Yang Tak Terulang

Dua minggu pertama Shabira terlahir ke dunia, rasanya duniaku ikut terobrak-abrik. Jam tidur yang tiba-tiba berubah, fokus yang tiba-tiba terpecah, ego yang tiba-tiba harus selalu terkendali, dan segala sesuatu yang tidak pernah kusangka akan seperti itu; saat memiliki buah hati.

Saya yang hampir tidak pernah menggendong bayi sebelumnya, tidak juga pernah tahu bagaimana rasanya mengasuh anak kecil karena saya tidak punya adik. Tiba-tiba, sesaat setelah Shabira lahir, saya harus menggondongnya meski dengan tangan yang masih kaku. Membopongnya dari perawat, kemudian mendekatkannya ke ibunya sembari mengumandakan adzan dan iqamah dengan haru.

Saya harus berjibaku dengan waktu, tidur bergantian. Juga membersihkannya sesaat setelah ia buang air. Rela terbangun jam berapapun saat ia menangis karena risih setelah buang air. Sebelum jam 6 pagi, sudah mulai mencuci popok kainnya.

Juga sewaktu dua hari Shabira harus menginap lagi di rumah sakit untuk terapi sinar. Setiap tiga jam saya harus bolak-balik dari rumah ke rumah sakit untuk mengantarkan ASI, tidak peduli waktu.

Atau ketika Shabira rewel dan hanya mau digendong, sampai kadang tangan menjadi kelu. Atau punggung terasa pegal. Atau kemudian harus merelakan pekerjaan terbengkalai.

Semua itu adalah moment yang tak akan pernah terulang. Hanya sekali dan saya tidak ingin melewatkannya, satupun.

Kelak, saya mungkin takjub saat waktu berlalu dan tanpa terasa Shabira sudah tumbuh menjadi perempuan dewasa. Saat ia sudah bisa mengambil keputusan-keputusan atas hidupnya sendiri. Saat langkah kakinya tak lagi bisa kuimbangi karena ia sudah berlari jauh menjelajah dunianya. Saat itu, mungkin saya akan rindu masa kecilnya.

Masa-masa saat memandikannya di bak kecil. Menggendongnya sambil berjalan ke sana ke mari. Mengajaknya bercerita dengan bahasa bayi. Atau sekedar mengantar dan menjemputnya dari sekolah.

Semua momen itu hanya sekali dan tak akan terulang.

Malang, 29 Maret 2018 | ┬ękurniawangunadi

Mencoba Membuat Diri Menjadi Lebih Baik

Cobalah untuk menurunkan ekspektasimu terhadap orang lain, agar kamu tidak kecewa karena mereka pasti memiliki kekurangan. Sebab kita seringkali tidak bisa memberi ruang pada rasa kecewa di hati kita.

Cobalah untuk melemaskan egomu terhadap setiap kehendak, agar kamu tidak lelah dalam menjalani hidup. Sebab banyak sekali urusan kita yang harus bersinggungan dengan banyak orang, sementara setiap orang memiliki kehendaknya masing-masing.

Cobalah untuk melapangkan ruang penerimaan. Sebab, menerima orang lain itu lebih sulit daripada saat menumbuhkan perasaan berharap. Sebab, seringkali kita sulit menerima karena kita seringkali merasa tidak diterima. Dan sekalinya ada yang bersedia menerima kita, kita yang seringkali tidak bisa menerimanya. Membuatnya kecewa dan pergi.

Cobalah untuk berani mengakui kesalahan. Sebab, hidup ini bukan tentang menang dan kalah. Kebahagiaan yang hakiki tidak hadir karena kita bisa mengalahkan orang lain. Mengakui kesalahan, bersedia untuk bertanggungjawab, bersedia untuk menerima risiko. Adalah sikap-sikap yang akan memudahkan kita dalam memaknai kebahagiaan. Bukankah perasaan bersalah, yang membuat kita sulit bahagia?

Malang, 4 Maret 2018 | ©kurniawangunadi

Bersinggungan

Setiap hidup manusia yang saling bersinggungan, sadar atau tidak, ia ikut berpengaruh dalam setiap takdir hidupmu. Sedikit banyak kita tidak peduli, bukan?

Semisal kekesalanmu hari ini pada supir-supir yang menghentikan kendaraannya sembarangan, tukang parkir yang tiba-tiba muncul. Kita mungkin tidak mengenal mereka, tapi pahala dan dosa kita hari ini, muncul karena kehadiran mereka.

Semisal, sewaktu usia kita sudah matang. Ketika kita belum juga menemukan titik terang tentang pendamping hidup. Lalu, datanglah orang-orang yang berniat denganmu, berproses denganmu, meski pada akhirnya tak satupun dari mereka yang akhirnya menikah denganmu. Kita mungkin bisa mengabaikannya, tapi takdir kita telah berubah sejak kehadiran mereka. Kita telah menjadi seseorang yang berbeda, tergantung dari diri kita bisa mengambil pelajarannya atau tidak. Mereka hadir tidak hanya untuk memenuhi keingananmu, tapi juga memberimu pelajaran berharga.

Semisal, sepanjang perjalanmu hari ini. Kamu saling bertegur sapa dengan orang lain. Kerikil yang kamu singkirkan dari jalan. Sayuran yang kamu beli di pasar, atau mungkin dari penjual sayur keliling. Pertemuanmu dengan setiap orang, memberikan dampak yang tidak disadari. Rezeki yang berpindah, marabahaya yang terhindar, dan aneka bentuk keterkaitan yang jika kita mau memikirkannya. Yang ada hanya, rasa syukur dan menginsyafi diri ini yang seringkali memaksakan kehendak, rencana, agar bisa menjadi takdir hidup kita kedepan.

Nyatanya, di atas rencana yang kita buat, masih ada rencana Nya. Sesuatu yang seharusnya berhasil membuat kita percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita ini, adalah yang terbaik. Dan kita mengakui, bahwa selama ini kita sajalah yang sering salah dalam memahami maksudNya.

Malang, 4 Maret 2018 | ©kurniawangunadi

Akhirnya Paham

Suatu hari, kita akan paham bagaimana rasanya mengalah dan bahagia. Saat kita tidak lagi berpikir tentang menang dan kalah dalam hidup ini. Saat kita tidak lagi sibuk membangun anggapan tentang diri. Saat kita memiliki hati yang sudah pandai untuk bersyukur. Diri yang bersedia berjuang dan berkorban, namun ikhlas terhadap ketetapan. Semua itu akan ada masanya. Untuk mencapai masa itu, kita perlu melewati setiap detail perjalanan kita saat ini, sebaik-baiknya ­čÖé

RTM : Mengalah

Dulu saya tidak mengerti kenapa orang tua seringkali mengalah kepada anaknya. Mengalah semisal, ibu lebih memilih memasakan makanan kesukaan saya daripada kesukaan bapak jika saya mudik. Bapak mengalah demi itu. Atau saat ada keperluan, bapak dan ibu sering mengalah menunda membeli keperluannya demi agar keperluan anaknya terpenuhi lebih dulu.

Beberapa hari kemarin, ketika saya dan istri mengajak Shabira keluar untuk jalan-jalan mengurus dokumen-dokumen segala macam di kampung halaman. Kami ada keinginan untuk makan di tempat-tempat makan kesukaan kami, seperti mie ayam, bakso, soto, dsb. Hanya saja, setibanya di sana kami tidak jadi berminat. Ketika melihat tempatnya terlalu ramai, ada orang yang merokok, atau mungkin antreannya terlalu lama.

Melihat Shabira yang baru berusia belum dua bulan, kami mengalah. Kami merasa kasihan kepadanya jika kami terus mementingkan keinginan kami hanya untuk sekedar makan di tempat tersebut. Membiarkannya terpapar asap rokok, berdesak-desakan, dsb. Akhirnya, kami pulang, makan seadanya di rumah.

Saya merasa tidak pernah seperti ini sebelumnya, saya yang sangat kekeuh ketika ingin sesuatu. Kini, saya luluh kepada anak perempuan ini, yang pandangan matanya mampu meruntuhkan ego, yang senyumnya mampu menenangkan khawatir, dan suara khasnya yang membuatku selalu ingin memberikan yang terbaik sebagai Ayah.

Rumah, 10 Februari 2018 | ©kurniawangunadi

Tulisan : Ketidaknyamanan

Kejujuran/kebenaran dan keterusterangan. Dua hal yang mungkin sering kita hindari. Sebab dua hal inilah yang membuat kita seringkali khawatir, cemas, dan berusaha keras mengingkarinya.

Pernahkah berusaha untuk terus terang kepada orang tua terkait keinginanmu, sementara mereka memiliki harapan yang lain? Atau pernahkah kamu mendapatkan kritik yang jujur dari seseorang atas segala sikap dan sifatmu, sementara kemudian kamu berusaha untuk menyangkal dan membuat pembenaran?

Pernahkah kamu jujur menyampaikan ketidaksukaan dan ketidakcocokanmu pada pimpinan, pada teman, orang-orang dekat?

Atau seperti, bagaimana kamu menyimpan segala bentuk cerita di masa lalumu. Bukankah rasanya sulit untuk jujur dan terus terang kepada orang-orang? Bukankah rasanya takut dan khawatir jika orang lain mengetahuinya?

Atau bagaimana rasanya jika kamu mendapati kebenaran atas seseorang yang akan menjadi pasangan hidupmu, kala ia berterus terang padamu atau kamu mendengar kebenaran dari orang lain akan masa lalunya yang sulit kamu terima (juga keluarga seandainya mereka tahu). Bukankah kamu semakin khawatir untuk melanjutkan hubungan dengannya?

Kejujuran dan keterusterangan. Dua hal yang jarang diajarkan di kehidupan kita. Kita sibuk memendam prasangka, sibuk memendam ketidaksetujuan, mengkritik di belakang. Kita juga tidak diajarkan untuk siap menerima kejujuran dan keterusterangan dari orang lain. Tidak mudah memang, juga sulit untuk mengakui jika diri ini memang salah dan keliru. Kita sibuk menutup rapat kebenaran-kebenaran atas diri kita sendiri bahkan. Memanipulasi kebahagaiaan. Menenggelamkan diri dalam kepalsuan, ketidakjujuran, dan tertutup.

Rumah, 10 Februari 2017 | ©kurniawangunadi

….

Saat aku menyuruh orang lain untuk bersyukur, mungkin kesyukurannya jauh lebih banyak daripada yang kuucapkan. Saat aku menasihati orang lain untuk bersabar, mungkin kesabarannya jauh lebih besar daripada yang kumiliki. Aku hanya tidak tahu, tidak juga mencari tahu.

Saat aku merasa berhak untuk berkeluh kesah atas ujian-ujian yang menimpa, mungkin harusnya aku lebih pantas untuk malu sebab ujianku tidak ada apa-apanya dibandingkan orang lain.

Kini, hati dan pikiranku lebih terkendali. Lebih berhati-hati dalam berucap, tidak lagi sibuk menilai, juga tidak lagi merasa berhak untuk memberi nasihat tanpa diminta. Sebab, aku menyadari. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan masalah yang mereka hadapi, aku bahkan belum pernah menjalani masalah serupa, bagaimana mungkin aku bisa memberikan jawaban yang baik, nasihat yang tepat?

Kini, hati dan pikiranku lebih tenang. Kini, aku merasa lebih tepat untuk menemani dan mendengarkan.

©kurniawangunadi | 4 Februari 2017

RTM : Berhitung

Pernah tidak? Beberapa kali, atau banyak kali, jika tidak sesekali kita sangat perhitungan terhadap orang tua. Misal dulu sebelum kita bekerja, untuk diminta bantuan saja kita berhitung. Atau ketika salah satu dari beliau sakit, masih ada prioritas lain yang kita miliki. Kini misal selepas bekerja, saat kita mau memberi sebagian penghasilan kita ke mereka, masih kita perhitungkan. Bahkan, misal saat kita bicara dengan mereka dan tiba-tiba mereka terucap menginginkan sesuatu, kita berpikir-pikir untuk membelikannya atau tidak.

Saya menginsyafi, jika saya pernah seperti itu. Sampai suatu ketika, saya menikah dan akhirnya merasakan menjadi orang tua. Saya paham, bahwa hal itu membuat saya semakin bersalah. Saat ini, saya merasakan bagaimana saya sebagai orang tua, ingin memberikan yang terbaik dan segalanya untuk anak. Saya tidak peduli berapa ongkos yang dikeluarkan jika ia sakit, atau kebutuhan-kebutuhannya yang lain. Yang saya pikirkan adalah bagaimana saya berjuang untuk mencukupinya.

Saya tidak pernah berhitung ketika harus begadang, menggendongnya, dan lain-lain sementara saya masih ada urusan-urusan. Bagaimana kemudian saya merelakan urusan itu, hanya untuk menemaninya. Memastikannya dalam keadaan baik dan dalam pengawasan.

Saya tidak pernah mengukur berapa biaya yang harus saya keluarkan sejak ia lahir hingga hari ini. Sedikit atau banyak bukan menjadi ukuran, yang menjadi ukuran adalah ia bisa lahir dengan baik dan tumbuh dengan sehat.

Ini membuat saya merenung, selain menjadi orang tua, saya juga masih memiliki peran sebagai anak. Dan sungguh, saya merasakan betul bahwa saya tidak akan pernah bisa mengganti kebaikannya, tidak akan pernah cukup usia saya untuk membayar semua pengorbanan orang tua.

Betapa bersyukur dan beruntungnya orang tua yang memiliki anak-anak yang tumbuh dengan baik. Memiliki budi pekerti yang baik, memiliki akhlak yang santun. Sedih rasanya jika melihat anak-anak yang tumbuh tanpa adab.

Dan saya sering bercerita sambil berdoa saat menimang-nimang Shabira, semoga ia tumbuh menjadi perempuan yang baik, yang beradab, yang salehah, yang berbakti, yang menjadi cahaya kedua orang tuanya.

Semoga suatu saat, Shabira (dan adik-adiknya) bisa membaca tulisan ini.

┬ękurniawangunadi | rumah, 1 februari 2018

Memaknai

Pemaknaan kita pada sesuatu sering berbatas hanya karena ego atau kemauan. Ego kita yang membuat kita enggan memulai, enggan untuk menyapa dan bertanya, enggan untuk mencari tahu, padahal semuanya tersaji di depan mata. Juga kemauan kita yang surut, semuanya serba mudah, tapi kita enggan beranjak.

Karena kita merasa diri ini lebih baik, seringkali lahir penilaian-penilaian kita kepada orang lain. Padahal, kita belum mencermatinya, hanya sekilas melihat dan mendengarnya. Karena kita merasa sudah cukup, kita enggan untuk belajar lagi dan lagi. Semisal, begitu banyak kajian tersaji di masjid-masjid di kotamu, tapi kamu memilih duduk di rumahmu.

Dan tentang pemaknaan. Barangkali, kita tidak kunjung berhasil mengenali hidup dan jalan yang kita tempuh ini sebab dua hal itu, ego dan kemauan. Pemaknaan kita menjadi buntu, berkutat pada hal-hal yang sama. Di satu sisi kita ingin tahu, disisi yang lain kita malas beranjak. Kita kembali berkutat pada ujian yang serupa berulang-ulang, karena kita merasa sudut pandang yang kita ambil adalah yang paling benar, enggan mencoba melihat dari sisi yang lain. Kita berkutat pada pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya hanya ada di masa lalu, bukan sibuk membenahi hari esok.

Dan kita kebingungan akan kemana hidup ini, rasanya seperti air mengalir. Tapi, kita tidak tahu ke mana mengalirnya. Rasanya seperti angin yang berhembus, tapi kita tidak tahu kemana arahnya.

Hidup menyimpan banyak jawaban yang hanya akan kita temukan dengan cara menjalaninya, meredakan ego, dan mau untuk bersusah payah.

©kurniawangunadi

Menyerah

Kalau kamu belum menyerah, silakan berjuang. Tapi aku di sini, hanya akan melihatmu. Sebab, sudah ku katakan kepadamu sebelumnya jika kita tidak bisa memaksakan segala sesuatu seperti yang kita harapkan. Kekuatan kita terbatas, daya kita ada habisnya. Kalau bukan karena izin-Nya, kita tidak bisa sampai sejauh ini.

Kalau kamu masih mau berjuang, silakan. Aku tidak akan menunggumu, apalagi mengharapkan. Sebab, sudah ku katakan kepadamu sebelum ini, kalau aku sudah di titik terakhir. Kamu mungkin memiliki keleluasaan yang lebih, aku tidak. Kamu mempunyai keberanian yang lebih, aku tidak. Kamu masih yakin pada dirimu, aku? entahlah. Aku hampir tidak percaya bahwa aku pernah ikut memperjuangkanmu. Namun, justru ku dapati aku semakin jauh dari Tuhanku. Menjadi hamba yang sering memaksa, menjadi anak yang seringkali berselisih dengan ayah dan ibu, menjadi teman yang sering berkeluh kesah.

Biarlah waktu yang menjawabnya. Aku dengan jalanku, kamu dengan jalanmu. Jika kamu ingin berjuang, kamu hati-hati. Sebab, bisa jadi jalan yang kamu paksakan itu justru jalan yang membuatmu semakin jauh dari keimanan.

©kurniawangunadi