Tulisan : Kekuatan

Setiap manusia diciptakan dengan tujuannya masing-masing. Tujuan umumnya tentu beribadah, akan tetapi implementasi dari kata ibadah itu sendiri berbeda-beda setiap orang. Kita tentu mendengar tentang nasihat ini berkali-kali.

Layaknya sebuah mobil, mobil baru bisa benar-benar bisa berfungsi bila setiap komponennya ada dan menjalankan perannya sesuai tugas penciptaannya. Roda, gear box, velg, setir, spion, mesin, belt, dan sebagainya. Semuanya ada, lengkap dan berfungsi.

Manusia, dalam tugasnya menjalani hidup ini pun demikian. Setiap orang dilebihkan dalam satu dua hal dari yang lain, yang lain pun demikian. Oleh sebab itu, ada teman-teman kita yang dilebihkan ilmu agamanya untuk menjadi seorang ulama kemudian hari, teman kita yang lain dilebihkan kecerdasannya untuk membuat penelitian ilmu pengetahuan baru, teman kita yang lain lagi dilebihkan daya cipta visualnya untuk membuat hal-hal indah yang kita gunakan,

Kita tidak bisa menjadi semuanya, tapi kita memiliki pilihan untuk menjadi yang terbaik sesuai dengan peran kita sendiri.

Sehingga, pengetahuan kita tentang ini akan mengantarkan kita pada ketenangan hidup. Kita tidak perlu iri pada segenap pencapain orang lain, karena itu memang tugas dan peran mereka. Rezeki mereka ada di sana. Sekaligus, tanggungjawab mereka ada di sana.

Kita adalah diri kita sendiri dengan tugas dan potensi yang kita punyai. Berbagi peran, semua peran adalah penting. Begitulah hidup diciptakan untuk saling terhubung satu sama lain. Tidak hanya saling melengkapi, tapi menguatkan. Dan rumus penguatan itu tidak hanya penambahan, melainkan perkalian bahkan kuadrat. Selamat menguatkan dirimu sendiri. Karena untuk menjadi kuat, itu adalah tugas masing-masing.*)

©kurniawan gunadi

*) kalimat ini ada di buku Sabtu Bersama Bapak – Aditya Mulya

Ramadhan #28 : Arah Musim

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Di kesempatan ramadhan ke-28 ini, di antara sekian tulisan yang lahir setiap pagi. Saya tengah menyusun buku ketiga saya yang akhirnya rilis juga judulnya; Arah Musim.

Di bulan yang baik ini, izinkan saya memperkenalkan anak ketiga saya ini sebagai sebuah rekam jejak. Untuk menyelesaikan naskah ini, benar-benar melelahkan. Ikhtiar yang melelahkan untuk mendapatkan data pendukung, diskusi, referensi buku, dan yang terakhir adalah niat. Namun, semuanya menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri mengingat naskah buku ini semakin menemukan titik terang.

Mengapa saya beri nama Arah Musim?

Buku ini akan lebih banyak menyampaikan tentang ketidakpastian. Saya menyukai ketidakpastian, semacam kondisi tidak nyaman dan aman yang memaksa manusia untuk terus berjuang. Bahkan kita tidak bisa memastikan apa yang terjadi satu detik kemudian tanpa seizin-Nya, kan?

Arah Musim ini adalah sebuah perenungan saya pada takdir-takdir dan bagaimana takdir itu berjalan. Bagaimana kehidupan manusia bisa berubah 180 derajat karena satu keputusan yang dia ambil. Bagaimana setiap pilihan hidup mengantarkan seorang manusia ke takdir-takdir yang berbeda.

Semoga, sekali lagi, pohon-pohon yang ditebang dan dijadikan kertas untuk menjadi buku ini, bisa memberi nilai dan manfaat yang besar untuk kehidupan manusia. Semoga buku ini, lagi-lagi saya berdoa, bisa memberi banyak pemahaman baik.

Arah Musim insyaAllah akan rilis bersama dengan buku keduanya @prawitamutia juga melalui @langitlangit.yk

©kurniawangunadi

Ramadhan #2 : Kemudahan dan Keberkahan

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan
Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan
dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga
tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

image

Saya pernah mengulas tentang hal ini ditulisan lama, saya lupa judulnya. Ramadhan adalah bulan yang sangat dinanti bagi orang islam yang beriman dan bertakwa. Ada banyak keberkahan yang turun di bulan suci tersebut. Setiap orang yang saya kenal berlomba untuk menggapai setiap mili-keberkahan. Hari ini pun (6/6), jamaah subuh yang biasa saya kunjungi menjadi penuh. Kemarin malam padahal tetap seperti biasa, dua shaf.

Ramadhan ini seolah-olah setiap orang islam terlihat soleh/solehah. “Terlihat” karena memang itu yang nampak, perkara niat itu hak Allah.

Tadi malam, sepulang tarawih di Masjid Nurul Asri – Deresan, saya mampir dulu ke tempat makan untuk mencari makan malam sekaligus cadangan sahur. Saya berusaha berkaca seluas-luasnya di ramadhan ini. Saya dan mungkin begitu banyak orang memasang target besar dalam ibadah individu; baca Quran-nya lebih banyak, shalat sunahnya lebih rajin, tahajudnya lebih panjang, dan apapun yang terkait dengan ibadah individu. 

Tentu ini bukan bicara tentang baik dan buruk atau salah dan benar. Saya merenung dalam perjalanan kembali ke rumah. Kalau keberkahan (dalam hal ini dalam bentuk pahala) hanya turun kepada orang-orang yang melakukan ibadah tersebut secara penuh, bagaimana dengan orang-orang yang mungkin tidak mampu bahkan tidak berkesempatan untuk itu?

Bukan karena mereka tidak ingin, tapi keadaan, kondisi, dan berbagai tuntutan hidup membuat mereka harus seperti itu. Saat kita sedang khusu’ tarawih, di luar sana ada bapak tukang parkir yang sedang menjaga kendaraan kita, di luar sana yang kita sering sekali abai dan tidak peduli, ada puluhan remaja seusia kita yang harus berjuang untuk hidup, mereka menjadi penjaga toko, pelayan restoran, dan untuk bekerja itu mereka merelakan waktu shalat tarawih berjamaah. Bahkan, pemilik tempat makan pun sengaja membuka tempat makannya di jam-jam itu (biasanya 17.00-22.00). Dan kita, sering tertawa usai tarawih ketika makan di sana atau saat berbuka puasa di tempat makan itu. Apalagi saat nanti ramai acara buka puasa bersama. Jahat gak sih?

Di saat kita begitu bersemangat menghadiri kajian-kajian dengan penceramah yang keren-keren, ada yang harus berjuang untuk hidup dan melakukan tugasnya. Para penjaga pintu kereta api, para sopir bus malam, para nakhoda di lautan, para kelasi, juga buruh-buruh bangunan dan pelabuhan, petugas pom bensin, penjaga mini market, tukang parkir, masinis, pilot, dokter dan perawat yang harus berjaga di rumah sakit, dll. Mereka berjuang untuk hidupnya juga hidup orang lain, mungkin juga untuk keluarganya di rumah. Kalau mereka semua meninggalkan tugas pekerjaannya, mungkin kita semua yang kemudian marah-marah. Jahat gak sih?

Di saat pagi kita bisa bersantap sahur, duduk manis di ruangan keluarga yang hangat, makanan yang enak. Ada di luar sana yang harus ke pasar dini hari, ada yang memasak untuk warungnya demi teman-teman yang nge-kos bisa beli makanan untuk sahurnya, dan lain-lain. Kapan terakhir kali kita berempati?

Betapa begitu banyak kemudahan yang kita miliki. Kita tidak perlu susah payah untuk memenuhi kebutuhan keuangan. Tidak perlu bekerja menjadi penjaga toko, pelayan restoran, apapun itu. Kita bisa menghadiri kajian rutin tanpa harus memikirkan hal lain. Kita diberikan banyak kemudahan untuk meraih keberkahan di bulan ramadhan ini dengan segala target ibadah individu yang sudah dibuat.

Pertanyaannya, adakah target ibadah sosial di sana? Adakah niat kita untuk ikut serta dan turun tangan membantu memudahkan orang lain beribadah juga sama seperti yang kita dapatkan? Akankah kita begitu egois, mengharapkan semua keberkahan itu menjadi milik kita semata tanpa peduli apakah itu juga didapatkan oleh orang lain?

Semoga keberkahan ramadhan itu turun kepada orang-orang yang memudahkan kita semua dalam menjalankan ibadah. Bahkan saya merasa, mereka jauh lebih pantas mendapatkan kebaikan itu. Yang jelas, Allah Maha Pengasih dan Penyayang.

© Kurniawan Gunadi

Hari ini, mungkin kita bukanlah orang baik. Dan kita memahami bahwa untuk menjadi baik seperti orang yang kita jadikan teladan, mereka telah menjalani proses yang panjang 🙂

Kurniawan Gunadi

Orang-orang baik yang kita kenal telah memulai jauh lebih dulu daripada kita. Kita baru memulainya hari ini, jangan sedih, jangan putus asa. Karena pada akhirnya kita akan sampai dititik yang mungkin sama bahkan jauh di atasnya. Selama kita tidak berhenti untuk memperbaiki diri, sekalipun hari ini kita masih berantakan. Menata hidup memerlukan waktu 🙂

Tulisan : Menghabiskan Ego

Dalam sebuah obrolan suatu sore, seorang ibu dari teman saya mengatakan kepada anak perempuannya, “Dia nikahnya nanti dulu, biar habis dulu egonya.”

Kalimat itu terngiang-ngiang dan saya mau menuliskan hikmah yang saya dapatkan. Perihal menghabiskan ego ini menarik dan saya berkaca pada diri saya sendiri sepanjang 2014 kemarin.

Benar sekali, sepertinya kemarin ego saya belum habis. Ada banyak hal yang masih ingin saya lakukan, impikan, dan lain-lain. Dan hampir semua itu bersifat personal. Seperti ego saya terhadap mainan-mainan yang ternyata jumlahnya udah ratusan hari ini. Ego saya terhadap ini dan itu pun terbilang cukup banyak. Ego saya ingin membeli ini dulu, itu dulu. Bahkan ingin kemana dulu, daln lain-lain.

Hari ini saya belajar bahwa ternyata menghabiskan ego sebelum menikah itu penting. Nanti, bila telah menikah kita sudah bukan lagi hidup seorang diri dengan tujuan dan impian sendiri, tapi sudah menjadi milik bersama.

Saya tidak mau saat menikah nanti, saya hanya memikirkan tentang kesenangan saya sendiri. Itu kuncinya. Karena ada kehidupan lain yang nantinya akan saya bersamai langkahnya.

Dan sepanjang 2014 itulah saya menghabiskan ego tersebut. Hari ini masih tersisa sedikit dan insyaAllah segera habis. Setelah itu, setiap impian bahkan keinginan saya akan lebih mudah dikompromikan dan bisa dengan mudah disinergikan.

Bila kita masih banyak keinginan pribadi, mau keliling indonesia, beli ini itu, bangun ini itu, pengin begini dan begitu. Habiskanlah semua itu ketika kita masih sendiri. Karena kelak, setelah menikah semua itu, bila kita tidak mampu mengelola dan mengkomunikasikannya dengan baik justru bisa menjadi pemicu masalah. Padahal sebenarnya itu bukan masalah. Hanya karena ego kita belum habis, kita merasa pasangan kita tidak mendukung bila pendapat kita berseberangan.

Saya belajar tentang itu sepanjang 2014. Hari ini, ketika ego pribadi saya rasa telah berkurang banyak. Saya akan melanjutkan impian saya nanti dengan sebuah diskusi bersama dengan orang yang tepat. Orang yang akan menjadi bagian dari rencana-rencana hidup yang akan dibuat itu.

Bukankah demikian? Jangan sampai dia tidak ada dalam rencana hidup saya, bukankah dia sudah ada dalam hidup saya? Bila keinginan kita masih tentang diri kita sendiri, habiskanlah.

Karena, memilih untuk menikah itu bukan tentang siapa lebih cepat. Tapi, tentang kesiapan. Menghabiskan ego akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih leluasa hatinya, lebih mudah untuk diajak bicara tentang sesuatu, dan lebih fleksibel untuk mengubah keinginan kita.

Hidup sendiri itu memang menyenangkan, kita tidak perlu mendiskusikan dengan siapapun tentang apa yang kita inginkan. Tapi, hidup berdua jauh lebih menarik bukan?

Selamat menghabiskan ego 🙂

Rumah, 12 Januari 2015 | ©kurniawangunadi

10.29 p.m

Bila manusia ingat bahwa  kematian itu adalah teman lama yang dilupakan. Teman lama itu akan datang suatu saat. Datang dalam hidup manusia, menyapanya. Dan banyak manusia yang ketakutan bertemu teman lama itu. Seolah-olah musuh bebuyutan/ Seolah-olah ada hutang yang belum terbayar atau ada aib yang diketahui keduanya.

Untuk itu, cara terbaik adalah berteman dengan kematian. Ajak dia duduk melingkar, mendiskusikan rencana pertemuan yang baik. Dimana, kapan, dan dalam suasana apa. Buat perjanjian dengan kematian. Ajak kematian menjadi sahabat yang kelak ketika dia datang, kita akan dengan sukacita menyambut, memeluk kehadirannya karena lama tidak bertemu.

Dan pertemuan dengan kematian menjadi hal yang paling kita nantikan. Karena sahabat yang satu ini akan mempertemukan kita kepada Tuhan.

Bandung, 5 Oktober 2014 | ©kurniawangunadi

Tulisan : Harapan

Sewaktu aku melangkah, aku teringat banyak hal. Aku tidak pernah meminta sejauh dan sebaik ini. Aku sudah cukup malu untuk meminta lebih sementara Tuhan sudah begitu baik dengan memberiku kesempatan. Nyatanya, Dia memberi lebih.

Kini harapan itu berada di langit-langit, sementara semakin tinggi harapan, semakin disadari bahwa tempat bergantungku tiada lain hanya Tuhan.

Kini doaku diliputi kecemasan, tentang jawaban atas harapan yang Dia tunjukkan. Tentang kesempatan besar yang Dia berikan.

Apakah ini hanya sebagai pembelajaran atau akan benar-benar menjadi ujian, aku tidak tahu. Sejauh langkahku tak terhenti, aku paham bahwa semua ini berada dalam rencana Tuhan. Segala sesuatunya diluar dugaan, segala sesuatunya benar-benar hanya bisa dipahami dengan keimanan dan ketaqwaan. Bukan lagi perasaan.

Sebuah kota, 1 Oktober 2014

Ramadhan #17 : Mencuci Dosa

Tulisan ini adalah tulisan 17/30 yang dipublikasikan terlambat. Ketidak-istiqamahan menulis tulisan ramadhan akan dibayar dengan menulis berangkap dalam beberapa hari. Semoga tetap bermanfaat.

Sebagai orang yang normal. Maksudku, orang yang secara fisik tidak memiliki satu kekurangan. Bukan masalah soal paras, tapi soal fungsi badan kita. Mata kita bisa melihat, telinga kita bisa mendengar, kaki kita masih dua dan bisa diajak berlari. Tangan kita masih dua dan bisa untuk makan. Ada sebuah pertanyaan menarik,“siapkah apabila salah satu nikmat tersebut diambil untuk mencuci dosa-dosa yang selama ini kita lakukan di dunia?”

Allah tidak akan mematikan seseorang yang beriman sampai Dia mencuci sebagian dosa-dosanya di dunia. Allah ingin kita masuk surga. Kita sama-sama tahu bahwa sakit itu menjadi penggugur dosa, kesabaran dalam musibah juga bisa menggugurkan dosa, berbuat baik, diminta sedekah, shalat tepat waktu , cobaan hidup, dan lain-lain adalah cara-cara Allah mencuci dosa-dosa kita di dunia.

Tapi pertanyaannya, mengapa kita menolak semua itu. Mengapa kita sebagai manusia tidak mau. Mengeluh ketika sakit, mengalami musibah, diminta sedekah berat minta ampun, dan lain-lain.

Coba renungi. Lebih baik Allah membersihkan dosa kita di dunia atau di akhirat? Coba tanyakan kepada diri sendiri. Siapkah bila salah satu kenikmatan hidup yang kita rasakan saat ini diambil untuk menebus dosa-dosa kita? Misal dengan kenikmatan penglihatan kita, kedua kaki kita tidak lagi bisa digunakan, telinga kita tidak lagi bisa mendengar, semua kekayaan kita dan dijadikan kita miskin, dan lain-lain. Bukankah rasanya berat sekali dan kita-aku rasa-tidak siap bila semua itu diambil.

Aku sempat menangis merenungkan semua ini. Betapa kenikmatan yang Allah berikan begitu luar biasa. Kedua tanganku masih bisa digunakan untuk mengetik tulisan-tulisan ini. Bagaimana bila Allah mengambil kedua tangan ini? Apakah aku siap? Seandainya kedua tangan ini bisa menebus sebagian besar dosa-dosaku selama ini. Apakah aku masih tidak siap?

Allah ingin membersihkan diri kita di dunia melalui banyak hal, siapkah kita diambil salah satu kenikmatan hidupnya untuk membersihkan dosa-dosa itu? Atau kita lebih memilih dosa-dosa kita semuanya dicuci di akhirat? Aku rasa aku tidak akan sanggup menahan semua itu.

Aku memilih dan meminta Allah membersihkan dosa-dosaku selama di dunia saja. Meski itu benar-benar akan membuat hidup ini terasa lebih berat. Terus terang, aku takut masuk neraka.

22 Ramadhan 1435 H | ©kurnaiwangunadi

Ramadhan #13 : Menjadi Dedaunan Pohon

Tulisan ini adalah tulisan 13/30 selama bulan Ramadhan 1435 H. Dimuat selepas subuh, semoga bermanfaat.

Hidup kita seperti dedaunan pohon. Tumbuh dari kecil hingga menjadi besar. Hingga daun mampu menangkap sinar-sinar matahari dan membuatnya menjadi bermanfaat. Daun yang memberi kehidupan kepada pohon, kepada makhluk-makhluk lain. Daun yang membuat teduh sekitarnya.

Hingga pada saat masanya tiba. Masa dimana daun tidak lagi mampu melaksanakan tugasnya. Ia gugur. Lepas dari tangkainya. Jatuh dihempaskan angin tanpa tahu hendak dibawa kemana. Jatuh diatas tanah, berserakan. Dan ia kembali melebur ke dalam tanah.

Hidup kita seperti dedaunan pohon. Hendak setinggi apapun kita hidup di dunia. Memberi kehidupan di sana dan berusaha memberi manfaat. Pada akhirnya kita akan lepas dari dunia, lepas dari tangkainya. Jatuh dan kemanapun angin membawa pergi. Pada akhirnya tanah menjadi tempatnya kembali. Kembali melebur di dalamnya.

Daun yang jatuh tidak pernah dihiraukan. Hanya daun-daun segar yang nambah menyenangkan. Siapa sangka, daun yang jatuh ini akan membuat tanah menjadi subur. Menjadikannya penuh makanan untuk sang pohon.

Kehidupan kita seperti dedaunan pohon. Ada yang jatuh sebelum dia kering, ada yang dimakan ulat bulu, ada yang layu. Kita tidak pernah tahu akan menjadi yang mana. Meski begitu, kita tahu. Kita tidak dilahirkan sia-sia. Harus ada yang gugur lebih dulu untuk menyuburkan tanah. Harus ada yang dimakan ulat agar dia bisa menjadi kupu-kupu. Ada yang harus menjadi sarang-sarang semut. Tapi pahamkah, bahwa ia bermanfaat saat hidup, bermanfaat pula ketika mati. Tidak hanya memenuhi tanah.

Kita tidak perlu berharap hidup kita akan baik-baik saja. Karena kita diciptakan untuk tujuan kita masing-masing. Di sanalah kita akan mengerti, betapa hidup kita yang seperti sulit sekali ini. Ternyata sangat bermanfaat. Kita menjadi sebab-akibat dari kehidupan-kehidupan di sekitar kita.

Kenalilah tujuan kita diciptakan, maka hidup kita akan terbimbing.

13 Ramadhan 1435 H | ©kurniawangunadi

Jangan Berhenti Melangkah

Kita pernah duduk bersama-sama di dalam bumi yang sama. Meski kita duduk sendiri-sendiri dikursinya masing-masing. Kita pernah berpapasan di jalan ketika menikmati sore hari. Meski kita tidak ingat lagi kapan itu terjadi. Sebab kita tidak saling kenal.

Kita bergerak seperti daun-daun yang jatuh. Tidak mampu menggerakan dirinya sendiri. Pasrah dihempaskan angin kemanapun membawanya pergi. Kita menggantungkan pada takdir, percaya bahwa kita akan jatuh di tempat yang sama. Meski kemungkinannya sangat kecil, kita percaya itu mudah bagi Tuhan.

Ku kira perjalanan kita sangat panjang. Kita belum bertemu, masih sibuk menyelesaikan urusan kita sendiri-sendiri. Sibuk menata banyak hal, menyelesaikan masa lalu, menghidupkan hari ini, dan merencanakan masa depan.

Perjalanan kita masih jauh. Setiap langkah kaki kita akan mendekatkan kita. Jangan berhenti 🙂

Bandung, 19 Juni 2014 | ©kurniawangunadi