Penjaga Mimpi

Besok pagi-pagi sekali sebelum matahari pagi muncul ke permukaan. Aku akan pergi. Meninggalkamu dalam kesendirian. Meninggalkanmu dalam terang siang. Kau harus menjalani harimu, memulai harimu dengan harapan.

Aku datang kepada malammu kini hanya untuk menjagamu. Memastikanmu jauh dari ancaman malam hari. Dibawah bayang-bayang purnama. Kau boleh tidur nyenyak. Aku akan terjaga menjaga impianmu agar tetap hidup.

Besok sebelum sinar matahari muncul dilangit-langit yang gelap. Aku akan membangunkanmu. Menyediakanmu air untuk basuh wudhu. Akan ku kumandangankah azan pagimu. Akan aku gelarkan sajadahmu. Dan aku akan pergi meninggalkanmu.

Aku tidak ingin membuatmu bergantung. Aku akan membuatmu berdiri pada kakimu sendiri. Agar kau bisa membuat keputusan hidupmu sendiri tanpa harus melalui pertimbanganku. Aku ingin menjagamu lebih lama. Tapi …

Pagi itu, aku berkemas meninggalmu. Sebelum selesai shalatmu dan ucap salamnya membuatmu tersadar. Tidak lagi ada orang lain di sekitarmu.

©kurniawangunadi

5.38 a.m

Kau tidak perlu percaya jika aku mencintaimu, ketidakpercayaanmu paling tidak membuatku lebih tenang karena tanpa perlu membuatmu ketakutan karena kuintai setiap hari, kucari kesana kemari.

Setidaknya ketidakpercayaanmu membuat kita nyaman berteman, berkirim salam, menanyakan kabar, atau sekedar berpapasan di tengah perjalanan.
Tapi sampai kapan kau akan tidak percaya?

Aku harus membuatmu percaya. Dan itu ternyata cukup sulit. Huh…

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Temanggung, Jawa Tengah | 30 Januari 2014

©kurniawangunadi

Tulisan : Menjadi Seseorang

Berapa umurmu sekarang. Umur kita semua yang sedang membaca satu halaman tulisan ini? Mungkin 19, mungkin 24, atau 25. Saat ini, apa yang kita pikirkan tentang masa depan bermacam-macam. Berbeda setiap orang. Berbeda setiap waktu.

Kelak, 5 sampai 10 tahun lagi. Ketika saat ini kita semua hanya saling tahu atau sekedar tahu melalui dunia maya. Beberapa diantara kita mungkin akan ada yang tengah sibuk memikirkan strategi terbaik dalam sebuah permasalahan bangsa. Sibuk di rumah sakit melayani pasien-pasiennya. Sibuk berkeliling negara. Mengajar di sebuah sekolah yang penuh dengan anak-anak. Atau sedang sibuk dirumah mengajarkan anak-anak membaca.

Masa depan adalah milik kita semua. Kita akan menggantikan generasi yang besok akan lengser dari kursi direktur BUMN, lengser dari posisi-posisi strategis di berbagai lini. Mengisi kekosongan guru di sekolah-sekolah. Mengisi berbagai macam kehidupan.

Jika saat ini kita hanya saling tahu atau sekedar tahu melalui dunia maya. Mungkin, orang yang saat ini kamu baca setiap hari tulisannya kelak akan menghilang-tiada. Atau sebaliknya, menjadi seseorang yang namanya tersiar dimana-mana. Atau bisa jadi menjadi teman dekat, bahkan bisa jadi teman hidup.

Kelak, setiap dari kita akan menjadi seseorang. Seseorang yang bergerak dalam garis hidupnya masing-masing. Membangun negara terkecil berupa keluarga. Menjadi baik atau buruk masa depan pun berada di tangan kita masing-masing. Ditangan laki-laki yang kelak akan menjadi ayah dan kepala rumah tangga. Apakah dari tangannya tercurah harta yang halal atau haram. Apakah dalam memimpin negara terkecil berlaku adil. Ditangan perempuan yang akan menjadi ibu dan pendamping laki-laki. Apakah ditangannya akan menjadi semakin hebat generasi berikutnya. Anak-anak yang akan dilahirkannya.

Kelak, setiap dari kita akan menjadi seseorang. Sebagai penulis, sebagai direktur, sebagai karyawan, sebagai ayah, sebagai ibu, sebagai dokter, sebagai guru, apapun itu. Masa depan kita bisa usahakan dari sekarang. Sekalipun tidak semua dari kita memiliki kesempatan yang sama saat ini. Kesempatan untuk bersekolah tinggi misalnya. Namun, kita semua memiliki kesempatan yang sama, yaitu belajar. Dan belajar pun bisa darimanapun. Bahkan dari udara yang dingin atau daun yang berguguran.

Kelak, setiap dari kita akan menjadi seseorang. Dan selagi datangnya masa itu. Aku ingin menyampaikan sebuah pesan yang mungkin akan kau lupakan atau ingat-ingat di masa nanti. Bahwa, hari ini, alangkah indahnya jika kita semua berkomitmen pada masa depan kita masing-masing. Bahwa sepahit apapun masalah hidup saat ini, seburuk apapun masa lalu kita masing-masing. Masa depan masih suci dan kita semua akan melahirkan masa depan yang lebih baik untuk keluarga terkecil kita nantinya. Anak-anak dan pasangan hidup kita.

Menjadi apapun kita nanti. Tidak peduli bahwa itu mengingkari dan keluar jauh dari jurusan pendidikan sekarang. Tidak masalah besar. Yang lebih penting adalah sikap tanggungjawab yang kita lakukan atas setiap pilihan yang kita buat.

Menjadi apapun kita nanti. Tetaplah membumii dan berbuat selaku manusia. Bukan malaikat atau setan. Menjadi manusialah agar bisa memanusiakan orang lain. Bukan menghakimi karena merasa telah baik atau justru merusak kehidupan sebagai orang jahat.

Menjadi apapun kita nanti, sesuatu yang akan kita jalani sebagai profesi, sebagai pekerjaan, dan itu akan seumur hidup. Bersikaplah hati-hati. Masa depan akan selalu memiliki cobaan dengan versi-versi yang lebih baru dan semakin bias. Pastikanlah apapun harta yang didapat, semua itu halal. Untuk diri sendiri dan keluarga.

Umur berapa kita saat ini? 19, 20, 26 ? Masa itu tidak akan lama lagi, sebagaimana kita saat ini merasa bahwa masa anak-anak itu baru kemarin sore. Menjadi apapun kita nanti. Bertemu di manapun kita nanti. Kita semua sedang berjalan dalam garis hidup masing-masing. Jangan hakimi proses perjalanan orang lain. Bantulah perjalanan mereka yang terlampau tertinggal 🙂

Rumah, Jawa Tengah | 30 Desember 2013

© Kurniawan Gunadi