak bisa bercanda akibat pekerjaaku itu. Aku masih manusia. Aku masih bisa tersenyum, aku masih tetap seorang yang humoris walau pekerjaanku tak mencerminkan itu semua. Keseharianku memang bisa dibilang monoton: bertemu mesin hitung, membuat rencana keuangan, mengawasi pengeluaran dan pemasukan untuk membuat keuangan tempatku bekerja tetap aman. Tapi jangan kau khawatirkan, walau aku memiliki keasikanku sendiri, aku tak akan melupakan kewajibanku sebagai seorang istri dan seorang manajer rumah tangga.

Aku akan bangun pagi sekali dan memasak sarapan untukmu dan anak-anak kita. Aku akan siap menjadi guru bila anak-anak kita mengeluh kesulitan pada pelajaran sekolahnya. Aku yang akan pertama kali mengetahui perkembangan kehidupan yang anak-anak kita lalui. Aku yang akan bersiap siaga bila di antara anggota keluarga kita ada yang jatuh sakit. Bahkan, dengan pekerjaanku sebagai seorang akuntan aku bisa mengolah keuangan keluarga kita dengan sebaik-baiknya. Tak usah kau cemaskan uang hasil jerih payahmu akan terbuang sia-sia, aku sangat amat mengerti memboroskan uang hanya akan berakibat penyesalan di kemudian hari. Dan bila mungkin, uang hasil jerih payahku akan turut membantumu membiayai kehidupan kita. Jangan cemaskan gajimu tak kan cukup untuk aku dan anak-anak kita, aku akan siap membantumu bahkan dalam masalah keuangan sekalipun. Meski demikian, sekalipun tak akan ku langgar kata-katamu hanya karena aku ikut andil dalam urusan uang. Karena ku yakin ridho mu akan menjadi kelegaanku dalan menjalani aktivitasku. Mungkin kau berpikir bagaimana aku bisa melakukan semuanya? Tak lelahkah aku melakukan pekerjaanku sebagai akuntan sekaligus sebagai ibu dan istri yang baik? Jawabanku adalah tidak.

Menghitung, bergelut dengan angka dan nota memang pekerjaanku, namun menjadi istri dan ibu yang baik bagi keluargaku adalah panggilan hatiku. Wanita mana yang tidak bahagia dapat merawat suami dan anak-anaknya dengan sekuat tenaganya. Wanita mana yang tidak bahagia anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik melalui pengajarannya. Aku ingin menjadi salah satu wanita yang bahagia itu. Mungkin akan terasa berat bagiku melakukannya sendiri, namun denganmu aku yakin bisa. Bantu aku, bimbing aku, awasi aku agar tetap dalam kodratku. Agar kita bisa bersama-sama berkumpul tak hanya di dunia, tapi juga di surga.

 – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

pengirim :

Diah Ayu Ningsih

Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

 CeritaJika_project : klik di sini

CeritaJika #28 : Jika Istrimu adalah “Bos”mu

Secara praktis hidupku terangkum dalam satu backpack Deuter 30liter dan satu ransel boots kecil. Jika dikota, aku lebih akrab menekuri gadget dan komputer, jika keluar kota aku tak terdeteksi. Jika ditanya profesiku? Aku tak punya. Ehehehehe. Praktis aku tidak bisa memuaskan tanyamu, Karena aku ogah dibayar karena kemampuanku. Cukup arogan, karena tidak ada satupun perusahaan mampu membayar cara fikir dan ideku.  

Keseharianku cukup mengesalkan karena harus banyak berlayar di dunia maya, bukan di lautan beneran seperti yang aku suka. Membuat analisa, membuat konten media, berbagi perspektif dan mengajak orang keluar dari dunianya. Sama seperti pembuat games, arkeolog, akuntan, teknisi, yang ku hadapi sepenuhnya benda mati. Namun menghubungkanku pada jutaan manusia entah siapa dengan latar belakang budaya berbeda. Membentuk perilaku otentik sehingga aku sering terjebak pada kondisi komunikasi tak asik : konflik.

Tapi ah! Ini hanya dunia berisi orang-orang yang sering kali tak ada tata krama, ada baiknya, tapi lebih banyak buruknya. Dunia tak kenal aurat.  Alih-alih rasa malu. Tentu aku lebih rindu pada manusia beneran. Manusia-manusia urban yang terpinggirkan adalah idolaku, artisan, orang-orang pelosok desa, ahli hidup yang sesungguhnya. Menyikapi segala hal dengan kerja, bukan jargon : Earth Hour! Go green! Organic! Modernisasi! Anti JIL! Travelling! Life is adventure!

Dalam duniaku itu hanya perang kata-kata.

*

Dan kamu, aku tak tahu apa harus menyebutmu…

Okelah, jika aku menjadi istrimu, harusnya bukan hal berat. Aku adalah seorang hausfrau, dan suka menjadi seperti itu. Perempuan desa yang diwajibkan terampil melakukan segala pekerjaan domestic, mulai dari menyapu, menyiapkan sarapan, mengatur menu hingga pasang lampu, benerin genteng bocor dan bikin kolam ikan. Mengurusmu saat demam, bikin koffie atau cokelat rempah saat hujan sore-sore. Menentukan warna cat dinding dan tegel apa yang cocok untuk dapur. Memilih piring, mengamankan colokan listrik, menyingkirkan televisi dan menata kebun. Dan tak perlu gelar apapun dari perguruan negeri orang untuk itu. Tapi aku yakin akulah ahlinya, memastikan segala hal dalam rumah kita aman dan nyaman.

Masalah pendidikan anak, tentu saja semua hal yang sedang aku pelajari dan kerjakan saat ini adalah mempelajari diriku sendiri, mencari yang sejati dan kelak menularkan pada anak-anak kita. Sejujurnya agak ngeri membicarakan hal ini, betapa aku tak mampu membayangkannya lebih jauh lagi soal masa depan. Bantulah aku, aku tak mau menjadi perempuan kebanyakan yang dituntut suaminya untuk mengurus anak dan mendidik sepenuhnya seolah itu satu-satunya kewajibanku. Kita bisa melakukannya bersama. Alur berfikirmu, sikapmu akan berdampak besar pada anak-anakmu, itulah yang ingin ku katakan padamu, kelak suamiku. Kita yang melakukannya, kehadiranku dan kehadiranmu. Aku memang kehilangan figure orang tua terlalu dini, tapi bukan berarti aku tak punya naluri melakukan tugas itu dengan baik.

Dengan apa yang aku lakukan sekarang, aku tak ingin mencetak anak-anak cemerlang dan manusia unggul. Aku ingin anak-anak kita mandiri dan menemukan jati dirinya. Itu saja. Lebih berat, karena kita tak bisa mengirimnya kepada lembaga bimbingan belajar. Tak ada lembaga pendidikan di negeri ini yang seperti itu.

Sungguh berat semua ini tanpamu. Dan ku mohon, berikan ruang pada anak-anak kita menggali dan menapakkan kaki ke dunia untuk belajar lebih banyak. Kita tak bisa mengontrol kejadian, biar saja alam bicara apa, tapi kita bisa membekali dengan navigasi yang baik, membaca tanda, kemampuan peka dan memetakan langkah. Hal-hal yang sudah kita pelajari berdua terlebih dahulu. Kau tahu dunia ini sakit parah, penduduknya sakit jiwa, dan kebanyakan darinya tidak memahami hal itu.

Dan saat ini, itulah pekerjaan utamaku. Menghidupi diri, mencari universitas tertinggi yang tak sudi lagi ku raih lewat bangku sekolah formal. Oh,ya aku tak begitu pintar, sabarlah. 

Aku tak akan meminta hal-hal yang rumit, mengenai kemapanan hidup dan segala tetek bengeknya. Kita jadi manusia biasa saja, hidup biasa saja. Aku malas meributkan uang, karena harusnya kita sadar letak dimensi kita masing-masing.

Bolehkan aku jadi diriku sendiri? Aku tidak akan melawanmu sebagai lelaki, kita paham wilayah ego masing-masing, karena akan selalu ada kompromi, jalan tengah, jalan setapak. Semangat keluarga.

Aku akan menemukan cara damai untuk menghasilkan uang, tanpa harus membebanimu dengan kebutuhanku, ya, meski itu kewajibanmu. Membeli buku sendiri, perlengkapan szepeda dan trekking sendiri. Atau jika suatu hari beras dan gula di rumah habis, mungkin aku bisa pinjamkan padamu. Tapi aku tak memberi batas waktu kapan kau kembalikan. Cicil saja dengan lebih banyak kasih sayang. 

Selebihnya aku hanya ingin menjadi petani, lantas bepergian ke seluruh penjuru, kemanapun untuk mendapatkan ilmu baru yang aku butuhkan. Jika aku ingin belajar membatik, aku akan pergi ke Lasem. Jika ku ingin belajar keramik, hmmm, boleh aku pergi ke Jepang? Bukan berarti aku akan meninggalkan rumah tanpa batas waktu. Jika rumah terlampau repot dan berat harimu ingin ku ringankan, tentu saja aku lebih memilih di sampingmu dan mencari cara lain melakukan hal berguna dan mewujudkan imipiku. 

Sampai saat ini beginilah hidupku. Tak banyak hal megah,ya. 

*

Aku tak ingin kau berlebihan dalam menilaiku, aku hanya perempuan yang sangat biasa. Mengerjakan hal remeh. Kadang terlalu lelah ketika segala usaha dan gagasanku tak menampakkan hasil. Memikirkan strategi ini-itu demi karierku, bukan profesiku. Aku lebih senang berkarya, bukan mencari uang. Pertama, aku melakukan segalanya bukan hanya alasan emosional, passion dan kecintaan. Tapi sebuah keharusan, karena aku harus melakukan sesuatu. Kedua, aku ingin punya waktu luang mengurusmu, anak-anak, rumah dan memperhatikan orang-orang di sekitarku. Membuat jadwal kunjungan ke taman, hutan, gunung, museum dan rumah saudara. Membawa anak-anak mengenal embah uti dan embah kakungnya.

Aku ingin menjadi orang pertama yang tahu segala hal tentang anak-anak dan tentangmu. Menjadi core dalam rumah ini. Karena secara sosial, mungkin kaulah kepala rumah tangga. Tapi aku bossnya, ehehehhehe…

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

pengirim :

Samanta Tantular

CeritaJika_project : klik di sini