Mempersilakan Dunia Mengetahui

Terbukalah pada dunia tentang dirimu. Saat kau cemas, jangan tutup kecemasanmu. Saat kau terluka, jangan berpura-pura bahagia. Saat kau sedang hancur, tidak perlu menutupinya seolah-olah segalanya baik-baik saja.

Dunia ini sudah cukup penuh oleh orang-orang yang sibuk memanipulasi dirinya. Menampilkan diri yang tidak sebenarnya, berbohong tidak hanya kepada diri sendiri, melainkan juga alam semesta.

Barangkali, inilah bagian terberatnya. Menerima keadaan diri, jujur pada orang lain, bagian itu adalah bagian yang seringkali mengusik dirimu. Sesudah keadaanmu selama ini. Tapi justru, disitulah kamu akan menemukan orang-orang yang tulus menerimamu, mendampinginmu sebisa mereka, juga menjadi orang-orang pertama yang hadir untukmu.

Tidak perlu berpura-pura bahwa segala baik-baik saja, masalah tidak akan pernah selesai dengan kepura-puraan. Jika tak mampu menghadapinya sendiri, mintalah bantuan.

Dari sana, kita akan belajar untuk berempati. Belajar untuk menerima kekurangan orang lain, bersedia membantu masalah mereka, memahami kekurangan-kekurangannya, meredakan kecemasannya, sampai pada bersedia menemaninya membangun dirinya yang hancur.

Sudah cukup rasanya untuk sibuk memikirkan diri sendiri, sudah cukup rasanya untuk merasa diri ini selalu hebat. Sudah cukup juga untuk berpura-pura bahagia. Biarkan dunia tahu keadaanmu 🙂

©kurniawangunadi

terang-terangan

kau berjuang tapi aku tidak tahu, sembunyi-sembunyi seperti angin malam yang diam-diam menyelinap ke dalam rumah. kau berjuang tapi aku tidak pernah tahu, kau berkeyakinan bahwa perjuangan itu adalah milikmu sendiri. pernahkah terlintas dipikiranmu untuk mengajakku serta?

atau karena kau tidak pernah siap pada kenyataan sehingga kamu sembunyi-sembunyi? seolah-olah dengan bersembunyi kamu pasti menang, tidak kan?

hingga di ujung perjuanganmu, kau tak kunjung menampakkan diri. kau dikalahkan oleh mereka-mereka yang berani menghadapi kenyataan. mereka yang olehmu sering kau sangkal. sebab menurutmu, pernjuangan itu harusnya terus tersembunyi.

biarkan dunia tahu jika kau sedang berjuang, dunia yang kau hindari untuk dihadapi selama ini.

©kurniawangunadi

Berterima Kasih

Ini seperti, kita telah melewati segala sesuatunya dengan baik. Sekalipun, pada saat itu, pada saat setiap kejadian yang telah lewat, kita merasa gagal. Suatu hari, semoga tumbuh di hati kita rasa syukur.

Bersyukur atas diri sendiri, atas kesediaannya melewati semua ujian, atas kesediaannya untuk tetap maju meskipun sedikit, atas kemauannya untuk berubah.

Dan suatu hari, kita akan mensyukuri. Bahwa kita telah melewati segala sesuatunya dengan baik. Memang bukan yang terbaik, ada kesalahan-kesalahannya. Tapi, kita bersedia mengambil dan menerima pembelajarannya. Menjadikannya pengetahuan yang membuat hidup kita berikutnya, tidak lagi keliru. Pada setiap keputusan yang diambil, juga pada saat mendapati hasil yang tak sesuai harapan.

Berikutnya, kita akan berterima kasih pada orang-orang yang menjadi perantara-perantara tersebut. Orang yang pernah kita perjuangkan, tapi tak kita dapatkan. Orang yang pernah kita sanjung, tapi berkhianat. Orang yang kita sangka buruk, ternyata amat peduli. Dan setiap orang yang berhasil membuat hidup kita kala itu menjadi sangat bergejolak.

Hari ini, kita bisa menata hati kita setenang lautan dalam. Memandang setiap masalah dengan teduh, menyikapi dunia dengan sewajarnya.

©kurniawangunadi | Yogyakarta, 4 Januari 2018

Pernikahan secara teori tampak mudah dan sederhana. Tetapi, semuanya menjadi sama sekali tidak sederhana saat ia sudah dihadapkan pada seorang manusia. Seseorang yang lengkap dan memiliki banyak pertimbangan terkait masa lalu, keadaan keluarga, nilai-nilai, pandangan hidup, visi misi, juga hal-hal lain yang mungkin tidak pernah ada dalam hidupmu, apalagi pikiranmu. Sebab itulah, mendoakan jauh lebih baik daripada menilai. Memahami jauh lebih baik daripada berburuk sangka.

©kurniawangunadi

03.58 a.m

Malam, selalu berhasil membuat diri ini merenungkan banyak hal. Apalagi soal hidup, soal ambisi, soal cita-cita, soal motif, soalan-soalan lainnya yang membuat diri ini seperti habis memikirkan dunia.

Hidup yang tidak lama adalah keniscayaan. Sekuat apapun kita mengusahakan umur panjang, tidak akan pernah lebih dari 200 tahun. Bahkan jarang yang mencapai setengahnya. 

Kini, di dunia kita disajikan pada pilihan-pilihan yang menarik hati, termasuk pilihan untuk berbuat baik. Sekian banyak ladang amal tersaji di depan mata kita. Sebanyak itu pula kita sering mengabaikannya, membiarkannya lewat begitu saja.

Lalu diri ini merenung. Jika berbuat baik saja belum tentu mendapat pahala, sebagaimana shalat kita selama ini belum tentu diterima. Sebab oleh niat atau hal-hal lain yang membuatnya menjadi sia-sia. Sementara setiap perbuatan buruk pasti dicatat. Bagaimana mungkin diri ini masih bisa berleha-leha tidak melakukan kebaikan, tidak melakukan apapun.

Diri ini, tentu saja masih salah di sana sini. Tapi itu bukan alasan untuk tidak melakukan suatu kebaikan. Shalat yang belum khusu’, bacaan Quran yang masih salah di sana sini, belum paham tajwidnya, ilmu agama yang masih terbatas, dan semua keterbatasan lainnya. Semua itu tidaklah tepat untuk menjadi alasan diri ini tidak berbuat baik.

Diri ini menginsyafi, bahwa sebagaian besar waktu sia-sia. Sebagian besar kesempatan hilang karena terlalu banyak berpikir, juga terlalu lama mengambil keputusan. Diri ini menginsyafi bahwa masih sering mengukur-ukur kebaikan, hanya ingin mengambil kebaikan yang sekiranya bernilai pahala besar dan mengabaikan yang kecil. Diri ini menginsyafi masih sering mengukur-ukur kebaikan manusia dengan cara atau sudut pandang sendiri yang terbatas, hanya melihatnya dari satu sisi tanpa bersedia membuka diskusi, bertanya mengapa, bagaimana, dan pertanyaan lainnya yang membuat diri ini sadar bahwa diri ini juga manusia yang penuh kesalahan.

Yogyakarta, 20 Desember 2017 | ©kurniawangunadi

RTM : Bahagia yang Berbeda

Beberapa hari terakhir, segala sesuatunya berubah. Mulai dari status, ritme hidup, rutinitas, jam tidur, bahkan sampai ke rencana hidup jangka pendek lainnya. Dan kami bahagia mengubahnya, kami bahagia melakukan itu semua.

Segala puji bagi Allah, pada hari jumat sore selepas adzan Ashar, 15 Desember 2017 lalu. Kami diberikan amanah olehNya, puteri pertama kami lahir dengan sehat dan selamat. Seorang puteri yang berhasil merebut ego kami, berhasil meluruhkan ambisi, berhasil membuat saya yang tadinya sangat kaku menjadi lebih lunak, yang jelas, lebih bersabar.

image

Banyak yang tidak tahu jika istri saya sedang hamil, mungkin hanya terbatas beberapa pada teman dalam lingkaran kami saja. Sejak dalam kandungan, puteri kami telah mengajarkan kami untuk bersabar, menahan diri, salah satunya adalah untuk tidak membuat kehadirannya menjadi kesedihan bagi orang lain, saat orang tuanya tidak mampu menahan luapan kebahagiaannya. Kami menyadari bahwa kami beruntung, diberikan amanah dalam rentang waktu yang tidak begitu lama selepas kami menikah. Teman kami yang lain, sedang berjuang.

Sejak dalam kandungan, puteri kami mengajarkan kami untuk banyak bersabar, dan kelak kesabaran itu yang akhirnya kami abadikan dalam salah satu kata yang menjadi namanya, Shabira. Sembilan bulan kami beradaptasi dengan kehadirannya, ia juga mengajarkan kami untuk mengingat-ingat saat orang tua dulu mengandung kami. Ternyata seperti itu rasanya. Dan hingga kelahirannya, ia berhasil menyadarkan kami bertapa banyak kesalahan kami kepada orang tua, juga betapa jarangnya kami bersyukur memiliki mereka bagaimanapun keadaannya. Setelah kami tahu, betapa mengandung dan melahirkan –dan setelahnya membesarkan dan merawat- adalah pengorbanan yang takkan pernah tergantingan dengan apapun.

Jumat, 15 Desember 2017. Tiga hari yang lalu, puteri kami lahir ke dunia ini. Dunia yang penuh dengan marabahaya, tapi kami ingin memberitahunya bahwa kami telah berjuang untuk membuat dunia yang lebih baik untuknya. Dengan merawat silaturahmi, berbuat baik, membela agama Allah, juga hal-hal lain yang semoga menjadi pahala yang berbalas kepada puteri kami, jika kebaikan itu akan diganjar di dunia. Sebagaimana kemudahan-kemudahan kita hari ini, bukankah itu lebih banyak disebabkan oleh kebaikan dan doa orang tua kita?

Hari ini, kami ingin memperkenalkan keluarga baru kami. Puteri kami yang berhasil membuat kami merasakan kebahagiaan yang berbeda. Puteri kami yang membuatku rela mengambil cuti panjang, menunda naskah, juga hal-hal lainnya yang mungkin jadi pertanyaan orang lain. Sebab, saya ingin mendampingi, hadir secara utuh kepadanya. Saya ingin menjadi ayah yang baik, kami ingin menjadi orang tua yang baik.

image

Banyak teman-teman di sini (tumblr) yang telah membaca halaman ini sejak tahun 2010 atau setelah itu. Melewati dan melihat bagaimana saya tumbuh dari sejak kuliah, remaja galau, lulus kuliah, berkarya, menikah, hingga hari ini menjadi orang tua. Rasanya, kita tumbuh bersama-sama. Bersyukur karena kita bertumbuh, saling mengingatkan, saling memahami, juga saling mensyukuri.

Hari ini, kami ingin memperkenalkan keluarga baru kami. Puteri kami yang akan menjadi api semangat untuk berkarya, menjadi doa kami yang tiada henti, juga menjadi pengingat kami bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah titipan. Semuanya akan kembali kepada Allah, Tuhan Semesta Alam.

Yogyakarta, 18 Desember 2017 | ©kurniawangunadi

RTM : Bina Keluarga

Keluarga, sebagai sebuah ikatan jangka panjang -dan panjangnya melintas dunia dan akhirat- tentu tidaklah mudah menjalaninya. Sudah pasti akan ada godaan, gangguan, cobaan, dan segala bentuk ujian yang akan berusaha menggoyahkan keluarga. Jadi, untuk siapapun yang ingin membangun sebuah keluarga, pertama-tama harus membuang jauh ekspektasi tentang keluarga yang senantiasa harmonis, romantis, serba berkecukupan, dan selalu bahagia. Bisa jadi, anggapan-anggapan semacam itu, yang tertanam pada benak-benak anak-anak muda yang ingin menikahlah yang membuat tingkat perceraian di negeri ini semakin meningkat. Saat menemukan bahwa ekspektasi berbeda dengan realita.

Zaman ini tentu berbeda tantangannya dengan zaman saat orang tua membesarkan kita. Untuk itu, pelajarilah segala hal yang diperlukan di zaman ini. Mendidik anak, membina pasangan, merawat keluarga, semuanya membutuhkan ilmu dan seninya tersendiri. Untuk itu yang kedua, untuk siapapun yang ingin membina rumah tangga. Pernikahan bukanlah jawaban atas semua masalahmu saat ini, jangan menjadikan pernikahan sebagai pelarian karena kamu bingung mau ngapain, jadi mending nikah aja. Membina rumah tangga memerlukan pondasi yang kokoh, awal yang baik, sesuatu yang mendasarinya harus benar-benar kuat. Sebab, ilmu dan seni untuk menjalaninya menuntutmu harus belajar terus menerus sepanjang hidup, tidak peduli bagaimanapun keadaanmu. Kalau kamu enggan mempelajarinya, bisa jadi kamu lari dan mencari pelarian lainnya.

Setiap keluarga memiliki nilai-nilai yang dianut dan ditanamkan dalam diri masing-masing. Keluarga menjadi kontrol nilai terkuat sebelum kita terjun di masyarakat. Untuk itu, sejak saat ini. Mulailah untuk memiliki prinsip, nilai, hal-hal baik yang kamu pegang dengan kuat. Sebab, tanpa pegangan yang kuat terhadap nilai-nilai tersebut. Keluargamu akan mudah sekali goyah. Untuk itu juga, penting dan perlu untuk siapapun yang ingin membina rumah tangga. Untuk bisa mengenali nilai-nilai dan prinsip yang dipegang oleh calon pasangannya. Sebab, banyak sekali yang berjalan tanpa prinsip, tanpa nilai, hanya ikut-ikutan. Memiliki pasangan yang punya prinsip adalah sebuah anugerah lainnya yang mungkin jarang diketahui. Apalagi jika nilai/prinsip itu selaras denganmu dan menjadi nilai dalam keluarga. Mempertahankan keluarga, perlu upaya yang kuat dari kedua belah pihak, tidak hanya salah satu.

Yogyakarta, 8 Desember 2017 | ©kurniawangunadi

Dia Berjalan tanpa Melihatku

Saat itu aku sedang bersusah payah, berusaha menghentikannya sejenak tapi dia tetap berjalan. Aku sedang bekerja siang malam, membuat diri ini siap pada setiap kemungkinan. Sayangnya dia terus berjalan, tanpa peduli bagaimana keadaanku.

Aku tidak bisa berandai-andai padanya. Semua pengandaian itu menguap menyisakan kesia-siaan, juga penyesalan.

Saat itu, aku sedang berdoa. Memohon kepada Tuhan, semoga diberikan yang terbaik disaat yang tepat. Aku tahu dia memang tidak akan pernah peduli, kepada siapapun. Dia akan tetap berjalan tanpa memberikan ruang sebentar, jeda untuk menatapku.

Dia terus berjalan tanpa melihatku. Membiarkanku hanyut dalam berbagai kekhawatiran dan kecemasan, membiarkanku terpedaya oleh keadaan. Dan suatu hari, dia akan menjadi saksi dihadapan Tuhan atas apa yang telah kulewati. Sepanjang bersamanya, sepanjang itu pula dia tidak peduli.

Dialah waktu.

Yogyakarta, 6 Desember 2017 | ©kurniawangunadi

Hadiah untuk Anak-Anak Kita Nanti

Segala bentuk kejadian yang kita alami di masa muda ini akan menjadi pengalaman emosi yang luar biasa berharga. Bekal yang akan amat berguna saat kita menjadi orang tua nanti. Berbagai perasaan khawatir, kecemasan, ketakutan, jatuh cinta, patah hati, penerimaan, penolakan, dan segala bentuk rasa yang tidak bisa dijelaskan satu persatu. Semuanya akan menjadi sesuatu yang berharga.

Bagaimana perasaan kita kepada orang tua. Terhadap kekhawatiran mereka, terhadap ketidaksepakatan mereka, terhadap perintah dan larangan mereka, dan segala bentuk hal yang berkaitan dengan mereka. Akan menjadi cermin yang membuat kita menjadi orang tua yang (seharusnya) bisa lebih bijak kepada anak-anak kita nantinya.

Bagaimana perasaan kita kepada seseorang. Bagaimana perasaan itu tumbuh dan diterima dengan baik, tapi dihadapkan dengan berbagai rintangan, penolakan keluarga, juga keadaan. Semuanya akan menjadi cerita yang berharga saat anak-anak kita nanti meminta nasihat dan pertimbangan kita kala mereka mengalami hal serupa.

Sekolah, kuliah, pekerjaan, pertamanan, organisasi, semuanya akan memberikan pengalaman rasa yang berbeda. Rasa yang akan mengasah hati, mengasah kebijaksanaan kita kelak kemudian saat kita menjadi orang tua. Saat pengalaman masa muda kita bisa diceritakan kepada anak-anak kita hingga berbinar matanya. Hingga mereka bisa menangkap pembelajaran berharga, hingga mereka tidak mengulangi kesalahan yang serupa.

Juga, agar mereka bisa mendapatkan orang tua yang bijaksana. Orang tua yang bersedia mendengarkan, belajar, terbuka, dan mampu membimbing. Sebab, pasti setiap orang tua ingin yang terbaik dan ingin anak-anaknya bahagia. Akan tetapi, banyak yang tidak bertanya kepada anaknya tentang apa hal yang membuat mereka bahagia. Memaksakan definisi-definisi kebahagiaan kepada anak.

Kelak, anak-anak akan bertanya. Jawabannya adalah apa-apa yang sedang terjadi dalam hidup kita saat ini dan segala rasa yang sedang kita rasakan. Tinggal bagaimana kita berhasil atau tidak mengambil pelajarannya 🙂

Yogyakarta, 3 Desember 2017 | ©kurniawangunadi

Cerpen : Reda

Kudengar, seseorang yang bernama Hujan itu ternyata menyimpan perasaan kepada seorang lelaki. Kudengar itu dari sudut matanya, dari bagaimana ia melihat matahari pagi, bagaimana ia memandang hujan, juga bagaimana ia melihat barisan awan yang konon katanya berbentuk bunga, seperti perasaannya yang tengah berbunga-bunga.

Hujan adalah seorang perempuan yang tidak pandai berbohong, tidak pandai menyembunyikan perasaannya. Rona merah diwajahnya mudah terlihat saat ia malu, marah, atau hal-hal lain yang membuncahkan perasaannya. Juga, ia tidak pandai berpura-pura.

Perasaannya kepada lelaki itu seperti matahari, terang benderang. Siapapun yang mengenal Hujan, sudah pasti mereka bisa menerka bila Hujan sedang jatuh hati pada seorang laki-laki. Dan laki-laki yang itu, bukan yang lainnya.

Tulisan-tulisannya tidak menyembunyikan nama, aku juga sering membacanya. Hujan yang begitu polosnya tentang cinta, seperti melihat kisah cinta anak SMA. Penuh liku, lebih banyak lucunya. Namun, aku tahu. Perasaan Hujan tidak bercanda, ia memang seperti itu adanya. Perempuan yang tidak pandai menyembunyikan perasaan. Bukankah banyak yang seperti Hujan?

Dan lelaki itu, adalah lelaki yang sial. Ia terlambat menangkap hujan yang turun begitu deras. Ia terus menerus bersembunyi dari Hujan. Sampai suatu hari, hujan sudah reda dan ia baru mencari-cari kemana hujannya. Mengapa tak lagi turun?

Suatu hari, perasaan Hujan reda tak berbekas. Mengetahui jika perasaannya hanya turun tanpa arti ditempat yang salah, tempat yang tidak bisa menumbuhkan apapun. Ia sudah tumbuh menjadi perempuan yang berbeda, perempuan yang berhasil belajar dari kesalahan.

Aku bertemu dengan lelaki itu di sebuah kedai buku. Melihatnya melipat-lipat halaman buku, seperti menemukan paragraf yang mewakili perasaannya. Meminjam kata temanku, untuk menggambarkannya : Aku mendengarmu habis hujan berturut-turut, kemudian aku datang, kamu reda.

Hujan telah reda.

Yogyakarta, 30 November 2017 | ©kurniawangunadi