Matahari

Tahu sulitnya menjadi aku ketika kau menjadi matahari?

Aku yang mau tidak mau harus bertemu denganmu setiap hari. Meski malam kelam, esok kau pasti datang. Mustahil menghindarimu sekalipun aku pindah ke bulan.

Setidaknya aku belajar banyak hal. Aku belajar bagaimana menghadapimu saat pagi tiba. Saat kita mau tidak mau harus berjumpa. Meski harus menenggelamkan perasaan di dasar lautan. Kau mungkin tidak tahu bagaimana tertekannya perasaan itu di dalam laut sana.

Lalu, aku juga belajar bagaimana menghadapimu saat kamu pergi di sore hari. Aku belajar bagaimana rindu tidak membuatku menjadi mati. Menghabiskan malam tanpa tidur dan mimpi indah hanya karena pertemuan siang tadi.

Seperti itulah menyimpan perasaan.

Aku belajar bersiasat. Bertemu denganmu seolah tidak terjadi apa-apa. Kau mungkin tidak tahu, aku kadang sedih saat langit bersekongkol menggagalkan pembicaraan kita. Tapi aku menjadi belajar. Mungkin memang sebaiknya tidak perlu terjadi pembicaraan. Apa aku minta saja langit membuat hujan gelap sepanjang tahun?

Seperti itulah kiasan yang bisa aku jelaskan ketika aku bertemu denganmu. Aku tidak mungkin menghindarimu saat kamu menjadi matahari. Tapi aku belajar bagaimana caranya menghadapimu, juga mensiasati perasaanku.

Sampai kapan kau akan menjadi matahari seperti itu?

Temanggung, 3 Maret 2014 | ©kurniawangunadi

?

Sajadah Panjang

Ada sajadah panjang terbentang
dari kaki buaian
sampai ke tepi kuburan hamba
kuburan hamba bila mati
ada sajadah panjang terbentang
hamba tunduk dan sujud
di atas sajadah yang panjang ini
diselingi sekedar interupsi

Mencari rezeki mencari ilmu
mengukur jalanan seharian
begitu terdengar suara adzan
kembali tersungkur hamba
ada sajadah panjang terbentang
hamba tunduk dan rukuk
hamba sujud tak lepas kening hamba
mengingat Dikau sepenuhnya

Sajadah Panjang – Bimbo
Interpretasi lirik.
Saya suka membaca lirik lagu, bukan mendengarkan lagu. Agak aneh dan jarang mungkin, tapi ini cara saya menikmati “musik”.
Lirik ini ditulis oleh Pak Taufik Ismail yang kemudian dibawakan sebagai musik oleh Bimbo.
Saya kagum bagaimana Taufik Ismail menjelaskan hidup dalam dua bait lirik. Untuk kita yang mengaku islam (karena islam tidak identik dengan muslim) Allah menerangkan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah.
Tidak dikatakan bahwa beribadah hanyalah dzikir, shalat jungkir balik dari wajib sampe sunah, diam di masjid, dan jenis ibadah ritual lainnya. Makna ibadah jauh lebih luas dari itu.
Dan simbol paling umum ibadah bagi muslim adalah sajadah, sajadah adalah tempat shalat. Tempat seorang muslim bersujud, dan makna sajadah tidak hanya sebatas selembar kain. Tapi dimanapun seorang mendirikan shalat dan dia membuat sutrah (batas tempat shalat), itulah sajadahnya. Dan ibadah shalat adalah ibadah paling vital dan yang menjadi ciri seorang yang berislam (sudah bersyahadat). Shalat menjadi pembeda seorang islam dengan agama yang lain. Dan shalat adalah amalan pertama yang dipertanyakan saat hari kiamat. Meninggalkan shalat sama dengan menghancurkan tiang-tiang agama. Betapa pentingnya shalat ini dan lirik mengambil perumpaan dan simbol shalat ini dalam bentuk sajadah. Dalam sekali makna sajadah dalam lirik diatas.

Dituliskan sajadah yang panjang terbentang dari buaian hingga tepi kuburan, indah sekali majas yang digunakan. Bahwa hidup kita senantiasa berdiri diatas sajadah dan beribadah.

Ibadah vertikal dan horisontal digambarkan oleh lirik itu dalam bait kedua, ketika adzan terdengar, manusia kembali bersujud.
Inilah keseimbangan. Kehidupan dunia dan akhirat. Jika teman-teman membaca Robohnya Surau Kami karya A.A Navis, cerpen itu menjelaskan bagaimana kehidupan seorang muslim yang berat sebelah, rajin beribadah ritual tapi tidak hidup bersosial.
Dan saya kagum bagaimana bisa lirik dua bait itu  merekam dan menjelaskan makna hidup yang begitu kompleks bagi sebagian orang. Dan bagaimana Bimbo membawakan lirik itu menjadi pesan yang mudah diresapi.
Temanggung, 3 Maret 2013

Cerpen : Keyakinan

Pernah bertemu dengan seorang laki-laki yang menjaga dirinya kemudian menyukai seorang gadis yang sayangnya, ada laki-laki di sebelah kanannya. Laki-laki itu bukan siapa-siapanya dimata Allah meski dunia ini mengatakan laki-laki itu adalah pacar sang gadis. Lalu laki-laki itu tetap pada tempatnya. Tidak maju tidak mundur. Diam diatas sajadahnya. Menunggu sampai pada saat Allah memberikan waktu yang selama ini ia panjatkan dalam doanya.

Pernahkah bertemu dengan laki-laki sebaik itu? Menjaga dirinya sementara ia menyukai seorang gadis, yang mungkin menurut kami tidak pantas karena sedang riang bergandengan tangan dengan laki-laki yang bukan siapa-siapa. Tapi dia yakin pada pilihannya. Lalu ketika kami tanya, mengapa? Katanya dia melihat kebaikan padanya, hanya perlu dihidupkan dan mungkin saat ini hatinya sedang tertutup sebab kekhilafannya.

Kami hanya bisa mendoakan. Laki-laki ini terlalu kuat pendiriannya. Lalu kami tanya, apa yang dia doakan setiap waktu. Katanya, mendoakannya terlepas dari laki-laki itu lalu ia akan segera memintanya untuk menjadi teman hidup. Kami terkejut. Kami tahu pasti, kualitasnya mungkin pantas untuk mendapatkan yang jauh lebih baik. Lalu ia tersenyum lagi, perasaan itu fitrah dan setiap perasaan yang baik akan mengantarkan kepada hal baik. Ia berharap cintanya bisa membawa sang gadis itu kepada kebaikan.

“Aku ingin menyelamatkan dan bisa bersama-sama dengannya ke surga, gadis sebaik itu tidak sepantasnya mendapat murka-Nya”.

Pernah bertemu dengan laki-laki seperti itu? Aku pernah. Lalu apa yang terjadi kemudian? Hari ini dia akan menikahi gadis itu. Seandainya pada suatu hari gadis itu tahu apa yang terjadi jauh hari sebelum hari ini. Entah bagaimana perasaannya.

Bandung, 18 Februari 2014 | ©kurniawangunadi

tumblr_n0n1qibpam1qmahal

Suaracerita : Kisah Langit dan Bumi

Pengisi suara : @dokterfina

Narasi :kurniawangunadi | klik di sini untuk membaca narasi Kisah Langit dan Bumi

Backsound : Yiruma – kiss the rain

Seluruh Suaracerita dirangkum dalam tautan berikut, klik di sini

© Medan, 8 Februari 2014

Kisah Langit dan Bumi adalah cerpen yang dibuat beberapa waktu yang lalu. Dan setelah melalui diskusi panjang, akhirnya telah kami putuskan nama kategori untuk file-file audio ini, yaitu “suaracerita”. Soundcloud untuk menampung file-file ini juga tengah kami persiapkan. Selamat menikmati suaracerita 🙂

Tulisan : Sudah Sejauh Ini

Tugas Akhir adalah kebanggaan seumur hidup, masterpiece kita selama kita kuliah jadi lakukan yang terbaik untuknya semampu kita. pesan dari Nayasari Aissa.

Saya tidak menyangka akan menjalani Tugas Akhir saya di semester 9. Di tengah kota kecil di Jawa Tengah. Sebulan dua kali pergi balik ke Bandung. Dan tidak mengeluarkan uang sepeserpun karena seluruhnya dibiayai oleh sponsor Tugas Akhir.

Ingat sekali sewaktu menjalani TA-1 di semester 8, saya mengambil topik yang sama sekali tidak nyambung dengan apa yang saya ambil di TA-2 ini. (Fyi, TA dijurusan saya dipecah menjadi 2 semester, masing-masing 3SKS dan 6SKS). Hanya karena masalah batin, saya memutuskan mengubah seluruh topik TA saya.  Saya mengerjakan proposal dalam 3 hari dikala waktu itu ada acara SIAware dan saya sebagai panitia. Mengerjakan selesai sesi tengah malam di mushala dan masuk angin paginya.

Proposal pendek yang  kemudian menjadi TA saya saat ini. Saya bersyukur, Allah mempermudah TA saya sedemekian rupa jalannya. Lalu, kini di tengah-tengah kejaran timeline. Saya merasa mandek, merasa buntu. Melihat kalender rasa-rasanya ingin segera skip ke bulan Februari. Saya malu sekali jika malas mengerjakan, sudah dimudahkan seperti ini dan masih malas-malasan sungguh tidak tahu berterima kasih. Hiks.

Setiap pendekar  TA akan menemui yang namanya bosan, malas, stuck, no progress meski udah ngerjain, jalan di tempat karena belum ketemu-ketemu solusinya. Ya seperti itulah. Waktu terus berjalan dan saya seperti jalan ditempat. Terus melakukan sesuatu namun belum menemukan sesuatu. Semoga saja tidak pada perlakuan ke 9999 baru saya temukan jalannya. Jalan dimana saya bisa keluar dari stuck ini. Heu heu.

Jika melihat sejenak TA saya saat ini. Saya ingin merasa bahagia. Sudah sejauh ini jalan yang saya tempuh. Jadi mengingat-ingat sewaktu SMA kelas X berseloroh dengan teman sekelas tentang fakultas yang saya tempuh saat ini. Dan kini saya menjalaninya. Tentang kampus yang ternyata logonya sama dengan logo SMA saya, dan kini saya menyandangnya. Sudah sejauh ini :’)

Setiap pagi ketika berangkat ke workshop menyaksikan anak-anak SMA berangkat, saya jadi ingat 5 tahun lalu saya setiap pagi berangkat pukul 6. Karena desa saya cukup jauh dari SMA. Tari mundur lagi ketika SMP bersepeda 15km setiap hari hingga kulit hitam eskotis. Tari mundur lagi ketika SD yang ada di samping rumah. Setiap jam istirahat pulang untuk makan.

Sudah sejauh ini ternyata. Saya tidak menyangka akan menjadi bagian dari kampus dengan nama sementereng ini, tapi saya merasa biasa saja. Memiliki cap gajah duduk memang jadi beban moral. Hiks. Di sini, berbaur dengan masyarakat yang rata-rata sekolah hingga SMP. Tidak pernah melihat kota besar seperti Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Bahkan untuk bermimpi naik pesawat dan pergi keluar negeri pun mungkin tidak ada.

Saya menjadi sebagian kecil pemuda di negeri ini yang mengenyam pendidikan tinggi. Dan ternyata sudah sejauh ini. Ketika di kampus, bisa saja kita semua berbicara tentang negara dan masalah-masalah internasional dengan bahasa langit. Di sini, saya belajar tentang bagaimana menjadi manusia dan menjadikan diri kita bagian dari masyarakat. Membumikan seluruh ilmu pengetahuan yang kita serap. Mengaplikasikannya pada hal-hal yang seringkali dianggap sepele, jalan kaki lewat depan orang tua yang sedang duduk misalnya. Atau menganggukkan kepala pada setiap orang yang ditemui.

TA ini memberi lebih banyak daripada yang saya cari, saya tidak mencari lulus dengan nilai terbaik. Saya hanya ingin TA saya berarti. Itu saja. Dan mungkin, TA saya benar-benar akan menjadi kenang-kenangan sepanjang hidup sebab proses apapun yang ada padanya, bahkan proses saya  dari bangun tidur hingga berada dijalan berpapasan dengan anak-anak SMA ini. Perjalanan saya Bandung-Temanggung, berakhir pekan di kota-kota terdekat seperti Semarang dan Jogjakarta. Kadang-kadang sendirian keliling kota Magelang sore-sore untuk mencari sesuatu untuk asupan pikiran.

Sudah sejauh ini ternyata. Mari bereskan TA ini dengan sebaik-baiknya.

Untuk Tuhan, Bangsa, Almamater, dan dia. eh.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Temanggung, Jawa Tengah | 22 November 2013

Tulisan : Masyarakat dan Akademisi

Menjadi seorang yang terdidik dan terpelajar, menjadi orang yang memiliki kesempatan merasakan dan menikmati pendidikan perguruan tinggi meski sering kali sistem didalamnya dicaci maki akibat biaya yang mahal, dan apapun itu. Ketika saya berada pada lingkungan masyarakat yang tidak tahu sama sekali mengenai sistem yang kita teriaki dan maki-maki itu. Mereka melihat saya seperti sosok asing yang tangannya dingin. Mereka tidak pernah berinteraksi dengan sekolah, mungkin hanya sampai sekolah dasar yang tidak selesai.

Selanjutnya interaksi mereka adalah pekerjaan sehari-hari, menghasilkan uang harian yang habis untuk biaya hidup sehari itu. Begitu berjalan setiap hari sampai usia mereka habis dibawah terik matahari tanpa peningkatan taraf hidup yang siginifikan.

Pola hidup konsumtif yang semakin masuk ke masyarakat yang jauh dari kota besar membuat hidup semakin sempit. Ingin ini dan itu. Beli hp dan motor baru. Sekalipun kredit dan diangsur 36 bulan.

Ketika saya hadir ditengah mereka, saya benar-benar merasa dianggap asing. Sosok yang dianggap mungkin tahu segalanya, seolah bisa menjawab semua pertanyaan. Sosok yang akan memegang hidup banyak orang. Mereka jarang dan hampir tidak pernah berinteraksi dengan akademisi. Orang yang hidup dibalik bangku kelas dan tumpukan buku. Hidup di kota besar, datang ke mereka membawa sebuah laptop dengan logo buah-buahan seharga gaji 2 tahun mereka.  

Hidup ini kadang memang penuh paradoks, ditengah arus informasi yang begitu luar biasa. Hidup yang tak jauh dari kota, meski kota kecil. Handphone sudah jadi keseharian. Tetap saja, akses informasinya sebatas facebook. Mereka terlihat sering memegang HP, tapi sebatas memegang. Sementara dunia luar tidak terlihat secara utuh.

Informasi pun dari media televisi, dari sinteron, dari berita kriminal. Koran tidak ada di desa kecuali menjadi bungkus tempe. Dan saya ada diantara mereka saat ini, saya merasa seperti seseorang dari dunia lain. Otak yang cemerlang, masa depan yang gemilang. Mungki menurut mereka seperti itu. Mereka terkejut dengan biaya kuliah 10 juta/ semester di kampus gajah saat ini. 10 juta disini bisa untuk hidup satu keluarga satu tahun lebih.

Saya tidak tahu harus memulai dari mana, saya bahkan masih kesulitan memposisikan diri karena serendah apapun saya berusaha masuk ke dalam hidup mereka, mereka lantas lebih merendahkan diri. Sehingga posisi saya dan mereka tidak pernah setara. Mengapa seluruh ketimpangan hidup ini batasnya terasa amat dekat.

Bahkan, saya atau mungkin kita semua pun mengalami fenomena yang serupa. Fenomena rabun dekat. Kita tidak bisa melihat sesuatu yang dekat dan berada di sekitar kita. Seperti kehidupan kita di tengah kos-kosan. Hidup kita adalah untuk kita sendiri. Tidak kenal tetangga kamar atau rumah sebelah bukan masalah. Hidup indiviual dan segala hal adalah tentang diri sendiri.

Saya bertamu ke empat rumah kemarin, meski sekedar mampir hanya untuk melihat-lihat. Belum 5 menit segelas teh manis panas sudah keluar dan terjadi 4 kali dalam waktu tidak kurang dari 2 jam. Semoga saya tidak diabetes ya Allah. Keramahan dalam kesederhanaan ini masih menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Saya belajar untuk tahu bagaimana menempatkan diri saya ini yang mungkin dianggap sangat tinggi-terpelajar-cerdas, atau apapun persepsi yang ada dalam pikiran mereka. Butuh waktu, dan saya tahu saya akan belajar banyak kali ini. Mari persiapkan hati. Jika sebelumnya saya banyak bicara, kini saya banyak diam.

Temanggung, 10 Oktober 2013

Tulisan : Eksistensi atau Popularitas

Setiap saat, pada dasarnya kita selalu berusaha untuk menunjukan eksistensi atau keberadaan kita ditengah hiruk pikuk 7 milyar manusia saat ini.

Entah itu dengan sensasi atau prestasi, kita pada dasarnya ingin diacuhkan oleh orang lain. Bahwa kita ada. Siapa kita dan kebermanfaatan kita.

Sayangnya, banyak yang terjerumus pada arus popularitas, demam keterkenalan yang melanda. Ingin dikenal banyak orang, mendamba pujian. Diminta tanda tangan, didengarkan omongan. Seperti dai yang sudah lupa pada eksistensi dirinya sebagai penyiar agama, lebih sibuk pamer harta atau justru muncul untuk acara sampah infotainment.

Popularitas adalah salah satu tawaran lezat di dunia serba instan, keterkenalan yang menghasilkan banyak uang (katanya). Tidak peduli menjual agama atau menjual diri untuk publik. Ruang privasi sudah tidak ada lagi, ketidakhati-hatian bertindak menjadi sorotan. Manusia adalah letak kesalahan, gila saja jika salah sedikit dijadikan bahan dagangan.

Setiap orang ingin tampil dan terlihat. Itu adalah sebuah sifat dasar yang dimiliki. Media jejaring sosial saat ini memberikan peluang untuk setiap orang “memperkenalkan” dirinya kepada orang lain.

Setiap orang ingin tampil, dianggap ada oleh yang lain dan menjadi bermakna. Namun apa yang terjadi ketika semua orang ingin tampil dan memperkanalkan diri? Siapa yang akan menerima perkenalan tersebut?

Ketika seseorang tak memiliki prestasi apa-apa, yang dilakukan kemudian mencari sensasi. Terkenal tapi sangat hambar, seperti kotoran diatas lantai keramik yang pasti akan dibersihkan sebersih-bersihnya. Seperti itulah sensasi akan hilang dan memang sengaja dihilangkan.

Eksistensi.

Keberadaan kita sebagai manusia haruslah berarti, bila tidak bagi dunia, paling tidak bagi orang-orang terdekat kita. Kita yang seringkali berpikiran untuk mengubah dunia justru sering melupakan untuk mulai mengubah diri sendiri.

Keberadaan kita diakui didunia atau tidak bukanlah sebuah hal yang signifikan, ditengah penyakit popularitas saat ini. Dan tawaran popularitas instan melalui ajang-pencarian-bakat dan sejenisnya. Tawaran keterkenalan yang padahal kita secara terang-terangan sebenanrya ditawarkan “maukah jadi barang dagangan saya? akan saya beli kamu dengan ketenaran!”, begitu kata kapitalis.

Mari tanyakan, sudahkah keberadaan kita bermanfaat. Atau hanya sekedar menuh-menuhin bumi kemudian mati tanpa berbuat apa-apa.

Bandung 2 Juli 2013