Bagaimana Baiknya

Suatu hari, disaat langit sedang kelabu-kelabunya, hatiku pun demikian. Adik bimbinganku mengirimkan sebuah pesan pendek melalui whatsapp. Aku sedang berbaring di tempat tidur, memandangi jendela, memerhatikan pohon yang bergerak-gerak ditiup angin, menantu hujan.

“Kak, mau nanya dong. Apa aja sih yang harus diperjuangkan oleh seorang laki-laki terhadap perempuan yang disukainya. Biar mendapatkan sinyal positif, biar bisa meyakinkannya (dan keluarganya), biar bisa mencuri hatinya. Laki-laki itu harus bagaimana?” tanyanya.

Aku membacanya, malas. Menimang-nimang kembali handphoneku, lalu melemparkannya ke tumpukan baju. Aku memilih untuk menidurkan diri,

Lepas tengah malam. Aku masih berkutat dengan buku, dengan pikiranku, dengan kegelisahanku. Aku memungut kembali handphone yang sedari tadi aku buka. Memandang kembali pertanyaan dari adik kelasku yang tak kunjung ku balas.

“Dengan beribadah dengan baik, bekerja dengan tekun, fokus, berbuat baik pada banyak
orang, rutin mengkaji ilmu, ikut kegiatan yang bermanfaat, membantu
orang lain, dan terakhir, berbakti kepada kedua orang tua.”
jawabku.

Aku tahu, aku sedang menasihati diriku sendiri.

©kurniawangunadi

Tulisan : Tuntutan

“Jangan terlalu banyak menuntut!”

Sebuah kalimat yang terlontar penuh kesadaran oleh seorang teman kala aku mengutarakan banyak hal. Semua yang aku katakan terefleksikan kembali pada sebuah keniscayaan bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Menuntut orang lain memahami kita tanpa tahu benar bagaimana orang lain hanya menciptakan sebuah ketimpangan.

Kita tidak sempurna tapi tidak perlu menuntuk orang lain untuk menerima ketidaksempurnaan kita. Setiap orang telah membawa beban perjalanan hidupnya masing-masing, beban yang berat dan tidak perlu kita tambah lagi beban untuk menerima kita sedemikian rupa.

Pertemuan-perpisahan lebih banyak datang sebagai ujian, untuk memberikan pembelajaran-pembalajaran berharga guna bekal kehidupan. Mungkin sempat menjerumuskan seorang manusia dalam sebuah kesalahan, tapi Allah menjanjikan lebih banyak pahala untuk orang-orang yang belajar dari kesalahan.

Ketidaktahuan kita atas sesuatu bukan untuk menjadi alasan untuk kita tidak mau tahu. Ketidakbisaan kita atas sesuatu bukan untuk menjadi alasan untuk tidak belajar agar bisa.

Cukupkanlah diri, sederhanakanlah diri, dengan sebuah kesadaran untuk terus belajar menjadi lebih baik dari hari ini.

Bandung, 24 September 204 | ©kurniawangunadi

Ada yang Tahu Siapa Namanya?

Setiap kali aku duduk di sini, di sebuah serambi masjid. Ia selalu datang berjalan dari arah utara ketika adzan berkumandang. Membawa tas dalam dekapan, jalan menunduk dan langkah yang gesit. Meski tidak setiap hari aku duduk di sini, tapi setiap kali di sini ia selalu datang dengan cara yang sama. Aku menatap sekitarku. Kira-kira, ada yang tahu siapa namanya?

Aku tidak mengenalinya dan tidak berusaha mengenalkan diri. Ingin tapi tidak tahu caranya. Ingin tapi malu untuk mulai bertanya. Padahal urusan ini sebenarnya sederhana, tapi tidak bagi orang-orang sepertiku. Padahal apa susahnya. Seandainya aku tahu siapa namanya.

Aku tidak tahu ia menyadari kehadiranku atau tidak seperti aku yang selalu menyadari keberadaannya. Meski tatap mata kita tidak pernah bertemu. Meski berpapasan beribu-ribu. Kita tidak ada salam, bahkan tidak ada senyum. Meski aku tahu kemudian hari ternyata lingkaran pertemanan kita beririsan. Aku masih tidak bisa bertanya pada teman tentang siapa namanya. Padahal apa susahnya. Urusan ini sederhana, tapi tidak bagi orang-orang sepertiku.

Aku ingin mengenalnya tapi malu. Aku melihat di sekitarku, mencari tahu sendiri jawabnya. Ada yang tahu siapa namanya?

Bandung, 16 Agustus 2014 | ©kurniawangunadi

Bagaimana Bila Kamu yang Membuatku Jatuh Cinta

Coba dengar,

Selama ini kamu bercerita uring-uringan dihadapanku
Tentang perasaanmu yang kalang kabut setiap kali bertemu
Tentang rindu-rindumu yang tertahan
Tentang keinginanmu yang tak bisa tertuang
sebab, kamu perempuan
Tidak dan jangan memulai duluan, katanya

Kamu harap dia memiliki perasaan yang sama denganmu
sehingga perasaanmu tidak perlu kamu bunuh satu persatu
Kamu berandai bisa menjadi pendamping hidup yang menguatkannya
bersandar dan bergantung kepadanya

Coba dengar
Harapanmu sungguh setinggi langit
Kamu tidak takut jatuh?
Padahal dia atas awan sana sama sekali tidak ada pegangan?

Coba dengar
Bila rasamu itu begitu jauh
Bagaimana bila kamu membuatku jatuh cinta?
Dan aku memiliki perasaan yang mirip seperti yang kamu miliki kepada orang lain
Apa kamu juga akan diam saja?

Selalu sulit memahami posisi diri kita bukan?
Bila kita tidak pernah mengalami keadaannya

Bagaimana?
Aku membutuhkan jawabanmu.
Dan kamu diam saja, membisu.
Tidak percaya.

Bandung, 9 Juli 2014 | ©kurniawangunadi

Ramadhan #7 : Menjadi Air yang Mengalir

Tulisan ini adalah tulisan 7/30 selama bulan Ramadhan 1435H yang dimuat selepas subuh. Semoga bermanfaat.

Kita sering mendengar nasihat menjalani hidup jangan seperti air mengalir. Mungkin bila kita hanya sekedar menerimanya, kita akan kehilangan kesempatan untuk belajar dari air yang mengalir.

Hari ini kita akan menjadi air sungai. Bukan air dalam gelas, apalagi dalam galon. Air yang mengalir dari dataran-dataran tinggi menuju tujuannya. Air yang mengalir adalah orang-orang yang istiqamah. Istiqamah pada tujuannya, tempat yang lebih rendah yaitu lautan.

Hidup ini seperti air. Ada yang harus berhenti ditengah jalan sebelum dia sampai ke tujuan. Apakah itu sebuah kesia-siaan? Tidak juga. Mereka berhenti dan tertahan di dalam sumur untuk menghidupi manusia. Ada yang berhenti di dalam periuk nasi. Ada yang berhenti sebagai minuman bagi hewan-hewan.

Kita kadang hidup melihat tujuan yang kita pikirkan ternyata tidak sama dengan tujuan yang hendak Allah takdirkan. Air selalu berusaha menuju lautan, sekalipun batu menghadang, dia akan mencari celah dimana dia bisa terus turun kebawah. Tidak tahu bila ternyata dia harus berhenti di ladang-ladang, berhenti di sumur.

Hidup kita seringkali penuh dengan impian-impian besar, sebelum impian itu tercapai. Ternyata kita dibelokkan oleh Allah dengan takdirnya. Kita mengharap kampus A, ternyata diterima di kampus B. Ingin berjodoh dengan si D, ternyata dengan si E.

Air adalah orang-orang yang istiqamah. Mengapa demikian. Meski dia punya rencana, memiliki rencana untuk menuju lautan yang rendah. Halangan tidak akan membuat dia kembali ke asal. Dia akan terus menuju tujuannya. Bilapun dia berhenti di tengah jalan dan ternyata memberikan kebermanfaatan yang lebih besar. Dia akan berhenti di sana.

Kita semua memiliki tujuan, kita semua memiliki peran. Manusia yang satu dengan yang lain tidak sama, hanya kita mungkin sedang mencari-cari alasan mengapa kita diciptakan. Apakah hanya sekedar mengalir memenuhi kehidupan, atau menjadi kebermanfaatan untuk hidup orang lain.

Kita mungkin tidak diberi amanah untuk menahan kapal-kapal besar membawa muatan. Cukup menjadi tempat ikan-ikan kecil berenang. Mungkin cukup dengan menghidupkan tanaman-tanaman. Dimana akhir hidup kita, kita tidak pernah tahu.

Setidaknya menjadi air, kita belajar bahwa kita jangan pernah berhenti. Bila memang Allah membuat kita berhenti, kita tahu ada kebermanfaatan yang lebih besar di sana. Bilapun kita mati menjadi uap, kita tahu kita telah menjalankan tugas kehidupan kita dengan baik.

Menjadi air adalah orang-orang yang istiqamah. Terus melangkah, tidak peduli rintang, mencari celah. Dan jangan lupa, dia berserah. Sejatinya kita semua digerakan, dipaksa bergerak oleh keadaan. Seperti air yang mengalir.

7 Ramadhan 1435 H | ©kurniawangunadi