RTM : Sabar

Sewaktu mencari nama untuk Shabira, nama pertama-pertama yang muncul adalah sebuah nama yang bermakna Samudera Kesabaran. Dua kata yang akhirnya tidak jadi kami gunakan. Karena ternyata hasil USG nya perempuan. Akhirnya berusaha mencari nama yang lebih feminim.

Lepas dari itu, sejak awal. Makna Sabar tetap dipertahkan. Karena itu adalah doa utama dari nama yang akan kami sematkan ke Shabira, sampai akhirnya suatu hari saya sakit. Saya tiduran di ruang tengah, istri sedang memasak. Saya terbangun dan tiba-tiba terpikir sebuah nama yang tepat, Ghinannisa Shabira.

Kami berdoa agar shabira bisa menjadi perempuan yang kaya akan kesabaran. Nyatanya, justru saya yang belajar banyak dari Shabira.

Setiap kali Shabira rewel, kami selalu berkata, “Sabar ya Nak, seperti namanya,” dan lain-lain yang selalu saja kami sampaikan kepadanya untuk menjadi sabar. Sabar ketika mandi, sabar ketika buang air, sabar ketika minum ASI, dsb. Dan alhamdulillah, Shabira benar-benar bisa diajak bekerja sama dengan baik sampai hari ini. Benar-benar memudahkan kedua orang tuanya.

Dan saya belajar lebih banyak lagi. Sejak menjadi ayah, saya merasa tingkat kesabaran saya meningkat. Beberapa waktu yang lalu, saya memesan sesuatu dan ternyata hasilnya diluar dugaan, setengah pesanan yang saya terima rusak. Dan saya waktu itu hanya bilang, “ya sudahlah”. Karena biasanya saya tidak pernah seperti itu, pasti ripuh, kesal, dsb. Atau seperti hari ini, bumper mobil saya nyangkut di trotoar dan baret-baret. Setiap teman-teman yang mengenal saya pasti tahu betapa riweuhnya saya dengan hal seperti itu. Hari ini, saya hanya memandang baretan itu, dan ya sudah.

Saya termasuk orang yang amat detail, saya bisa sangat risih  dengan sesuatu yang tidak sempurna. Jadi, baretan di mobil itu bisa bikin saya stress, nyatanya sekarang tidak. Saya lebih bisa menolerir ketidaksempurnaan dan ketidakteraturan.

Saya sadar betul jika Shabira mampu memahami apa yang saya rasakan. Dan jikapun saya badmood di luar, merasa kesal dsb. Perasaan itu harus sudah luruh sebelum saya bertemu shabira. Sebelum saya menggendongnya. Setiap kali bertemu dengannya, perasaan saya harus bahagia dan penuh kasih sayang. Dan semakin ke sini, saya semakin bisa merasakan bahwa sebenarnya, shabiralah yang mengajarkan ayahnya banyak sekali. Bahkan, saat menikah kemarin saya belum sampai level ini.

Doa yang saya sematkan menjadi namanya, justru menjadi pengingat saya setiap waktu. Shabira, sabar, dan sabar. Sebagaimana Allah katakan untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong (lihat Al Baqarah 153). Kesabaran itulah yang membuat saya benar-benar merasa berharga dan beruntung, mungkin inilah salah satu alasan kenapa Shabira ada. Untuk mengajarkan ayahnya, untuk menjadikan ayahnya seseorang yang penuh kesabaran.

©kurniawangunadi

Cerpen : Suatu Ketika Sedang Berjuang

Ayahmu pernah berkata bahwa yang terbaik bagi puterinya
bukanlah segala hal yang ada padaku. Aku yang kala itu tidak mengerti,
seolah semuanya tampak abu-abu. Sampai aku bertanya-tanya, apakah semua
ayah di dunia ini seperti ayahmu?

Aku berusaha menyangkal bahwa
aku masih berjuang, berproses, bertumbuh. Tapi, ayahmu tidak mau tahu
tentang itu. Karena aku memintamu saat ini, bukan saat aku sudah menjadi
segala sesuatu yang meyakinkan.

Sampai kita berbicara satu sama
lain. Sepertinya, jalan yang kita tuju bukanlah jalan yang selama ini
kita cari. Kita bersinggungan sejenak dalam hidup ini. Kamu yang
berusaha menjadi anak  berbakti dan aku yang berusaha menerima kenyataan
bahwa aku bukanlah segala sesuatu yang ayahmu inginkan.

Setelah
banyak waktu berlalu. Apakah kita sudah berhasil menarik pelajaran
berharga dari semua kejadian itu? Selepas semua perasaan yang kita
rasakan, sudahkah kita berhasil memahami mana yang baik, mana yang
tidak?

“Coba ingat-ingat lagi sebenarnya apa yang kita
perjuangkan, apakah kamu hanya memperjuangkan seseorang untuk menjadi
pendampingmu, atau memperjuangkan ibadahmu. Jika memang untuk ibadahmu,
sebenarnya, dengan siapapun kamu bisa melakukannya, tidak harus
denganku. Semoga kita bisa ikhlas menerimanya.”

©kurniawangunadi

Menjadi Hebat

Kau adalah gadis yang penuh rasa ingin tahu, sekaligus sebenarnya kau memiliki kemampuan untuk melakukan hal-hal besar. Kau punya kesempatan untuk melihat dunia, lebih dari yang setiap hari kamu lewati. Selain, kau juga memiliki hal-hal baik yang tersimpan, sesuatu yang membuatmu terlihat menarik sebagai perempuan.

Jangan biarkan pikiranmu dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang melelahkan. Seperti temanmu yang ribut dengan riasan, sibuk bagaimana menarik hati orang lain, sibuk memikirkan memiliki pasangan di usia muda, kau jangan.

Kau adalah gadis yang haus akan ilmu juga aktivitas. Itu menjadikanmu cemerlang, bersinar karena kau menyibukan dirimu di ruang-ruang kebermanfaatan yang jarang terisi. Dan itu membuatmu amat mudah dikenali.

Kau adalah gadis yang cemerlang. Jangan biarkan tekanan sosial, kata orang, dan pandangan umum masyarakat mengalahkan keteguhan hatimu, mengerdilkan perananmu. Juga jangan takut untuk menjadi seseorang yang lebih, yang kata orang-orang nanti tidak ada laki-laki yang mau denganmu. Jangan dengarkan itu, dengarlah bahwa itu tidak ada hubungannya sama sekali.

Kau adalah gadis yang cerdas. Kau mampu membuat rumusan hidupmu sendiri, mampu menyesuaikan dirimu dengan keadaan, juga mampu mengubah keadaan disekitarmu.

Suatu hari, aku akan melihatmu berdiri tegak, menjadi perempuan, menjadi ibu peradaban yang penuh dengan hal cemerlang. Sesuatu yang menjadikanmu berbeda, itu menjadikanmu amat berharga. Kebaikan hati, kepedulian, keramahan, keluhuran budi, kecerdasan pikir, dan segala sesuatu yang membuat mampu menjadi cantik, tak peduli waktu, tak peduli penilaian.

Hingga suatu hari kudengar kau berkata padaku :

“Terima kasih Ayah, telah mengajarkanku menjadi perempuan yang demikian.”

Rumah, 26 Januari 2017 | ©kurniawangunadi

Bersyukur Atas Pilihan

Hidup ini penuh dengan pengambilan keputusan, bahkan keputusanmu sejak membuka mata di awal hari. Apakah melanjutkan tidurmu atau beranjak dan bergegas mengambil wudhu untuk ibadah malammu.

Keputusanmu untuk memakai baju yang mana hari ini, keputusanmu untuk mandi dan sarapan jam berapa, keputusanmu untuk berangkat ke tempat kerja dengan sarana transportasi apa.

Semakin dewasa, keputusan-keputusan yang diambil tiap hari, semakin kompleks. Semakin banyak pilihan yang ada dan harus diambil satu saja. Selain juga, keputusan harus diambil saat itu seketika.

Untuk itulah, berdoa. Bismillah disetiap kali akan melakukan dan mengerjakan sesuatu.

Semakin tumbuh, keputusan yang diambil semakin rumit. Sebab semakin banyak keputusan yang bersifat permanen, sekali kamu mengambilnya. Itu menggema sepanjang sisa hidupmu. Tidak hanya sehari dua hari, melainkan selamanya.

Untuk itu, sedari sekarang. Perluaslah cara pandang kita, belajarlah lebih banyak, bertemulah dengan banyak orang. Sebab, nanti. Banyak diantara keputusan-keputusan kita tersebut, terlihat lebih jelas tatkala kita memiliki pengetahuan lebih banyak, memiliki orang-orang yang bisa kita ajak berdiskusi untuk merumuskan hal-hal yang sulit.

Lebih dari itu, mari kita bersyukur sebab kita masih memiliki pilihan, dan juga kita masih bisa mengambil keputusan itu sendiri.

Di sisi lain dunia ini, di sudut-sudut yang jarang kita acuhkan, Ada orang-orang seusia kita yang tidak memiliki pilihan yang leluasa, bahkan tidak memiliki pilihan sama sekali. Keputusan-keputusan dalam hidupnya tidak mampu ia ambil sendiri, jika tidak diambilkan oleh orang lain, keputusan itu diambil oleh keadaan.

Serumit, sepusing, semeresahkan apapun pilihan yang ada dan rumitnya mengambil keputusan. Bersyukurlah, karena kita masih memilikinya.

Rumah, 26 Januari 2017 | ©kurniawangunadi

Lalu Bersama Waktu

Ada perasaan-perasaan yang selesai dengan sendirinya dengan berjalannya waktu, juga masalah-masalah kita yang lain. Perasaan-perasaan yang dulu seolah-olah tidak pernah selesai, berlalu begitu saja.

Saat tiba-tiba kita berdiri dan menyadari, bahwa semuanya telah selesai.

Barangkali, semenjak kita tidak lagi sibuk memikirkan juga merasakan. Saat kita mulai menjalani kehidupan yang riuh, menenggelamkan segala sesuatunya ke tempat yang tidak kita duga. Tempat bernama masa lalu.

©kurniawangunadi

Orang yang Pernah Datang Kepadamu tapi Kamu tidak Memiliki Tempat untuk Menerimanya

©kurniawangunadi

Suatu hari, pernah beberapa kali terjadi di hidupmu. Ada orang-orang yang kamu rasa cukup baik, hadir di hidupmu. Ia berkata kepadamu, kata terbaik yang pernah diucapkan oleh siapapun yang berniat baik. Kamu tersipu, kamu merasa menemukan, ia pun demikian. Kamu merasa segala sesuatunya akan berjalan dengan baik.

Siapa sangka. Ia adalah ujian.

Hidup ini kadang membuat kita khawatir, mengapa seseorang dinilai begini dan begitu, mengapa sulit melihat kebaikan orang lain, juga mengapa seringkali – kita pun begitu – lebih mudah melihat sisi buruknya. Mencari-carinya untuk menjadi alasan penyangkalan itu. Juga, ada pikiran-pikiran yang dipaksakan untuk seragam, padahal manusia itu sendiri amatlah beragam.

Ia datang kepadamu sebagai dirinya. Kamu menerimanya, tapi tidak dengan mereka. Alasannya beragam dari mulai terlalu jauh, terlalu asing, berbeda asal, berbeda usul, berbeda ini-itu, yang dicari adalah perbedaannya. Alangkah sedihnya hatimu, mendapati kenyataan bahwa ia adalah ujian.

Dikatakan kepadanya, bahwa tidak ada tempat untuk menerimanya. Ia pun berlalu. Begitu seterusnya hingga berkali-kali terjadi dalam hidupmu, kejadian serupa. Berulang-ulang. Sampai kamu bertanya-tanya, apakah akan selamanya begitu?

Salah satu bagian sulit di hidup ini adalah melewatkan kebaikan-kebaikan. Saat kebaikan itu berlalu, tidak sempat menjadi milikmu, dan ia menjadi milik orang lain. Menjadi pahalanya, menjadi amalannya. Kebaikan itu berlalu berkali-kali.

Kini coba perhatikan. Berapa waktu berlalu. Masih tidak ada ruang di dirimu untuk semua itu. Coba perhatikan bagaimana orang-orang yang dulu berlalu, perhatikan bagaimana hidupnya kini. Itu adalah pelajaran berharga yang amat penting.

Sebab satu hal yang sering luput untuk kita insyafi adalah kita sulit menerima kenyataan, kita sulit menerima perbedaan, kita sulit untuk menerima kebaikan hanya karena orang yang melakukannya tidak kita sukai.

Pelajarilah hal-hal yang berlalu, karena mereka adalah ujian. Tentu saja, mereka dititipi oleh Tuhan pelajaran berharga yang bisa kita petik. Sayangnya, tidak semua dari kita bersedia menerima pengetahuan itu dengan terbuka.

Tulisan : Tentang Hidup Kita

Hidup. Bagiku, ia tidak seperti air yang mengalir. Ia adalah air di lautan yang hendak menuju puncak pegunungan tertinggi. Sulit tentu saja jika ia berusaha mendaki melalui sungai, sebab hukum alamnya tidak demikian. Sebab itu, ia membiarkan dirinya menguap, berada di awan-awan, berpasrah kemanapun dibawa pergi. Pada akhirnya, ia belum tentu jatuh di puncak gunung seperti yang ia inginkan. Barangkali, jatuh di persawahan. Satu hal di hidup ini yang selalu sulit kita tahu adalah, kita diciptakan dengan peran. Kita ditempatkan di tempat terbaik sesuai potensi yang kita miliki. Jika sekarang kita kebingungan, mau jadi apa, mau bagaimana, apa yang harus dilakukan. Coba amati hidupmu sebelum-sebelum ini, perjalananmu yang mengantarkanmu sampai di titik ini.

Hidup. Ada orang-orang yang ingin diperjuangkan, berharap bahwa ia berarti sehingga ada orang yang bersedia melakukan apapun untuknya. Tapi, ia tidak menjadi berarti untuk dirinya sendiri. Berkata bahwa ia pun berjuang, padahal ia diam ditempat. Membiarkan orang lain berusah payah melakukan sesuatu untuknya. Ada yang keliru dalam memaknai hidup, memaknai perjuangan, memaknai pengorbanan.

Hidup. Bukanlah tentang mendengarkan orang lain sebanyak-banyaknya. Keputusan-keputusan bukan diambil dari apa kata orang. Kamu menikah, bukan karena kata orang. Kamu berkarir, bukan karena kata orang. Kamu melakukan kebaikan, bukan untuk kata orang. Hidup ini sudah bising oleh riuh rendah suara-suara yang sumbang dibalik bayang-bayang, mendikte hidupmu seolah-olah itu adalah yang terbaik untukmu padahal mereka tidak pernah menjadi dirimu, apalagi menjalaninya. Keputusan hidup kita bukan untuk menyenangkan semua orang, melainkan mencapai titik tertingginya yaitu keridhaan Tuhan.

Hidup. Ia tidak seperti cermin, yang menunjukkan hampir keseluruhan apa yang diterimanya tanpa rahasia. Hidup itu menyembunyikan rahasia-rahasia. Sebagaimana setiap manusia menyembunyikan rahasia-rahasianya. Hidup melipat banyak misteri, kita harus membukanya satu per satu. Kemudian, bagian yang tak kalah penting adalah kita bersiap untuk menerima kenyataan yang kita dapati dari setiap rahasia yang tersingkap.

Hidup itu seperti apa bagimu? Serumit itukah? Atau sesederhana kamu bisa memahaminya ?


©kurniawangunadi / yogyakarta, 13 januari 2018

Saya mendapatkan pertanyaan menarik. Ada beberapa teman terbaik yang menjadi penyimak perjalanan saya dari sebelum menikah hingga menjadi ayah. Mereka pasti tahu bagaimana perjalanan itu begitu berliku, tidak selurus cerita-cerita di buku-buku yang saya tulis sendiri.

LifeCrisis seperti apa yang menjadi titik balik?

Saya akan berbagi beberapa hal yang bisa dibagi.

1. Terkait Menikah

Tahun 2014 akhir hingga 2016 pertengahan adalah fase dimana saya mengusahakan diri untuk menikah. Semua berjalan dibawah bayang-bayang, alias diam-diam. Saya pernah berdoa sambil memaksa, bahwa harus orang ini, atau dengan orang ini. Saya kekeuh karena saya percaya bahwa segala sesuatu pasti bisa diwujudkan, asal jangan menyerah. Ini adalah salah satu sifat keperfeksionisan saya dalam hal lain.

Ternyata rumusnya tidak begitu dalam hal takdir pasangan hidup. Allah menjatuhkan saya berkali-kali. Dan saya mengulangi lagi dengan cara yang sama, dijatuhkan lagi. Sampai titik akhirnya, saya pasrah. Tidak sampai sebulan saya berpasrah, Allah datangkan seseorang yang kini menjadi istri saya.

2. Fase Stagnan

Pernah tidak, merasa bahwa dalam rentang waktu cukup lama, kita merasa seperti tidak kemana-mana, diam ditempat. Tidak bertumbuh baik secara ilmu, secara fisik, secara apapun.

Saya mengalami itu. Aktivitas usaha saya, alhamdulillah memberikan kecukupan yang menurut saya amat sangat cukup untuk ukuran baru lulus belum lama. Saya pernah sampai dititik, tidak tahu mau apa lagi di dunia ini. Ini mengerikan, seperti depresi. Saat kita benar-benar tidak punya keinginan, analoginya seperti kamu tidak ingin beli apapun karena seolah-olah semuanya telah terbeli, sementara kamu memiliki uang untuk membelinya. Sampai kamu sumbangkan-sumbangkanpun, uangmu justru bertambah.

Saya pernah dititik, tidak ada hal lain yang saya inginkan di dunia ini. Saya seringkali mengendarai mobil tanpa tujuan, berkeliling kemana saja sampai lelah. Menyendiri, sangat introvert padahal saya ENTJ. Itu adalah seperti fase kehilangan tujuan hidup. Saya tahu ada yang keliru dalam hidup saya.

Dan saya terus menerus mencarinya sampai saya menemukannya. Dan yang keliru adalah berkaitan sama poin pertama. Saya pernah membuat dreamlist/dreamboard di tahun 2012 dan semuanya tercapai di tahun 2015, dan semua hal yang saya tulis tersebut bersifat materi 🙂

Disitulah saya mengerti, hidup ini bukan untuk mengejar materi karena itu berisi kehampaan.

3. Restu

Hal yang paling bisa membuatmu tenang dalam menjalani hidup adalah ridha orang tua.

Saya sering berbagi kisah ini ketika mengisi acara bedah buku ketika berbicara tentang perjalanan kepenulisan. Saya tidak linier dengan jurusan-jurusan yang saya ambil, SMA di IPA, kuliah di SeniRupa, dan berkarya di Kepenulisan Fiksi. Dan orang tua, pada waktu itu masih punya harapan sejak lama sekali; anaknya berkarya di instansi, jadi PNS 🙂

Jalan yang saya tempuh sekarang ini adalah jalan paling menenangkan karena semuanya sudah mendapatkan ridho. Rasanya masih mengganjal, saat kita ingin bekerja, berkarir, berkarya dalam suatu bidang, tapi orang paling dekat dengan kita justru berharap yang lain. Saya khawatir, ibu berdoa berbeda dengan isi doa saya XD

Akhir 2014 saya melakukan diskusi, memediasi impian-impian saya dengan presentasi ke kedua orang tua. Saya membeberkan recana hidup dari waktu itu (2014) hingga beberapa tahun mendatang. Semuanya saya katakan, detail terkait waktunya, mau jadi apa, bisnis apa, berapa potensi ekonominya, mau menikah, kapan menikahnya, dan kesiapan saya sejauh mana (termasuk kesiapan ekonomi karena waktu itu saya ingin memodali nikahan sendiri), tinggal dimana, dsb. Sampai orang tua tidak lagi ada pertanyaan apapun tentang anaknya ini. Hingga lahirnya kalimat ajaib yang intinya; Kami sebagai orang tua ridha sama rencanamu, Nak.

Selepas restu itu turun, semuanya berjalan dengan di luar dugaan, sekaligus saya tenang menjalaninya.

Ada tiga hal yang mungkin bisa saya sampaikan karena yang lainnya rahasia. Life Crisis akan menjadi pengalaman eksklusif masing-masing orang. Tidak sama satu dengan yang lain kasusnya. Dan saya percaya, kita pasti bisa melewatinya. InsyaAllah. 

Jangan berhenti melangkah 🙂

Salam hangat,

Kurniawan Gunadi

RTM : Ego

Kehadiran Shabira di tengah-tengah keluarga kecil kami memberikan dampak yang begitu besar. Ritme, prioritas, dan hal-hal tak terduga lainnya, berubah sejak kahadirannya. Akan tetapi, ada satu hal yang paling besar dampaknya terhadap diri saya sendiri, yaitu ego.

Beberapa tulisan lama saya pernah membahas tentang ego, bagaimana kita bisa menyelesaikan ego-ego kita sebelum berkeluarga, dsb. Meski mungkin tidak sepenuhnya selesai, paling tidak, kita bisa mengendalikannya dengan baik. Menikah membuat saya paham betapa pentingnya masing-masing pribadi bisa berdamai, bisa akur dengan egonya masing-masing sebelum memutuskan untuk berumah tangga. Memiliki anak, akan jauh lebih menantang bagi ego-ego tersebut jika ia belum selesai atau belum bisa dikendalikan oleh tuannya, diri kita kita sendiri.

Shabira membuat saya jauh lebih sabar dari sebelum-sebelumnya, tidak pernah seperti ini dalam hidup. Ia juga mampu membuat saya mengubah prioritas. Shabira juga bisa membuat saya menjadi pribadi yang lebih tenang, tidak pernah setenang ini.

Ia berhasil membuat saya lebih nyaman dengan ketidakaturan, berdamai dengan hal-hal yang berantakan, juga bersedia bersabar dengan segala kelakuannya. Anak ini mampu menghancurkan ego yang besar, ambisi yang segunung.

Berumah tangga tidak pernah semudah yang tampak di panggung media sosial yang dilihat, tidak pernah sesempurna itu. Untuk itu, saya amat bersyukur menikah di usia 26 tahun kurang 2 bulan. Karena itu ternyata itu adalah waktu terbaik saya, di usia itu. Banyak urusan ego saya telah selesai, meski belum seluruhnya. Banyak ambisi saya yang sudah reda, meski juga belum seluruhnya. Setidaknya, semuanya bisa dikenali, dikendalikan. Waktu terbaik kita mungkin berbeda. Dulu saya pernah merencanakan menikah di usia 23, padahal saya baru lulus kuliah dari ITB di usia 24 kurang sedikit, menikmati semester bonus. Di usia itu, saya hanya punya keinginan tanpa persiapan. Menikah saat itu menjadi semacam ambisi, menjadi semacam ego untuk pembuktian. Entah mengapa saya berpikir seperti itu, saat itu. Ya itulah, ego.

Di usia 24 ke 25 saya dipertemukan dengan banyak orang baik yang memberi pembelajaran berharga. Di berikan kejadian-kejadian yang memaksa saya untuk belajar lagi, dan lagi. Membuat saya harus belajar tentang keikhlasan, kerelaan, bersabar, meredakan ego, dipaksa tunduk pada ketetapanNya selepas saya kekeuh ingin sesuatu, dan hal-hal lainnya. Saya kira saat itu tidak akan selesai cepat, ternyata butuh kurang dari dua tahun untuk belajar itu semua. Alhamdulillah.

Kini di usia 27, saya menjadi ayah. Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya, bahkan saya sering bertanya ke teman-teman sebaya, rekan-rekan di FIM, dsb. Apakah saya sudah pantas untuk menjadi ayah dengan kelakuan yang banyak minusnya ini?

Shabira berhasil membuat saya percaya bahwa saya sudah cukup layak untuk menjadi seorang ayah. Ia berhasil membuat saya tahu, bahwa ambisi-ambisi dan ego ini hanyalah sesuatu yang menyita kebahagiaan, mengikis ketenangan batin. 

Berumah tangga tidak pernah semudah yang dibayangkan, jangan bayangkan hanya yang indah-indahnya. Belajar dan bersiaplah justru untuk menghadapi badai-badainya. Kita bisa saja menyiapkan bahtera yang cantik dan megah, tapi jangan lupa membuatnya kuat saat menghadapi badai. Saat menjalani rumah tangga, kekuatan untuk menghadapi ujian akan jauh lebih dibutuhkan daripada hanya meriasnya agar tampak bahagia. Apalagi jika hanya untuk keperluan eksistensi diri di dunia maya 🙂

©kurniawangunadi

menempatkan kepercayaanmu.

©kurniawangunadi

Seseorang begitu tenang dalam menunggu, sebab dalam hatinya ada rasa percaya. Mengapa ada keresahan, kekhawatiran, kegelisahan? Karena tiadanya percaya. Tidak ada satu hal yang pasti memang, tapi rasa percaya mampu meredakan ketidakpastian.

Kau menunggunya, itu ketidakpastian. Kau mau percaya? Tidak ada satupun darinya yang bisa membuatmu percaya bahwa kau harus menunggu sekian lama. Jadi, meletakkan kepercayaan itu harus pada tempatnya.

Allah masih menjadi yang pertama, kan?