Yang Disebut Cinta

Kita bingung menjelaskan cinta itu apa dan bagaimana. Tapi kita bisa melihat cinta dari banyak hal sederhana. Seperti seseorang yang begitu menyukai kopi dan secangkir kopi di depannya. Seperti seorang penulis yang berbinar matanya melihat pena dan kertas yang kosong. Seperti pelukis yang ingin bersegera menyendiri untuk mengekspresikan idenya dalam kanvas.

Rasa cinta membuat orang menyegerakan sesuatu, membuat orang melakukan hal-hal yang melampaui anggapan orang. Kita tidak perlu repot mendefinisikan hal-hal yang kita rasakan. Karena perasaan memang ada bukan untuk di definisikan oleh pikiran, cukup dirasakan. Sesuatu yang tidak perlu repot kita ukur karena memang tidak ada alat ukurnya, bahkan tidak ada satuannya.

Sebagai orang jenis E-N-Thinking-J, hampir segala hal saya pikirkan logis dan tidaknya. Saya sering mengabaikan perasaan saya (juga perasaan orang lain) dalam menganalisa sesuatu. Bisa mengabaikan apa yang saya rasakan agar kehidupan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan beberapa kali saya berusaha mengukur perasaan itu dengan pikiran yang berakhir pada sakit kepala.

Ketulusan, keikhlasan, kebahagiaan, kesedihan, dan segala hal yang memang tempatnya di hati sulit untuk pahami. Namun, yang terpenting adalah bukan bagaimana kita mendefinisikan semua itu, tapi bagaimana kita bisa mengenali perasaan-perasaan yang hadir dalam hati kita agar kita tidak salah memberikan respon.

Segala sesuatu yang melibatkan perasaan, kita harus hati-hati.

©kurniawangunadi | Yogyakarta 20 Januari 2016

Tulisan : Apa yang kita beli?

Beberapa hari ini, ketika saya belanja untuk Langitlangit ada sebuah pelajaran berharga yang saya dapatkan. Pelajaran yang diperoleh bukan dari belanjanya, tapi dari tempat lain yang kemudian menjadi terkait dengan proses belanja tersebut.

Kehidupan yang semakin materialis dan hedonis seperti sekarang ini memang banyak ujiannya. Ujian bagaimana kita mengelola hawa nafsu kita ketika belanja.

Seringnya kita diberikan tips dan trik belanja hemat dengan tujuan pengeluaran uang minim tapi bisa mendapatkan barang yang diinginkan. Atau tips dan trik memilih barang tertentu berdasarkan kebermanfaatan atau fungsi. Beberapa hari yang lalu, saya belajar tentang tips belanja yang lebih fundamental lagi.

Yaitu tentang pertimbangan hisab. Bahwa barang-barang yang kita beli/konsumsi nanti akan ada dalam rincian hisab ketika kita sudah di akhirat. Sesuatu yang sebelumnya tidak saya pikirkan sampai semendalam ini.

Akan ditanya barang itu dibeli dengan uang yang halal atau tidak, barang itu digunakan untuk apa saja, dan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang akan kita hadapi ketika membeli sesuatu. Apalagi membeli yang bukan kebutuhan, lebih kepada sesuatu yang tersier atau mewah. Bahkan sampai memaksakan diri untuk kredit yang otomatis itu terjebak dalam riba.

Ketika beberapa waktu lalu saya membeli handphone yang cukup mahal, saya berpikir ulang tentang apa yang sudah saya pegang ini. Jangan-jangan saya tidak bisa mempertanggungjawabkan hisab dari barang ini kelak. Ada perasaan sedih mengetahui apa yang terjadi sebelumnya. Pun ketika hari ini saya memikirkan tentang jumlah mainan mobil-mobilan saya yang begitu banyak dan hanya disimpan, tidak memberikan manfaat apapun sama sekali. Rasanya sedih sekali. Apakah nanti saya bisa mempertanggungjawabkan mainan-mainan itu?

Belanjalah untuk akhirat. Sesuatu yang memang bermanfaat dan memberikan pahala yang mengalir dari sana. Semoga kita semakin bijak dalam menyikapi kehidupan hari ini. Kadang kita memaksakan diri butuh sesuatu padahal tidak. Memaksakan diri ingin memiliki sesuatu yang terkini padahal masih memiliki yang berfungsi. Ya, hidup semakin tidak sederhana. Mencari yang sederhana itu memang semakin sulit 🙂

Yogyakarta, 3 Januari 2016 | ©kurniawangunadi

10.29 p.m

Bila manusia ingat bahwa  kematian itu adalah teman lama yang dilupakan. Teman lama itu akan datang suatu saat. Datang dalam hidup manusia, menyapanya. Dan banyak manusia yang ketakutan bertemu teman lama itu. Seolah-olah musuh bebuyutan/ Seolah-olah ada hutang yang belum terbayar atau ada aib yang diketahui keduanya.

Untuk itu, cara terbaik adalah berteman dengan kematian. Ajak dia duduk melingkar, mendiskusikan rencana pertemuan yang baik. Dimana, kapan, dan dalam suasana apa. Buat perjanjian dengan kematian. Ajak kematian menjadi sahabat yang kelak ketika dia datang, kita akan dengan sukacita menyambut, memeluk kehadirannya karena lama tidak bertemu.

Dan pertemuan dengan kematian menjadi hal yang paling kita nantikan. Karena sahabat yang satu ini akan mempertemukan kita kepada Tuhan.

Bandung, 5 Oktober 2014 | ©kurniawangunadi

10.15 p.m

(Mungkin) aku rasa setiap manusia merasakan lelah, lelah oleh perjalanan yang dibuat sendiri. Berharap ada seseorang di luar sana, seseorang yang entah siapa, seseorang yang tidak disangka, seseorang yang sudah lama direncanakan Tuhan untuk memutus perjalanan.

Seseorang yang kemudian menjadi rumah. Rumah yang memiliki tangga ke langit, bukan lagi menyusuri bumi yang terjal.

Aku sendiri berharap ada yang bisa memutus perjalanan ini. Perjalanan panjang yang begitu melelahkan.

Bandung, 5 Oktober 2014 | ©kurniawangunadi

Gejala Parasit Lajang.

Tulisan yang bagus dari teman saya, Tristi. Selamat berkontemplasi 🙂

Teman-temanku akan dan sudah menikah. Umur teman-temanku ini hampir-hampir sepantaran denganku. Baru-baru ini aku merasa luar biasa paling bocah mengingat fakta itu. Ada semacam iri yang kurasa.

Iri ini bukan iri macam galau mainstream karena belum dapat pasangan. Bahkan nampaknya aku sudah hampir mau kena sindrom parasit lajangnya Ayu Utami (walaupun akhirnya si Mbaknya nikah juga). 

Aku iri atas kesiapan mereka untuk dewasa. Aku iri atas upaya mereka mempersiapkan diri menjadi dewasa. Aku iri atas kerelaan mereka menanggalkan ke-bocah-an mereka demi satu ikatan suci bernama pernikahan.

Pernikahan membutuhkan kesabaran kelapangan hati, ketelitian, dan pernak-pernik kedewasaan lainnya. Aku hampir-hampir mau lari saja dari itu.

Seram rasanya harus bersanding sama pria asing yang tiba-tiba bisa aja kan meledak kayak bom Hiroshima. Aku ingin hidup sama Mama Papa terus aja deh sambil berguyon garing a la kami. Belum tentu juga suamiku kelak mau main paciwit-ciwit lutung seperti Papa suka bermain itu dengan anak-anaknya.

Intinya, ada kebiasaan-kebiasaan lama yang perlu ditinggalkan, ada kebiasaan-kebiasaan baru yang perlu dibiasakan. Ini bisa jadi sulit.

Kadang aku heran sendiri dengan postingan-postingan bernada galau ingin cepat-cepat nikah di facebook, tumblr, dan entahlah apa lagi. Terus dibercandain lagi. Wah, mereka sudah siap luar biasa gitu ey menjemput jodoh. Sudah bisa terproyeksikan gitu oleh mereka nikah tuh kayak gimana sampai berani bercanda tentang itu.

Sedangkan aku sendiri masih dirundung kisah-kisah kelabu pernikahan seperti perceraian Asma binti Abu Bakar dan Zubair bin Awwam, atau bagaimana Lucrezia Smith harus bertahan dengan suaminya yang punya penyakit mental akibat Perang Dunia ke I dalam novel Mrs. Dalloway, atau kisah-kisah di rubrik Sekelumit Romantika Kehidupan koran Pikiran Rakyat. 

Namun, setelah dipikir-pikir, hidup sendiri ataupun menikah dengan seseorang sama-sama punya marabahayanya tersendiri kok.

Berhasil atau gagalnya sebuah pernikahan tidak menentukan keberhasilan di akhirat (walau diusahakan berhasil lah ya). Yang menentukan adalah seberapa lapang hati kita untuk mengambil pelajaran dari perjalanan pernikahan masing-masing dari kita?

Ya. Pengecut namanya jika menghindari pernikahan dengan alasan takut akan ditempa masalah ini-itu-ieu-eta-dan lain sebagainya. Jadilah pemberani yang berani mempersiapkan. 

Selamat bagi teman-temanku yang sudah dan akan menikah. Kalian keren, berani berupaya untuk mendewasakan diri dalam ikatan pernikahan— dan juga berani bertawakkal padaNya. 🙂

Kontemplasi Waktu | 5.36 a.m

Ternyata saya sudah besar.

Setiap orang memiliki dokumentasi pribadinya masing-masing berupa foto. Malam ini saya membuka iPhoto dan memang selama ini saya jarang memanfaatkan semua fitur di dalamnya. Dan akhirnya saya menemukan satu fitur untuk mendeteksi seluruh foto di komputer bahkan yang sudah saya hapus sekalipun (bisa-bisanya) berdasarkan tanggal dan terorganisir sedemikian rapinya.

Saya tersenyum melihat berbagai momen yang telah terlewati. Sekarang sudah akhir tahun 2013. Kegiatan, kejadian, apapun itu diwaktu mundur ke belakang 2012, 2011, 2010, 2009 bahkan ke hal-hal yang saya lupa ternyata saya melalui itu. Malam ini saya teringat.

Orang-orang yang berada di dalam foto saat ini sudah terpisah-pisah. Ada yang di Jepang, Belgia, Jerman, Bali, Kalimantan, dimanapun itu. Alangkah cepatnya waktu. Itu yang saya sadari, waktu begitu cepat berlalu. Seolah-olah apa yang terjadi itu benar-benar baru kemarin sore.

Baru saja dan itu belum lama. Ternyata itu telah melewati masa sekian tahun. Kini, saat ini Desember tanggal 16 dan Februari 2014 itu pasti terjadi besok, dan di februari itu saya telah menyelesaikan Tugas Akhir yang sudah 3 bulan lebih ini saya mulai.

Desember 2014 nanti juga akan terjadi. Saat dimana bulan dan tahun itu menjawab 2 pertanyaan besar saya nantinya. Lalu saya memikirkan Agustus 2014 nanti akan ada dimana, akan menjadi apa. Apakah bekerja di sebuah perusahaan desain atau sedang merintis usaha sendiri. Atau justru tidak tahu mau ngapain.

Waktu sedemikian cepat. Saya sudah besar ternyata. Sudah 20 tahun lebih hidup di dunia ini. Padahal seolah-olah saya rasakan masa anak-anak, masa SMP dan SMA itu baru saja saya lewati. Sekarang saya telah berada dalam fase yang dulu kita pandang wah. Menjadi mahasiswa dengan pakaian bebas pergi ke kampus. Sementara dulu masih pakai seragam.

Kini saya menjalani itu semua dan ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Haha.  Waktu berjalan cepat sekali. Saya ingat setiap momen saat pertama kali saya menginjakkan tanah sunda, menginjakkan kaki pertama kali di almamater saya yang berlogo gajah duduk itu.

Dulu saya pikir Ujian Nasional SMA itu susah sekali, ternyata biasa saja dan itu ternyata telah terlewati 4.5 tahun lalu. Setiap fase selalu ada yang mendebarkan. Saya mau sidang awal bulan Januari. Oke itu pasti terjadi, mau tidak mau pasti waktu itu akan datang. Dan saya merasa akan bisa melewati semua itu dan bisa merasakan udara kebebasan pada pertengahan januari. Lantas menciptakan perjalanan fisik ke berbagai tempat setelahnya.

Mahameru yang dulu hanya ada dalam pikiran, ternyata telah saya lewati Juni yang lalu dan itu telah lewat beberapa bulan. Cepat sekali waktu berlalu. Saya merasa apa yang bisa saya ciptakan dalam hidup ini adalah masalah waktu. Saya menulis cerita dan setiap cerita akan terjadi di waktunya masing-masing.

Rinjani yang masih dalam pikiran. Tentang tempat-tempat jauh yang tidak tercantum dalam peta. Semua dalam pikiran. Pada saatnya dan saya yakin itu akan terjadi. Sama halnya ketika dulu kecil, saya memikirkan sekolah di sini, di kampus berlogo gajah duduk dan itu terjadi 7 tahun kemudian. Saat akhir tahun 2012 saya berpikir untuk mencari sponsor perusahaan untuk TA saya, ternyata itu terjadi saat ini dan saya mendapatkan sponsor penuh untuk TA saya.

Tapi hanya ada satu hal yang selama ini paling sulit saya lakukan, namun saya memperjuangkan untuk itu hingga hari ini. Memikirkanmu. Apakah juga akan terjadi. Jika iya, maka saya akan membuat cerita khusus tentang perjalanan hati itu. Saya telah menyiapkan naskahnya dengan baik di pikiran. Semoga Tuhan sebagai ‘penerbit’ utama mau menerima naskah ini dan mencetaknya. Menjadikannya nyata. Aamiin.

Ini mau tulisan awalnya apapun, ujung-ujungnya tetep ya. Haha. Ah sudahlah.

Temanggung, Jawa Tengah | 16 Desember 2013