Orang yang Pernah Datang Kepadamu tapi Kamu tidak Memiliki Tempat untuk Menerimanya

©kurniawangunadi

Suatu hari, pernah beberapa kali terjadi di hidupmu. Ada orang-orang yang kamu rasa cukup baik, hadir di hidupmu. Ia berkata kepadamu, kata terbaik yang pernah diucapkan oleh siapapun yang berniat baik. Kamu tersipu, kamu merasa menemukan, ia pun demikian. Kamu merasa segala sesuatunya akan berjalan dengan baik.

Siapa sangka. Ia adalah ujian.

Hidup ini kadang membuat kita khawatir, mengapa seseorang dinilai begini dan begitu, mengapa sulit melihat kebaikan orang lain, juga mengapa seringkali – kita pun begitu – lebih mudah melihat sisi buruknya. Mencari-carinya untuk menjadi alasan penyangkalan itu. Juga, ada pikiran-pikiran yang dipaksakan untuk seragam, padahal manusia itu sendiri amatlah beragam.

Ia datang kepadamu sebagai dirinya. Kamu menerimanya, tapi tidak dengan mereka. Alasannya beragam dari mulai terlalu jauh, terlalu asing, berbeda asal, berbeda usul, berbeda ini-itu, yang dicari adalah perbedaannya. Alangkah sedihnya hatimu, mendapati kenyataan bahwa ia adalah ujian.

Dikatakan kepadanya, bahwa tidak ada tempat untuk menerimanya. Ia pun berlalu. Begitu seterusnya hingga berkali-kali terjadi dalam hidupmu, kejadian serupa. Berulang-ulang. Sampai kamu bertanya-tanya, apakah akan selamanya begitu?

Salah satu bagian sulit di hidup ini adalah melewatkan kebaikan-kebaikan. Saat kebaikan itu berlalu, tidak sempat menjadi milikmu, dan ia menjadi milik orang lain. Menjadi pahalanya, menjadi amalannya. Kebaikan itu berlalu berkali-kali.

Kini coba perhatikan. Berapa waktu berlalu. Masih tidak ada ruang di dirimu untuk semua itu. Coba perhatikan bagaimana orang-orang yang dulu berlalu, perhatikan bagaimana hidupnya kini. Itu adalah pelajaran berharga yang amat penting.

Sebab satu hal yang sering luput untuk kita insyafi adalah kita sulit menerima kenyataan, kita sulit menerima perbedaan, kita sulit untuk menerima kebaikan hanya karena orang yang melakukannya tidak kita sukai.

Pelajarilah hal-hal yang berlalu, karena mereka adalah ujian. Tentu saja, mereka dititipi oleh Tuhan pelajaran berharga yang bisa kita petik. Sayangnya, tidak semua dari kita bersedia menerima pengetahuan itu dengan terbuka.

Apakah Boleh?

Suatu hari kamu mengetahui ada seseorang yang menyukaimu tapi kamu biasa saja menanggapinya. Tidak pernah terbesit dalam hatimu ada rasa suka yang bisa digunakan untuk membalasnya. Lantas suatu hari, dia yang tidak pernah kamu duga itu berniat memperjuangkanmu. Apakah boleh?

Kamu terkejut, mungkin juga merasa tidak nyaman atas apa yang dia lakukan. Meski sebenarnya dia tidak berbuat hal aneh, bahkan tidak pernah menunjukkan bagaimana caranya dia berjuang. Hanya saja, pengetahuanmu tentangnya bahwa dia sedang memperjuangkanmu, membuat ketenanganmu terusik.

Padahal, dia sama sekali tidak mengusik. Hanya saja kamu menolaknya. Padahal dia tidak meminta apa-apa. Dia hanya berjuang, apakah boleh?

Satu hal yang mungkin harus kamu tahu, kamu tidak bisa menolak cinta seseorang sebab cinta itu adalah miliknya, tumbuh di dalam hatinya sendiri. Akan tetapi keputusan bagaimana kamu bersikap kepadanya adalah sepenuhnya hakmu.

Kadang atau mungkin memang lebih baik; ketidaktahuan kita tentang cinta seseorang itu jauh lebih aman daripada kita mengetahuinya.

Yogyakarta, 15 Maret 2016 | ©kurniawangunadi

Sunyi Sepi

Saat kesepian, maka jadikan kesepian itu menjadi nyanyian. Menjadi tatanan kata yang penuh rima, penuh makna, dan penuh rahasia. Tidak akan terungkap rahasianya kecuali orang lain bersedia masuk dalam kesepian itu sendiri. Merasakan bagaimana sebuah sepi mampu menciptakan pikiran panjang yang tak berbatas tentang kekhawatiran dan ketakutan. Betapa kesepian mampu membuat hidup manusia menjadi cerita yang tak pernah mati meskipun manusia itu telah menganggap dirinya mati.

Cerita yang terus menerus meletup dalam pikirannya. Suara-suara dari dalam diri ketika kesepian menjelma menjadi sunyi. Sunyi yang membuat seorang manusia bersedia mendengarkan kata hatinya sendiri.

Yogyakarta, 10 Januari 2016 | ©kurniawangunadi

Ada yang Tahu Siapa Namanya?

Setiap kali aku duduk di sini, di sebuah serambi masjid. Ia selalu datang berjalan dari arah utara ketika adzan berkumandang. Membawa tas dalam dekapan, jalan menunduk dan langkah yang gesit. Meski tidak setiap hari aku duduk di sini, tapi setiap kali di sini ia selalu datang dengan cara yang sama. Aku menatap sekitarku. Kira-kira, ada yang tahu siapa namanya?

Aku tidak mengenalinya dan tidak berusaha mengenalkan diri. Ingin tapi tidak tahu caranya. Ingin tapi malu untuk mulai bertanya. Padahal urusan ini sebenarnya sederhana, tapi tidak bagi orang-orang sepertiku. Padahal apa susahnya. Seandainya aku tahu siapa namanya.

Aku tidak tahu ia menyadari kehadiranku atau tidak seperti aku yang selalu menyadari keberadaannya. Meski tatap mata kita tidak pernah bertemu. Meski berpapasan beribu-ribu. Kita tidak ada salam, bahkan tidak ada senyum. Meski aku tahu kemudian hari ternyata lingkaran pertemanan kita beririsan. Aku masih tidak bisa bertanya pada teman tentang siapa namanya. Padahal apa susahnya. Urusan ini sederhana, tapi tidak bagi orang-orang sepertiku.

Aku ingin mengenalnya tapi malu. Aku melihat di sekitarku, mencari tahu sendiri jawabnya. Ada yang tahu siapa namanya?

Bandung, 16 Agustus 2014 | ©kurniawangunadi

Yang Tak Selesai

Pada tahun 2012 hingga 2013 pertengahan saya membuat cerita serial. Dua buah cerita serial yang saya tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Mungkin karena saya tidak biasa menulis panjang. Hehe.

Cerita serial itu berjudul Kopi Manis Tanpa Gula (KMTG) dan Bumi, sayangnya naskah serial itu terhenti. Ada terbesit keinginan untuk meneruskannya lagi hingga utuh. Tapi, ah selalu saja ada tapi.

Untuk teman-teman yang ingin membaca-nya, serial KMTG dan Bumi saya sertakan ditautan berikut. Sambil saya mau minta feedbacknya di askbox postingan ini.

Serial Kopi Manis Tanpa Gula : klik di sini

Serial Bumi : klik di sini

?

ceri(TA) cin(TA)

Beberapa hari ini saya sedang rajin menulis (menulis laporan TA). Di tengah waktu mendekati hari H saya untuk sidang akhir. Saya ingin berbagi sedikit pembelajaran berharga dari TA saya ini. Bukan soal pencapaian hasil. Tapi proses yang saya lewati dari (secara resmi) 8 Oktober sampai 28 Desember. Dan dari hitungan saya, secara asli sekali TA saya hanya dilewati dalam 63 hari kerja dalam tiga bulan itu dipotong libur dari perjalanan Temanggung-Bandung.

Proses sebelumnya tidak perlu saya sebutkan. Yang pasti, follow-up TA saya hingga mendapatkan sponsor, judul, dll memakan berbulan-bulan sebelumnya dan membuat saya mengambil keputusan untuk mundur satu semester demi TA yang lebih baik.

Dari perjalanan proses pengerjaan ini, setidaknya saya belajar tentang bergerak. Bergerak meski sedikit, bahkan berusaha bergerak meski tidak tahu mau bergerak kemana. Dalam proses, bertemu dengan kebuntuan pasti ada, jenuh dalam mengerjakan, bahkan merasa “mentok” tidak tahu mau ngapain setelahnya.

Dalam kondisi tersebut. Tetaplah bergerak. Tetaplah melakukan sesuatu meski itu tidak menambah progres. Justru banyak hal ditemukan ketika hal itu dilakukan. Dalam mengerjakan sebuah proses misalnya dan tiba-tiba buntu, terus bergerak. Pada akhirnya, yang namanya ilham itu akan datang. Hal yang membuat kita akan berkata, “ohhh seharusnya … .”, “ah ini dia… ”

Dosen pembimbing saya mengatakan bahwa tujuan TA bukanlah untuk menghasilkan sesuatu yang sempurna, tapi bagaimana seseorang mengerjakan sesuatu dengan proses yang baik. Proses itulah yang kita presentasikan dalam sidang akhir. Mengapa hasilnya begini, mengapa begitu. Apa yang terjadi dalam proses, dll.

Saat banyak orang memilih untuk mengerjakan TA nya secara asal-asalan, sekedar syarat lulus. Ya mungkin memang apa adanya saja yang akan di dapat, atau bahkan tidak mendapat apa-apa. Selesai TA, simpan semua dalam lemari. Laporan yang menuh-menuhin perpustakaan kampus. Berdebu dan semua hal yang dikerjakan mengendap begitu saja tanpa bisa diimplementasikan secara langsung. Menjadikan masyarakat sebagai objek studi, meneliti masalahnya, menganalisa, lantas membuat pemecahan. Selesai sidang, tinggalkan.

Jadi, memang sebuah pilihan apakah kita akan menjadikan Tugas Akhir dalam perkuliahan kitai ini sebagai sesuatu yang berharga atau menjadi biasa saja. Lulus kuliah saling bersaing dengan teman mencari pekerjaan. Sikut sana sikut sini. Mendamba gaji setinggi langit tanpa melihat kapasitas diri sejauh mana. Ya, seolah-olah kampus dengan segala “pendidikan"nya hanya menyiapkan pekerja untuk perusahaan-perusahaan. Bukan untuk menciptakan manusia yang seutuhnya, yang memiliki hati dan cita-cita. Yang memiliki idealisme kuat tentang kehidupan. Yang memiliki nilai-nilai yang bisa membuat seseorang menjadi bangga pada harga dirinya.

Banyak hal yang saya pikirkan selama TA, mungkin akan menjadi bahan perenungan panjang saya untuk memilih jalan nanti selepas lulus. Menyandang nama besar sebuah almamater, dipandangan tinggi oleh yang lain. Sungguh, itu bisa dipandang sebagai sebuah beban atau kekuatan. Tentu bisa dipilih.

Ah sudahlah, mohon doa dari semuanya. Semoga saya bisa menjalani proses ini dengan sebaik-baiknya hingga sidang yang sebentar lagi. Bismillah.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

29 Desember 2013 | Rumah, Jawa Tengah

Selamat berjuang untuk yang sedang mengejar cin(TA)nya 😀